Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 10


Anindira memandang langit sore di teras kamarnya, ia melihat lembayung yang mengitari kota Bandung sore ini, membuatnya merasa nyaman berada di Bandung kota ia dilahirkan dan berasal. Anin menatap layar ponselnya yang penuh dengan chat dari sahabat-sahabatnya semasa SMA dulu.


Anin teringat pada kejadian siang tadi saat Dimas dengan tiba-tiba melamarnya, ia juga tak mengerti alasan Dimas. Setelah perbincangan malam lalu saat kedua orang tua mereka bertemu dan membahas tentang turun ranjang itu.


Nada dering ponsel Anin berbunyi, menyadarkannya dari lamunan, panggilan dari Hasan membuatnya rindu pada Bude yang berada di Jogja


"*Hallo assalammualaikum."


"Waalaikumsallam, Nduk ini Bude*," jawab Bude dengan antusias.


"*Wahh Bude, apa kabar?"


"Baik alhamdulillah, kamu gimana Nduk kabarnya kenapa Ndak pernah telepon Bude*?" tanya Bude dengan nada sedikit marah.


"*Maaf Bude, Anin sekarang sibuk ngerawat Afifa,"


"Yoweslah Bude tahu, kata Dimas kalian bakal nikah yo? Kapan? Bude mau ke datang*," ucap Bude


"*Hmm iya Bude kita mau nikah tapi belum tentuin tanggal"


"Udah gak usah lama-lama bulan depan aja"


"Anin gimana Papah sama Mamah aja"


"Loh kenapa ndak sumanget?"


"Enggak Bude, Anin lagi kecapekan"


"Yaudah kalau gitu kamu istirahat dulu aja, nanti kapan-kapan Bude telepon kamu lagi yo, jangan lupa kabarin* Bude kalau sudah nentuin tanggalnya"


"Enjeh Bude*." ucapnya.


Anin terdiam kembali, setelah panggilan dari Bude tadi entah kenapa ia merasa tidak bersemangat, ia memang ingin menikah tapi bukan dalam waktu dekat, ia memang ingin menikah namun tidak ingin turun ranjang, ia ingin menikah dengan orang yang menyayanginya tentunya, tapi mengapa ia harus menikah dengan cara seperti ini? Dengan kakak iparnya sendiri?.


A Gilang :


Nin, bisa kita


ketemuan di luar


pesan masuk dari Gilang.


Dimana?


A Gilang :


Chingu Kafe,


aku tunggu kamu


di sana.


Anin yang merasa pikirannya buntu memilih menerima ajakan Gilang untuk bertemu dengannya, namun biasanya Gilang tak pernah mengajaknya untuk bertemu di luar namun entah mengapa kali ini ia mengajaknya pergi berbincang di luar?.


Anin izin pergi menggunakan motor maticnya, berhubung Afifa sedang berada di rumah Dimas karena Ibu Dimas datang membawa Afifa agar meningap di rumahnya, Anin pun pergi tanpa pamit pada Mamahnya yang sibuk bertelepon sejak siang tadi.


"Maaf lama ya a?" tanya Anin langsung duduk di kursi.


"Enggak baru datang juga, kamu mau pesen apa?"


"Samain aja ue" ucap Anin.


Gilang memesan makanan untuk mereka dan tak lama pesanan mereka datang, Gilang menyuruh Anin menghabiskan dulu makanannya sebelum mereka berbicara.


"Ada apa sih a ngajak Anin ke sini? Biasanya juga kalau ngobrol suka di rumah," ucap Anin setelah selesai makan.


"Kamu sama Dimas mau nikah?" tanya Gilang to the point.


"Iya, tadi siang Mas Dimas ngelamar Anin," ucap Anin.


"Oh gitu," ucapnya menganggukan kepalanya.


Anin hanya terdiam melihat ke arah Gilang yang langsung merebahkan badannya ke kursi, ia pun mengeluarkan bungkus rokok dan korek dari saku jaket levis hitamnya ia pun mengesap rokok itu dan terdiam dengan arah pandang ke arah lain, Anindira hanya melihat Gilang dengan mimik wajah seperti memendam ke kesalan, terlihat dari sorot matanya yang tajam dan perubahan sikapnya yang terjadi begitu saja.


