Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 31


Sambil menunggu sunset Anin dan Dimas menghabiskan waktu di pantai, entah berapa lama mereka berjemur yang pasti mereka ingin menghabiskan waktu berdua menikmati alam dan hembusan angin yang berhembus.


"Mas, mataharinya mau tenggelam," ucap Anin.


"Iya ini udah siapin kamera." ucap Dimas mengatur lensa.


"Bukan itu, maksud Anin kita berdoa,"


"Berdoa? Memangnya kalau lihat matahari tenggelam doa bisa terkabul?" tanya Dimas.


"Yang ngambulin doa itu Allah, tapi Anin pengen berdoa di sini soalnya beberapa doa Anin udah kabulin juga," ucap Anin kemudian memejamkan matanya.


"Percaya itu sama Allah bukan matahari!" ucap Dimas yang kemudian melakukan hal yang sama.


Dimas dan Anin sama-sama memanjatkan doa di dalam hati masing-masing, kemudian keduanya membuka mata hingga melihat matahari sudah tenggelam dan keduanya memutuskan kembali ke penginapan mereka.


Anin dan Dimas baru selesai mandi mereka menikmati makan malam yang sudah mereka pesan. Dimas dan Anin sama-sama terdiam menikmati makanan mereka hingga air putih menjadi penutup makan malam mereka. Mereka berdua memilih duduk di sofa dan menonton tayangan televisi yang tersedia di sana.


"Mas kita berapa hari di sini?"


"Seminggu mungkin kalau lebih juga boleh," ucap Dimas tanpa menoleh.


"Seminggu? Mas kasihan Afifa kalau di tinggal lama-lama belum lagi kasihan Ibu sama Bapak kerepotan,"


"Yaudah, lima hari gimana?"


"Tiga hari aja," ucap Anin.


"Lima hari Anin kita belum honeymoon selama menikah."


"Tiga hari atau besok pulang?" ancam Anin.


"Oke-oke sebagai suami yang berbakti kita tiga hari deal" ucap Dimas di balas senyum Anin.


"Mas waktu sunset tadi berdoa apa?" tanya Anin.


"Masa doa di bilang-bilang, cukup Mas sama Allah aja yang tahu."


"Mas gak mau tahu gitu doa Anin?"


"Apa memangnya?" tanyanya.


"Anin berdoa semoga Allah memberikan umur panjang buat kita, semoga keluarga kita tetap rukun dan harmonis dan semoga bisa pergi ke Mekkah bersama," ucap Anin sambil tersenyum.


"Ammiin." ucap Dimas.


"Mas berdoa apa?" tanya Anin kembali.


"Kalau Mas bilang takut kamu marah,"


"Marah? Memangnya berdoa apa? Gak aneh-aneh kan?" selidik Anin.


"Berdoa nambah istri satu lagi." ucap Dimas.


"Apa?" ucap Anin membelalakkan matanya.


"Tuhkan kata Mas juga kalau di bilangin nanti marah,"


"Mas mau nambah istri lagi? Jadi Mas mau poligami gitu? Anin gak setuju pokoknya kalau Mas sampai poligami mending Anin jadi janda aja!" ucap Anin kesal.


"Sutt jangan bilang gitu pamali, Mas bercanda kok, lagian mana mungkin nambah istri yang sekarang aja belum habis mau nyari juga kayak gimana lagi semuanya udah paket kumplit di kamu." ucap Dimas memeluk Anin membawanya ke dadanya dan mencium keningnya.


"Terus Mas berdoa apa?"


"Mas berharap semoga kita di beri kebahagiaan, dan semoga cepet di kasih anak dari kamu." ucap Dinas.


"Anak? Afifa aja masih kecil," ucap Anin.


"Ya gapapa beda dua tahunan gak masalah, Mas pengen punya banyak anak dari kamu Anin," ucap Dimas.


Baru saja Anin hendak berbicara Dimas langsung ******* bibir Anin dengan lembut, Anin yang juga merindukan ciuman hangat Dimas langsung membalasnya dengan lembut dan mengalungkan tangannya di leher Dimas.


