
"Tuan Johan, bisakah saya menumpang untuk pulang ke mansion ibu?" Tanya Celine ragu saat melihat Johan melintas di depan mejanya. Johan menghentikan langkahnya tanpa berbalik, dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya
"Belum malam, taksi masih banyak di luar!" Jawab Johan dingin langsung melanjutkan langkahnya lagi.
"Sial." Umpat Celine terlihat kesal sambil mengepalkan tangannya.
Sudah berkali-kali dia berusaha untuk menumpang mobil Johan hanya sekedar untuk pulang ke mansion ibunya. Setelah Ambar tahu tentang putri Celine, Ambar memaksa Celine dan putrinya untuk tinggal di mansionnya. Meski memang itu tujuan Celine bekerja di perusahaan Keanu, tentu saja Celine awalnya pura-pura menolak hingga akhirnya alasan karena Ine adalah cucunya akhirnya Celine mengiyakan ajakan untuk tinggal di mansion Ambar.
Namun niat hatinya selain merebut perhatian Ambar dari menantunya yang sudah berhasil lagi-lagi niatnya untuk mendekati Johan gagal. Johan sang adik ternyata tidak tinggal di mansion ibunya. Dia sudah punya rumah sendiri dengan istrinya. Yang tak lain adalah mantan kakak iparnya, istri dari almarhum ayah putrinya.
Niat awalnya untuk merebut Ken dari istrinya gagal saat Ken meninggal karena kecelakaan. Hingga akhirnya dia berusaha untuk mendekati sang adik demi mendapatkan harta warisan almarhum ayah putrinya namun saat mengetahui fakta bahwa pemilik saham terbesar perusahaan adalah istri Johan. Celine pun berubah haluan untuk merebut perhatian Johan. Dan ternyata tidak perlu bersusah payah, istri Johan pergi meninggalkan hampir satu tahun ini. Namun niatnya mendekati Johan tak pernah mendapatkan respon yang baik dari Johan.
Bahkan dengan mendekatkan putrinya dengan Johan tak diterima dengan baik oleh Johan meski dia tidak menunjukkan raut wajah kesal pada putrinya. Setiap Celine berusaha melakukan pendekatan seperti yang disarankan Ambar lagi-lagi langsung ditolak dingin oleh Johan.
"Maaf Bu, aku gagal lagi." Ucap Celine menghubungi Ambar melalui ponselnya.
"Kau mungkin kurang agresif, seharusnya kau berusaha lebih lagi." Jawab Ambar yang di seberang.
Kau kira mudah merayu putra bungsumu itu, lebih mudah merayu putra sulungmu dari pada putra bungsumu. Batin Celine mengumpat dalam hati.
"Saya akan berusaha lagi Bu." Jawab Celine memilih mengalah.
"Aku akan membantumu juga." Jawab Ambar, diapun menutup panggilannya.
"Anak itu memang selalu teguh dengan pendiriannya. Dia memang sulit dibujuk dan dirayu, berbeda dengan Ken." Guman Ambar menatap ponselnya.
.
.
"Dia ada di dalam?" Tanya Ambar yang tiba-tiba muncul di depan meja Celine esok paginya.
"I-ibu... ada Bu, silahkan masuk!" Jawab Celine terkejut hingga gelagapan segera berdiri dari duduknya.
Cklek
Blam
Suara pintu terbuka tidak mengejutkan lagi bagi Johan. Saat ini dia sedang sangat sibuk mengerjakan pekerjaannya. Selain mengecek kembali tentang kerja samanya dengan pihak Alensio grup. Dia juga sedang mengecek proyek yang lain.
"Bagaimana permintaan ibu?" Tanya Ambar tanpa basa-basi.
"Permintaan ibu yang mana? Terlalu banyak ibu meminta sampai aku lupa." Jawab Johan acuh tetap sibuk menatap laptop di depannya.
"Menjadi ayah Ine." Jawab Ambar.
"Dia putri kakak, bagaimana bisa aku menjadi ayahnya sedang aku seharusnya menjadi pamannya." Jawab Johan santai.
"Setidaknya sebagai ayah sambung." Johan menghentikan menggerakkan kursor di tangan kanannya mendengar permintaan yang sama dari ibunya.
"Cukup. Aku masih seorang suami. Dan tidak ada.."
"Suami yang dicampakkan istrinya." Sela Ambar memotong ucapan putranya. Johan tampak menghela nafas, dia tidak marah atau pun kesal dengan sindiran ibunya. Dia sudah kebal dengan semua itu.
"Kami belum bercerai." Jawab Johan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Istrimu sudah pergi hampir satu tahun tanpa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, seharusnya secara agama kalian sudah bercerai." Kesal Ambar yang lagi-lagi niatnya ditolak mentah-mentah putranya.
"Huff... Bisakah ibu tidak membicarakan hal ini lagi. Sudah aku tegaskan. Apapun kata orang, dia masih istriku. Selamanya dia tetap istriku. Aku belum mengucapkan talak ataupun cerai padanya." Jawab Johan kehabisan kesabarannya meski masih dengan nada suara rendah.
"Bagaimana kalau ternyata dia sudah meninggal?" Ucapan Ambar mampu membuat Johan menghentikan gerakannya. Hatinya mencelos mendengar ucapan ibunya yang terlihat mengharapkan hal itu terjadi pada istrinya.
"Aku tidak akan percaya sebelum melihat makamnya." Jawab Johan tegas meski tersisip perasaan getir dalam relung hati terdalam Johan. Namun dia segera menepis anggapan ibunya kalau istrinya sudah meninggal. Dia yakin istrinya masih hidup. Hati kecilnya yang meyakinkannya.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk menghentikan ucapan Ambar berikutnya.
