
Dua bulan berlalu, kehamilan Anin sudah memasuki usia sembilan bulan. Semua orang sudah mempersiapakan segala sesuatunya jika sewaktu-waktu Anin mengalami kontraksi mereka akan langsung membawa Anin ke rumah sakit.
Dimas juga semakin cemas melihat perut Anin yang buncit membuatnya merasa mulas sendiri. Terakhir Anin keluar rumah saat pernikahan Gilang dan Friska setelah itu sampai sekarang ia tak pernah pergi kemanapun kecuali berjalan santai sore hari bersama Dimas dan Afifa.
"Kamu beneran gapapa kalau Mas tinggal?" tanya Dimas khawatir.
"Udah gapapa Mas, ada Mamah sama Papah sama Ibu juga kok," ucap Anin.
"Tapi Mas takut kalau kamu lahiran sekarang," ucap Dimas.
"Nggak, menurut bidannya juga paling seminggu lagi,"
"Tapi kan katanya bisa maju lebih awal."
"Udah Mas berangkat gih, katanya harus ngurusin visa Umroh," ucap Anin.
"Ya sudah, Mas pergi tapi ingat kalau kamu ngerasa mulas sedikit langsung bilang Mamah sama Ibu ya, nanti langsung telepon Mas biar langsung pulang," ucap Dimas.
"Iya Mas." jawab Anin tersenyum.
Dengan berat hati Dimas meninggalkan Anin untuk menyelesaikan pekerjaannya, sudah dua bulan ini Dimas sibuk mengurus Visa dan data diri calon jamaah Haji dan Umroh, ia juga terkadang harus bolak-balik Jakarta-Bandung untuk mengantarnya, sejak itu ia juga sering merasa khawatir jika Anin tiba-tiba melahirkan dan dirinya sedang berada di Ibu kota.
"Mah, Dimas titip Anin kalau ada apa-apa hubungi Dimas segera," pamitnya.
"Iya Dimas tenang aja, ya sudah kamu berangkat hati-hati gih." ucap Mamah Anin.
"Iya Mah, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab Mamah.
Dua bulan lalu semenjak Gilang melamar Friska tak berselang lama mereka mengadakan pernikahan, tidak terlalu mewah hanya sederhana dan menggundang beberapa orang terdekat saja. Sejak saat itu juga Gilang kini sibuk dengan keluarga kecilnya dan mereka jarang bisa berkumpul.
Sedangkan Rendra, sejak Gilang menikah ia menjadi pujangga yang sedang mencari cinta, beberapa syair puisi yang ia buat di sosial media mendapat banyak sorotan dari publik, dirinya kini di sibukan dengan membuat syair puisi memang dirinya sudah mulai berubah dan mencoba menjadi manusia seutuhnya ketika ditinggal nikah dua sahabatnya.
*-*-*-*-*
Dimas menunggu calon jamaah yang sedang mengantri di foto untuk membuat Visa, sambil menunggu ia membereskan berkas-berkas data diri jamaah dari mulai kartu keluarga dan kartu tanda penduduk. Banyaknya jamaah Umroh tahun ini membuat Dimas sibuk mengirim data karena banyak dari mereka sudah lanjut usia dan lupa membawa persyaratan sehingga Dimas harus bolak-balik untuk mengurusnya.
"Ndra, Lo lagi di rumah?" tanya Dimas menelpon.
"Gue lagi mau meeting," jawab Rendra.
"Habis meeting bisa minta tolong gak?" tanya Dimas.
"*Ada apa?"
"Tolong bawain buah mangga yang depan grosir tadi Anin nitip, gue harus langsung ke Jakarta nganterin berkas*," ucap Dimas
"Oke deh, tapi agak lama,"
"Gapapa tadi gue udah bilang ke dia nunggu lo."
"Sip kalau gitu." jawab Rendra mematikan telponnya.
Dimas sedikit lega karena keinginan Anin bisa di dapat dari Rendra, beberapa menit lalu dia mengirim pesan ingin memakan buah mangga, namun jaraknya lumayan jauh dan kebetulan tempat kerja Rendra dekat dengan penjual buah jadi ia bisa minta tolong padanya.
