Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 156


Johan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meski masih tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Garis bibirnya terus melengkung ke atas tanda senyum terus terpatri di bibirnya. Euforia kebahagiaan terlihat jelas di tubuhnya. Kabar Ryan yang memberikan alamat dimana keberadaan istrinya membuat Johan bersemangat pagi itu.


Meski dengan berat hati meninggalkan ibunya yang sedang terbaring di ranjang perawatan rumah sakit karena serangan jantung dan stroke ringan yang dialaminya membuat wanita yang divonis tubuhnya mati setengah itu menganggukan kepalanya menyetujui putranya yang akan pergi menemui istrinya yang telah lama terpisah.


Divonis dokter stroke ringan dan serangan jantung membuat Ambar tidak mampu melakukan apapun dan hanya mampu berbaring di ranjang. Bibir yang tak seperti orang normal untuk bicara membuat Ambar hanya bisa terdiam menjawab hanya anggukan dan gelengan yang dilakukannya.


Seolah kilas balik perlakuan buruknya pada menantunya membuat Ambar kembali terdiam termenung menyesali segala perbuatannya di masa lalu membuat Ambar menangis histeris beberapa hari yang lalu. Sehingga dia memutuskan untuk putranya membawa pulang menantunya untuk dia minta maaf. Entah bagaimana Johan merasa langsung mengerti maksud hati ibunya setelah tangisan histeris itu.


Hingga Johan bertekad untuk membawa pulang istrinya sesuai alamat yang diberikan sahabatnya Ryan semalam.


Johan menatap berbinar-binar selembar kertas yang menentukan masa depannya bersama istri tercintanya.


"Kau yakin dia disini?" Tanya Johan antusias saat Ryan menyambangi ruang perawatan ibunya yang memang rumah sakit tempat dirawat ibunya adalah rumah sakit tempat dulu Johan dan Ryan menjadi partner kerja sebagai dokter.


"Tentu." Jawab Ryan yakin.


"Terima kasih Ryan, terima kasih." Jawab Johan antusias tanpa sadar memeluk tubuh Ryan erat karena terlalu bahagia.


"Kau bisa pergi besok pagi-pagi sekali sebelum persidangan perceraian kalian mulai." Antusiasme Johan seketika menguap hilang mendengar ucapan Ryan mengingatkan seolah membuang kepercayaan dirinya menghilang pula.


"Apa kami sudah bercerai?" Tanya Johan bagai orang linglung yang otomatis pelukan antuasiasnya pada Ryan lepas begitu saja.


"Hei, pengadilan belum memutuskan untuk itu. Kau masih punya kesempatan untuk mencegah hal itu." Ucap Ryan memberi semangat.


"Benarkah?" Johan menatap Ryan berharap yang dikatakan Ryan bukan sekedar penghiburan untuknya.


"Tentu. Kau hanya perlu menghubungi pengacaramu untuk tidak melanjutkan prosesnya sampai kau bertemu dengan istrimu." Jawab Ryan ikut antusias.


"Akan kucoba." Johan meraih ponselnya menghubungi pengacaranya.


"Yup." Ryan menunggu di tempat Johan menghubungi pengacaranya. Untung saja hari itu jadwal tugas Ryan pagi hari. Dan sekarang sudah sore, dia hendak bersiap pulang berniat mampir ke ruang perawatan ibu sahabatnya itu.


.


.


Lebih dari tiga jam, Johan mengendarai mobilnya menuju alamat villa keluarga Ryan di salah satu kota kembang. Johan tahu betul alamat itu. Dia pernah datang ke villa itu saat masih sekolah menengah atas. Ryan dan dia juga beberapa teman diajak Ryan untuk berlibur di villa ini.


Mobil diparkir sembarangan oleh Johan. Tampak tak sabaran untuk segera turun menuju villa keluarga Ryan yang tak jauh dari tempat parkir mobilnya. Dia sudah berlari sekencang mungkin untuk segera sampai.


Ombak laut yang dilewatinya membuat Johan berhenti sejenak saat tanpa sengaja melihat sosok tubuh yang terlihat familiar do matanya.