"Masuk!" Titah Johan.
Cklek
Edo muncul dari pintu menatap ibu majikannya dan tuannya bergantian. Dia pun langsung masuk membungkuk hormat pada sang nyonya besar.
"Ada apa?" Tanya Johan menatap Edo.
"Nona Hana sudah datang tuan, beliau sudah menunggu di ruang meeting." Beri tahu Edo sopan sambil melirik pada Ambar yang terlihat kesal.
"Ibu akan kembali lagi." Ucap Ambar meninggalkan ruang kerja Johan. Johan dan Edo hanya diam, Edo dengan sopan membukakan pintu untuk Ambar tak lupa membungkuk memberi hormat pada Ambar sebelum pintu tertutup.
"Kita kesana sekarang!" Johan langsung berdiri dari duduknya mengenakan jasnya yang tersampir di kursi kebesarannya.
.
.
Cklek
Pintu ruang meeting dibuka Edo yang diikuti Johan masuk ke dalam ruangan. Hana yang spontan menoleh pada pintu terbuka tersenyum melihat Johan muncul.
"Assalamualaikum." Sapa Hana sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Wa'alaikum salam." Balas Johan menyapa Hana seperti yang dilakukan Hana juga.
"Kau sedang sibuk?" Tanya Hana melihat raut wajah Johan tidak bersemangat.
"Tidak. Aku memang sedang menunggu kedatanganmu." Jawab Johan duduk di depan Hana duduk berhadapan dengan rekan kerja Hana yang sama-sama perempuan berhijab. Mereka pun saling menyapa dengan tangkupan kedua tangan pula begitu juga Edo.
"Baiklah kalau begitu, bisa kita mulai?" Tanya Hana setelah mereka sama-sama duduk.
"Tentu." Johan tersenyum kecil meski Hana adalah teman kuliahnya dulu, dia tetap tak bisa mengabaikan untuk tidak tersenyum meski sedikit dipaksakan. Keduanya pun terlibat percakapan kecil tentang pembahasan proyek yang akan mereka lakukan.
Edo dan rekan Hana, Selena juga ikut membahas sesekali. Tanpa sadar suara tawa di sela bahasan itu membuat Johan nyaman dan mulai ikut tersenyum. Dan tak terasa sudah dua jam mereka membahasnya.
"Karena sudah jam makan siang bagaimana kalau kita sekalian makan siang?" Tawar Johan yang diangguki oleh Hana.
Mereka berempat pun pergi ke sebuah restoran yang memang sempat di reservasi oleh Johan. Kalau-kalau mereka harus makan siang dengan kliennya sekarang. Namun jika Hana menolak, Johan memang berniat untuk makan siang di tempat itu juga.
"Maaf, bagaimana kalau kita tidak di tempat privat, akan lebih baik jika meja di luar saja?" Saran Hana.
"Tentu." Jawab Johan langsung. Dia pun juga tidak nyaman makan di tempat privat meski itu dengan Edo.
Awalnya Johan mengira kalau yang datang adalah Michael. Namun ternyata Hana yang datang dengan rekannya yang nyatanya sama-sama perempuan. Namun karena sudah terlanjur reservasi tempat di restoran dia tak mungkin membatalkannya. Dan lagi untungnya Hana menyarankan hal yang mengganjal di benak Johan sejak tadi.
.
.
"Nona, saya harus kembali ke perusahaan. Ada hal yang harus saya selesaikan." Ucap Selena rekan Hana.
"Tidak makan siang dulu?"
"Sepertinya ini mendesak nona, saya harus segera kesana. Saya bisa makan siang di kantin kantor nanti."
"Baiklah."
Setelah berpamitan dengan Johan, Selena beranjak dari tempatnya. Karena Edo sedang ada di toilet.
"Apa kabarmu sekarang?" Tanya Hana basa-basi memecah keheningan.
"Kau bisa melihatnya." Hana hanya tertawa mendengar pertanyaan Johan.
"Kenapa tertawa?" Tanya Johan tak mengerti.
"Maaf, bukan maksudku menertawakanmu. Aku hanya tak percaya melihatmu berubah banyak."
"Berubah?"
"Ya. Dulu aku ingat kau itu sangat ramah dan banyak bicara. Hingga semua teman kampus menjulukimu radio rusak." Tawa Hana membuat Johan tersenyum malu.
"Silahkan makanannya!" Pelayan menyela pembicaraan mereka dan mulai makan setelah Edo tiba. Ketiganya pun makan dalam khidmat.
Tak sampai lima belas makan pun selesai. Ponsel Hana berdering.
"Maaf, sebentar." Pamit Hana mengangkat ponselnya yang diangguki Johan.
"Tuan, saya akan tunggu di mobil. Ada yang harus saya cek sebentar." Pamit Edo yang diangguki Johan pula. Dia hanya mengangguk.
Mata Johan bergerak liar menyusuri restoran yang lumayan ramai itu karena memang waktu jam makan siang kantor. Hingga pandangannya berhenti saat seorang wanita dengan gamis syar'i nya melintas tak jauh dari tempatnya duduk yang baru saja keluar dari ruang privat restoran membuat Johan sontak mengikuti wanita yang familiar itu.
"Karin." Guman Johan sontak mengikuti wanita yang sudah masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang harganya lebih mahal milik Johan. Padahal mobil Johan setara dengan mobil sport Lamborghini Aventador.
"Johan!" Seru Hana sudah kelima kalinya mengikuti langkah yang terlihat ngos-ngosan. Hingga mobil yang dikejar Johan sudah berlalu entah kemana.
.
.
TBC