"a'Gilang," tanya Anin.


"Kenapa? Gak suka asap rokok?" tanya Gilang mengangkat satu alisnya ke arah Anin.


Anin hanya mengangguk pada Gilang yang tiba-tiba menjadi dingin padanya dan membuat Anin bertanya-tanya apakah ada ucapannya yang menyinggung dirinya? Entahlah Anin menjadi tidak enak sendiri melihat perubahan sikap Gilang yang mendingin.


"a'Gilang tadi mau bilang apa?" tanya Anin.


"Gak ada, aku mau ngajak kamu makan aja," ucapnya cuek.


"a'Gilang lagi ada masalah?" tanya Anin?


Ia menggelengkan kepalanya dan mematikan rokoknya dan menatap Anin.


"Selamat, semoga kalian bisa menjadi keluarga bahagia," ucapnya berdiri mengangkat tangannya menyalami Aninn


"Ah iya a." ucapnya menerima salam Gilang.


"Nin, kayaknya saya harus pergi sekarang, thanks udah mau nemenin makan," ucapnya langsung mengambil kunci motornya dan pergi meninggalkan Anin yang masih terdiam dengan kebingungan pada sikap Gilang.


*-*-*-*


Sementara itu Dimas masih terdiam di kamarnya, setelah pertemuannya dengan Anin dan melamarnya secara langsung ia merasakan perasaannya tak karuan apakah yang ia lakukan benar atau hanya akan melukai Anindira akhirnya? Apakah ia egois meminta Anindira menikah dengannya hanya untuk Afifa.


Suara telepon Dimas berdering, membuatnya bangkit dari tidurnya dan mengangkat teleponnya.


"*Dim, kita ketemuan,"


"Dimana?"


"Di tempat biasa nongkrong dulu,"


"Sorry gak bisa, ada anak gue di rumah."


"Gue mau bicara serius, Rendra juga ikut,"


"Oke gue siap-siap*." ucap Dimas mematikan panggilannya.


Dimas mengambil jaket dan kunci motornya setelah mendapat telepon dari Gilang, sudah lama Dimas tidak pernah berkumpul dan bertemu dengan kedua sahabatnya itu dan kini Gilang mengajaknya pergi ke tempat kumpul mereka.


Motor Dimas sudah terparkir di depan Bober Cafe tempat biasa mereka nongkrong sejak SMA, Kafe tidak terlalu ramai pengunjung ia melihat Rendra dan Gilang yang sudah berada di sana dan langsung menghampiri mereka, Gilang tampaknya sudah tidak sadar entah mengapa Gilang kembali meminum setelah sekian lama ia tidak melakukannya, kecuali ia sedang marah atau patah hati.


"Gue juga baru datang, ini anak udah gak sadar," ucap Rendra menunjuk Gilang yang menyandarkan kepalanya di meja.


"Kenapa dia?" tanya Dimas.


"Gak tahu gue, tiba-tiba nelepon ngajak ke sini, udah mabok aja,"ucap Rendra sambil mengesap rokok elektriknya.


"Lang, loe minum berapa banyak?" tanya Dimas khawatir.


Gilang terlihat sedang mabuk berat.


"Loe kenapa sih?" tanya Rendra.


"Gue patah hati." ucapnya dengan kepala masih bersandar di meja.


"Loe ada apa sebenaranya? Kenapa sampai mabok gini?" tanya Dimas.


"Gue udah bilang gue patah hati!" ucapnya mengebrak meja dan langsung menatap Dimas.


"Woy, loe lagi gak sadar jangan marah bro," ucap Rendra yang takut Gilang akan mengamuk.


"Gue suka sama cewek dan ternyata dia mau nikah," ucap Gilang.


"Siapa? Kok gue gak tahu sih loe suka sama cewek?" tanya Rendra penasaran.


"Anindira." ucap Gilang.


What?


Dimas terkejut saat Dimas menyebut Anindira, benarkan Gilang menyukai Anindira? Dimas merasa bimbang dengan situasi sekarang, dan bagaimana cara ia menjelaskan yang sebenarnya pada Gilang.


"Anindira? Adiknya Alm Kirana?" tanya Rendra memastikan.


