Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 99


"Eh, dibilangin malah bengong. Ayo Anja kita panggil Ibu." keluh Melisa.


"Mas disini saja jangan kemana-mana, jangan macem-macem juga, tuh lihat banyak CCTV di rumah ini." ucap Melisa menakut-nakuti.


Bukannya takut, Huda malah mengulum senyumnya.


Setelah memperingati Huda, Melisa masuk begitu saja. Tapi tak berselang lama. Malah Arick yang menghampiri dirinya.


Huda sedikit kecewa, kenapa bukan gadis itu lagi yang menemui dirinya?


"Ayo naik ke ruang kerjaku."


"Baik Tuan." jawab Huda patuh, lalu mengikuti langkah Arick dari belakang.


Sampai di ruang kerja, Arick lalu memeriksa semua berkas.


"Mulai tanggal 18, aku tidak datang ke kantor lagi. Kalau ada berkas yang harus ku tanda tangani itu tugasmu untuk membawanya kesini." jelas Arick setelah selesai dengan pekerjaannya.


Huda menggangguk dengan semangat.


"Baik Tuan." jawabnya lantang, sampai-sampai membuat Arick mengeryit heran bercampur curiga.


"Tugasmu hanya mengantar berkas ke ruang ini, dilarang ke ruang-ruang yang lainnya." jelas Arick posesif.


Posesif pada rumah yang dihuni oleh sang istri.


"Baik Tuan." jawab Huda patuh, tak apalah yang penting masih ke rumah ini. Batinnya penuh harap. Berharap kembali bertemu dengan seorang gadis yang ia yakini adalah babysister di rumah ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai urusan dengan Huda, Arick langsung menemui sang istri yang sedang menghabiskan waktu bersama Sofia.


Di ruang keluarga, Jihan dan Sofia sedang menghitung beberapa bingkisan yang akan mereka bawa ke panti asuhan besok.


Dimas dan Amir ada disana, tadi mereka yang membantu memindahkan barang-barang ini dari si penjual.


Arick duduk di salah satu sofa dan mulai memperhatikan.


"Ini terlalu pas Bu, harusnyakan ada lebihnya untuk jaga-jaga." ucap Jihan setelah selesai menghitung.


"Iya Ji, kamu benar. Tapi kasihan kalau mbak-mbak penjual itu kembali kesini. Tadi waktu dia menawarkan apa ada yang kurang kita jawab pas pas saja." jawab Sofia sekaligus mengeluh dan Jihan mengangguk setuju.


Arick yang mendengarkan pembicaraan itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mendengar itu, Sofia dan Jihan langsung tersenyum sumringah. Bahkan Sofia mulai mendapatkan ide bagus.


"Mau Rick, sana belilah. Ini catatannya." jawab Sofia, dengan semangat ia menyerahkan secarik kertas pada sang anak.


"Nanti siapa yang bungkus? memangnya ada yang bisa?" tanya Arick lagi, penasaran, jika tidak ada yang bisa ia akan meminta mbak-mbak di toko yang akan membungkuskannya.


"Dimas yang akan bungkus, bingkisan hasil buatannya rapi. Ibu suka, itu oleh-oleh Jihan kemarin juga Dimas yang bungkus." jawab Sofia lancar.


Sementara Dimas, Arick dan Jihan mendelik kompak.


Mampus aku. Batin Dimas. Apalagi saat ia melihat sang majikannya yang menatap tajam kearahnya.


"Saya tidak lihat kok Pak, hanya tahu saja itu apa." jelas Dimas buru-buru.


Sofia yang mulai memahami situasi malah tertawa terbahak. Sementara Jihan menunduk, malu.


"Sana! kamu yang beli semua barang-barang ini. Kamu juga yang harus membungkusnya dengan rapi." Titah Arick sambil memberikan kertas catatan itu.


Dimas pasrah, hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


"Maaf ya Dim." ucap Sofia lalu kembali tergelak.


Dengan wajah yang ditekuk, Dimas keluar.


"Maaf Rick, Dimas memang tidak melihat isinya kok, hanya tahu saja kalau itu itu itu." jelas Sofia pada sang anak.


Arick tak peduli, hanya memalingkan wajah malas memberi tanggapan. Ia juga sebenarnya tidak marah pada Dimas. Hanya ingin mengerjai anak muda itu saja.


"Maaf ya Ji." ucap Sofia sambil mengulum senyum.


"Hem." jawab Jihan singkat dan malah terlihat lucu di mata Sofia.


Amir yang sedari tadi memperhatikan pun berusaha keras agar tidak tergelak.


"Pak Amir kalau mau ketawa jangan ditahan, nanti kentut." ledek Arick.


Sofia yang mendengar itu makin tergelak, sementara Jihan mulai tersenyum.


Diam-diam, Arick melirik senyuman sang istri itu.


Senyuman yang akan ia jaga untuk selalu ada.