Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 155


Tok tok tok


Tok tok tok


Ting tong


Ting tong


"Bi!"


"Bibi!" Ryan berteriak-teriak di depan mansion papanya sambil menggedor-gedor pintu besar dan mewah itu dengan tidak sabaran.


Setelah sore tadi bertemu dengan sahabatnya di cafe Ryan memutuskan untuk mengatakan semua yang terjadi pada Karina, istri sahabatnya yang sekarang 'disembunyikan' oleh papa dan kakaknya di mansion besar dan mewah itu. Dan dia juga yakin, Karina telah 'dicuci otaknya' oleh papa dan kakaknya agar membenci sahabatnya itu.


Ryan tahu betul sepolos dan sepositif apa istri sahabatnya itu. Bahkan wanita itu terlalu lugu dan terlalu baik meski seseorang mempunyai niat buruk padanya. Dan Ryan juga yakin kalau Karina tidak tahu apapun yang sebenarnya terjadi. Dia tak mau kedua pasangan itu berpisah dengan kesalah pahaman yang mungkin akan merepotkan mereka nanti di masa depan.


Cklek


"Tuan Ryan?" Ucap bibi asisten rumah tangga dokter Nathan.


"Papa ada bi?" Tanya Ryan tak sabaran dengan nafas memburu.


"Tuan besar belum pulang tuan." Jawab bibi sopan sambil membuka pintu lebar mempersilahkan Ryan masuk. Ryan masuk ke dalam mansion sambil celingukan ke dalam mansion.


"Kalau kak Ivan?" Tanya Ryan lagi.


"Tuan muda pertama belum kembali sejak siang tadi mengantarkan non Karin tuan." Ucapan Ryan mengalihkan atensi pandangannya menjelajahi ke dalam mansion sontak menoleh menatap pada bibi.


"Mengantar mbak Karin?" Tanya Ryan mengernyit.


"Iya tuan, katanya mau mengantar non Karin pergi. Sepertinya mau liburan." Ucap bibi yang tidak terlalu yakin.


"Liburan?"


Bukannya mereka ada sidang pertama hari ini? Johan bilang besok mereka akan sidang. Batin Ryan merasa tak tenang.


Atau papa dan kakak merencanakan hal ini? Agar mereka tak bertemu di pengadilan dan akan melancarkan perceraian mereka? Batin Ryan menggeleng tak percaya. Sebegitu usahanya mereka memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai itu.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Guman Ryan yang membuat bibi mengernyit bingung melihat ekspresi wajah tuan muda ketiga mereka berubah-ubah.


"Bibi tahu mereka kemana?" Tanya Ryan menatap bibi penuh harap.


"Maaf tuan. Bibi tidak begitu tahu, yang bibi tahu mereka pergi ke villa milik keluarga. Tapi nggak tahu villa yang mana. Keluarga tuan kan, punya villa di beberapa tempat." Jawab bibi mempunyai bahu Ryan lemas.


Memang saking kayanya sang papanya, aset properti milik keluarga tak terhitung jumlahnya. Bahkan hampir ada di setiap kota membuat Ryan hampir menyerah.


"Kenapa tuan tidak bertanya pada tuan muda pertama saja?" Usul bibi.


"Tidak bi, kakak pasti tidak mau memberi tahu." Jawab Ryan lemah, terduduk di sofa ruang tamu tak jauh dari tempat mereka tadi berbincang mencoba mencari ide lain untuk mengetahui dimana Karina berada.


"Ryan?" Suara orang masuk dari luar pintu yang masih terbuka. Bibi dan Ryan sontak menoleh ke arah suara.


"Kak!" Seru Ryan tiba-tiba melihat dokter Ibra muncul.


"Saya ke belakang tuan." Pamit bibi pada kedua tuan mudanya. Ibra hanya mengangguk mengiyakan dan masuk ke dalam diikuti Ryan.


"Ada apa?" Tanya Ibra acuh.


"Kakak tahu kemana mbak Karin dibawa?" Tanya Ryan penuh harap mengikuti dokter Ibra masuk ke dalam kamarnya bagai anak ayam mengikuti induknya.


"Nggak tahu." Jawab Ibra cepat.


"Ayolah kak! Masak kakak nggak tahu?" Bujuk Ryan penuh harap.


"Semua itu bukan urusanku Ryan. Meski pun aku tahu untuk apa kamu bertanya?" Jawab Ibra sambil melepaskan pakaian dan celananya menyisakan boxer dan pakaian dalamnya. Sedang Ryan tak peduli apa yang dilakukan kakaknya terus mengikuti langkah kakaknya kemanapun kakinya melangkah.


"Sebenarnya..."


Ryan pun menceritakan rencananya untuk mempertemukan kedua sejoli saling mencintai itu. Yang terpaksa dipisahkan oleh papa dan kakak mereka. Meski mereka saudara yang tidak punya hubungan darah, mereka berdua bukan tipe orang yang akan mencampuri urusan mereka meski sudah bersaudara meski tiri, beda ayah ataupun beda ibu.


"Kalau keputusan itu semua sudah diambil berdasarkan apa yang papa katakan. Kamu yakin dapat menentangnya?" Tanya Ibra mulai paham dengan apa yang terjadi.