"Iya, dan Loe tahu dia mau nikah sama siapa?" tanya Gilang menatap Rendra kemudian beralih tatap pada Dimas yang masih diam menatapnya.


"Nih, cowok di hadapan kita dia yang ngelamar Anin," ucap Gilang menunjuk Dimas.


"Maksudnya gimana? Gue gak ngerti," tanya Rendra binggung.


"Dim loe gak inget gue udah pernah bilang sama loe kalau gue mau ngedeketin Anin, gue udah berhasil deket sama dia dan gue juga udah sering ketemu sama dia di Jogja dan di Bandung, tapi kenapa loe malah nikung gue hah?" ucap Gilang langsung berdiri menatap Dimas dengan geram.


"Lang tenang dulu, sebenarnya ada apa?" tanyabRendra.


"Gue suka sama Anin, gue udah deket sama dia dari dua tahun lalu, tapi kenapa loe ngelamar dia?" teriak Gilang.


"Dim, loe beneran ngelamar Anin?" tanya Rendra terkejut.


Dimas menganggukan kepalanya tanda membenarkan ucapan Gilang, ia menatap ke arah Gilang yang sudah naik pitam ingin menghajarnya bagaimanapun Dimas harus mengatakan kebenarannya pada kedua sahabatnya agar tidak ada kesalahpahaman.


"Gue memang udah ngelamar Anin tadi siang, dan dia nerima lamaran gue," ucap Dimas.


"Kenapa loe ngelamar Anin? Apa loe gak puas udah dapet Kirana sekarang loe ingin adiknya juga hah?" tanya Gilang dengan geram.


"Gue terpaksa nikah sama dia karena permintaan terakhir dari Kirana," jawabnya kembali.


"Bulshit, bilang aja loe emang suka kan dari awal sama Anin, atau jangan-jangan loe sengaja ngebunuh istri loe biar bisa nikah sama Anin? Bukannya loe memang udah suka sama Anin dari duabtahun lalu," ucap Gilang dengan senyum miring ke arah Dimas.


Dimas yang mulai terpancing emosinya langsung berdiri dan menatap ke arah Gilang, apa maksudnya dia mengatakan Kirana sengaja di bunuh olehnya agar dia bisa menikahi Anindira, dalam dirinya bahkan nama Anindira tak pernah ada, yang ada semua bayangan almarhum Kirana yang begitu ia cintai.


"Kenapa? Gue bener kan loe dari awal memang gak mau di jodohin sama Kirana, tapi orangtua loe maksa dan ternyata loe tahu kalau Anindira adik Kirana, dan loe sengaja ngebunuh Kirana biar bisa nikahin Anin?" ucapnya kembali.


Dimas sudah tidak bisa menahan emosinya, ia langsung memberi bogem pada Gilang, Rendra yang terkejut langsung melerai keduanya namun Gilang yang sudah mabuk berat langsung membalas pukulan Dimas yang sudah membuat luka di bibirnya, Dimas sudah terpancing emosi.


Ia tidak pernah berkelahi dengan kedua sahabatnya sampai beradu pitam, tapi kali ini Gilang sudah membuat dirinya marah dengan perkataannya demi apapun Dimas tak terima ucapan Gilang yang mengatakan dirinya membunuh istrinya sendiri.


"Woy kalian berdua sadar, jangan berantem," ucap Rendra melerai mereka namun tidak bisa


Semua pengujung juga karyawan kafe langsung membantu mereka, Gilang tampaknya sudah tersungkur karena mabuk berat, sedangkan Dimas yang masih terjatuh menyesuaikan nafasnya yang terengah-engah akibat perkelahiannya, Rendra membantu Gilang yang sudah memar, sedangkan Dimas di bantu karyawan yang memang mengenal mereka.


"Lang, asal loe tahu gue dari awal cuman kagum sama Anin, tapi semenjak gue nikah sama Kirana gue udah jatuh cinta sama dia dan loe pikir gue ngebunuh ibu dari anak kandung gue sendiri apa loe waras, anak gue udah jadi piatu dari lahir!" ucapnya berteriak pada Gilang yang sudah lemas.


