
POV AUTHOR
Pagi ini Arick terbangun dengan sangat segar, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang merasa tidak enak badan. Biasanya tiap pagi matanya perih, kepalanya pusing dan perutnya mual.
Kini tidak, setelah semalam bergelut dengan sang istri kini ia terbangun dengan kondisi yang segar bugar, sama halnya dengan Jihan.
Pagi ini adalah hari terbaik yang pernah ada bagi keduanya.
"Sayang, nanti kan malam minggu, bagaimana kalau kamu dan mbak Puji dateng ke Cafe, nanti juga aku ajak Jasmin dan Selena. Mau tidak?" tanyanya pada sang istri yang masih menjemur baju.
Arick menggendong Zayn dan ikut kemanapun Jihan pergi, Puji sengaja menyingkir untuk memberi waktu keduanya agar bisa menghabiskan waktu bersama.
"Boleh Mas, aku juga mendadak ingin sekali makan nasi bakar buatan Jodi," jawab Jihan, ia melirik sekilas dan kemudian menjemur lagi.
"Hah! sayang pengen makan nasi bakar? ya sudah sekarang saja kita ke Cafe, kelamaan kalau menunggu nanti malam sayang." Cemas Arick dan Jihan hanya tersenyum.
"Tidak Mas, nanti malam saja," jawab Jihan.
"Benar?"
"Iya."
Keduanya terus berbincang sampai semua baju terjemur sempurna.
Pagi ini Zayn akan mengikuti kelas bayi, kelas bayi yang diikuti Zayn hanya 1 kali dalam seminggu, dengan durasi waktu 2 jam tiap kali pertemuannya.
Dan tiap kali Zayn mengikuti kelas bayi, Arick dan Jihan selalu mendampingi.
"Sudah siap sayang?" tanya Arick, dilihatnya Jihan yang terlihat sangat cantik sedang menenteng tas perlengkapan Zayn datang menghampiri dirinya.
Jihan memang sangat jarang merias diri, dan jika sudah berdandan seperti ini sang suami malah cemas sendiri. Arick takut kecantikan istrinya akan memancing ketertarikan pria lain.
"Sayang, kamu pakai masker ya?" ucap Arick, sepertinya masker adalah solusi untuk menyembunyikan wajah cantik sang istri.
"Kenapa memangnya Mas?" tanya Jihan bingung, ia menyerahkan tas Zayn pada sang suami dan meminta untuk memasukkannya ke dalam mobil.
"Di luar sedang panas, takut banyak debu, nanti kamu batuk." kilah Arick, mencari alasan semasuk akal mungkin.
"Tapi kan ini masih pagi Mas, masih jam setengah 8, panasnya juga panas sehat."
"Pokoknya kamu pakai masker ya, aku tidak mau kamu kenapa-napa."
Jihan tersenyum, merasa sangat diperhatikan oleh sang suami.
"Baiklah," jawab Jihan, ia kembali masuk dan mengambil masker.
Arick tersenyum lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 8 pagi, keluarga kecil ini sudah sampai ditempat sekolah sang anak. Disana juga banyak para orang tua yang mendampingi bayi-bayi mereka.
Zayn bermain dengan bayi-bayi seumuran dengannya (8 bulan) saling berceloteh dan berebut mainan.
Permainan pertama adalah Cilukba, kedua orang tua mendampingi anak2 mereka dan mulai bermain. Cilukba juga menjadi interaksi yang menyenangkan antara orang tua dan bayi.
Meski sangat sederhana, bermain cilukba punya banyak manfaat untuk bayi. Lewat permainan ini bayi perlahan memahami tentang keabadian suatu objek.
Maksudnya, ia jadi mengerti bahwa suatu objek bisa muncul dan hilang. Objek yang tak terlihat oleh matanya tak berarti hilang. Namun bisa saja sembunyi dan kemudian muncul kembali.
"Ciluk ..."
"BA."
Zayn terkekeh, ketika melihat tingkah aneh kedua orang tuanya.
Permainan kedua adalah bermain bola kecil. Agar bayi usia 8 bulan semakin semangat merangkak, berikan mainan untuk ia raih. Ketika bola menggelinding sang bayi akan dengan senang dan bersemangat merangkak untuk menangkapnya.
Permainan ketiga adalah Berbincang dengan kedua orang tua. Sang ibu diinstruksi untuk mendudukkan bayi pada paha dan mulai ajak mengobrol tentang apa saja. Bisa tentang mainan barunya atau tentang warna-warna di sekitarnya.