Dimas menggendong Anin keranjang tanpa melepas ciuman panas mereka, keduanya saling merindukan dan menginginkan. Dimas membuka kancing piyama Anin dengan cepat hingga keduanya kini tanpa sehelai benang. Keduanya saling menikmati permainan mereka dan terlelap dengan selimut yang menyelimutinya.


 


*-*-*-*-*


Anin dan Dimas masih berada di Jogja, kali ini Anin meminta Dimas mengunjungi Bude dan Pakde Dimas dan menginap disana sampai mereka pulang, Dimas juga setuju ia juga sudah lama tak mengunjunginya kakak tertua dari Bapaknya itu.


"Kalian kenapa ndak bilang mau ke sini, kan Bude bisa masakin buat kalian," ucap Bude.


"Kita juga gak ada rencana Bude cuman kebetulan aja Dimas ingin liburan jadi di sempatkan ke sini." jawab Dimas


"Gimana keadaan Bapak sama Ibu kamu?" tanya Pakde.


"Alhamdulillah baik."


Sejak mereka datang, Anin sudah langsung berkutat di dapur Bude yang menjadi favoritnya, jika berada di Jogja Anin akan lebih sering memasak terkadang Bude ikut membantunya dan berbagi resep makanan khas Jogja dan kadang pula Anin akan membalasnya dengan memasak masakan Sunda namun tetap manis mengikuti lidah mereka yang tidak terlalu suka pedas.


"Nduk kamu tuh ya setiap datang ke sini bukannya istirahat pasti langsung ke dapur," ucap Bude.


"Yo ndak papa Anin kangen sama dapur Bude, masakannya udah selesai kita makan Bude," ucap Anin membawa masakannya ke meja.


"Pasti Dimas beruntung banget, kamu tuh udah cantik jago masak juga Bude seneng punya mantu kayak kamu." puji Bude.


"Bude jangan muji terus nanti hidung Anin terbang," ucap Anin sambil tertawa.


Bude dan Pakde menikmati masakan Anin yang mereka rindukan, tak lupa Hasan juga ikut menikmati makan mereka.


"Oh iya Dim, Pakde dengar perusahaan kamu sudah jual saham?"


"Iya Pak, ada beberapa masalah juga di kantor sebelumnya jadi Dimas lebih milih buat di jual aja,"


"Terus sekarang kamu kerja apa? " tanya Bude.


"Sekarang Dimas ikut di travel Umrah dan HJ kebetulan temen Dimas nawarin kerja sama."


"Syukurlah kalau udah ada kerjaan, yang penting halal," ucap Bude.


"Mas kenal sama ponakan pak Karim?" tanya Hasan.


"Ponakannya pak Karim yang ketua Rt?" tanya Dimas.


"Iyo yang sering ke kedai Bapak," jelas Hasan.


"Evan? Ponakannya kan?" tanya Dimas.


"Nah Mas Dimas tahu katanya dia sekarang pindah ke Bandung dan perusahaannya di sini udah dia jual!"


Dimas dan Anin yang mendengarnya terkejut, benarkah Evan yang di maksud Hasan tapi mengapa ia menjual perusahaannya di Jogja padahal dia juga baru membuka cabang baru. Mereka tahu Evan berada di Bandung tapi mereka tak tahu jika Evan sampai nekat menjual sahamnya.


"Kamu yakin apa cuma gosip?" tanya Anin


Anin dan Dimas saling bertatapan keduanya binggung karena mereka baru tahu jika Evan menjual perusahannya.


Dimas dan Anin terdiam di kamar, Anin masih dengan pikirannya yang binggung tentang Evan sedangkan Dimas ia pun binggung dengan Evan dan pertemuannya waktu itu dengan Gilang yang tak sengaja ia lihat.


"Mas kira-kira kenapa ya Evan jual saham?" tanya Anin.


