
Karina mengernyit melihat suaminya sudah rapi padahal dia masih terlihat pucat karena mual dan muntahnyla. Karina yang pagi itu ingin membangunkannya untuk sarapan karena sudah siap.
"Mas mau kemana?" Tanya Karina dengan nada lembut.
"Kerja." Jawab Johan hanya melirik istrinya yang mendekatinya dan membantunya memakaikan dasi. Johan lupa cara memakai dasi dan sebenarnya dia mau memakainya sendiri.
Niat hati Johan memaksa untuk bekerja membuat tubuh Johan memang masih pucat.
"Mas sudah baik-baik saja?" Tanya Karina sambil membantu suaminya memakai dasi.
"Hmm." Jawab Johan singkat membuat Karina lagi-lagi mengernyit bingung. Suaminya entah kenapa sedikit dingin padanya.
"Wajah mas masih terlihat pucat apa tidak sebaiknya mas istirahat dulu di rumah?" Tanya Karina dengan raut wajah cemas.
"Aku tak mungkin bolos kerja terus." Jawab Johan meraih tas kerja dokternya yang sebelumnya sudah disiapkannya tadi sebelum mandi.
"Mereka pasti akan mengerti keadaan mas yang sedang tidak baik-baik saja." Pinta Karina yang tidak digubris Johan melanjutkan langkahnya untuk sarapan.
Meski dia sedikit memperlakukan istrinya dingin dia tak mau mengabaikan sarapann yang sudah dibuat istrinya. Setelah pagi tadi dia memaksa untuk terus menempel pada istrinya karena mual dan muntahnya.
Karina mendesah melihat suaminya yang tiba-tiba berubah karena pagi tadi saat dia bangun suaminya itu tidak menempeli seperti biasanya. Meski dia sempat melihat suaminya mual dan muntah lagi pagi ini.
Dan hal itu membuat Karina merasa kehilangan.
"Mas, mau sarapan apa?" Tanya Karina lembut.
"Susu saja, perutku belum baik." Jawab Johan tanpa menatap wajah isrinya yang sedang menatapnya intens.
"Apa tidak sebaiknya mas istirahat?" Pinta sekali lagi.
"Tidak." Karina terdiam mendengar jawaban tegas suaminya yang tidak seperti biasa.
Dan akhirnya Karina pun merelakan suaminya untuk pergi kerja.
.
.
Hoek... Hoek..
"Aku kan sudah bilang untuk istirahat kan, masih sakit sok-sok an kerja." Kesal Ryan memijat tengkuk Johan di toilet ruang kerja Johan.
Tadi Ryan hanya ingin membuktikan para perawat yang katanya melihat Johan masuk bekerja setelah absen lima haril setelah bersatu dengan istrinya. Karena dia menantu pemilik rumah sakilt tak ada yang berani protes hingga akhirnya membiarkan saja dan tidak ada yang bergosip lagi.
Dan saat dirinya membuktikan kalau Johan benar-benar ada di ruangannya malah Ryan melihat Johan mual dan muntah hebat di dalam toilet ruangannya.
"Ayo pulang! Kuantar!" Ucap Ryan menarik Johan yang sudah lemas karena tadi hanya minum susu saja tanpa sarapan nasi.
"Tidak. Kau kembalilah ke ruanganmu sendiri." Usir Johan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Jangan keras kepala! Percuma kau ada di ruanganmu tapi tidak menerima pasien dengan keadaanmu yang seperti ini!" Kesal Ryan bosan untuk menasehati.
"Jangann urus aku, pergilah!" Usir Johan lagi tanpa sadar air matanya menetes disudut matanya.
"Kau menangis?" Tanya Ryan keheranan tak sengaja melihat air mata itu.
"Ini hanya efek muntah." Elak Johan menepis tangan Ryan yang memegang sudut matanya.
Ryan terlihat menghela nafas panjang.
"Ada apa?" Tanya Ryan yang peka dengan sahabatnya itu.
Johan diam tak bicara apapun masih di posisi yang sama menutup matanya dengan lengann. Ryann lagi-lagi menghela nafas panjang.
