
Friska kerja di tempat saya baru hari ini," ucap Dimas.
"Hah? Kok bisa?" tanya Anin terkejut.
Dimas yang melihat ekspresi terkejut Anin pun ikut terkejut, mengapa Anin sampai terkejut seperti itu, hingga Anin mendekatkan dirinya pada Dimas karena penasaran dan membuat Dimas menatap Anin heran apa ia salah bicara? Sedangkan Anin sudah mengangkat sebelah alisnya dan menatap Dimas dekat.
"Kamu mau ngapain?" tanya Dimas gugup karena Anin memandangnya begitu dekat
"Mas gak aneh gitu, Friska pindah ke rumah Anin terus tiba-tiba daftar kerja di kantor Mas, jangan-jangan ... " ucap Anin kemudian berpikir.
"Jangan-jangan apa?" tanya Dimas mengangkat sebelah alisnya.
"Jangan-jangan dia kangen kali sama Mas," ucap Anin kemudian tertawa setelah melihat wajah tegang Dimas saat ia mendekatkan wajahnya.
Dimas membuang nafasnya, benar-benar Anin membuatnya panas dingin dengan kelakuannya, sekarang saja Dimas merasa jantungnya berdebar-debar saat Anin mendekatkan badannya pada Dimas, Dimas sampai menyadarkan ke kursi karena terkejut.
"Mas kok tegang gitu sih wajahnya?" tanya Anin setelahnya.
"Kamu bisa gak jangan bikin saya tegang," ucap Dimas kemudian duduk kembali.
"Emang Anin ngapain? Cuman nanya aja masa tegang gitu mukanya," ucap Anin memanyunkan bibirnya.
"Jangan berpikiran macam-macam, saya terima Friska juga bukan pilihan saya tapi dari personalia yang nerimanya karena sesuai dengan kemampuan yang saya butuhkan di kantor," jelas Dimas.
"Oh gitu? Ya gapapa sih Anin gak masalah Mas mau nerima siapapun di kantor Mas, lagian Mas kan yang punya perusahaan," ucap Anin.
"Tapi saya juga harus kasih tahu kamu karena sekarang kamu istri saya." ucap Dimas menatap Anin.
Anin terkejut saat Dimas menyebutkan kata istri padanya, Anin terdiam sejenak menatap mata hitam Dimas yang menatap lekat padanya, entah mengapa ada getaran saat Dimas mengatakan seperti itu, apakah Dimas sudah bisa menerima dirinya sebagai istrinya?.
"Tadi Anin cuman kaget aja waktu Mas bilang Friska kerja di Mas," ucap Anin gugup.
"Sebenarnya saya punya trauma sama Friska," ucap Dimas.
"Iya, Anin sudah tahu," ucap Anin.
"Tahu dari mana kamu?"
"Dari Dina, Mas juga pernah cerita tentang tabrakankan mungkin maksud mantan Mas itu Friska,"ucap Anin.
Dimas pun hanya terdiam, ternyata Anin sudah lebih dulu tahu sebelum dirinya terbuka. Bukan Dimas tidak ingin memberitahu Anin lebih awal namun ia hanya binggung bagaimana caranya ia bercerita dengan Anin terlebih ia dan Anin belum ada rasa.
"Kamu juga pasti punya masalalu sama mantan kan?" tanya Dimas dengan mata tetap fokus pada tv.
"Mantan? Anin aja belum pernah pacaran." jujur Anin.
"Belum pernah pacaran?" tanya Dimas terkejut.
"Belum, lagian kan Anin dari sekolah dulu fokus sama nilai dan prestasi pas kuliah juga sibuk buat kerja sama beasiswa jadi gak ada waktu buat pacaran,"
Dimas menatap Anin yang masih fokus menonton televisi, benarkah wanita cantik di hadapannya kini belum pernah pacaran? Lalu sekarang ia menikah dengan Duda beranak satu yakni mantan kakak iparnya sendiri?.
Apakah Dimas begitu beruntung mendapatkan Anin yang hampir sempurna untuknya? Meskipun belum ada rasa cinta diantara mereka berdua namun apakah bisa Dimas mencoba membuka hatinya dan meluluhkan hati Anin?.
*-*-*-*-*
Dimas kembali ke kantornya, ia berangkat lebih pagi dari biasanya untuk menyelidiki masalah kantornya yang belum ia temui pelakunya, Dimas sudah bertekad akan mencari tahu sendiri dan menangkap pelakunya dengan tangannya sendiri.
