Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 133


Setelah tujuh jam berlalu, lampu tanda operasi berjalan pun mati. Dokter Nathan yang sejak tadi tegang langsung berdiri tegak berjalan mendekati pintu kamar operasi yang sudah disulap sedemikian rupa hampir mirip dengan ruang operasi di rumah sakit.


"Bagaimana?" Tanya dokter Nathan terdengar intimidasi menatap dokter Ivan keluar dari kamar operasi dengan wajah lelah namun terlihat tak bersemangat.


"Operasi berjalan lancar, tapi .." Dokter Ivan menjeda ucapannya menatap sang papa lekat.


"Tapi apa?" Tanya dokter Nathan dengan wajah cemas namun masih terlihat tegas.


"Lukanya cukup parah, tadi hanya penghambat pertumbuhan tumor saja. Kita harus segera memberikan pengobatan yang lebih intensif. Dan..."


"Dan?"


"Di rumah sakit disini tidak ada pengobatan yang dimaksudkan." Jawab dokter Ivan lemah.


"Katakan! Apa yang harus dilakukan Ivan?" Tanya dokter Nathan mendesak, meski dokter Nathan juga seorang dokter dia memang bukan dokter obgyn, lebih ke dokter bedah penyakit dalam. Meski bisa dan tahu tapi tidak sedetail dokter obgyn seperti Ivan.


"Hanya ada di luar negeri pengobatan itu ada. Dan kita harus segera membawanya kesana setelah kondisi stabil." Jelas dokter Ivan membuat dokter Nathan terdiam sejenak terlihat berpikir.


"Siapkan semua Ramon, kau dengar kan apa kata Ivan?" Ucap dokter Nathan melirik ke arah Ramon di belakangnya.


"Baik tuan."


"Pa."


"Kau juga siapkan Ivan!" Titahnya menatap keempat tim dokter lainnya yang hanya terbengong. Keempatnya sontak membungkuk memberi hormat pada pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja itu sopan.


"Kita harus minta persetujuan pada suaminya?" Seru dokter Ivan membuat dokter Nathan berhenti.


"Hanya kita keluarganya, dia sudah menjadi mantan." Jawab dokter Nathan sarkas.


"Pa."


"Lakukan apa kata papa kalau ingin adikmu selamat!" Ucap dokter Nathan membuat semua orang melongo mengetahui kenyataan yang membuat mereka bertanya-tanya di kepalanya.


Dokter Ivan terdiam, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Karina yang sekarang sudah diyakini sebagai adiknya. Hingga membuat sang papa murka mendengar nama Johan yang sebagai suami adiknya. Sepertinya Johan turut andil tentang kejadian yang menimpa adiknya itu. Membuat dokter Ivan seketika murka jika saja yang dikatakan papanya benar tentang yang menimpa adiknya adalah karenanya. Dokter Ivan tak akan tinggal diam.


"Terima kasih atas kerja keras kalian." Ucap dokter Ivan sopan pada keempat tim dokternya.


.


.


"Istriku!" Seru Johan membuka matanya, terbangun dalam tidurnya. Saat menggerakkan tangan kanannya dia melihat infus sudah terpasang disana. Kepalanya terasa berdenyut saat dia memaksakan untuk bangun.


"Ada yang anda butuhkan tuan?" Tanya Edo berdiri dari duduknya di sofa sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Dimana istriku Edo, apa dia sudah pulang?" Lagi, itulah yang ditanyakan Johan saat melihat Edo mendekatinya.


"Maaf tuan." Jawab Edo penuh sesal. Belum ada kabar apapun dari orang suruhannya juga orang-orang Riko mencari keberadaan sang nyonya. Seolah sang nyonya hilang bagai ditelan bumi.


"Aku akan mencarinya." Johan hampir menarik selang infus di tangannya kalau saja Edo tidak berusaha mencegahnya.


"Tuan, anda harus dirawat. Kondisi tubuh anda sedang lemah. Jika nyonya tahu pasti beliau tidak akan suka." Cegah Edo memegang tangan Johan agar tidak mencabut selang infusnya.


