
Malam ini mas Arick sudah meminta kode untuk memberinya sesuatu sebelum tidur. Bahkan selama makan malam, suamiku ini terus saja tersenyum sambil sesekali memandangku dengan intens.
Aku sih biasa-biasa saja, lain halnya dengan mbak Puji yang malah geram sendiri.
"Ampun! mana kuat mbak Puji kalau lihat beginian," keluhnya sambil beranjak dari meja makan.
"Besok saya tukeran sajalah sama bude Santi, biar beliau yang disini dan saya yang ikut ibu Sofia." lanjutnya lagi sambil mencuci tangan di wastafel. Mbak Puji kalau makan selalu menggunakan tangan, tidak pernah memakai sendok.
"Kenapa sih Mbak? kok ngeluh-ngeluh begitu," tanya mas Arick, tangan kanannya terulur mengambil segelas air minum, ia meminumnya hingga tandas.
"Ya pikir aja sendiri Mas, tiap hari saya liat Mas Arick sama Mbak Jihan mesra-mesraan mulu. Saya kan jadi mupeng, muka pengen."
Aku sedikit terkekeh mendengar penuturan mbak Puji, ada-ada saja kelakuannya.
"Ya sudahlah, saya sama Jihan masuk kamar dulu, biar Mbak Puji nggak pengen-pengen lagi."
"Ampun! malah pindah ke kamar, pikiranku traveling kemana-mana Mas Mas."
Mas Arick bangkit, menarikku untuk mengikuti langkahnya. Kami berdua pergi, meninggalkan mbak Puji dengan semua keluhannya.
"Maaf ya Mbak, saya tidak bantu cuci piring," ucapku sedikit berteriak, karena mas Arick terus menarikku mengikuti langkahnya.
"Wes lungo lungo lungo," jawab mbak Puji, menyuruhku pergi. hihi.
Sampai di kamar mas Arick mendudukkanku di sisi ranjang.
"Mas, kenapa sih, suka sekali mengganggu mbak Puji," tanyaku, karena ku lihat mas Arick masih saja menertawakan mbak Puji meski sudah sampai dikamar.
"Tidak ada apa-apa sayang, aku memang sengaja membuatnya tidak betah disini. Nanti kalau dia sudah pindah ke rumah ibu, kita panggil suaminya kesini buat jadi satpam di rumah." Lagi-lagi mas Arick terkekeh setelah mengucapkan itu, senang sekali membayangkan wajah jesal mbak Puji.
Pastilah kini ia membayangkan wajah mbak Puji yanh memohon-mohon untuk kembali ke rumah ini.
"Ih, Mas nakal banget sih." Aku memukul lengannya pelan, saat ini mas Arick duduk dihadapanku.
Ia menahan tanganku dan mengecupnya sekilas.
"Ji, aku ingin bercerita." Mas Arick mulai memasang wajah serisu. Aku diam mendengarkan ucapan selanjutnya.
"Aku ingin sekali membantu Jodi, sudah lama Jodi menyukai Jasmin tapi dia masih saja tidak percaya diri. Jodi mengira jika Jasmin masih menyukaiku." Mas Arick berhenti berucap, kemudian tatapan ya berubah menjadi lebih intens.
Aku tahu mas Arick pasti tidak ingin aku berpikiran sama seperti Jodi. Dan ya, sekarang aku memang tidak pernah berpikir seperti itu.
Apalagi ibu Sofia pernah bercerita jika Jasmin dan Selena juga membantu mas Arick untuk membongkar kebohongan Lila waktu itu.
Aku yakin, kini Jasmin sudah benar-benar melupakan mas Arick. Mengihklaskanya untuk menjadi suamiku.
"Mas, sebenarnya Jasmin pernah bercerita jika dia juga sudah ingin menikah. Tapi dia tidak pernah menyinggung soal Jodi," jawabku sambil membalas genggaman tangannya. Membicarakan Jasmin bukanlah hal yang membuat hatiku sakit, itulah yang ingin ku sampaikan pada mas Arick melalui sentuhanku ini.
"Kalau aku membantu mereka untuk bersatu, kamu tidak marah kan?" tanyanya dengan hati-hati.
Aku mengangguk dan mengulum senyum, aku jadi gemas sendiri melihat kelakuan mas Arick ini.