Dimas sudah menyiapkan cctv yang ia letakan dilacinya dan juga di cermin yang terletak di seberang komputernya, ia juga memakai cctv pensil yang ia letakan di rak pensil yang langsung mengarah ke tempat duduknya, ia yakin dengan cara seperti ini akan berhasil menangkap pelaku.
Setelah selesai semuanya, Dimas langsung berjalan keluar ke ruangan tempat karyawannya, di antara semua komputer, ada satu komputer yang masih nyala, dan tampaknya baru saja digunakan.
Dimas mengecek komputer itu karena penasaran, namun hanya ada berkas laporan yang baru saja di buat dan di simpan? Apa maksudnya? Apakah ada karyawannya yang masih bekerja sampai menginap di sini demi menyelesaikan laporannya?.
"Selamat pagi pak." sapa Novan karyawan Dimas.
"Pagi, kamu datang sepagi ini?" tanya Dimas.
"Iya pak, saya harus menyelesaikan pekerjaan yang anda beri," ucapnya.
"Laporan apa yang kamu buat?"
"Saya menyalin laporan tentang kerja sama kemarin, saya mau merevisinya kembali seperti yang anda perintahkan,"
"Kapan saya memerintahkan kamu merevisinya?" tanya Dimas.
"Dua hari yang lalu pak."
"Baiklah kalau begitu nanti siang saya tunggu laporan kamu, dan kirimkan datanya lewat email."
"Baik pak."
"Kamu tahu bahwa laporan kerja sama kita bocor ke perusahaan lain?"
"Iya pak saya tahu,"
"Kalau begitu saya harap kali ini jangan sampai bocor, tolong kirimkan ke email saya langsung, jangan email perusahaan karena mungkin email perusahaan sekarang sudah di retas." ucap Dimas pergi.
"Baik pak." ucap Novan.
Dimas kembali keruangannya setelah berbincang dengan Novan, ia tidak tahu jika Novan bekerja lebih giat untuk merevisi data perusahaan, ia memilih menunggu karyawan lainnya datang ia melakukan videocall dengan Anin untuk melihat anaknya yang sudah bangun, Setiap pagi Dimas selalu melakukan panggilan videocall agar bekerja lebih semangat.
"Selamat pagi pak," ucap Hendra sekretaris Dimas.
"Pagi." sapa Dimas sambil menaruh kembali ponselnya.
"Ini dia Friska yang menggantikan Rena yang sudah cuti pak," ucap Hendra kemudian pergi.
"Selamat pagi pak." ucap Friska tersenyum sopan ke arah Dimas.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dimas.
"Baik."
"Kamu sudah tahu tugasnya? Sekarang kamu bagian manajer keuangan," ucap Dimas.
"Baik pak saya sudah tahu." ucap Friska.
"Baik kalau begitu kamu pelajari data yang akan Hendra berikan, dan lusa kita akan rapat dengan perusahaan baru,"
"Baik pak nanti saya cek," ucap Friska.
"Friska saya ingin tanya serius dengan kamu," ucap Dimas.
"Ada apa Pak?" tanya Friska dengan hormat.
"Apa maksud kamu mas dan bergabung di perusahaan saya? Bukankah kamu sudah menikah?" tanya Dimas serius.
"Maaf pak, apa saya harus menjelaskan?" tanya Friska.
"Friska saya bertanya serius tidak perlu dengan bahasa formal, saya benar-benar ingin tahu apa maksud dan tujuan kamu kembali ke sini dan tiba-tiba masuk ke perusahaan saya?" tanya Dimas.
"Dimas, saya ingin maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud ingin mengusik kembali hidup kamu dan kembali membuat kamu kecewa." jawab Friska
"Kamu tidak mungkin kan kebetulan tiba-tiba masuk keperusahaan saya, apa yang kamu inginkan sebenarnya" tanya Dimas tanpa basa-basi.
"Saya sudah bercerai dengan Vino, saya kembali ke Bandung untuk melanjutkan hidup saya, kebetulan saya mendaftar ke perusahaan kamu, saya tidak tahu kamu membangun perusahaan ini dan masalah rumah, saya memang sengaja membelinya untuk tempat tinggal saya karena keluarga saya sudah tidak menetap di sini." jelas Friska.
