
Malam harinya Anin sibuk memasak untuk makan malam mereka, Bude dan Pakde baru sampai di rumah jam delapan malam mereka tutup lebih awal karena tidak enak pada Dimas dan Anin yang berada di rumah.
Anin memilih memasak Gudeg dan semur telur tak lupa sambal asam manis yang menjadi favorit Pakdenya.
"Sudah siap silahkan di makan," ucap Anin semangat.
"Sudah lama tidak makan masakan Anin, apalagi sambalnya." ucap Pakde.
Anin hanya tersenyum sambil menaruh nasi di piring dan memberikannya pada Dimas, Bude dan Pakde yang melihat Anin begitu perhatian hanya tersenyum.
"Dimas kamu harus cobain masakan Istri kamu semuanya pasti ketagihan," ucap Bude.
Dimas hanya mengangguk sambil mengambil sambal yang di maksud Pakde, ia mencoba memasukan suapan pertamanya ke mulut, dan ternyata benar saja baru satu suapan Dimas menjadi ketagihan ternyata masakan Anin memang enak dan pas di lidah.
Ia pandai memasak Dimas tak mau memujinya ia hanya menikmatinya tanpa berkata apapun sedangkan Bude dan Pakde berebut menambah sambal yang Anin masak yang membuat Anin tertawa melihat tingkah keduanya.
Dulu Kirana tidak bisa masak, ia hanya bisa memasak beberapa masakan saja seperti ikan dan ayam selebihnya biasanya mereka akan memesan makanan dan Dimas juga memakluminya karena Kirana wanita karier yang sibuk bekerja jadi tidak ada waktu belajar memasak, berbeda dengan Anindira mungkin karena ia mandiri jadi ia belajar semuanya sendirian.
Untungnya Dimas tidak banyak menuntut dari pasangannya ia hanya menerima kekurangan pasangannya karena ia tahu jika menikah berarti harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing.
Setelah selesai makan, Dimas memilih menonton tv dengan Pakde sedangkan Anindira mencuci piring. Tak terasa waktu sudah hampir larut malam, Pakde juga sudah pamit ke kamarnya menyusul Bude yang sudah tidur lebih dulu dan Dimas yang belum merasa ngantuk memilih melanjutkan aktivitasnya menonton, Anindira yang merasa tidak enak menyuruh Dimas tidur memilih kekamar lebih dulu sambil shalat Isya.
"Belum tidur?" tanya Dimas.
"Baru selesai shalat," jawab Anin merapihkan kasur.
"Besok mau jalan-jalan kemana? Kita lusa pulang," ucap Dimas.
"Kita ke Keraton yuk, Anin udah lama gak jalan-jalan ke sana," ucapnya semangat.
"Ya sudah sekarang kita tidur." ucap Dimas yang langsung berbaring.
Anindira mengangguk, ia memilih ikut membaringkan badannya yang sudah lelah karena belum beristirahat.
Dua puluh menit berlalu Anin mencoba menutup matanya namun tidak bisa, ia sudah memutar-mutar posisi tidurnya namun belum juga terlelap, ia memilih memaikan poselnya dan mengunci-buka saja, seperti insomnianya kembali kambuh, aneh padahal insomnianya sudah beberapa bulan terakhir sudah tidak ia alami tapi mengapa saat kembali ke Jogja ia malah mengalaminya lagi, sial bisa-bisa besok ia bangun kesiangan dan tidak jadi jalan-jalan bersama Dimas.
Sedangkan Dimas, ia berusaha sejak tadi menutup matanya namun bayangan tentang kecelakaan delapan tahun silam malah menghantuinya sejak tadi, ia sudah berusaha menghilangkan semua bayangan itu namun tidak bisa makin ia mencoba menutup mata makin dekat bayangan itu dan tepat saat anak kecil itu terlempar dan tersungkur di jalanan dengan kepala membentur aspal.
Dimas kembali mendudukan badannya yang sudah berkeringat dingin, ia butuh obat itu jika tidak ia tidak bisa tidur lagi malam ini, sial mengapa penyakitnya tidak bisa hilang mengapa harus mengalami trauma seperti ini.
"Mas mimpi buruk?" tanya Anin yang masih berbaring menatap Dimas.
Dimas yang terkejut langsung menatap Anin yang belum tertidur, Dimas mengambil tisu di nakas dan mengelap keringat yang sudah membasahi tubuhnya, ia juga heran mengapa Anindira belum tidur, apakah sejak tadi Anindira membuka matanya?.
"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Dimas sambil membuang tisunya.
"Anin Insomnia, kalau tidur paling nanti udah shubuh," terang Anin.