"Mungkin perusahaannya ngalamin kerugian,"


"Masa sih? Perasaan perusahaan dia baik-baik aja lagian perusahaan itu punya orangtuanya dan dia baru pegang saham pas Anin pertama kali kerja di sana,"


"Mas juga gak tahu." jawab Dimas sambil bermain game di ponselnya.


"Tapi kenapa dia ada di Bogor ya waktu Papah sakit dia yang nyelamatin aneh kan kalau cuma kebetulan?"


"Mas juga aneh sih tapi mungkin aja dia punya kerabat di Bogor," ucap Dimas santai.


"Setahu Anin keluarganya di Jogja sama di Malaysia aja itu juga kakaknya di sana tapi yaudahlah Anin gak mau mikirin gak penting juga," ucap Anin sambil membaringkan badannya.


Dimas hanya terdiam sambil mencerna ucapan Anin yang membuatnya binggung, jika keluarganya di Jogja dan Malaysia lalu untuk apa Evan di Bogor dan terakhir ia melihatnya di Bandung?


"Eh tadi Anin lihat wallpaper ponsel Mas fotonya teh Kirana," ucap Anin yang membuka mata kembali.


Dimas hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, akhirnya Anin tahu wallpaper ponselnya adalah foto Kirana, ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya ia takut Anin salah paham lagi.


"Kenapa Mas?" tanya Anin.


"Sebenarnya ini bukan wallpaper, tapi untuk layar kunci aja, kalau di buka ini wallpaper berandanya foto kamu semua," jujur Dimas.


Anin yang mendengar penuturan Dimas hanya tersenyum ia tak merasa cemburu Dimas memakai wallpaper foto kakaknya itu.


"Gapapa Mas, gak masalah kok kalau wallpaper handphonenya pake foto teh Kirana lagian Afifa juga harus tahu kan siapa Ibu kandungnya sebenarnya, ya udah kita tidur udah malam," ucap Anin menarik selimut.


"Kenapa kamu gak pernah marah dan cemburu Anin?" tanya Dimas.


"Ngapain harus cemburu sama kakak sendiri Mas? Teh Kirana juga istri dan ibu dari Afifa." jawab Anin.


"Saya jatuh cinta dengan orang yang tepat,"


"Anin bahagia Mas mau menerima Anin dan menyayangi Anin meski dengan cara berbeda yang tidak di ketahui orang."


Dimas tersenyum dan mencium kening Anin yang sudah memejamkan matanya.


Dimas yang belum merasa mengantuk memilib kamar Hasan untuk meminjam laptopnya. ia ingin mentransfer foto di pantai bersama Anin yang di abadikan di kameranya. Untungnya Hasan belum tidur, selesai di transfer Dimas mengeditnya ponselnya dan menjadikan layar kunci depan dan juga foto profil whatsappnya.


*-*-*-*-*


Anin dan Dimas sudah sampai di Bandung, tiga hari mereka berlibur di Jogja membuat hubungan keduanya semakin harmonis Dimas juga sudah tak sungkan bermanja pada Anin karena ia merasa sudah bahagia setelah Anin mengetahui isi hatinya.


Hari ini Dimas mengajak Anin pergi ke toko kue yang sudah ia dekorasi tanpa sepengetahuan Anin sebelumnya. Ia sengaja ingin membuat kejutan pada istrinya itu.


Awalnya Dimas ingin Anin yang mendekorasinya namun waktunya juga tak pas untuk mereka terlebih dengan masalah mereka sebelumnya, jadi ia memilih untuk mendekorasi sendiri.


"Mas kita mau kemana?" tanya Anin.


"Tunggu bentar lagi sampai." ucap Dimas.


"Mas gak aneh-aneh kan? Gak akan bawa Anin ke Jogja lagi kayak kemarin?"


"Enggak sayang, ini mau sampai,"


Dimas memarkirkan mobilnya di depan toko yang sudah selesai di dekorasi, tidak terlalu mewah namun terlihat sangat menarik dengan cat Ungu dan yang paling mengejutkan nama Anindira tertera di atas toko tersebut membuat Anin binggung sekaligus terkejut saat Dimas menarik tangannya ke dalam.