Dimas sudah selesai menyusun berkas yang sudah kumplit, ia bersiap berangkat ke Jakarta untuk mengirim berkas tersebut dan meminta tanda tangan pula, mungkin sore jika tidak macet ia akan segera sampai di rumahnya.
telpon Dimas tiba-tiba berdering, sebuah panggilan dari Rendra, ia memilih menepikan mobilnya dan mengangkat telepon dari sahabatnya itu.
"*Halo Dim, lo dimana?"
"Lagi di Jalan*,"
"Dim, lo kalau bisa balik sekarang, Anin mules-mules dari tadi dan sekarang lagi di rumah sakit!" teriak Rendra
"Hah ngelahirin sekarang?" tanya Dimas.
"Iya, cepetan balik lo, ini tangan gue habis di cakar-cakar bini lo!!" teriak Rendra.
"Oke gue ke sana sekarang, tolong jagain dia dulu gue harus ke kantor kasih berkas," ucap Dimas kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Dimas yang terkejut langsung memutar balik mobilnya, beruntung jalanan tidak terlalu ramai, Dimas memilih ke kantornya dulu menaruh berkas penting dan meminta izin untuk menemani istrinya.
*-*-*-*-*
Dimas berlarian di koridor rumah sakit. Dua kancing kemeja atasnya sudah ia lepas sejak tadi, dengan perasaan tak menentu ia terus mencari ruangan persalinan Anin.
"Dimas, cepetan kamu ke dalam," ucap Ibu.
Dimas mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruangan, namun baru saja selangkah kakinya masuk, suster datang dan menghalanginya.
"Mas, tolong tunggu di luar!" ucap Suster.
"Saya suaminya Sus, biar saya temani istri saya melahirkan," pinta Dimas.
"Tapi Mas, di dalam sudah ada suami pasien." ucap Suster.
"Saya suaminya Sus, mana mungkin ada dia punya suami lain," ucap Dimas kesal
"Maaf Sus, saya bukan suaminya, dan orang ini suaminya," ucap Rendra datang.
"Oh Maaf, saya kira anda suaminya, ya sudah Mas silahkan masuk." ucap Suster tersebut.
"Sorry, tadi si Anin narik-narik sambil nyakar jadi gue di bawa masuk sama suster tadi di sangka gue suaminya." ucap Rendra.
"Makasih Ndra." ucap Dimas langsung masuk keruangan.
Rendra memilih keluar ruangan, sejak tadi dirinya sudah habis mendapat cakaran dan tarikan dari Anin yang merasakan sakit pada perutnya, dengan terpaksa demi calon ponakan dan juga sahabatnya ia rela bekorban menahan rasa sakit sampai Dimas datang.
"Tangan kamu gapapa?" tanya Ibu Dimas.
"Gapapa, tapi tenaga Anin kuat banget, semoga aja dia kuat ngelahirin," ucap Rendra.
"Makasih Ren udah mau bantuin Anin,"
"Santai aja Bu, lagian Anin juga sudah seperti sabahabat Rendra sendiri," ucapnya
"Kamu sekarang lebih bijak dan santai ya." puji Ibu
"Biar cepet dapat jodoh Bu." jawabnya sambil tersenyum.
"Semoga cepet dapet jodoh," ucap Ibu
"Hmm, Ibu gak lagi cari calon mantu gitu?" tanya Rendra.
"Siapa?"
"Siapa tahu Ibu cari calon mantu, Ibu bisa angkat saya jadi mantu Ibu," ucapnya malu-malu.
"Ada-ada aja kamu Ren, kan Ibu sudah anggap kamu sebagai anak Ibu sendiri," ucap Ibu tersenyum.
"Eh iya Bu." ucap Rendra canggung.
Di dalam Anin sudah berkeringat merasakan kontraksi pada perutnya, Dimas yang datang langsung meraih tangan Anin dan menguatkannya, tiba-tiba saja ia mengingat kejadian saat Kirana melahirkan Afifa hampir sama seperti sekarang dan ia takut Anin juga mengalami hal yang sama dengan Kirana, Dimas tak mau kehilangan orang yang ia cintai kedua kalinya.