Benarkah itu dia? Ya Tuhan, aku merindukannya. Batin Johan menatap sosok punggung yang dikenalinya sebagai istrinya. Busana syar'i yang menjadi ciri khas istrinya membuat hati Johan tiba-tiba menghangat.


Johan mempercepat langkahnya tidak sabaran untuk mendekati sosok yang sedang menatap matahari terbenam di ufuk barat membuat Johan merasakan dadanya berdebar kencang seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta.


Sosok yang setahun ini pergi bagai ditelan bumi membuat Johan merasa minder. Dia kembali menatap tampilan dirinya, dia mencoba membenahi dirinya agar bisa dilihat sempurna di mata istrinya. Niat hati ingin datang pagi diurungkan karena mendadak ibunya bermasalah lagi pada tubuhnya hingga membuat Johan mengundur waktu untuk mendatangi istrinya.


Hingga Ryan datang memberi semangat untuk segera berangkat sebelum sore. Dan menawarkan diri untuk menjaga ibunya membuat Johan terharu bahagia melihat pengorbanan sahabatnya itu.


Setelah menghubungi pengacaranya kemarin untuk menunda sidangnya dengan alasan ibunya sakit membuat pengacara mengiyakan keinginan Johan.


Namun saat jaraknya untuk mendekati istrinya tinggal beberapa langkah lagi. Beberapa pria berjas rapi berbadan besar dan kekar menghalangi langkahnya.


"Apa yang anda lakukan di tempat milik pribadi ini tuan?" Ucap salah satu dari tiga pria yang ternyata pengawal.


"Si-siapa kalian?" Meski Johan sudah bisa menebak mereka namun entah kenapa pertanyaan itu tetap meluncur di bibir Johan.


"Siapa anda?" Bukannya menjawab mereka malah balik bertanya pada Johan.


"Aku suami Karina." Jawab Johan tegas membuat mereka bertiga mengernyit heran saling melempar tatapan.


"Kami dilarang mengizinkan siapapun untuk mendekati non Karin." Jawab salah seorang pengawal itu tak kalah tegas. Johan mengernyit mendengar kata 'non' muncul dari bibir pengawal itu.


"Non?" Guman Johan yang masih dihadang oleh pria kekar itu.


"Silahkan pergi!" Usir pengawal itu tegas masih sopan.


"Apa maksud kalian dengan non?" Tanya Johan sekali lagi tak menggubris ucapan pengawal itu.


"Tentu saja dia memang nona kami." Jawab pengawal itu yakin.


"Mas Johan." Bisik Karina menatap seseorang yang tidak terlihat, karena tubuh kekar pengawal menutupi hampir seluruh tubuh Johan.


"Karina! Ini aku sayang." Seru Johan yang langsung ditahan kedua tangannya oleh pengawal tadi dijauhkan dari Karina.


Karina mendekat namun dua pengawal yang sejak tadi tiba-tiba mendekat menghalangi.


"Boleh saya mendekat?" Tanya Karina masih dengan nada lembut dan sopan membuat kedua pengawal itu terdiam saling pandang.


"Kumohon! Dia suamiku." Pinta Karina memelas, dia tak mau membuat keributan ataupun masalah. Kalau bisa dihindari lebih baik menghindar.


"Tapi nona, tuan muda melarang kami untuk suami anda mendekati anda." Ucap salah seorang pengawal.


"Apa?" Tanya Karina tak percaya. Namun pengawal lainnya langsung menyenggol bahu pengawal yang bicara tadi.


"Apa maksud kalian?" Tanya Karina masih dengan nada rendah agar tidak keceplosan untuk berteriak. Dia masih berusaha menghindari masalah yang mungkin timbul.


"Karin!" Teriak Johan lagi mulai menjauh dari Karina karena diseret paksa oleh kedua pengawal yang menghalanginya tadi. Tatapan mata keduanya bertemu, terdapat sorot mata saling merindukan keduanya. Sorot mata cinta terpancar jelas diantara keduanya.