"Orang-orang kita sedang mencari keberadaan nyonya tahu, percayalah nyonya akan baik-baik saja." Hibur Edo.


"Dia sendiri Edo, dia sendiri. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ini salahku Edo, salahku. Aku selalu tak ada di sisinya saat dia membutuhkanku." Lirih Johan tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya.


"Tuan..."


"Aku suami yang buruk Edo, aku suami yang buruk sangat buruk sampai istriku pergi pasti aku benar-benar buruk kan?" Ucap Johan lagi menatap Edo dengan wajah penuh air mata dan wajah pucatnya. Sudah dua hari sang nyonya hilang. Bahkan mereka sudah meminta bantuan pada polisi untuk mencari keberadaan Karina.


"Tuan, anda harus kuat. Demi nyonya. Kalau nyonya pulang, beliau pasti akan sedih dan merasa bersalah tuan." Hibur Edo lagi.


"Dia sedang sakit Edo, dia baru dioperasi. Dia juga harus rutin melakukan pengobatan untuk kesembuhannya. Dan sekarang aku tidak ada di sisinya. Kalau sampai terjadi sesuatu dengannya pasti aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Ucap Johan terdengar menyayat hati masih dengan tangisan yang mulai meledak di dada Johan yang terasa sesak.


Edo terdiam tak menjawab atau bicara apapun lagi. Memilih untuk mendengarkan keluh kesah sang tuan. Baru dua hari tuannya ditinggalkan istrinya namun sudah sehancur ini. Bagaimana kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada nyonya? Batin Edo tak sanggup melanjutkan pikiran buruknya.


.


.


"Mama pulang?" Tanya Ine setelah menyambut kedatangan Celine pulang dari kantor. Setelah Ambar mengetahui keberadaan sang cucu. Ambar memboyong Ine dan Celine pulang ke mansionnya. Meski mereka tak pernah menikah, Ine tetap cucu kandungnya yang diinginkan sampai saat ini. Dia sungguh beruntung segera mengetahui keberadaan cucunya meski di luar nikah.


Celine sendiri tak mampu menolak karena Ambar mengancamnya akan mengambil hak asuh putrinya. Daripada dia berpisah dengan putrinya lebih baik dia mengikuti keinginan Ambar. Wanita yang dulu mengancamnya agar meninggalkan putranya.


"Kau sudah pulang?" Tanya Ambar yang berdiri di belakang Ine saat Celine dan Ine masuk ke dalam mansion.


"Iya ibu." Jawab Celine sopan.


"Kenapa malam sekali? Apa setiap hari seperti ini?" Tanya Ambar tak suka cucunya merasa terlantar meski ada pengasuh dan dirinya.


"Ah, sudah dua hari ini tuan Johan dan tuan Edo tidak datang ke kantor jadi saya harus menyelesaikan pekerjaan yang mendesak di kantor dengan..."


"Johan tidak ke kantor? Dua hari ini?" Tanya Ambar mengernyitkan dahi tak suka dengan sikap Johan.


"I-iya Bu."


"Apa alasannya?" Tanya Ambar mulai emosi.


"Katanya beliau sakit dan sibuk mencari istrinya yang kabur."


"Apa? Bodohnya Johan, kalau memang pergi ya sudah biarkan saja kenapa masih sibuk mencarinya sampai tidak mengurus perusahaan? Apa dia mau kalau perusahaan bangkrut?" Marah Ambar entah kenapa emosinya tiba-tiba tersulut dan itu selalu seperti itu jika menyangkut Karina.


"I-itu..."


"Aku akan datang ke rumahnya besok." Putus Ambar masuk ke dalam mansion dengan perasaan kesal.


Celine hanya terdiam mengedikkan bahunya acuh. Toh itu bukan urusannya. Dia tidak tertarik pada Johan, sampai saat ini hanya almarhum Keanu yang memenuhi ruang hatinya.


.


.


TBC