Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 94


Keesokan harinya adalah hari ulang tahun Rizky, Faruq dan Aluna mengundang beberapa anak yatim piatu disalah satu panti asuhan.


Jam 8 pagi acaranya sudah dimulai, dalam acara itu Rizky tak hanya meniup lilin, ia juga mengaji untuk katam Al-Qur'an pertama kali.


Kebahagiaan tergambar jelas di wajah Faruq dan Aluna hari ini, apalagi atas pencapaian sang anak itu.


"Sayang, apa kamu tidak ingin merayakan ulang tahun Zayn juga? perasanku kamu tidak pernah meminta apapun dariku." ucap Arick sambil mengingat-ngingat semasa ia menjadi suami Jihan. Dan benar saja, dalam ingatannya tak pernah sekalipun meminta ini dan itu.


Bukannya menjawab, jihan malah terkekeh, menertawai tawaran sang suami.


"Kenapa malah tertawa?" tanya Arick lagi.


"Mas, untuk apa merayakan ulang tahun, Zayn saja belum tahu apa artinya ulang tahun itu." jelas Jihan setelah tawanya mereda.


"Lagipula hari ini kan Rizky bukan hanya ulang tahun, tapi katal Al-Quran juga," jelas Jihan lagi dan Arick menganggukan kepalanya.


"Tapi aku tetap ingin kamu meminta sesuatu padaku, repotkan aku sekali saja." pinta Arick sungguh-sungguh, bila perlu ia ingin Jihan menghabiskan semua uangnya.


Jihan makin terkekeh, ketika mendengar permintaan tak masuk akal itu. Hingga terdengar suara pembawa acara yang menutup acara ini dengan melafalkan lafal Hamdalah.


"Alhamdulilah," ucap semua orang kompak, termasuk Arick dan Jihan.


"Nanti aku pikirkan." jawab Jihan meledek, saking gemasnya, Arick menarik hidung sang istri sekilas.


"Pak inget, ini di rumah mertua, jangan mesra-mesraan mulu." desis Puji dari arah belakang dan ditertawai oleh Asih dan Melisa.


Jihan malu sendiri, sementara Arick tidak peduli.


"Em, yang iri tidak ada lawan mesra-mesraan." jawab Arick, gini giliran Puji yang jadi bahan tertawaan Asih dan Melisa.


Setelah meledek Puji, Arick mengajak Jihan untuk menemui Faruq, Aluna, Rizky dan juga Nami yang sedang memberikan santunan untuk anak-anak yatim.


"Mbak, kok pak Arick kalau sama mbak Puji mau ngobrol gitu sementara sama kita malah jaga jarak?" tanya Melisa penasaran saat Arick dan Jihan sudah pergi jauh. Majikannya yang satu itu memang masih menjadi misteri baginya.


Sifatnya dingin dan hanya hangat untuk orang-orang tertentu.


Sombong, pikirnya.


"Walah, nggak tau ya, mungkin mbak Puji terlihat lebih menarik daripada kalian." jawab Puji percaya diri dengan terkekeh pelan.


Melisa dan Asih kompak mencebik, salah memang jika bertanya dengan Puji.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat zuhur, acara ulang tahun Rizky sudah selesai. Kini rumah itu sudah kembali seperti semula, tidak ada keramaian seperti tadi.


Kini semua keluarga sedang makan siang bersama setelah beberapa saat lalu melaksanakan shalat zuhur berjamaah.


Saat makan siang bersama itu, Nami berulang kali terbatuk, sampai-sampai membuat Jihan dan Arick heran.


"Ibu kenapa? Ibu sakit?" tanya Jihan penasaran, ia bangkit dari duduknya dan mendatangi sang ibu. Mengelus-elus punggung Nami lembut.


"Tidak sayang, hanya batuk saja."


"Ibu sakit Mbak?" tanya Jihan pada Aluna karena tak mempercayai jawaban sang ibu.


"Benar kata Ibu Ji, ibu baik-baik aja, cuma 3 hari lalu ibu terkena batuk sampai sekarang belum sembuh." jelas Aluna.


Tapi tetap saja, Jihan tak merasa puas mendengar jawaban itu.


Namun kerena tak ingin menghancurkan suasana bahagia, akhirnya Jihan mencoba percaya. Meski hati kecilnya mengatakan Tidak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai makan siang bersama, Arick dan Faruq menemani Zayn dan Rizky bermain di ruang tengah.