"Tolong pak!" Mohon Karina menatap kedua pengawal dengan tatapan mata memelas penuh harap.


"Tapi nona?"


"Untuk terakhir kali, kami ingin bicara dan bertemu, setelah itu terserah kalian." Pinta Karina mulai menangkupkan kedua tangannya di dada memohon pada pengawal itu. Bahkan kedua matanya tampak berkaca-kaca, berkedip sekali saja bisa dipastikan kalau air mata itu akan luruh membuat keduanya saling berpandangan tak tega melihat sang nona.


"Hanya sepuluh menit nona." Jawab salah satu dari mereka.


"Terima kasih, terima kasih pak, terima kasih." Jawab Karina antusias dan luruh juga air mata yang sejak tadi ditahannya. Pengawal yang memberikan izin tadi memberikan kode pada kedua pengawal yang memegangi Johan tadi untuk melepasnya.


Johan sontak berlari menghampiri Karina yang juga berlari kecil menghampirinya.


"Karin."


"Mas Johan." Lirih Karina berhenti tepat di tempat Johan menghampirinya.


"Benarkah ini kamu sayang?" Bisik Johan tak percaya, air matanya mengalir di pipi. Disentuhnya kedua pipi putih pucat itu, disentuhnya dengan penuh kerinduan dan penuh cinta.


Grep


"Aku merindukanmu sayang, aku merindukanmu. Kenapa kau pergi meninggalkanku? Maaf... maafkan aku.. aku tak bisa menjagamu. Maafkan juga ibuku.. pasti sangat kesakitan saat mendengar ucapan kasar ibuku. Maaf... maaf..." Ucap Johan sambil mendekap erat tubuh istrinya.


"Hiks...hiks...aku yang minta maaf mas, aku lah yang salah. Aku bukan istri yang baik untukmu. Aku gagal menjadi istrimu. Aku tak pantas menjadi istrimu. Hiks...hiks..." Karina balas memeluk suaminya erat, seolah mereka akan dipisahkan lagi. Seolah tak ada hari esok lagi.


"Tidak sayang, kau salah... aku lah yang tidak mampu menjadi suamimu. Aku tidak bisa melindungimu. Bahkan aku tak berada di sisi istriku yang sedang membutuhkannku. Maaf... maafkan aku... maaf..." Ucap Johan sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


Mengurai pelukannya ingin menatap wajah yang dirindukannya selama ini. Jarinya menyusuri wajah indah yang dirindukannya itu. Menikmati setiap jengkal wajahnya, merekamnya, memastikan kalau yang ada di hadapannya itu nyata. Hingga sentuhan itu berakhir di bibir pucat nan mungil itu membuat Johan mengecup sekilas bibir yang dirindukannya itu.


"Ini masih milikku kan?" Tanya Johan masih dengan air mata menetes yang tak dipedulikannya. Karina hanya sanggup menganggukkan kepalanya karena mengatasi tangisan, isakan dan lelehan air matanya yang terus mengalir.


"Bolehkah?" Karina menganggukkan kepalanya mengerti maksud pertanyaan suaminya.


Ciuman pun terjadi yang disambut balasan yang tak kalah antusiasnya dari sang istri membuat kelima pengawal yang berdiri tak jauh dari mereka bersemu malu sontak membalikkan badannya. Kelima terharu melihat kedua pasangan suami istri itu melepas rindu yang seolah sudah sekian lama terpisah.


"Aku mencintaimu sayang, hanya kamu. Selamanya." Bisik Johan membuat Karina tersipu malu setelah ciuman itu terlepas.


"Aku juga mencintaimu mas.. sangat..." Keduanya tersenyum dan ciuman serta luma*tan kembali terjadi dibalik sinar jingga sang Surya yang hendak tenggelam seolah ikut malu menyaksikan kedua pasangan itu berciuman. Hingga kegelapan pun menutupi langit yang beranjak malam.


.


.


End


Tapi bo ong


Baca juga extra part-nya


Terima kasih sudah mengikuti karyaku ini....


Salam penulis 🙏🙏