Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 7


Seminggu, sudah seminggu Johan tetap bertahan berada di luar mansion milik ayah mertuanya. Namun dia hanya terdiam berdiri di luar gerbang. Ayah mertuanya tak menggubrisnya sudah seminggu itu pula. Dan tak juga melihat ada tanda-tanda istrinya tinggal di mansion itu. Tapi dia tetap tidak menyerah untuk tetap berada disana.


Tiga hari pertama dia berteriak memanggil nama istrinya di depan gerbang seperti orang gila hingga dia pingsan dan dibawa Ryan ke rumah sakit untuk dirawat karena kondisinya sangat memprihatinkan. Dia sungguh tidak tega melihat keadaan sahabatnya. Seandainya dia tahu dimana keberadaan kakak tirinya itu, Ryan pasti akan memberi tahunya. Namun untuk kali ini Ryan benar-benar tidak tahu keberadaannya.


Papanya sengaja merahasiakan darinya karena mungkin takut Ryan akan membocorkannya lagi pada Johan. Bahkan Ryan pernah memohon pada papanya untuk merestui mereka namun permohonannya hanya disambut dengan sikap acuh dan cuek papanya yang sama sekali tidak menghiraukan semua permohonannya.


Bahkan saat Ryan meminta bantuan kakak tirinya Ivan, Ivan hanya menggelengkan kepalanya yang ternyata juga tidak tahu dimana papanya menyembunyikan adiknya itu.


"Diamlah! Lakukan pekerjaanmu seperti biasanya! Tidak usah ikut campur." Jawab Ivan acuh saat Ryan memohon pada Ivan.


"Kak! Apa kakak setega itu melihat Johan seperti itu? Mereka suami istri kak, mereka hanya dua orang yang saling mencintai. Apakah kakak tidak kasihan melihat mereka? Kakak juga tahu mbk Karin sangat mencintai Johan. Bahkan akan dilakukan apapun untuk kebahagiaan suaminya. Sedang papa, papa tidak berhak memisahkan mereka. Bagaimana pun juga mbak Karin seorang istri, seorang istri sepenuhnya milik suaminya. Papa tidak berhak ikut campur rumah tangga mereka. Apalagi mereka saling mencintai." Ucap Ryan sambil berlutut di depan meja kerja Ivan.


Ivan terdiam, dia juga sebenarnya kasihan melihat kedua sejoli itu dipisahkan. Dia juga ingin membantu. Tapi kembali lagi pada papanya. Papanya orang yang keras, kalau sudah menentukan sesuatu. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusannya. Apalagi sekarang dia juga tidak tahu dimana adiknya disembunyikan.


"Kakak!" Seru Ryan lagi merasa tak dihiraukan oleh Ivan.


"Kak!"


"****! Diamlah Ryan, aku sendiri juga tidak tahu dimana papa menyembunyikan Karin." Kesal Ivan mengumpat Ryan tajam. Ryan terdiam, tidak biasanya kakaknya itu tidak dilibatkan dalam rencana papanya. Sejak dulu, tidak ada yang tidak diketahui kakak tirinya itu perihal urusan papanya. Bahkan urusan sekecil apapun, Ivan selalu dilibatkannya.


Sebegitu besarnya papanya ingin memisahkan pasangan itu. Ryan terdiam tertunduk di lantai ruang kerja Ivan. Merasa buntu karena tidak ada yang bisa dilakukannya untuk sahabatnya.


"Pergilah! Aku akan memohon pada papa." Ucap Ivan membuat Ryan sontak mendongak semangat.


"Benarkah? Kakak benar-benar akan melakukannya?" Jawab Ryan antusias mendekati meja kerja Ivan dengan tanpa berdiri hanya menggeser tubuhnya dengan kedua lututnya.


"Aku tidak janji kalau papa berhasil kubujuk." Jawab Ivan acuh. Namun Ryan sudah merasakan sedikit harapan. Setidaknya mungkin papanya akan luluh pada putra kesayangannya itu.


.


.


Ryan menatap nanar wajah pucat Johan yang masih terbaring di ranjang kamar perawatan rumah sakit. Hanya dirinya yang dia punya saat ini. Dan ini kedua kalinya Johan dirawatnya karena pingsan di depan gerbang mansion papanya. Selama dua hari juga belum sadar dari pingsannya. Karena sudah lebih dari seminggu Johan tidak makan dan tidak minum. Hanya dari selang infus yang dipakainya saat ini.