Dimas hanya tersenyum sinis pada Friska, ia benar-benar tak merasa simpatik pada wanita dihadapannya ini, meskipun dulu ia sangat mencintai wanita ini namun karena pengkhianatannya di masalalu membuat luka dan trauma dihati Dimas, ia bahkan tak percaya dengan apa yang dikatakan Friska saat ini .
"Saya tidak percaya dengan kamu, tapi saya harap jika kamu datang ke sini hanya untuk menjatuhkan saya dan membuat hidup saya hancur lebih baik kamu menyerah sebelum saya menghancurkan hidupmu." ucap Dimas menatap tajam kearah Friska.
"Saya berjanji akan bekerja dengan baik diperusahaan ini, saya tidak akan mengecewakan anda," ucap Friska membungkukkan badannya kemudian pergi keluar ruangan.
"Sebegitu bencikah kamu Dimas? Saya tahu salah saya dimasalalu tidak akan termaafkan, saya berjanji tidak akan mengecewakan kamu kali ini." ucap Friska dalam hati kemudian tersenyum tulus.
*-*-*-*-*
Dimas mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia segera pulang dari kantor sebelum jam pulang setelah mendapat panggilan dari Ibu bahwa Anindira sakit, ia tidak peduli dengan urusan kantornya, ia memilih menyerahkan pada kepercayaannya.
"Assalammualaikum," ucap Dimas membuka pintu rumah.
"Waalaikumsalam." jawab Ibu.
"Tadi dia muntah-muntah terus, udah Ibu kasih minyak Angin tapi gak ada perubahan, kamu bawa Anin berobat takutnya ada apa-apa," ucap Ibu.
Dimas menatap Anin yang masih terbaring di kasur, wajahnya begitu pucat padahal tadi pagi ia tampak baik-baik saja atau mungkin Dimas yang tidak menyadarai kondisi Anin.
"Afifa lagi sama Dina sama Bapak, tadi siang dia telepon Ibu badannya kurang enak, Ibu langsung ke sini sama Dina kayaknya dia kecapekan dan kurang istirahat," ucap Ibu menggenggam tangan Anin.
"Ya sudah Dimas mandi dulu Bu nanti langsung berobat" ucap Dimas langsung ke kamar mandi
Anin kembali memuntahkan isi perutnya saat Dimas baru selesai mandi, Dimas yang melihat Anin begitu pucat pun merasa khawatir, Ia menunggu Anin selesai muntah, namun baru Dimas hendak bertanya Anin langsung terjatuh di lantai dan Dimas langsung panik saat Anin pingsan.
*-*-*-*
"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya Dimas.
"Asam lambungnya naik, sepertinya dia makan kurang teratur atau makannya telat, apa kalian sudah punya anak?" tanya Dokter.
"Sudah Dok, baru 6 bulan."
"Jangan sampai dia kelelahan. Dia punya maag kronis jangan sampai telat makan dan istirahat yang cukup, kadang kalau punya anak memang kita sampai lupa jaga diri, jadi Bapaknya tolong ingatkan biar istrinya gak sampai sakit lagi, ini resep obatnya." ucap Dokter.
"Baik terimakasih Dok," ucap Dimas lalu mengantar Dokter.
Dimas yang panik saat Anin pingsan langsung memanggil dokter untuk datang ke rumahnya, Anin juga sudah tertidur setelah diperiksa tadi, Ibu membuatkan Anin bubur agar perutnya tidak kosong meskipun kemungkinan Anin akan memuntahkannya lagi.
"Anin bangun dulu, Ibu sudah siapkan bubur," ucap Ibu membangunkan Anin.
"Iya Bu makasih." ucap Anin kemudian duduk di bantu Dimas.
"Dimas kamu suapin Anin dulu setelah itu kasih dia obat biar bisa istirahat, Ibu mau ngecek Afifa sama Dina dulu," pamit Ibu.
Dimas dengan penuh perhatian menyuapi Anin bubur, meskipun hanya beberapa sendok namun Anin sudah berusaha untuk memakannya agar kondisinya cepat membaik, Dimas juga memberikan obat pada Anin agar ia bisa beristirahat.
"Afifa gimana Mas? Dia nangis?" tanya Anin.
"Afifa sama Ibu, kamu jangan dulu pikirin dia istirahat dulu biar cepat sembuh." ucap Dimas.
"Maaf Mas jadi merepotkan kalian, Mas jangan lupa makan tadi Anin sudah masak," ucapnya membaringkan badannya kembali.