Saking gemasnya, aku menarik kerah baju mas Arick dan mencium bibirnya cukup lama.
Lama-lama kelamaan, malah aku sendiri yang merasa kualahan. Mas Arick membalas ciumanku dengan sangat ganas. Aku bahkan hingga terdorong dan kini berbaring diatas ranjang.
Aku menggeliat, ketika ku rasa salah satu tangannya mulai mengelus lembut seluruh tubuhku, naik turun.
Sejenak kesadaranku melayang, aku juga ingin melakukannya sekarang.
Brak!
Kami langsung melepas pagutan dan menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara.
Mas Arick bangkit, mulai melepas kungkungannya pada tubuhku.
"Hem, anak ayah belum tidur ya? hampir saja ayah lupa," ucap mas Arick, ia menarik kursi dan duduk disisi ranjang Zayn.
Ku lihat ia mulai ikut-ikutan memainkan mainan Zayn. Aku tersenyum, benar-benar pemandangan yang indah.
Aku bangkit dan menghampiri keduanya, aku memeluk leher mas Arick dan berbisik.
"Sabar ya Mas, malam masih panjang. Kalau Zayn sudah tidur, aku jadi milikmu sepenuhnya." Aku mencium pipi mas Arick pelan, bahkan sedikit menjilatnya nakal, sengaja menggoda. hihi.
"Jiii, jangan menguji kesabaranku," keluhnya merengek. Aku tau nafsu dalam dirinya sudah meronta-ronta. haha.
"Aku ganti lingeri dulu ya Mas, Mas mau lihat aku pakai warna apa?"
"Jihaaaann."
"Hahahaha." Aku tertawa terbahak, ku lihat Zayn juga ikut tertawa melihat ibunya tertawa.
"Maaf Mas, Maaf," ucapku sambil menghentikan tawa.
"Pakai yang warna merah muda."
"Baiklah," jawabku dengan mengulum senyum, tidak ingin menggodanya lagi. Takut diserang tanpa peduli situasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 9 malam Zayn benar-benar sudah tidur, tanpa basa basi mas Arick langsung menyergapku.
"Mas, pelan-pelan." Aku mengingatkan, meski kami sama-sama diselimuti kabut gairah, tapi tetap harus memikirkan si jabang bayi dalam kandunganku.
Mas Arick mengangguk, dengan perlahan dia mulai memasuki diriku. Masuk hingga ruang terdalam.
Dan benar saja, mas Arick melakukan semuanya dengan sangat lembut. Tapi gerakan yang ia buat secara perlahan malah membuat aku semakin melayang.
Entah dimenit keberapa kami sama-sama bergetar hebat, yang jelas peluh sudah memenuhi dahi kami. Dengan napas naik turun, mas Arick menjatuhkan tubuhnya disisiku, menarikku lebih dekat karena kami masih menyatu.
"Ji, apa kamu baik-baik saja sayang? perutmu tidak sakit? tidak terasa keram?" tanyanya beruntun, terengah karena napasnya belum kembali normal.
"Tidak Mas, sepertinya anak-anak kita menyukai kunjunganmu," jawabku vulgar, entah kenapa aku berani sekali mengatakan kata-kata ajaib itu, kata-kata yang membuat mas Arick kembali menegang hebat.
"Anak-anak kita atau ibunya?" tanya mas Arick menggoda.
"Kedua-duanya," jawabku malu-malu.
Mas Arick langsung mendekat dan kembali menjamahku dengan kuat.
Semua semakin terasa indah, ketika kami saling mengigit untuk menahan desahan dan lenguhan yang ingin meloloskan diri.
Tidak ingin suara-suara aneh ini terdengar hingga ketelinga sang bayi, Zayn.
Dengan perlahan mas Arick terus berpacu, hingga pelepasan kedua kami dapatkan.
Ku lirik jam di dinding, jam 10 malam. Ternyata sudah 1 jam kami memadu kasih.
"Mas, aku haus," ucapku jujur.
"Tunggulah, akan aku ambilkan minum," jawab mas Arick. Dengan perlahan ia mulai melepaskan diri, kemudian menyelimuti tubuh polosku dan memunguti pakaian yang berserak dilantai.
Setelah ia memakai baju, mas Arick kembali mendekat dan mencium bibirku sekilas.