Anja dan Jani tidur di dampingi para babysister.


Sementara Jihan dan Aluna, mengantar Nami untuk beristirahat di dalam kamar.


"Ibu baik-baik saja Nak, percayalah." jawab Nami, ia genggam tangan sang anak agar Jihan kembali tenang.


"Ibu minum obat?"


"Tidak sayang_"


"Kenapa?" tanya Jihan cepat.


Nami terdiam, bingung harus menjawab apa.


Aluna yang melihat itu merasa iba sendiri. Nami sebenarnya memang tidak baik-baik saja. Beberapa hari lalu ia bukan batuk, melainkan ditemukan pingsan tak sadarkan diri dibawah ranjang.


Faruq dan Aluma sudah berulang kali membujuk sang ibu untuk memeriksakan diri, namun Nami selalu menolak. Selalu berkata bahwa dia baik-baik saja.


"Kamu kan tahu, ibu tidak suka mencium bau obat, yang ada ibu malah muntah-muntah." jelas Nami dan Jihaj terdiam, membenarkan.


Ya, memang begitulah Nami, hanya infus dan suntikan saja yang bisa masuk, tapi obat minum tidak.


"Ya sudah, ibu istrirahat, aku dan mbak Aluna akan keluar."


Nami mengangguk kecil, seraya menutup matanyanya yang sudah lelah.


Sampai di luar, Jihan hendak ke dapur membuat jahe hangat untuk sang ibu. Namun Aluna mencegah dan berkata bahwa biar ia saja yang membuatnya. Jihan menurut, akhirnya ia memutuskan untuk melihat keadaan anak-anak.


Ternyata semuanya sudah tertidur, bahkan Zayn dan Rizky yang tadi masih bermain kini pun sudah ikut terlelap juga.


Jihan keluar dari kamar anak-anak, kini ia mencari keberadaan sang suami.


Sayup-sayup ia dengar jika ada pembicaraan di ruang tengah. Di datangilah sumber suara itu dan ternyata benar dugaannya, disana ada Arick dan Faruq yang sedang berbincang.


Jihan ikut duduk, duduk disamping sang suami.


"Ibu sudah tidur?" tanya Faruq dan Jihan mengangguk.


"Apa ibu baik-baik saja Mas? kenapa aku merasa kalau ibu sedang sakit." tanya Jihan pada sang kakak dengan wajah yang sendu.


"Ibu baik-baik saja Ji, kenapa kamu jadi bersedih begitu?" tanya Faruq lagi.


"Aku sedih, aku merasa tidak pernah memperhatikan ibu selama ini." jawab Jihan jujur. Rasanya ia seperti anak yang tidak berbakti, tidak tahu bagaimana keadaan sang ibu yang sesungguhnya.


Jihan juga menggenggam tangan sang suami, bukan ia menyalahkan Arick karena membawanya pergi tapi memang hatinya merasa sangat bersalah.


"Memang begitu kodratnya Ji, anak perempuan akan meninggalkan keluarganya dan ikut kemanapun suaminya pergi. Bukan karena kamu tidak ingin mengurus ibu, tapi memang begitulah keadaannya. Mbak Aluna juga sama sepertimu, meninggalkan ibunya dan kini ia merawat ibu kita." jelas Faruq.


Entah kenapa, air mata Jihan tiba-tiba mengalir saat mendengr kata-kata itu.


"Kamu tetap bisa mendoakan ibu dimanapun kamu berada, dan sebagai gantinya kamu harus merawat ibu sofia layaknya ibu kandungmu sendiri." jelas Faruq lagi dan air mata Jihan semakin deras.


Tapi memang begitulah roda kehidupan bagi seorang perempuan. Sebesar apapun keinginannya untuk tetap tinggal di rumah, jika sang suami mengajaknya pergi ia harus menurut.


Jihan terus menangis, menumpahkan kesedihan.


Sementara sang suami terus memelukya memberi ketenangan.


.


.


.


Pembaca setiaku yang baik hatinya, mampir juga ya ke karya aku yang 1 lagi, Hati Yang Tidak Utuh kisah tetang Kiran dan Aslan.


Yang mau Vote Jihan kasih ke Kiran aja ya, karya baru butuh dukungan 🙏🙏🙏🙏🙏💟