Dimas memilih pergi keluar menemui yang lainnya yang sedang berkumpul di ruang tengah, Afifa sedang bermain bersama Dina dan Bapak sedangkan Ibu sedang memanaskan masakan Anin yang ia masak tadi pagi.
"Gimana kondisi istrimu Mas?" tanya Bapak.
"Dia harus istirahat , maagnya kambuh mungkin dia kecapekan dan makan telat " ucap Dimasm
"Makanya punya istri tuh harus di perhatiin Mas jangan sibuk kerja terus kasihan teh Anin ngurus semuanya sendiri sampai makan telat jadinya sakit," ucap Dina.
"Ya gimana perusahaan juga gak bisa di tinggal," jawab Dimas.
"Opo ndak mau ngambil pembantu aja Mas, kasihan kalau Anin harus nyiapin semuanya sendiri," ujar Ibu.
"Dimas sudah tanya Anin, tapi dia gak mau Bu, katanya dia bisa sendiri dan lebih baik dia mengerjakannya sendiri," jawab Dimas.
"Kamu jangan sibuk kerja terus, sesekali luangin waktu sama istri kamu kasihan dia ngurus semuanya sendiri, gak ngampang ngurus Anak apalagi dia sendirian gak ada yang bantuin belum lagi dia ngurus kamu dan nyiapin semuanya," ucap Ibu.
"Iyo bu, nanti Dimas bakal atur jadwal lagi biar bisa gantian bagi waktu ngurus Afifa."
"Mas, kamu nikah sama Anindira itu bukan karena turun ranjang aja, kamu harus bisa menerima Anin lahir batin, kamu harus belajar mencintai dia, Bapak tahu memang sulit tapi buka hati kamu belajar menerima takdir yang Tuhan beri, Bapak harap kamu bisa menerima semuanya dengan lapang dada, sayangi Anin dan pedulikan dia." ujar Bapak kemudian pergi ke meja makan.
Dimas mencerna kata-kata dari Bapak, sudah hampir satu bulan pernikahannya namun Dimas belum bisa mencintai Anin begitupun sebaliknya, namun sifat Anin lebih peduli dengannya ketimbang Dimas, bahkan bukan Anin sakit juga karena terlalu kelelahan menjaga Afifa dan mengurus dirinya? Kejamkah Dimas tidak mempedulikan Anin bahkan, Dimas merasa bersalah ia sudah lalai menjaga istrinya padahal ia sudah berjanji pada orangtua Anin juga Kirana untuk menjaga dan membahagiakan Anin.
*-*-*-*-*
Ibu, Bapak dan Dina sudah pamit pulang ke rumah membawa Afifa untuk sementara waktu menginap dirumah mereka karena melihat kondisi Anin yang belum stabil takut Anin bertambah parah. Ibu juga menyuruh Dimas untuk cuti beberapa hari agar menemani Anin dan merawat Anin dan Dimas menyetujui karena bagaimana pun Anin masih perlu banyak istirahat.
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas saat Anin bangkit dari kasurnya.
"Mau masak Mas."
"Jangan dulu banyak aktifitas, kamu tidur dulu aja biar saya yang masak Nasi, nanti menunya kita pesen aja, kamu istirahat dulu," ucap Dimas.
"Tapi Mas.."
"Sudah kamu tidur dulu, muka kamu masih pucet kayak vampire gitu udah mau masak." ledek Dimas.
"Iya deh, maaf ya Mas jadi merepotkan," ucap Anin
"Saya masak nasi dulu terus nyuci baju, kamu tidur dulu nanti saya bangun kan kalau sudah masak nasinya."
"Mas gak kerja?" tanya Anin.
"Saya cuti dulu sampai kamu sembuh, Afifa sudah dibbawa Ibu sama Dina ke rumah biar kamu bisa istirahat yang cukup,"
"Tapi gimana Afifa nanti kalau di kangen sama Anin gimana, gimana nanti dia mandi soalnya sekarang mandinya gak bisa diem kasihan Ibu, belum lagi makannya sekarang harus sambil main," ucap Anin khawatir.
"Tenang aja ada Ibu yang udah berpengalaman."