Sambil memanjatkan doa Dimas terus memberikan kekuatan pada Anin, di samping Dimas juga ada Mamah Anin yang sejak tadi bersamanya dan menemani Anin.
"Mah Anin minta maaf, tolong maafin Anin yang jadi anak pembangkang, ternyata rasanya sangat sakit mau melahirkan," ucap Anin menangis.
"Iya sayang Mamah Maafkan, yang sabar sayang ayo semangat kamu bisa," ucap Mamah mengelus rambut Anin.
"Mas, sakit banget!" ucap Anin merintih.
"Maafin Mas buat kamu jadi sakit, ayo sayang semangat buat anak kita," ucap Dimas yang sudah berkeringat.
Beberapa menit kemudian suara tangisan bayi terdengar di dalam ruangan, bayi laki-laki tersebut langsung di bawa suster untuk di bersihkan sedangkan Anin yang masih lemas menangis haru saat melihat anaknya yang baru saja ia lahirkan.
"Terimakasih sayang, kamu hebat," ucap Dimas mengecup dahi Anin
Anin hanya tersenyum tipis ia menatap Mamahnya yang juga menggenggam tangannya sejak tadi dan menangis menatapnya.
"Kamu hebat sayang, selamat sudah menjadi Ibu seutuhnya," ucap Mamah mengecup dahi Anin.
Mamah memilih keluar dan menengok cucu keduanya yang berjenis kelamin laki-laki tersebut, sedangkan Dimas masih setia menemani sang Istri yang di minta dokter agar tidak tertidur selesai melahirkan karena akan menyebatkan sel darah putihnya naik ke kepala dan sangat berbahaya.
"Akhirnya ponakan gue lahir juga," ucap Rendra masuk ke ruangan Anin.
"Thanks ya, loe udah bantuin Anin." ucap Dimas.
"Maaf a'Rendra udah nyakar dan narik-narik tangan," ucap Anin.
"Gapapa sekalian pemanasan kalau nanti gue punya istri," ucap Rendra tertawa.
"Eh gue udah telpon Gilang sama Friska bentar lagi dia datang, gue langsung pulang ya soalnya di kantor masih banyak kerjaan, puisi gue juga belum selesai." sambung Rendra
"Oke, makasih ya sekali lagi Ndra." ucap Dimas
"Oke santai aja calon kakak Ipar." ledek Rendra sambil keluar ruangan.
Dimas dan Anin hanya tersenyum melihat Rendra yang kini tampak lebih santai dari sebelumnya. Cara bicaranya yang blak-blakan dan ucapannya yang spontan sudah mulai berkurang, ia mulai berubah setelah mendapat nasehat dari Dimas.
*-*-*-*-*
Setelah melahirkan Anin memutuskan dengan mantap untuk berhijab, bukan karena ia bernazar atau karena suruhan Dimas namun karena memang sudah keharusan bagi wanita muslim menutup aurat dan ia juga kini sudah merasa yakin akan terus menggunakannya.
Sudah seminggu sejak Anin melahirkan Dimas tidak pernah jauh-jauh dari sisi anaknya dan Anin, bahkan ia kini mengajak Afifa tidur bersama dikasur karena Anin yang sering khawatir padanya.
"Mas kita belum kasih nama anak kita," ucap Anin yang sedang menyusui.
"Mas udah siapin nama untuk dia," ucap Dimas
"Siapa?"
"Daffa Dzuhairi Alfarizi" ucap Dimas
"Artinya?" tanya Anin
"anak laki-laki yang berakal cerdas dan selalu bersemangat dalam bekerja."
"Amin,semoga bisa menjadi kebanggaan orangtuanya," ucap Anin mencium pipi Daffa.
Dimas tersenyum haru melihat keluarganl kecilnya yang kumplit bersama Afifa dan Daffa yang kini hadir di hidupnya.
Hari sudah malam, Anin sudah terlelap karena kelelahan bersama Afifa yang tidur bersamanya, sedangkan Dimas sudah terbangun sejak tadi mendengar suara tangis Daffa, tak lama Mamah Anin datang ke kamar mengambil Daffa dan mengganti popoknya yang basah.