"Ayo masuk!"


"Mas ini toko siapa?" tanya Anin.


"Ini toko kita, jadi mulai sekarang kamu gak usah capek-capek buat bikin brownis di rumah sekarang sudah ada tempat dan karyawan juga,"


Anin terkejut saat masuk ke dalam. Meja-meja tertata rapih khiasan di dinding yang begitu menarik seperti keinginannya dulu memiliki usaha sendiri dan mendesainnya dan sekarang tempat ini persis seperti keinginannya apa Dimas pernah melihat gambarnya? 


"Mereka adalah karyawan kamu, mereka bisa membuat cake dan brownis tapi kamu bisa mengajari mereka dengan resep kamu dan dua orang pria ini yang akan membantu mengantarkan pemesan keluar jadi kamu gak perlu kerepotan untuk mengantar sendiri lagi." ucap Dimas.


Anin menyalami ke 5 karyawannya itu, ia tak tahu mengapa Dimas membuat kejutan sangat mengemberikan meskipun brownis buatannya belum seterkenal brownis lainnya tapi ia berharap semoga usahanya ini berhasil ia sangat menginginkan usaha ia sejak lama dan Dimas mewujudkan.


"Mas terimakasih untuk semuanya," ucap Anin memeluk Dimas.


"Pelukannya jangan di sini malu di lihat." bisik Dimas.


Anin yang tersadar langsung melepas pelukannya dan tersenyum ke arah karyawannya.


Anin langsung menuju dapur untuk mengajarkan karyawan wanita yang berjumlah 3 orang itu untuk membuat brownis mereka membagi pengalaman satu sama lain, Anin juga menyuruh karyawannya yang pandai membuat cake untuk mencobanya, Anin sebenarnya pandai membuat cake namun ia tak berani untuk menjualnya terlebih menurutnya rasa cakenya tidak memuaskan di lidahnya.


"Gimana Bu rasanya?" tanya Rina salah satu karyawannya.


"Sudah pas tapi masih kurang matang sedikit lagi,"


"Oh iya, kalian jangan panggil saya Ibu sepertinya umur saya lebih muda juga kalian panggil saja mbak aja," ucap Anin tersenyum.


"Baik Mbak " ucap mereka tersenyum.


Anin berjalan keluar dapur dan menemui Dimas yang menunggunya di depan, hari ini toko Anin masih tutup karyawan pun sudah Anin suruh pulang untuk beristirahat karena besok toko baru mulai di buka dan Anin juga akan mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk rasa syukurnya.


"Mas kita pulang sekarang?" ucap Anin.


"Sudah selesai?"


"Sudah Mas." ucap Anin.


Baru saja Dimas berdiri suara ponselnya berdering dan membuat Dimas harus mengangkatnya.


"Halo," ucap Dimas.


"Halo pak, saya sudah menemukan orang yang ingin menghancurkan perusahaan anda," ucap seseorang di balik telepon.


"Baik saya ke sana sekarang!" ucap Dimas.


"Baik pak saya tunggu!"


Anin yang tidak tahu siapa yang menelepon Dimas hanya menatap Dimas yang tampak tegang setelah mendapatkan telepon tersebut, Dimas mencoba bersikap santai, ia tak mau Anin tahu tentang masalah kantornya sebenarnya ia pun memilih mengantarkan Anin pulang ke rumah.


"Nin kamu masuk duluan ya saya ada urusan," ucap Dimas setelah sampai rumah.


"Mas mau kemana?" tanya Anin.


"Masalah di travel katanya ada yang belum urus Visa," ucap Dimas berbohong.


"Ya sudah hati-hati." ucap Anin.


Dimas mengangguk kemudiam melajukan mobilnya, Anin merasakan aura Dimas yang berbeda seperti sedang menahan amarah, sejak mendapat telepon tadi Dimas tampak menahan amarahnya. Anin hanya bisa berdoa semoga Dimas baik-baik saja meskipun hatinya khawatir sejak Dimas memilih pergi tadi perasaannya mendadak tidak enak.