Turun Ranjang

Turun Ranjang
Ending


Dimas dan Anin sama-sama terdiam di balkon kamarnya, mereka berdua duduk termenung dengan Anin yang duduk menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.


"Sudah lama kita gak pernah berduaan seperti ini," ucap Dimas.


"Namanya juga udah punya anak, otomatis perhatian terpusat sama mereka." ucap Anin tertawa kecil.


"Mas gak pernah nyangka cepat menikah tanpa ada jalinan hubungan sebelumnya, awalnya dijodohkan dengan Kirana dan berakhir dengan kamu," ucap Dimas mengeratkan pelukannya.


"Anin juga ngerasa semuanya tejadi begitu cepat, baru lulus kuliah kemudian menikah sudah punya Afifa sekarang ditambah Daffa, alhamdulillah,"


Dimas dan Anin terdiam sejenak, keduanya menatap lurus melihat lembayung yang mengitari sore itu, cuaca yang sangat bagus ditambah pemandangan indah untuk mereka nikmati berdua.


Tadi pagi Afifa dan Daffa di bawa kedua nenek mereka. Daffa di bawa Ibu Dimas ke rumah mereka sedangkan Afifa di bawa Mamah dan Papah Anin berjalan-jalan dan tinggal mereka berdua Dimas dan Anin yang menikmati kebersamaan.


"Anin, apa kamu pernah menyesal dengan pernikahan ini?" tanya Dimas menatap istrinya.


"Pernah." jawab Anin singkat.


Dimas yang terkejut dengan jawab Anin merubah posisi duduknya dan menatap serius pada wajah istrinya yang sudah berhijab itu, mata coklat dengan hidung mancungnya serta bibir ranum yang selalu menggodanya kini menatap lekat padanya pula.


"Anin menyesal. Awalnya Anin pernah bermimpi menikah dengan lelaki yang mencintai Anin dan Anin cintai pula, memakai gaun yang sudah dirancang sendiri, mengadakan pesta meriah dan tinggal di rumah yang jauh dari keluarga supaya mandiri. Tapi semuanya gagal," ucap Anin.


Dimas yang mendengar penuturan Anin merasa sedih, ia tak pernah bertanya apa yang Anin inginkan bahkan sebelum mereka menikah ia juga tak pernah berusaha untuk mendekatkan dirinya dan membuka hatinya pada Anin karena saat itu bayangan Kirana masih menghantui hati dan pikirannya.


"Apa selama ini kamu tidak bahagia?" tanya Dimas ragu.


"Sejujurnya, tidak ada kebahagiaan yang Anin rasakan kecuali bersama teh Kirana dan Bude Pakde di Jogja," jujur Anin.


"Anin, maafkan Mas tidak bisa membahagiakan kamu," ucap Dimas merasa bersalah.


Anin terdiam sejenak kemudian menatap ke arah Dimas yang kini menatap ke padanya dengan tatapan sendu dan merasa bersalah. Anin menatap manik hitam milik Dimas dan hidung mancungnya.


Anin mencubit hidung Dimas dengan gemas sambil tersenyum ke arahnya.


"Awal kita nikah itu rasanya aneh, Anin nikah sama Mas karena Turun Ranjang dapat bonus Afifa keponakan Anin yang sekarang menjadi anak Anin. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa di sangka-sangka," ucapnya menatap Dimas.


"Anin belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya karena fokus dengan pendidikan, sampai akhirnya dengan sikap Mas membuat Anin benar-benar merasakan jatuh cinta dan merasa beruntung," lanjutnya kembali.


Dimas mengerutkan dahinya dengan penuturan Anin yang membuatnya penasaran akan perasaan wanita dihadapannya sebenarnya.


"Awalnya ngerasa sedih Anin nikah sama Mas karena permintaan teh Kirana, ditambah Anin belum siap dan di dorong sama Mamah dan Papah yang memang tidak peduli sebelumnya, tapi ternyata disinilah Anin menemukan kebahagiaan sesungguhnya," ucapnya mengenggam tangan Dimas.


"Setelah menikah Anin jatuh cinta pertama kali dengan suami sendiri, sikap Mas yang penyabar juga membuat Anin merasa bersyukur, Mas gak pernah banyak nuntut apapun dari Anin, termasuk memaksa Anin berhijab tapi dengan didikan dan kesabaran Mas, Anin akhirnya perlahan-lahan bisa berubah lebih baik," ucapnya.


Dimas yang mendengar penuturan Anin merasa matanya panas, jantungnya berpacu dengan cepat, namun tak ada air mata yang keluar hanya cairan di hidungnya yang ia tarik berkali-kali. Ia sungguh merasa terharu dengan ungkapan Anin.


