Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 41


Setelah mendapat telepon dari Gilang, Dimas yang masih terkejut langsung bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap-siap menuju rumah Gilang yang merengek karena takut dibawa Mamahnya untuk lamaran dadakan.


"Mas beneran a'Gilang ngelamar teh Friska sekarang?" tanya Anin sambil mengambil baju untuk Dimas.


"Iya mungkin, tadi dia nelpon sambil ngerengek minta antarin," ucap Dimas.


"a'Gilang mah badan aja gede nyalinya gak adaan." ucap Anin sambil tertawa.


"Tapi namanya lamaran siapa yang nyalinya gak ciut coba, apalagi cowok itu kalau lamaran tiba-tiba panas dingin karena takut di tolak," ucap Dimas memakai kancing kemejanya.


"Oh iya? Mas waktu ngelamar teh Kirana juga sama panas dingin?" tanya Anin duduk disisi ranjang.


"Waktu sama Kirana, Mas gak ada lamaran kan kita di jodohin dan dia setuju-setuju aja," ucap Dimas


"Oh iya? Anin kira Mas ngelamar teh Kirana," ucap Anin


"Mas cuman ngelamar kamu Nin." ucap Dimas menatap Anin


"Ngelamar Anin?"


Anin mencoba mengingat-ingat saat Dimas melamarnya, namun ia lupa kapan Dimas melamar dirinya dan dimana tempatnya?.


"Di rumah ini waktu pertama kali Mas ngajak kamu datang dan ngasih catatan Kirana, jangan bilang lupa," ucap Dimas mengingatkan Anin


"Oh iya Anin ingat, jadi Mas waktu itu sama ngerasain panas dingin juga?" tanya Anin


"Gak terlalu sih, soalnya mau gak mau kan tetap kita akan menikah," ucap Dimas menyengir


"Iya juga sih, ya sudah siap-siap udah mau Ashar." ucap Anin.


Dimas mengangguk dan merapihkan rambutnya yang baru kering, ia mencium kening dan bibir Anin sekilas sebelum pergi.


*-*-*-*-*


Dimas sudah sampai di rumah Gilang, sebelum datang ia membeli parsel buah juga bunga untuk Gilang karena ia tahu temannya itu pasti belum menyiapkan apapun untuk di bawa.


"Terimakasih Dimas sudah repot-repot bawa bunga sama parcel," ucap Mamah Gilang.


"Tenang aja Mah, buat lamaran Gilang gak masalah." ucap Dimas menatap Gilang yang menunduk.


Mamah tersenyum sambil berlalu ke dapur membuatkan Dimas minum. Tak lama Rendra datang membawa bingkisan yang cukup besar bahkan sampai menutupi sebagian wajahnya, ia masuk dengan nafas tak beraturan membuat Dimas dan Gilang menoleh ke arahnya.


"Ampun, mati gue!!" ucap Rendra menaruh barang bawaannya.


"Lo habis dari mana, sampai keringetan gitu?" tanya Dimas


"Ehh Tokek, lo kenapa lamaran dadakan gini sih?" ucap Rendra pada Gilang.


"Bukan gue yang mau, tanyain sama si Mamah gih!" ucap Gilang.


"Lo tahu gak, gara-gara loe telepon gue, ilmu buat bikin klepek-klepek cewek gagal gue buat!" ucapnya kesal.


"Ndra, mending lo duduk dulu, nafas lo udah putus-putus gitu takut gue," ucap Dimas.


"Ini lagi si Dimas doain gue mati!" ucapnya kesal sambil duduk.


Belum sempat Rendra mengeluarkan emosinya, Mamah datang membawa minuman untuk Dimas yang baru saja ia buat, dengan tanpa sungkan Rendra mengambilnya dan langsung meneguknya hingga habis.


"Makasih Mah." ucapnya meletakkan gelasnya.


"Ehh, tadi buat Dimas tapi.. Ya sudah Mamah buatkan lagi buat Dimas," ucap Mamah.


"Gak usah Mah, Dimas gak haus juga." tolak Dimas.


Mamah mengangguk tersenyum kemudian menatap Rendra yang penuh dengan peluh di dahinya, ia tersenyum melihat sahabat anaknya itu karena Rendra orang yang selalu membuat rumahnya ramai dengan celotehnya.


"Mamah siap-siap dulu ya," pamit Mamah.


"Lo bawa apaan Ndra?" tanya Dimas.


"Bawa kembaran si Gilang" ucapnya.


Dimas yang binggung membuka bungkusan besar itu dan melihat isinya yang cukup besar membuat Dimas ingin tertawa dengan perjuangan Rendra untuk lamaran sahabatnya itu.


"Lo bawa roti buaya?" ucap Dimas tertawa.


"Iya, kurang baik apa coba gue bawa kembaran lo Lang." ucapnya menatap Gilang.


"Ngapain lo bawa roti buaya?" tanya Gilang heran.