"Setidaknya aku sudah berusaha mempertemukan mereka. Keputusan yang mereka ambil nanti terserah mereka juga. Urusan kakak dan papa seharusnya mereka sudah tidak bisa mencampuri rumah tangga mereka selama keduanya masih bisa saling menerima." Ucapan Ryan membuat Ibra berpikir sejenak.


"Tapi sayangnya aku tak tahu kemana mereka." Sesal Ibra membuat Ryan kembali menurunkan bahunya lemas.


"Kata bibi, kak Ivan mengantarnya ke villa keluarga kita. Tapi kakak kan tahu, villa keluarga kita kan banyak. Hampir di setiap kota ada." Jawab Ryan terlihat menghela nafas panjang berkali-kali. Ibra terdiam teringat percakapan Ivan dengan seseorang di ponselnya sore kemarin.


"Iya pa, aku akan mengantarnya besok." Ucap Ivan sore kemarin tak sengaja Ibra yang hendak keluar kamar mendengar percakapan itu tanpa sengaja. Dia pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamarnya hendak keluar karena tak mau dianggap menguping pembicaraan kakaknya.


Meski kakaknya tidak menunjukkan kebencian padanya. Kakak tirinya itu juga tidak menunjukkan kalau dia menyayanginya. Namun Ibra tahu Ivan bukannya membencinya. Dia tahu betul bagaimana watak kakak tirinya itu. Sebenarnya hatinya lembut hanya saja dia tidak sanggup mengekspresikan dirinya pada orang lain. Jadi semua orang pasti mengira kalau kakak tirinya itu datar dan dingin.


Sewaktu memperkenalkan Karina pada mereka. Ibra sendiri sedikit shock dan terkejut melihat perlakuan kakak tirinya pada adik kandungnya yang telah terpisah puluhan tahu yang lalu itu sangat baik dan lembut. Tidak ada wajah datar dan dingin yang ditunjukkannya seperti pada kami. Namun dia tetap berpikir positif, mungkin karena Karina sudah begitu menderita sehingga kakak tirinya itu tak tega untuk bersikap datar dan dingin pada adiknya yang baru ditemukannya itu.


"..."


"Aku banyak pekerjaan. Jadi aku tidak bisa ikut dengannya." Jawab Ivan lagi mendesah penuh sesal.


"..."


"Akan ada banyak pengawal yang akan ikut kesana." Ibra bisa menebak kalau Ivan sedang berbincang dengan papanya dari seberang ponselnya.


"..."


"Setelah urusanku selesai, aku akan menyusulnya."


"..."


"Iya pa. Di villa favorit mama."


"..."


"Iya pa." Ivan menutup ponselnya sambil menghela nafas panjang, dia pun pergi meninggalkan tempat itu menuju kamarnya. Dia terlihat lelah karena seharian bekerja mengurus orang-orang yang menggelapkan uang perusahaan. Ibra terdiam mendengarkan meski setelah itu berusaha cuek dan acuh tak acuh.


.


.


"Anda kami tangkap atas penggelapan uang perusahaan. Silahkan hubungi pengacara anda dan jelaskan semuanya di kantor polisi." Dua polisi berseragam membawa surat penangkapan untuk Celine yang langsung terpundur kaget dari tempatnya duduk membuat tubuhnya membeku di tempat.


"I-itu tidak benar. Sa-saya..." Elak Celine.


"Silahkan ikut kami baik-baik. Dan jelaskan di kantor polisi!" Titah salah satu polisi itu.


"Pak, itu..." Polisi yang bicara tadi memberi kode pada rekannya untuk memborgol Celine yang mulai meronta.


Cklek


Pintu ruang kerja presiden direktur utama itu terbuka. Muncullah Ivan dan asistennya dari dalam menatap tegas, datar dan dingin.


"Tuan." Seru Celine menatap Ivan meminta pertolongan.


"Terima kasih atas kerja sama anda tuan." Polisi yang bicara tadi menghampiri Ivan saling berjabat tangan tak menggubris Celine sama sekali.


"Saya senang bisa membantu kepolisian. Dan saya siap menjadi saksi." Jawab Ivan ramah menatap polisi itu tersenyum sambil melirik penuh seringai pada Celine yang terdiam bergidik ngeri melihat seringaian Ivan. Polisi itu pun menganggukkan kepalanya dan pamit untuk membawa Celine, sekretarisnya.


Kedua polisi itu pun menyeret Celine meski kini dia tidak memberontak.


Penggelapan uang yang dilakukan Celine ternyata sudah tidak terhitung jumlahnya. Saat Johan masih menjabat mungkin Johan sudah menyiapkan semuanya untuk menangkapnya namun sebelum melaporkannya ke polisi dia pun sudah mengundurkan diri dan menyerahkan berkas-berkas terkait penggelapan uang perusahaan Celine juga karyawan lainnya pada Ivan.


"Apa ini?" Tanya Ivan setelah menerima uluran surat pengunduran diri Johan. Johan juga mengulurkan sebuah map.


"Daftar para karyawan penggelapan uang perusahaan. Tinggal sedikit lagi membuktikannya. Tapi aku sudah mengundurkan diri. Kini ku serahkan padamu. Berharap kau bisa menangkap mereka." Jelas Johan penuh harap menatap Ivan tanpa penyesalan.


Ivan masih diam, melirik berkas itu. Dan kembali melirik ke arah Johan.


"Okay."


"Terima kasih." Johan pun pergi meninggalkan ruang kerja yang sudah menemaninya lebih dari satu tahun itu.


.


.


TBC