Tanpa menunggu lama, Dimas menarik dagu Anin dan ******* bibirnya dengan lembut kemudian memperdalam ciumannya, mata keduanya terpejam di tambah hembusan angin keduanya saling menyalurkan hasrat kerinduan dan rasa cinta satu sama lain.


"Saya mungkin pernah mencintai Kirana karena bagaimanapun dia istri saya dan ibu kandung Afifa, namun setelah dia meninggal saya mencoba melupakan dia dan mencintai kamu, pertemuan pertama kita dulu saya memang mengagumimu kamu namun setelah bersama Kirana saya mencoba mecintainya, dan sekarang.. Saya sudah mencintai kamu Anin," Jujur Dimas panjang lebar.


Anin hanya menatap Dimas dengan senyuman manisnya, ia tahu tak mudah bagi seseorang untuk mencoba jatuh cinta kembali setelah di tinggal orang yang di cintainya, dan Dimas dulu pernah menganggumi dirinya sebelum di jodohkan dengan Kirana, dan Tuhan membolak-balikan perasaannya mungkin dulu Dimas mencintai Anin kemudian mencintai Kirana tapi kini ia Tuhan menakdirkan Anin hadir dan melengkapi hidupnya juga hatinya.


"Anin." ucap Dimas terengah-enggah melepaskan ciuman.


"Mas tidak bisa tahan," ucap Dimas dengan suara parau merasa hasratnya mengebu.


"Anin masih Nifas Mas, baru aja ngelahirin seminggu yang lalu" ucap Anin memperingati.


"Tapi Mas sudah tidak tahan," ucapnya dengan wajah memohon.


"Mas, Daffa aja baru lahir." jawab Anin.


"Ya sudah nanti kalau Nifas kamu selesai jangan harap bisa lepas," ancam Dimas.


Anin hanya tertawa melihat ekspresi Dimas yang nampak kecewa dan sedih. Bukan Anin tidak mau melayani nafsu suaminya itu, hanya saja ia baru melahirkan seminggu yang lalu.


*-*-*-*-*


Seminggu berlalu ..


Suara di bawah sudah mulai riuh, semua keluarga berkumpul di ruang tengah rumah Dimas dan Anin. Orangtua Dimas dan Anin tengah sibuk bermain dengan kedua cucu mereka di tambah dengan tiga cucu dari Arya kakak tertua Dimas yang datang bersama istrinya.


Hari ini usia Daffa sudah memasuki dua minggu, Dimas dan Anin memilih untuk mengadakan Aqiqah pada putra pertama mereka anak kedua Dimas.


Rendra dan Gilang juga ikut datang. Gilang datang bersama Friska dan Leona sedangkan Rendra sedang duduk memangku Afifa yang nampak nyaman di pangkuannya.


"Ren, kamu datang sendirian?" tanya Ibu Dimas.


"Enggak Bu, Rendra datang sama bayangan kok," ucapnya tersenyum miris


"Ada-ada aja kamu jawabnya," uca Ibu tertawa.


"Mang Rendra udah cocok jadi Bapak." teriak Denis anak kedua Arya.


"Mang-mang, udah di bilang paling saya Uncle Rendra, you know?" ucap Rendra pada Denis


"Gak cocok Uncle, mukanya gak kayak bule" ledek Denis.


"Nih bocah tambah gede tambah gak sopan!" ucap Rendra kesal.


Sedangkan Denis hanya menatap cuek pada Rendra.


Arya memiliki tiga anak dan jarak usia dari ketiga anaknya hanya berselisih tiga tahun. Anak pertamanya bernama Cantika Fariuz yang usianya sudah 12 tahun, anak keduanya bernama Denis Bagus Kurnia lelaki yang sangat aktif dan paling akrab dengan Dimas dan kedua sahabatnya itu karena sejak kecil Dimas selalu membawa keponakannya saat kumpul. Dan yang terakhir Alika Rentanu gadis kecil yang berumur 6 tahun dan paling sering kenal jahil dengan ulah sang kakak Denis seperti saat ini, Alika sudah menangis karena Denis menarik rambutnya yang baru saja di ikat sang Bunda.


*-*-*-*-*


Acara Aqiqah sudah selesai. Dimas memilih menemani Anin yang menidurkan Daffa bersama Afifa yang sudah tertidur lebih dulu di pangkuan Rendra.


Rendra sedang melamun sambil memikirkan puisi yang akan di tulis di Blog pribadinya. Ia menatap ke arah Dina yang sedang berbincang dengan kedua keponakannya Cantika dan Alika. Rendra tersenyum melihat Dina yang kian hari makin cantik dengan hijab yang ia kenakan ditambah senyum manis yang rupawan.