"Kok bisa?"
"Gak tahu, udah empat tahun ini Anin ngidap insomnia, pernah berobat tapi tetep gak bisa sembuh,"
"Biasanya kalau insom kamu suka ngapain?" tanya Dimas penasaran.
"Biasanya sih suka bikin maket, ngerjain tugas atau enggak main games atau nonton drama, eh Mas kenapa bangun habis mimpi buruk ya sampai keringat gitu?" tanya Anin penasaran.
"Saya ngidap PTSD, kalau tidur harus minum obat, cuma saya lupa bawa obatnya," ucap Dimas.
"Kok bisa? Pernah trauma kenapa?" tanya Anin sambil mendudukan badannya.
"Dulu pernah ngalami kecelakaan, waktu itu motor saya di tabrak orang dan dia bawa anak kecil. Anak kecil itu kelempar jauh dan ke banting ke aspal dan meninggal di tempat, waktu itu saya bawa motor lagi banyak pikiran juga dan yang nabrak saya dia juga bawa motor dengan kecepatan tinggi." jelasnya.
"Mas trauma sama kecelakaannya atau lihat anak kecilnya?"
"Kedua-duanya, saya masih ingat anak kecil itu menatap ke arah saya dengan kepala bersimbah darah, sampai sekarang saya merasa trauma kalau aja saya lebih konsen dan bisa menghindar, mungkin anak kecil itu masih bisa hidup." ucapnya.
"Semuanya udah kehendak Tuhan, sudah menjadi takdir Tuhan, rezeki, jodoh, maut semua sudah dituliskan Tuhan saat kita lahir, dan mungkin sudah takdirnya ia meninggal." ucap Anin menenangkan.
Dimas hanya terdiam sambil mencari obat dalam koper dan tasnya namun nihil ia lupa memasukkannya, ia tidak mungkin bisa tidur jika belum meminum obat itu.
"Mas cari apa?"
"Obat, saya lupa bawa,"
"Kalau gak minum obat gak bisa tidur?"
Dimas menggeleng, ia benar-benar lupa membawanya ia juga tidak membereskan pakaian saat ke sini karena Anindira yang menyiapkan semuanya.
"Mas kita main game aja yuk?" ajak Anin.
"Main game malam?" tanya Dimas heran.
Dimas mengangkat satu alisnya dan langsung duduk di ranjang, sedangkan Anindira sudah menulis nama mereka berdua dan siap bermain.
Hampir satu jam lebih mereka masih asyik bermain Anin menyiapkan bedak tabur untuk mereka. Bagi yang kalah akan ditaburi bedak di muka dan Dimas sudah tiga kali kalah dari Anin dan mukanya sudah penuh dengan bedak yang Anin sengaja taburi banyak, Dimas hanya menatap dingin pada Anin sedangkan Anin malah tertawa kecil melihat Dimas yang penuh dengan bedak.
"Sudah sudah, masa saya terus yang kalah," ucap Dimas kesal.
"Lah, Mas sendiri yang salah majuin terus jadinya kan di tubruk," ucap Anin tertawa kecil karena takut Bude mendengarnya.
Dimas memilih ke kamar mandi membasuh mukanya, ia juga sempat tersenyum karena kekalahannya sendiri yang membuatnya harus di coret dengan bedak tabur.
Ia merasa senang melihat Anindira yang tertawa bahagia karena dirinya, senyum Anindira yang kembali lagi ia lihat yang membuatnya pernah terpikat.
Anin memilih membaringkan tubuhnya di kasur dan memilih menonton drama, lagipula Dimas sepertinya tidak menikmati game mereka, bahkan Dimas malah tidak terima kekalahannya dan langsung pergi ke kamar mandi, ia tahu Dimas pasti marah padanya karena Anindira memotret Dimas yang penuh dengan bedak di wajahnya sebelum pergi membilasnya ke kamar mandi.
"Saya mau cari makanan keluar, kamu mau?" tanya Dimas.
"Mau ikut boleh?"
"Nanti masuk angin,"
"Pakai jaket kok, kita makan nasi goreng aja deket gang depan disitu enak banget kita makan di sana aja,"
"Oke."
Dimas mengambil jaketnya dan pergi mengambil kunci motor Hasan, sedangkan Anin mengikat rambut panjangnya dan menggelungnya, ia mengambil jaket rajutnya dan menyusul Dimas.
"Kenapa rambutnya di gelung?" tanya Dimas.
"Kenapa?"
"Turunin rambutnya, ikat biasa aja nanti kamu bisa masuk angin,"
Anin mengangkat alisnya, ia hanya menuruti Dimas dan menurunkan rambutnya kembali, ia memilih menggeraikan rambutnya dan menaiki motor.