"Bukan gitu, tapi kan Ibu gak tahu kebiasaan Afifa karena dia itu aktif banget apalagi kalau mau tidur rewel banget kasihan Ibu pasti nanti dia pusing gimana cara nidurin Afifa, Mas bawa Afifa pulang Ani udah sehat kok," ucap Anin
" kamu itu masih belum sehat, lagian ada Dina juga yang bantuin jagain Afifa, udah jangan banyak pikiran nanti tambah sakit, kata Dokter maag itu juga bisa kambuh kalau banyak pikiran," ucap Dimas.
"Tapi Anin kangen Afifa, dia pasti susah makan, susah tidur pasti nangis,"
Dimas hanya menghela nafasnya melihat Anin yang begitu mengkhawatirkan anaknya meski pun Afifa bukan anak kandungnya namun Anin begitu menyayanginya, Dimas juga tak tega melihat Anin yang tak rela dipisahkan dengan Afifa walau beberapa hari sampai ia sehat, namun ia juga tidak mungkin membawa Afifa ke rumah saat Anin masih sakit.
"Kita videocall sama Dina aja ya," ucap Dimas kemudian mengambil ponselnya.
Tak lama sambungan videocall pun terhubung.
"Ada apa sih Mas?" ucap Dina malas.
"Ini teteh kamu kangen sama Afifa katanya," ucap Dimas kemudian memberikan ponselnya pada Anin.
"Eh teteh, kirain Mas Dimas yang kangen sama Dina," ucap Dina cengengesan.
"Afifa gimana Din? Dia udah mandi? Udah makan? Udah minum susu? Gimana rewel gak?" ucap Anin.
"Duh teteh nanyanya satu-satu dulu, Afifa udah makan, udah mandi udah minum susu dan sekarang lagi bobo sama Neneknya." ucap Dina.
"Alhamdulillah, teteh takut dia rewel soalnya kalau jam segini biasanya dia rewel kalau udah mandi,"
"Tenang aja teh, di sini ada Ibu sama Dina jadi aman terkendali, yaudah teteh istirahat dulu biar cepet sembuh nanti kalau udah sembuh Afifanya kita pulangin." ucap Dina
"Iya Din, makasih banyak ya maaf ngerepotin, salam ke Ibu sama Bapak," ucap Anin.
"Iya teh gapapa kok, iyananti Dina salamin." ucapnya kemudian
mematikan sambungan.
Anin pun bernafas lega karena Afifa baik-baik saja bersama orangtua Dimas dan Dina, syukurlah masih ada yang mau membantu menjaga Afifa saat ia sedang sakit, Anin berjanji akan lebih memperhatikan dirinya agar tidak sakit lagi dan membuat orang lain menjadi ikut terbebani.
"Gimana aman kan?" tanya Dimas.
"Iya Mas, syukur deh kalau Afifa gak rewel jadi Anin gak begitu khawatir," ucap Anin.
"Ya udah sekarang kamu tidur gih, saya mau beres-beres dulu sama pesen makanan biar nanti kamu langsung minum obat," ucap Dimas.
"Iya Mas makasih, jangan kecapekan juga nanti Mas juga ikutan sakit, kalau Mas sakit nanti siapa yang jagain Afifa kan kasihan sama Ibu sama Bapak," oceh Anin.
"Iya sayang." ucap Dimas keceplosan.
Anin yang mendengar jawaban Dimas yang memanggilnya sayang pun terkejut dan pipinya memerah, dadanya berdesir saat Dimas mengatakan hal itu, antara senang, bahagia dan malu karena baru pertama kali Dimas memanggilnya dengan sebutan sayang, Anin ingin sekali berteriak girang tapi ia menahannya dan menunduk dengan senyum malunya.
Sedangkan Dimas yang baru saja sadar mengatakan sayang pada Anin pun ikut memerah ia benar-benar keceplosan karena sejak tadi pagi ia sudah gemas dengan tingkah dan ocehan Anin yang membuatnya gemas karena baru kali ini lagi ia melihat Anin yang terus mengoceh karena khawatir.
"Mm..ya sudah saya masak nasi dulu." pamit Dimas gugup dan canggung.
"Iya Mas." ucap Anin yang tertunduk malu.
Dimas pun melangkah pergi ke dapur untuk memasak nasi dengan senyum mengembang entah mengapa ia malah bahagia mengatakan kalimat itu meskipun hanya karena keceplosan, tapi ia sedikit malu terlebih Anin langsung menunduk dengan wajah memerahnya yang membuat Dimas makin canggung, namun ia rasa menggoda Anin juga tidak masalah karena Anin langsung terdiam seribu bahasa.