Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 129


Johan menyangga kepalanya sambil duduk di sofa ruang kerjanya. Pikirannya kalut, tubuhnya lelah, dirinya terlihat kusut dan berantakan. Niat hati ingin meminta ibunya untuk berbaikan dengan istrinya sepertinya semakin sulit karena ternyata sebenci itu ibunya pada istrinya. Apalagi mengingat alasan utama istrinya karena dia adalah seorang anak yang tidak punya latar belakang yang jelas karena berasal dari panti asuhan membuat Johan semakin frustasi.


Padahal meski istrinya berasal dari panti asuhan, pendidikan dan akhlak istrinya bisa dikatakan sangat sempurna. Istrinya bahkan sebaik-baiknya seorang wanita. Sebaik-baik orang yang tak pernah mengeluhkan apapun. Bagaimana dia bisa menjamin kalau keluarga kandung istrinya adalah keluarga baik-baik meski Johan tak yakin dimana mereka.


Penyelidikannya buntu seolah ada yang sengaja menutup masa lalu istrinya namun Johan tak mau berpikir keras lagi asal istrinya masih berada di sisinya dia tak peduli tentang asal usul istrinya.


Tok tok tok


Suara pintu ruang kerjanya diketuk dari luar membuat Johan tersentak dari rasa frustasinya.


Cklek


"Ada apa?" Tanya Johan melihat bibi asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi di mansion ibunya itu terlihat raut wajah cemas.


"Anu tuan, nyonya muda." Ucap bibi gugup ditatap tajam dan dingin oleh tuan mudanya padahal sejak kecil tuan muda keduanya itu terkenal ramah. Namun mungkin karena sekarang dia terlihat lelah dan kusut mungkin banyak pikiran juga.


"Ada apa dengan istriku?" Tanya Johan mengernyit heran merasa penasaran.


"Tadi nyonya muda keluar dari rumah dengan wajah kacau tuan, saat saya mengeceknya di kamar untuk melihatnya saya tidak menemukan nyonya muda dimanapun." Jelas bibi gugup.


"Apa maksud bibi dengan keadaan kacau?" Tanya Johan cemas.


Bibi pun menceritakan semua yang dilihatnya tadi. Tanpa kurang satu apapun. Dan dia minta maaf karena tak mengejarnya karena harus segera ke kamar nona kecil untuk mengantar makanan di nampan yang dibawanya karena tak mau nyonya besar marah karena terlambat. Namun dia harus tertahan karena bibi diminta untuk menyuapi nona kecil karena pengasuhnya sedang di kamar mandi.


Johan yang menyimak dengan serius cerita bibi merasa cemas dan raut wajahnya berubah pucat mendengar kalau istrinya berlari dengan berderai air mata.


Jangan pergi sayang, kumohon! Ya Allah semoga yang kucemaskan tidak terjadi. Batin Johan berkecamuk.


"Sekarang dimana istriku Bi?" Tanya Johan setengah berteriak segera berlari menuju arah yang ditunjukkan bibi.


Tanpa menunggu ba bi bu lagi, Johan langsung berlari keluar mansion menatap sekeliling mansion ibunya berharap istrinya masih di sekitarnya. Namun Johan harus kecewa dan langsung bergegas keluar gerbang yang terlihat terbuka sedikit yang dapat ditebaknya kalau pasti istrinyalah yang mungkin membukanya.


"Sayang... Karin!" Seru Johan dengan raut wajah cemas dengan ketakutan yang kentara.


"Sayang... Karin!" Sebut Johan berkali-kali menelusuri jalanan di sore menjelang malam itu. Dan bodohnya tadi dia memerintahkan semua bodyguard tadi pulang ke rumah. Dia merasa tak membutuhkan mereka karena di mansion ibunya pastilah aman dan tak akan kemana-mana sampai pulang ke rumah besok pagi.


Johan pun merutuki kebodohannya karena tidak tahu dimana keberadaan istrinya saat ini. Dengan hati hancur Johan meraih ponselnya bagai orang yang kebingungan ditinggal seseorang meski itu benar.


"Kamu kemana sayang? Pulanglah sayang!" Guman Johan merasakan cemas dan frustasi. Ini semua salahnya, dia kembali gagal lagi melindungi.


"Ya bos." Suara yang diseberang menjawab di ponselnya.


"Lacak ponsel istriku Riko! Cari tahu dimana dia sekarang!" Titah Johan yang langsung ditutup ponselnya berganti menghubungi para bodyguardnya untuk mencari keberadaan istrinya dengan berpencar disertai umpatan halus menyalahkan dirinya sendiri.


.


.


"Tuan besar, gawat!" Seru Ramon langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja dokter Nathan tanpa permisi.


"Mata-mata kita tuan..."


"Mata-mata?" Tanya dokter Nathan mengernyit bingung masih belum mengerti maksud ucapan asisten kepercayaannya itu.


"Mata-mata kita menemukan nona Karin pingsan dan mereka membawanya tuan. Dan mereka tak tahu harus membawa kemana, mendengar keadaan buruknya tak mungkin mengantarnya masuk kedalam mansion.


"Apa maksudmu?" Tanya dokter Nathan.


"Mereka bingung harus dibawa kemana? Ke rumah sakit atau pulang ke mansion.


"Bawa pulang ke mansion!" Titah dokter Nathan entah kenapa dia memutuskan hal itu tiba-tiba.


"Baik tuan." Ramon pun menjawab lagi ponselnya yang berdering yang ditebaknya dari mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi Karina sejak dokter Nathan tahu siapa Karina sebenarnya. Dia tak mau putri yang dikiranya meninggal itu kenapa-kenapa.


"Ramon panggil Ivan sekalian, suruh dia pulang! Penting!" Titahnya lagi.


"Baik tuan."


Dokter Nathan langsung mempersiapkan tempat untuk putrinya nanti dibaringkan. Kamar perempuan yang memang sudah disiapkannya saat tahu putrinya masih hidup berharap setelah bertemu bersedia untuk tinggal di mansion mewahnya. Meski dia juga tak yakin hal itu akan terkabul mengingat putrinya sudah bersuami.


Dokter Nathan segera menuju keluar dari ruang kerjanya. Padahal dia tadi berniat untuk istirahat karena tubuh tuanya semakin tidak baik-baik saja mengharuskan mau tak mau beristirahat dengan tenang.


.


.


"Tuan besar!" Panggil Ramon saat tahu majikannya yang mendekatinya.


"Bagaimana?" Tanya dokter Nathan.


"Nona sedang di dalam kamar yang disediakan untuk nona, sekarang tinggal menunggu tuan muda pertama sampai." Jawab Ramon yang langsung berlari pergi menuju kamar putrinya yang memang sudah sampai.


Tap


Tap


Tap


Suara derap langkah kakinya membuat semua orang bergidik mendengarnya apalagi masuk ke kamar sang nona.


.


.


TBC