"Mang, kita mabar!" ucap Denis tiba-tiba datang.


"Mabar Naon (apa)?" tanya Rendra.


"Mabar itu Main Bareng, masa Mang gak tahu!" ledeknya kesal.


"Iya tahu arti Mabar, tapi mau main apa?" tanya Rendra dengan sabar.


"Ludo King!" ucapnya.


"Ah gak level!" ucap Rendra.


"Yang kalah harus di kasih hukuman," ucapnya


"Hayu sok, apa hukumannya?" tanya Rendra semangat karena yakin ia akan menang.


"Yang kalah mukanya harus di coret pake ini," ucapnya mengeluarkan lipstik dari saku.


"Lipstik siapa?" tanya Rendra.


"Tenang ini udah gak ke pake Mang, ayo kita main," ucap Denis


"Oke, tapi kalau kalah jangan nangis ya."


Hampir setengah jam mereka memainkan permainan Ludo dan sejak itu pula muka Rendra sudah penuh dengan gincu merah muda yang hampir penuh di mukanya.


Ia sangka Denis akan kalah olehnya namun kepintaran dan kepiawaiannya melebihi Rendra yang cerdas, hingga babak terakhir Rendra memenangkan juara pertama dan Denis kalah.


"Akhirnya, terimakasih Tuhan telah mengebulkan doa hamba" ucapnya tersenyum senang karena Denis kalah meskipun baru sekali.


"Sini lipstiknya," pinta Rendra


"Gak mau!" ucap Denis.


"Gak boleh curang ya kamu kalah," ucap Rendra.


"Mang Rendra udah kalah kan dari tadi Denis udah menang," ucapnya menolak di hukum.


"Harus adil dong kan tadi Uncle kalah di hukum, sekarang gantian," ucap Rendra lansung merebut lipstiknya.


Tanpa menunggu lagi Rendra langsung mencoret pipi Denis. Namun baru pipi kanannya saja Denis berteriak sambil menangis berlari pada orang tuanya dan membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Mang Rendra jahat coret-coret wajah Denis pake lipstik," adunya pada Bundanya.


Rendra yang terkejut dengan ucapan Denis memilih mengambil ponselnya pura-pura mengeceknya


"Kamu tuh ya masih aja sering jahilin om kamu," ucap Bunda.


"Bentar deh, ini lipstiknya kayak kenal warnanya juga," ucap Dina.


"Gak tahu, tadi Mang Rendra yang kasih lipstiknya kok," ucap Denis.


Rendra makin terintimidasi tatkala namanya di sebut kembali oleh Denis, jelas-jelas ia adalah korban utamanya tapo bocah pintar itu membalikan fakta, sungguh luar biasa jurusnya.


"A'Rendra mana lipstiknya?" pinta Dina.


Rendra menundukan wajahnya tanpa menatap Dina yang sudah berdiri dihadapannya.


"A'Rendra ih siniin!" pinta Dina kemudian menarik lipstik tersebut.


"Tuh kan, ini lipstik Dina kok ada di a'Rendra? Jangan-jangan a'Rendra ngambil ya di tas Dina?" ucap Dina curiga sambil menatap miris dengan lipstiknya yang sudah hampir habis.


"Sumpah bukan saya Din," ucapnya menatap Dina.


"Astagfirullah," ucap Dina terkejut.


Tak hanya Dina yang terkejut, semua orang yang ada di sana pun tak kalah terkejut sedetik kemudian tertawa keras melihat wajah Rendra yang penuh dengn lipstik ulah Denis itu.


"Denis, kamu apaan om Rendra sampai kayak gitu?" tanya Arya pada anaknya.


"Mang Rendra kalah main Ludo jadi Denis hukum coret pake lipstik," ucap Denis.


"Sayang, kamu gak boleh kayak gitu om Rendra kan om kamu juga," ucap Bunda Denis.


"Mang Rendra mah belum laku-laku" ucapnya cuek.


"Sutt gak boleh gitu gak sopan!" ucap Bunda Denis.


Dina yang baru berhenti tertawa mengambil tasnya di meja dan mengambil tisu basah dan memberikannya pada Rendra.


"Itu masih ada," tunjuk Dina.


"Dimana?" tanya Rendra.


"Di deket dahi," tunjuk Dina.


Rendra mencoba menggelapnya namun karena ia tidak bisa melihatnya tetap masih ada, akhirnya Dina mengambil tisu basahnya dan membantu Rendra membersihkan wajahnya.