"Lihat lihat Zayn, gadis yang memakai baju merah muda itu sangat cantik ya?" ucap Arick sambil menunjuk-nunjuk bayi perempuan diujung sana.
"Kya kya kya ha aa," jawab Zayn yang entah artinya apa.
"Ya benar, kalau mencari istri yang cantik dan sholeha seperti ibu."
"Ha ha iyhaa ha."
Jihan terkekeh melihat interasksi anak dan ayah ini. Mereka semua sangat menikmati waktu kebersamaan mereka.
2 jam sudah berlalu, kini saatnya mereka untuk pulang.
...****************...
POV JIHAN
Saat ini aku dan mas Arick sedang berada di dalam mobil, mobil kami berhenti di lampu merah.
"Terima kasih ya Mas, kamu selalu menemai Zayn saat dia ada kelas seperti tadi," ucapku memecah keheningan.
"Kamu kenapa berterima kasih? Zayn juga anakku sayang, sudah sewajarnya aku mendampingi Zayn. Kamu tahu, tumbuh kembang anak itu sangat cepat, aku tidak ingin kehilangan moment itu," jawab mas Arick dan aku terenyuh.
Semoga saja, saat si kembar lahir mas Arick tidak berubah. Ya, aku percaya, mas Arick tidak akan berubah.
Ku rasakan mas Arick mengelus tanganku, kemudian kembali menyetir karena lampu sudah berubah menjadi hijau.
"Zayn sudah tidur?"
"Iya Mas." Aku menunduk dan melihat Zayn yang sudah tertidur pulas.
Drt drt drt
Ponsel mas Arick bergetar.
"Sayang, tolong kamu lihat siapa yang telepon," ucap mas Arick. Aku menurut, tanganku terulur mengambil ponsel mas Arick diatas dashboard.
Pak hamid?
"Pak hamid Mas," ucapku, sejenak tatapan kami saling terkunci, dan kemudian mas Arick kembali fokus mengemudi.
"Biar aku saja yang mengangkat," jawab mas Arick.
Hatiku berdesir, entah kenapa aku merasa kesal. meski begitu aku menurut, aku hanya menjawab panggilan itu dan kemudian menyerahkannya kepada mas Arick.
"Assalamualaikum Pak, ada apa?" tanya mas Arick, aku menajamkan pendengaranku, ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.
Dulu aku bisa menerima dengan ihklas, tapi entah kenapa kini aku merasa sangat tak nyaman jika mengingat nama Lila.
"Baiklah Pak, sama-sama. Walaikumsalam."
"Ada apa Mas?" tanyaku cepat ketika mas Arick sudah memutus sambungan telepon itu.
"Tidak ada apa-apa sayang, pak Hamid hanya berterima kasih. Tadi pagi kan aku mentransfer uang bulanan Lila," jelas mas Arick sambil melirikku sekilas.
Aku terdiam, aku ingin sekali meluruskan masalah Lila ini dengan mas Arick. Aku tidak ingin mas Arick menyembunyikan apapun dariku, meskipun itu kenyataan pahit sekalipun.
"Mas." Aku mulai memberanikan diri untuk bicara.
"Hem, ada apa sayang."
Hening sejenak.
"Sebenarnya, aku sudah tahu semua tentang Lila. Aku tahu kamu menutupinya dariku," jelasku lirih.
Mendengar ucapanku, mas Arick tidak langsung menjawab. Ia malah memelankan mobilnya dan memilih parkir disalah satu minimarket.
"Kami sudah tahu?" tanyanya, ketika mobil sudah berhenti sempurna.
Aku mengangguk.
Dengan cepat mas Arick menarik tanganku dan digenggamnya erat.
"Percayalah padaku Ji, aku tidak memberitahumu bukan karena ada maksud tersembunyi. Aku hanya tidak ingin kamu merasa sakit hati. Terlebih dulu aku masih belum mengetahui kebenarannya."
Aku terdiam, aku tahu mas Arick tidak bersalah. Tapi entah kenapa kini hatiku gundah. Aku takut mas Arick kembali membohongiku tentang Lila.
"Berjanjilah padaku Mas, jangan pernah sembunyikan apapun lagi. Entah itu tentang Lila ataupun masalah yang lainnya."
Mas Arick mengangguk cepat, kemudian membelai wajahku dan menciumi bibirku.
"Maafkan aku ya?" tanyanya dan aku mengangguk.
Lega.