Itupun karena pingsan, kalau tidak pingsan Johan mungkin tetap bertahan untuk tidak makan dan tidak minum karena tak ada semangat hidup saat dipaksa dipisahkan dari istrinya yang entah ada dimana kini.


Terhitung sudah sepuluh hari sejak Karina menghilang disembunyikan dokter Nathan entah dimana. Johan membuka matanya perlahan yang terasa berat. Dia mencoba mengumpulkan kesadarannya saat tahu dimana tempatnya berbaring kini. Johan menatap sekeliling ruang berwarna putih bersih itu.


Dia menoleh menatap jemari tangannya yang dipasangi infus lagi. Johan ingin berontak melepaskannya dan kembali berlari ke mansion ayah mertuanya. Dia tidak akan menyerah tentang istrinya. Berkas perceraian yang disodorkan padanya tidak dihiraukannya. Lebih baik dia mati sekalian daripada dipisahkan dari istrinya.


Jangankan untuk bergerak, menggerakkan lehernya saja dia sangat kesakitan. Hingga Ryan pun muncul di dalam kamar perawatan yang ternyata Ryan juga tahu kalau Johan sudah sadar.


"Ka...rin..." Lirih Johan mirip bisikan karena saking lemahnya tubuhnya. Dia benar-benar lemah dan nyaris putus asa. Namun dia harus tetap kuat untuk mencari istrinya.


"Istirahatlah, aku akan mengambilkanmu makanan!" Saran Ryan menghela nafas panjang dan berat tak tega melihat kondisi buruk sahabatnya.


.


.


"Ada apa Van?" Tanya dokter Nathan saat Ivan sudah berdiri di hadapannya.


"Dimana Karin pa?" Tanya Ivan langsung tanpa basa-basi menatap dokter Nathan dengan berani meski sebenarnya dia tak seberani itu, apalagi pada papanya yang terkenal kejam dan dingin.


Dokter Nathan mendongak sebentar menatap pria muda di hadapannya itu yang wajahnya hampir mirip sebelas dua belas dengannya. Hanya umur yang membedakannya.


"Pergilah!" Usir dokter Nathan mengalihkan pandangannya pada pekerjaannya.


"Pa, dimana Karin?" Tanya Ivan sekali lagi tidak menyerah.


"Kalau kau kemari hanya untuk urusan itu, pergilah! Aku tetap tidak akan memberitahukan dimana keberadaannya. Dia tidak pantas bersama pria itu. Mereka sudah membuat sengsara putriku yang kucari-cari selama ini." Ucap dokter Nathan tegas tanpa mau dibantah.


"Apa papa tidak kasihan melihat mereka? Mereka saling mencintai papa." Ucap Ivan tak mau membuat papanya marah.


"Biarkan mereka bahagia pa, mereka suami istri, mereka saling mencintai. Kalau karena perlakuan ibu mertuanya, ibunya pun sudah meninggal papa. Dan papa tahu hal itu, papa juga tahu Karina tidak mempermasalahkan hal itu. Seharusnya papa tahu kalau..."


"Cukup Ivan!" Bentak dokter Nathan tajam menatap Ivan yang sudah berani membantahnya dan menasehatinya.


"Pa!"


"Pergi! Sebelum papa benar-benar marah." Teriak dokter Nathan lagi sambil mengambil nafas banyak-banyak karena merasa sesak nafas entah dimana tepatnya. Ivan pun langsung pergi meninggalkan ruang kerja papanya. Namun sebelum membuka gagang pintu ruangan itu.


"Maaf pa. Aku akan mencarinya sendiri dengan caraku sendiri." Ucap Ivan keluar dari ruang kerja papanya setelah mengatakannya tak peduli apapun resikonya.


Meski dia baru beberapa waktu kenal adiknya Karina. Dia sudah tahu bagaimana watak, sikap dan sifat adik bungsunya yang sempat dikiranya mati itu. Namun lagi-lagi Ivan menghela nafas panjang dan berat tak tahu akan memulai dari mana. Karena dia tahu kalau papanya pasti sudah memblokir semua akses agar dengan aman menyembunyikan adiknya dari suaminya. Padahal mereka bahagia dan saling mencintai.


.


.