Debaran jantung Rendra kian memompa dengan cepat, wajah Dina kini terlihat sangat dekat dengannya bahkan deru nafasnya terasa berhembus di wajahnya.


"Nih udah," ucapnya memberikan tisu.


"Makasih" ucap Rendra.


"Lain kali jangan mau di kibuli sama anak kecil!" ucap Dina langsung pergi.


Sedangkan Rendra yang baru tersadar hanya menghembuskan nafasnya dengan kelakuan Denis yang membuatnya malu.


"Lagian bener juga sih Ren, tinggal kamu yang belum nikah? Bade iraha atuh?" tanya Arya tiba-tiba.


"Ayah sama anak sama-sama laknat" umpat Rendra dalam hati.


"Nungguin Dina kayaknya," ucap Bunda Denis.


Dina yang mendengarkan ucapan kakak iparnya hanya tertawa sambil melanjutkan aktivitasnya mengobrol dengan keponakannya.


Sedangkan Rendra hanya tersenyum sambil mengumpat dalam hatinya. Ia baru membasa berita beberapa minggu lalu tentang seorang pria yang tewas di bunuh karena menanyakan kapan temannya akan menikah.


Tidak Iman Rendra masih kuat.


*-*-*-*


Hari sudah malam, semua keluarga masih berkumpul di rumah Anin dan Dimas, mereka belum beranjak sejak tadi pagi karena sudah lama tidak pernah berkumpul dengan lengkap.


Dimas tengah menggendong Daffa sedangkan Anin menggendong Afifa yang masih terjaga. Mereka berkumpul bersama Rendra, Gilang serta Friska dan Leona.


"Gak pernah disangka ternyata secepat ini kita dewasa," ucap Dimas.


"Gue juga nggak nyangka, lo nikah lebih dulu dari kita-kita padahal lo jomblo," ucap Gilang kemudian tertawa.


"Jodoh gak ada yang tahu, gue juga gak nyangka bisa berjodoh sama Anin pada akhirnya," ucap Dimas tersenyum pada Anin.


"Gue juga turut bahagia sama kalian akhirnya bertemu jodoh kalian dengan cara berbeda, dan gue bahagia karena bisa menjadi saksi perjalanan cinta kalian," ucap Rendra tulus.


"Gue juga berharap lo cepet dapat jodoh lo supaya bisa bahagia kayak kita." ucap Dimas.


Rendra hanya tersenyum sambil menyeruput kopi yang masih panas, sedangkan Gilang dan Dimas sibuk dengan istri dan anak-anak mereka.


Rendra bahagia menjadi salah satu saksi dari kehidupan kedua sahabatnya, dari mulai mereka liburan ke Jogja, bertemu Anin dan membuat Dimas jatuh cinta, menikah dengan Kirana yang ternyata kakak kandung Anin sampai akhirnya Dimas turun ranjang dan bahagia bersama Anin dengan kedua anaknya.


Dan Gilang, seorang playboy yang hanya singgah sementara di hati wanita, berkelana hingga bertemu dengan Friska yang berhasil mengubah hidupnya menjadi lebih perhatian dan bertanggung jawab meskipun awalnya dengan lamaran dadakan hingga ia harus kerepotan membawa roti buaya namun melihat potret kebahagiaan mereka saat ini membuat Rendra benar-benar bersyukur dan bahagia bisa dikelilingi oleh sahabat dan keponakannya.


Arya menyiapkan kamera Dimas yang meminta untuk memotret kebersamaan mereka, di ruang tamu yang lumayan luas Dimas dan Gilang bersama istri dan anaknya sertas Rendra sudah bersiap mengambil posisi untuk di abadikan.


Hingga hitungan ketiga semua tersenyum senang ke arah kamera sambil merangkul istri mereka kecuali Rendra yang memeluk bantal di sofa sambil tersenyum.


Sedangkan Dimas benar-benar merasa bersyukur, jika saja saat itu ia tidak di bawa paksa oleh kedua sahabatnya pergi Jogja mungkin ia takkan pernah melihat Anin hingga jatuh cinta pandangan pertama padanya.


Dimas dan Anin tersenyum ke arah kamera sambil mencium kedua anak mereka. Sebuah potret kebahagiaan yang tidak pernah bisa digantikan akan mereka abadikan untuk anak-anak mereka kelak.


END


Untuk kelanjutan cerita Rendra-Dina sudah di tulis di Wattpadd judulnya "Bukan Salah Jodoh"..saya sudah lanjut nulis di sana karena sebelumnya cerita ini juga di tulis di sana.. boleh langsung mampir di @ningsihe98 ..


jadi kalau penasaran sama Rendra boleh mampir yaa!!