"Kalau nangis biar kamu bangunin Mamah aja," ucap Mamah
"Iya Mah, Anin baru aja tidur tadi habis nyusuin Daffa, Dimas belum berani ngambil Daffa masih takut." jawab Dimas.
Mamah hanya tersenyum, Dimas memperhatikan cara mertuanya mengganti dan memakaikan popok pada Daffa.
Dulu saat Afifa bayi dirinya hanya menengoknya sesekali, setiapmalam menangis Mamah mertuanya saja yang sigap terjaga, Dimas jarang menginap karena tidak enak Anin juga berada di sana.
"Nah udah selesai, kalau masih takut gak usah sungkan bangunin Mamah atau Anin jangan dibiarkan nangis sendiri," ujar Mamah
"Iya Mah."
Mamah meletakan Daffa di ranjangnya, bayi tampan tersebut sudah tertidur kembali setelah merasa nyaman.
"Wayahna, kudu gadang kalau ada anak kecil mah," ucap Mamah.
"Iya Mah, baru aja kemarin Afifa yang bikin kita gadang, sekarang Daffa juga, Alhamdulillah," ucap Dimas.
"Alhamdulillah kerasa sekarang punya anak bayi sejodoh lagi, kamu kudu bersyukur bisa punya anak cepet di usia muda yang lain banyak yang nunggu bertahun-tahun susah," ucap Mamah.
Dimas mengangguk setuju, Mamah memilih kembali ke kamarnya sedangkan Dimas yang merasa ngantuk langsung merebahkan badannya di samping Afifa dan menciumnya sekilas sebelum terlelap.
*-*-*-*-*
Pagi hari sudah mulai terdengar ribut di bawah, Dimas yang masih merasakan kantuk berat mencoba membuka matanya, ia menatap sekeliling kamarnya namun kasurnya sudah kosong, ia melihat jam di nakas rupanya hari sudah hampir siang, untungnya ia tidak bekerja hari ini.
Dimas memilih mandi terlebih dulu untuk menyegarkan badannya, ia menatap ke ranjang anaknya namun sudah kosong, sepertinya Daffa dan Afifa sudah di bawa Anin ke bawah.
"Lang, gue udah bilang kalau orang hamil itu memang sedikit ribet," ucap Rendra
"Gue gak tahu kalau si Friska bakalan galak kayak gitu." ucap Gilang.
Dimas yang baru selesai mandi memilih turun ke bawah dan terkejut saat melihat Rendra dan Gilang yang sudah berada di rumahnya dan duduk di ruang tv, kulit kacang juga minuman bersoda sudah berantakan di sana membuat dirinya geram dengan ulah sahabatnya yang tiba-tiba datang tanpa janjian dengannya.
"Ngapain kalian berdua di sini?" tanya Dimas.
"Santuy dikit dong bambang, si Gilang lagi galau ceunah," ucap Rendra kembali dengan gayanya.
"Galau sih galau, tapi gak harus berantakin rumah orang juga, Anin kemana lagi gak ada!" ucap Dimas kesal.
"Anin lagi pergi sama Mamah bareng Daffa sama Afifa ke rumah Ibu, jadi kita di suruh jaga rumah," ucap Rendra.
"Gilang lo galau kenapa?" tanya Dimas.
"Si Friska lagi hamil, terus marah-marah sama dia gara-gara vas bunga di ruang tamu pecah sama si Gilang." ucap Rendra.
"Friska hamil?" tanya Dimas terkejut.
"Iya dia positif hamil baru empat minggu," ucap Gilang.
"Si Gilang hampir di usir sama Friska makanya sebagai sahabat yang baik hati gue tolongin dia dan bawa dia ke sini," ucap Rendra.
"Cuma karena vas bunga aja dia sampai hampir ngusir lo?" ucap Dimas tak percaya.
"Masalahnya itu Vas bunga itu barang antik dan itu peninggalan alm bokapnya," lanjut Rendra.