"Eh roti buaya itu buat lamaran tahu, lagian kan si Friska turunan betawi." ucap Rendra.


"Pantesan lo keringetan gitu," ucap Dimas.


"Tolong catat ya perjuangan gue buat lamaran Gilang, pokoknya kalau gue lamaran loe harus bawain yang lebih dari ini!" ucap Rendra.


"Dihh ngarep, pasangan aja kagak ada udah rencain lamaran," ledek Gilang.


"Lang lo gak tahu perjuangan gue buat nangkap tuh buaya sampai di jadiin roti, prosesnya panjang bro hargai pengorbanan gue buat lo," ucapnya dengan so drama.


Dimas dan Gilang membuang muka melihat Rendra yang mulai kambuh, temannya yang satu ini memang sedikit miring, anehnya mereka bisa betah bersahabat lama dengan Rendra.


"Oke makasih sebelumnya udah bawain gue roti buaya, lo memang terbaik!" ucapnya menepuk bahu Rendra.


"Sama-sama bro, aku padamu bro," balas Rendra menepuk bahu Gilang.


"Najis dihh gue masih normal!" ucap Gilang mendorong bahu Rendra.


Dimas yang menatap dua sahabatnya hanya tertawa, ia berharap kedua sahabatnya cepat mendapatkan kebahagiaan seperti dirinya sekarang yang bahagia bisa bersama Anin.


*-*-*-*-*


Mereka semua sudah sampai di rumah Friska, Mamah menggandeng tangan Gilang yang kini sudah tegang masuk ke rumah Friska sedangkan Gilang dan Rendra tengah kerepotan membawa seserahan untuk lamaran dadakan ini.


Friska yang baru saja selesai mandi bahkan dengan handuk yang masih menempel di rambutnya sontak terkejut dengan kedatangan Gilang bersama Ibu dan sahabatnya itu, terlebih bingkisan yang di bawa Dimas dan Rendra sudah di taruh di meja.


"Maaf Friska, kita datang gak ngabarin dulu," ucap Mamah membuka percakapan.


"Ehh iya Mah gapapa, bentar ya Friska panggil Mamah dulu sambil mau nyisir dulu." ucapnya setengah gugup.


Friska berlalu kebelakang, tak lama Mamah Friska dan Leona datang. Dengan tatapan penuh kerinduan Leona melepaskan genggaman sang nenek dan berhambur memeluk Gilang dengan senyuman.


"Papah kenapa baru datang?" ucap Leona


"Papahnya kemarin sakit perut katanya" ucap Rendra.


"Perut Papah sakit? Biar Leona obatin." ucapnya memegang perut Gilang


Leona mengangguk dan duduk di sebelah Gilang menyuruh Rendra menggeser duduknya.


"Salam kenal Bu, saya Mamahnya Gilang," ucap Mamah Gilang.


"Oh iya, saya Mamahnya Friska."


"Tunggu sebentar ya, Friskanya sedang bersiap-siap." sambungnya.


"Gapapa, langsung saya jelaskan saja maksud kedatangan kami kemari," ucap Mamah Gilang.


"Ada apa?"


"Maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar Friska," jelas Mamah Gilang.


"Me.. Melamar?" ucap Mamah Friska terkejut.


"Jadi bagaimana?"


Belum sempat Mamah Friska menjawab, Friska sudah datang membawa nampan berisi minuman yang ia letakan di meja.


"Silahkan di minum," tawar Friska.


"Kalau begitu saya serahkan keputusannya pada yang bersangkutan saja," ucap Mamah Friska.


"Ada apa?" tanya Friska binggung.


"Friska, maksud kedatangan Gilang dan kita semua ke sini untuk ngelamar kamu." ucap Dimas mewakili.


"Melamar?" ucap Friska tak kalah terkejut.


"Iya Fris, jadi gimana nih diterima atau enggak?" ucap Rendra.


Friska yang masih terkejut menoleh ke arah Mamahnya yang menggeleng lemah mengisyaratkan keputusan pada Friska, ia menatap Gilang yang kini menunduk dengan tangan menggenggam Leona yang masih memeluknya.


"Jangan lama-lama mikirnya Fris, kasihan Gilang udah panas dingin badannya, kalau lo terima kita rayain bersama, tapi kalau lo tolak berarti siap-siap ini terakhir kali lo lihat Gilang hidup." ucap Rendra yang sontak membuat semua mata melirik padanya.


Dimas menyikut Rendra agar berhenti berbicara, meskipun ia tahu maksud Rendra baik agar Friska mau menerima Gilang hanya saja keputusan semuanya ada di tangan Friska.


"Saya mau dengar langsung dari Gilang," ucap Friska yang sontak membuat mata menatap ke arah Gilang.