"Oke. Kalau kau belum siap untuk cerita, tapi kalau kau sudah siap, kau bisa mencariku." Jawab Ryan meninggalkan ruangan Johan karena waktu sudah dimulai untuk menerima kunjungan pasien.
.
.
"Mas kenapa? Apa mas marah karena aku tidak mau melakukan tes kehamilan? Maaf mas, aku tak mau mengecewakanmu, padahal kau sangat ingin memiliki anakk." Guman Karina mendesah dalam kesendiriannya di kamar utama mereka.
"Apa yang harus kulakukan?" Guman Karina entah bertanya pada siapa. Dia tidak pernah mencurahkan apa yang diinginkannya sejak dulu. Dia berharap akan mampu mengatasi sendiri masalahnya. Selama dia yakin Tuhan yang akan selalu ada untuknya.
Dalam kediamannya, ponsel Karina berdering tanda ada panggilan masuk. Karina terlihat antusias saat mendengarnya. Namun perlahan dia harus kecewa meskil tidak sepenuhnya.
"Iya kak?" Tanya Karina setelah mengucap salam pada kakaknya Ivan.
"Bagaimana dengan penawaranku kemarin?" Tanya Ivann to the point.
"Maaf kak. Aku belum memberi tahu suamiku." Jawab Karina ragu. Terdengar helaan nafas Ivan di seberang panggilan.
"Tak apa perlahan saja. Tapi jangan lama-lama. Kita tidak punya banyak waktu." Jawab Ivan setelah helaan nafasnya.
"Iya kak."
"Apa dia masih tidur?" Tanya Ivan tentang Johan.
"Dia masuk kerja kak." Jawab Karina terdengar nada getir.
"Apa dia sudah tidak mual dan muntah lagi?" Tanya Ivan cemas.
"Katanya sudah tidak terlalu kak. Tidak enak kalau teru-terusan membolos."
"Kakak sudah susah payah meminta izin pada papa terkait dengan keadaan suamimu, tapi apa-apaan dia." Kesal Ivan terdengar emosi di seberang panggilan.
"Sabar kak, mungkin mas Johan butuh suasana baru agar tidak mual." Bujuk Karina berusaha tersenyum.
"Aku akan bertanya padanya bagaimana kondisinya.'
"Baik kak. Terima kasih."
Karina mengelus perutnya yang memang sudah ada anak di dalam perutnya membuat Karina tak mampu menahan tangisnya yang terdengar pilu.
.
.
Genap satu minggu Johan memaksakan dirinya untuk masuk kerja dan seminggu itu pula keadaannya yang mual dan muntah menyiksanya. Dan seminggu itu pula Ryan kesal pada sahabatnya itu yang memang tetap ngeyel masuk kerja dengan tubuh lemas dan pucat tak bertenaga yang dialami Johan. Dan seminggu itu pun sikap Johan pada istrinya dingin meski masih acuh.
Karina hanya berpikilr mungkin itu efek dari kehamilannya mood suaminya kurang baik. Dan selama itu juga, Karina juga belum sempat bicara dengan rencananya dengan kakaknya. Karena setiap kali pulang suaminya langsung membersihkan diri dan langsung terlelap tanpa bicara apa-apa. Mungkin kelelahan dengan mual dan muntah itu.
"Terserahlah Johan!" kesal Ryan hendak pergi meninggalkan ruangan Johan namun...
Bruk
Ryan tersentak kaget saat melihat tubuh Johan ambruk tak sadarkan diri tepat di depan toilet setelah dia keluar dari toilet itu.
"Johan!" Seru Ryan panik langsung menghampiri Johan meminta tolong perawat pria yang tadi mendengar teriakan Ryan dan kepanikannya.
"Bodoh. Kau sungguh bodoh." Umpat Ryan sambil memeriksa kondisi tubuh Johan pasca pingsan.
"Ambilkan infus!" Titah Ryan pada perawat tadi yang masih mendampingi Ryan seperti memeriksa pasie pada umumnya.
"Baik dok." Perawat itu langsung cekatan untuk melakukan perintah dokter Ryan.
.
.