"Kalau gitu gue turut prihatin, sudah sewajarnya dia ngusir lo." ucap Dimas.
"Si Dimas bukannya bantuin sahabatnya malah bikin Gilang tambah terpuruk," ucap Rendra
"Ya habis gimana, lagian itu Vas Bunga barang antik mau di beli dimana coba? Dan itu peninggalan alm bokapnya udah pasti dia marah besar karena lo pecahin." ucap Dimas.
"Bukan gue yang pecahin, tapi Leona cuma pas gue beresin serpihannya Friska lihat dan ngira gue yang pecahin, demi melindungi Leona gue yang kena omel, dan gue gak tahu kalau dia semarah itu," ucap Gilang.
"Tanda suami takut istri tuh, aneh nyali lo ciut banget sejak nikah," celetuk Rendra.
"Sekarang lo gak usah banyak omong, nanti kalau lo nikah juga kerasa," ucap Gilang.
"Semoga aja gue dapet istri yang shalehah gak suka marah-marah, penyabar, kalau bisa kayak Dina ya Allah." ucap Rendra.
pletak
"Dim sakit tahu, kenapa lo mukulin gue kayak gini," ucap Rendra.
"Jangan ngarep ya lo sama si Dina, gue gak mau Adek gue sama Om-om kayak loe, gak sudi iparan sama lo," ucap Dimas.
"Dim, lo kenapa sih gak restuin mereka berdua?" tanya Gilang penasaran.
"Pokoknya gak setuju, lo sahabat gue Ndra dan udah gue anggap sebagai saudara sendiri!"
"Nah kan lo udah anggap gue saudara jadi sah-sah aja kalau gue nikah sama Dina," ucap Rendra.
"Bukan gitu, gue cuman gak mau ada yang tersakiti di antara kalian berdua, kalau lo nikah sama Dina otomatis hubungan kita berbeda," ucap Dimas.
"Masalahnya apa?" tanya Gilang.
"Kalau nanti kalian berantem karena masalah rumah tangga kayak Gilang gini, gue harus gimana? Di satu sisi Dina adik gue di sisi lain lo sahabat gue dan gue ga mungkin milih salah satu dari kalian dan gue juga gak mau kalau diantara kalian tersakiti," ucap Dimas serius.
"Kalau nanti Dina nangis karena lo, gue gak mungkin ngehajar lo karena lo sahabat gue, dan kalau nanti lo sakit hati sama sifat Dina, gue gak mungkin bisa ngebela lo karena Dina adik gue," lanjut Dimas.
Rendra dan Gilang sama-sama terdiam, keduanya tak berani menjawab ataupun bertanya, ucapan Dimas ada benarnya juga, mereka menganggap Dina sebagai adik mereka jika sewaktu-waktu keadaan berubah dengan Rendra menikahi Dina mereka belum siap untuk lika-liku rumah tangga yang akan di hadapi dan harus memilih antara sahabat dan adik ketika mereka memiliki masalah.
"Ren, bukan gue gak mau lo sama Dina selama ini gue udah anggap lo sebagai sahabat, gue cuman gak mau kalau status kita berubah." ucap Dimas pada Rendra.
"Santai aja Dim, gue juga udah anggap Dina seperti adik gue." ucapnya tersenyum dengan terpaksa.
Gilang melihat senyum Rendra yang terlihat sangat palsu baginya, ucapan Dimas mungkin membuatnya merasakan kecewa, ia tahu Rendra memiliki rasa sejak lama dengan Dina hanya saja dia baru mengungkapkan secara terang-terangan pada Dimas sekarang, dan pada akhirnya ia tahu Dimas takkan pernah setuju karena Rendra adalah sahabatnya ia tak mau merubah status itu.
Sedangkan Dimas mencoba mencairkan suasana, ucapannya tadi memang tulus dari hatinya, tak ada maksud menyakiti Rendra namun ia memang tak mau jika sewaktu-waktu Rendra mengeluh dengan sikap Dina seperti Gilang sekarang dan itu akan membuat Dimas sulit memilih antara adik dan sahabatnya. Ia berharap Rendra mengerti meskipun ia juga khawatir pada Rendra.