"Lang, buruan gih bilang lo mau ngelamar," bisik Rendra


Gilang tiba-tiba merasakan nyalinya ciut saat Friska meminta dirinya yang langsung untuk melamarnya. Keringat dingin bercucurat di dahinya, bahkan tangan Leona yang digenggamnya sudah mulai basah dengan keringat.


"Friska lo mau nikah sama gue?" tanya Gilang dengan cepat.


"Woy mana ada ngelamar kayak gitu, romantisan dikit kek!" bisik Rendra.


Friska yang mendengar bisikan Rendra tersenyum menatap Gilang yang kini sudah mulai pucat, Gilang tak berani menatapnya sejak dari tadi. Namun Friska melihat kesungguhan dari Gilang bahkan sampai membawa Mamah dan sahabatnya untuk melamar dirinya.


"Leona, gimana mau punya Papah kayak om Gilang?" tanya Friska.


"Papah Gilang kan udah jadi Papah Leona." jawab gadis cilik itu.


"Jadi Gimana Friska?" tanya Mamah Gilang yang ikut tegang.


"Saya terima lamarannya."


"Alhamdulillah jadi juga nyate!!" ucap Rendra terdengar keras.


Dimas memukul tangan Rendra, dengan yang lain ikut merasa lega karena Friska menerima lamaran Gilang. Sedangkan Gilang kini tampak bahagia senyumnya terukir sambil menatap Friska yang kini tersenyum kearahnya, satu langkah lagi mereka menuju halal.


"Gak sia-sia gue beli kembaran Gilang," ucap Rendra mengelus Roti buaya yang tampak besar di meja.


"Makasih Ndra," ucap Friska tertawa.


Merekapun mulai bercengkrama, Dimas memesan makanam untuk makan malam bersama.


Mamah Friska dan Gilang mengobrol di dalam, sedangkan Friska, Gilang serta Leona sibuk mengobrol sambil sesekali menggoda Leona, tampak seperti keluarga bahagia.


Dimas dan Rendra memilih di luar mencari udara segar sambil menunggu pesanan Dimas datang.


"Akhirnya sebentar lagi Gilang nikah." ucap Dimas.


"Gue sedih pokoknya," ucap Rendra.


"Lo udah nikah, si Gilang mau nikah juga, lah gue sendirian bayangin Dim gimana perasaan gue," ucapnya pada Dimas.


Dimas menatap Rendra, tak ada candaan pada ucapannya kali ini, itu artinya ia memang sedang bersedih. Wajar saja jika Gilang sudah menikah hanya tinggal dirinya sendiri yang belum menikah dan tentu saja membuat Dimas juga merasa kasihan pada Rendra.


"Loe gak ada gebetan?" tanya Dimas.


"Nggak ada, semenjak putus kemarin gue masih ngerasain sakit hati ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, padahal apa salah gue sama dia." ucap Rendra serius.


"Salahnya seharusnya lo gak berharap lebih Ndra, mencintai itu sewajarnya aja apalagi masih jadi pacar rentan buat putus."


"Gue belum tahu setelah ini apa yang bakal gue lakuin, kalian udah punya kehidupan masing-masing nah gue masih gini-gini aja," ucapnya mengesap rokok elektriknya.


"Kehidupan lo lebih mapan dari kita berdua Ndra, lo pinter, karier oke, kalau wajah sih ya lumayan. Kalau loe memang ingin serius ngejalin hubungan gue yakin bakal banyak cewek yang mau sama lo," ucap Dimas.


"Apa selama ini menurut lo, gue terlalu nyepelin hubungan?" tanya Rendra.


"Menurut gue cewek itu butuh komitmen dalam menjalin hubungan, alasan loe putus kemarin gue rasa itu karena loe gak ngasih keputusan yang tepat mau dibawa kemana hubungan kalian," jelas Dimas.


"Gue kan takut Dim, kalau gue mau menjalin hubungan serius terus dianya gak mau dan nolak malah bikin sakit hati."


"Itu tandanya gak berjodoh, udahlah mulai sekarang loe harus buka hati lo dan mulai kehidupan baru, sekarang bukan waktunya main-main, lo harus punya pilihan dihidup lo!"


"Gue bakal coba!" jawabnya.


"Harus di coba!" ucap Dimas.


"Eh menurut lo gimana kalau gue sama Dina aja kan cocok?" tanya Rendra.


"Ogah, gue gak mau iparan sama lo!" jawab Dimas spontan.


"Eh kan gue cuman nanya doang bambang, lagian Adek lo lumayan juga," ucap Rendra.


"Eh awas ya kalau lo nempel-nempelin si Dina!" ancam Dimas


"Nempel-nempelin, lo kira gue setan nempelin manusia?" ucap Rendra.


"Bukan setan sih,  tapi titisan setan." ucap Dimas kabur ke dalam rumah.


Sedangkan Rendra yang ingin membalas ucapan Dimas hanya diam karena pelaku sudah kabur lebih dulu, ia memilih mencerna ucapan Dimas tadi padanya.