Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 108


Dengan kaki gemetar, Huda menghampiri Melisa yang sedang berada di taman samping rumah. Taman itu terhubung dengan kaca besar yang menampakkan kedua sisi, antara rumah dan taman. Tak hanya sendiri, disana Melisa juga bersama Asih, lengkap dengan baby ZAJ.


Mencoba yakin, Huda menghampiri.


"Sa," panggilnya dengan gugup.


Sontak saja, Melisa dan Asih sama-sama menoleh ke arah sumber suara.


"Mas Huda," jawab Melisa sekaligus heran, untuk apa sekretaris pribadi Tuannya ini sampai di taman belakang, tidak mungkinkan karena kesasar?


Melihat kedua mata gadis pujaannya, Huda makin dilanda kegugupan. Namun sadar tak memiliki banyak waktu, ia langsung berkata dengan lantang.


"Melisa, ayo kita ta'aruf," ajak Huda yakin.


Melisa terkejut, sedangkan Asih langsung terbelalak.


"Ha?" jawab Melisa dan Asih ikut-ikutan.


Jodoh merupakan rahasia takdir Allah yang tidak diketahui manusia sama sekali. Karena itulah manusia tidak pernah tahu siapa yang akan mendampinginya selama hidup hingga kehidupan di akhirat kelak. Namun setiap umat muslim meyakini, jika Allah adalah penentu terbaik untuk setiap hambanya.


Karena itulah, Huda memilih ta'aruf sebagai jalan mendapatkan jodohnya, jalan yang paling di ridhoi oleh Allah. Dan wanita pilihannya adalah Melisa.


Arick yang diam-diam menguping hanya mampu mengulum senyumnaya, ikut bangga atas keberanian Huda.


"Mas Arick, ngapain?" tanya Puji heran, tak biasanya ia melihat sang Tuan nempel-nempel di dinding.


"Eh mbak Puji, Dimas dimana?" tanya Arick, tanpa menjawab pertanyaan Puji.


"Orang ditanya malah balik tanya," keluh Puji dengan wajah yang di tekuk.


"Ada di depan, nemenin mang Ujang potong pohon," jelas Puji apa adanya.


Arick mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Puji. Puji yang ditinggalkan, makin dibuat heran.


Dan benar saja, sampai di halaman rumah Arick melihat Dimas dan Ujang sedang memangkas beberapa dahan pohon mangga yang terlalu besar.


Dihampirinyalah kedua pria berbeda generasi itu.


Melihat tuannya datang, Ujang langsung mundur hormat, sementara Dimas masih nangkring diatas pohon.


"Ada apa Mas? apa ada yang bisa mang Ujang bantu?" tanya Ujang dengan tak enak hati. Biasanya, ia yang dipanggil untuk masuk ke dalam. Namun kini, Arick menemuinya secara langsung.


"Tidak ada Mang, saya ingin menemui Dimas," jawab Arick.


Nama yang dipanggil langsung buru-buru turun, dan Brug! Dimas malah jatuh.


Arick terkekeh dulu, baru menolong.


"Ada apa Mas?" tanya Dimas langsung, Dimas dan Arick memang kini sudah semakin dekat. Bahkan Arick meminta Dimas untuk menganggapnya sebagai seorang kakak.


"Bisnis," kode Arick lalu berjalan menuju kursi taman, Dimas mengikuti sambil mengajak Ujang untuk ikut.


Jadilah, ketiga pria ini duduk disana.


"Bisnis penting ya Mas? saya ganggu tidak?" tanya Ujang yang tidak enak hati.


"Tidak Mang, Mang Ujang disini saja, ikut mendengarkan," jawab Arick.


"Bagaimana hubunganmu dengan Asih?" tanya Arick langsung pada Dimas.


Yang ditanya hanya diam, galau.


"Memangnya Dimas punya hubungan apa sama Asih Mas?" tanya Ujang penasaran.


"Mang, hanya mendengarkan," ucap Arick mengingatkan dan Ujang hanya mampu menelan ludahnya kasar, lupa.


"Jawab," titah Arick lagi dan Dimas mulai mengangkat wajahnya yang tertunduk.


"Asih selalu menghindari saya Mas, tiap kali saya ajak bicara dia malah selalu membahas Melisa," jelas Dimas jujur dan apa adanya. Memang begitulah yang terjadi selama ini.


Seolah Asih sengaja membuatnya agar bisa tertarik pada Melisa.


Dimas sendu, bingung sendiri harus bagaimana.


Mendengar itu, Arick menggelengkan kepalanya pelan. Percintaan anak muda memang selalu rumit.


Kini, Arick sudah mengambil kesimpulan. Melisa menyukai Dimas, Dimas menyukai Asih, dan Asih tak enak hati pada Melisa.


"Untung ada Huda," gumam Arick pelan, saking pelannya sampai Dimas dan Ujang tidak mendengar.


"Apa Mas?" tanya Dimas dan Ujang kompak.


"Sabarlah dulu kalau begitu, kalau Asih memang jodohmu pasti tidak akan kemana," ucap Arick dan langsung bangkit.


Lalu pergi meninggalkan Dimas yang masih tercenung.


"Kalau itu, aku juga tahu Mas," lirih Dimas sambil menatap nanar kepergian sang majikan.


Sementara Arick sudah yakin, bahwa ini semua hanya masalah waktu. Kemarin-kemarin, ia sempat melihat Asih yang memandangi Dimas dari kejauhan.


Dari tatapan itu saja, ia bisa tahu jika Asih pun memendam rasa pada si supir. Namun masih terlalu banyak penghalang untuk menyatu.


Jadi biarlah waktu yang menjawab semuanya.