"Dan asal loe tahu, gue gak suka sama Anindira, gue terpaksa turun ranjang karena permintaan terakhir dari Kirana dia yang minta dan itu di depan Anin, gue terpaksa terima karena gue udah janji sama dia sebelum meninggal!" ucapnya dengan tegas dan langsung mengambil kunci motornya.


"Rendra, tolong loe anterin Gilang ke rumah sakit biar dia sadar sama apa yang dia ucapin," ucapnya sebelum akhirnya pergi.


Rendra merasa tidak enak dengan situasi yang terjadi diantara kedua sahabatnya. Ia binggung apa yang terjadi dengan sahabatnya hingga mereka bertengkar dan saling bangku hantam, hanya karena wanita ia mereka biasanya tak pernah berebut wanita sebelumnya namun Anindira membuat mereka berdua sampai bertengkar hebat, Rendra harus menemui Anindira untuk menjelaskan apa yang terjadi.


*-*-*-*-*


Dimas pulang ke rumah dengan wajah yang sedikit luka, pukulan Gilang benar-benar menyakitkan meskipun tengah mabuk, namun sakit dipipinya tidak seberapa dengan sakit dihatinya karena perkataan Gilang, ia tak menyangka sahabat dekatnya mengatakan hal demikian.


"Astagfirullah Mas, kenapa bisa memar gini kamu habis dari mana?" Tanya Ibu khawatir.


"Gapapa Bu, tadi ada masalah," ucap Dimas mengompres lukanya.


"Masalah apa? Kamu habis berantem sama siapa? Kamu ada masalah sama siapa Mas, jujur sama Ibu," ucap Ibu.


"Gak ada apa-apa tadi cuman ada kesalahpahaman aja tadi gapapa bu," ucapnya meyakinkan.


"Kangan bohong sama Ibu, lebih baik kamu jujur sama Ibu sebelum Bapak yang tanya sama kamu," ucap Ibu.


"Tadi berantem sama Gilang."


"Gilang? Kenapa bisa? Kalian kan bersahabat," ucap Ibu dengan nada kecil takut Bapak mendengar.


"Dia marah karena Dimas mau nikah sama Anindira, dia suka sama Anindira sejak lama dan dia tahu Dimas mau nikah sama Anindira," tutur Dimas


"Nikah? Kamu udah setuju nikah sama Anin?"


"Tadi siang Dimas ngelamar Anin dan dia terima lamaran Dimas, karena bagaimanapun Dimas udah janji sama Kirana buat nikah sama Anin dan Gilang tahu dan dia marah ini salah Dimas bu," ucap Dimas


Ibu menatap Dimas yang tertunduk, Ayah satu orang anak ini terlihat begitu menyakitkan mungkin ia berada ambang kebinggungan di bagaimanapun ia berada di posisi yang sulit antara sahabat dan perjanjian, Ibu mengelus pundak Dimas memberi kekuatan dan keyakinan untuk Dimas bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Mas, Ibu tahu ini sulit untuk kalian, bukan hanya kamu tapi Anindira juga dia harus menerima kenyataan karena perjanjiannya sama Alm Kirana, tapi bagaimanapun kamu harus bisa bersikap benar, dan kamu harus bisa juga menerima orang lain yang mencintai Anindira sebelumnya karena hubungan kalian berawal dari perjanjian"


"Gilang gak terima sama penjelasan Dimas,"


"Belum, Ibu yakin nanti dia pasti akan mengerti, lagipula Anindira juga menerima kamu berarti kamu tidak merebut Anin kan?"


"Anin terpaksa Bu, dia nerima Dimas demi Afifa,"


"Ibu tahu, tapi hati manusia tidak ada yang tahu, mungkin saja setelah kalian menikah kalian bisa saling jatuh cinta dan menjadi keluarga bahagia, kamu juga harus bisa menerima Anin sebagai istri kamu bukan karena turun ranjang, dan Ibu juga yakin Gilang akan mengerti hanya semuanya butuh waktu kamu percayakan dengan rencana Tuhan."


Dimas hanya menganggukan kepalanya, dalam hatinya ia masih dirundung kebinggungan seharus ia tidak melamar Anindira dan menyetujui menikah dengan Anin jika akhirnya menjadi seperti ini karena dalam hatinya ia tidak mencintai Anindira dalam hatinya ia sudah dipenuhi Kirana Ibu kandung dari anaknya.