Di perjalanan Dimas dan Anin saling diam, tidak ada perbincangan diantara mereka berdua dan merekanpun sampai di warung yang mereka tuju, Dimas memesan dua piring nasi goreng.
Tak terasa waktu sudah berlalu, kini sudah menunjukkan pukul 02:02 mereka masih berada di luar rumah, Anin dan Dimas memutuskan untuk pulang karena sudah hampir shubuh mereka berada di luar.
*-*-*-*-*
Dimas dan Anindira masih terlelap berselimut, padahal hari sudah hampir siang, Bude dan Pakde sudah membangunkan mereka namun tidak ada suara, mereka memutuskan untuk pergi langsung ke kedai.
Sudah hampir jam dua belas Siang, Dimas akhirnya terbangun dari tidurnya ia mengucek matanya dan merengang otot-ototnya, ia menatap ke sebelahnya ternyata Anin masih terlelap, ia menatap Anin sekilas terlihat dari wajahnya begitu teduh, Anin bahkan terlihat begitu cantik, Dimas mengingat pertama kali ia bertemu dengan Anin di pantai dan memperhatikan Anin yang saat itu sedang berkumpul bersama teman-temannya.
Dimas hanya tersenyum mengingat kejadian semalam saat dirinya bermain game bersama Anindira dan ia kalah, Anin begitu senang dan tertawa lepas, ia tak pernah melihat tawa riang Anin sebelumnya ternyata tawanya begitu merdu di dengar.
Dimas mendekati Anin dan menatap wajahnya dekat lekat namun baru beberap detik ia menatap Anin ia teringat dengan Kirana alm istrinya, ia teringat saat Kirana membangunkan pagi-pagi dengan sabar dan mencium pipinya, Dimas menjauhkan wajahnya dari Anin ia rindu dengan Kirana, bahkan bayangan Kirana selalu melintas saat ia bersama Anindira yang membuatnya selalu teringat.
"Mas baru bangun?" tanya Anin yang mengucek matanya.
"Iya, saya mau mandi dulu," ucap Dimas langsung pergi mengambil handuknya.
Aninpun membuka jendela kamarnya dan mengecek ponselnya, ternyata hari sudah siang ia tertidur selama itu, bahkan Dimas juga ikut terlelap dan baru bangun? Ternyata yang Anin tahu mereka memiliki penyakit yang sama sulit tidur, beruntungnya Afifa tidak ada di sini jika tidak mungkin Afifa akan menangis sepanjang hari karena orangtuanya tertidur.
Dimas keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggangnya, rambutnya masih basah dan meneteskan beberapa air yang turun wajah segarnya begitu membuat Anin terpesona, bahkan tubuh sixpacknya terpampang nyata. Anin mengedip-ngedipkan matanya apakah pemandangan di depannya nyata atau khayalan.
"Kamu mau mandi?" tanya Dimas.
"Eh iya ini mau mandi," ucap Anin gugup karena Dimas berjalan kearahnya dan mengambil kopernya.
Tiba-tiba Detak jatung Anin
berdebar-debar saat Dimas berjalan dekat ke arahnya dengan penampilan seperti itu, ia mencoba menetralkan detak jantungnya, apakah ia akan sering melihat Dimas berpenampilan seperti itu? Ini pertama kalinya Anin melihat lelaki bertelanjang dada di depan matanya sendiri dan dia adalah suaminya.
Anin menggelengkan kepala menghela nafasnya ia memilih mengambil handuknya. Baru saja Anin hendak mengambil handuknya Dimas membalikkan badannya dan menabrak Anin hingga terjatuh ke kasur dan Dimas yang ikut tertarik tangan Anin ikut terjatuh menindih Anin, tanpa di sangka handuk yang di kenakan Dimas terjatuh begitu saja karena kurang erat ia ikat. Anin dan Dimas yang terkejut dengan posisi mereka langsung bangun karena sama-sama terkejut.
"Mas astagfirullah." ucap Anin berteriak sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Apaan?" tanya Dimas binggung.
"Handuknya!!" teriaknya kembali.
Dimas menatap ke bawah dan melihat handuknya yang sudah terjatuh di bawah, iapun sontak terkejut dan langsung mengambil handuknya dan bajunya dan berlarian ke kamar mandi.
Anindira yang mendengar suara lari Dimas membuka matanya dan mengantur nafasnya, apa yang baru saja terjadi ia benar-benar hampir serangan jantung di depan Dimas
Sedangkan Dimas yang sudah berada di kamar mandi langsung mencuci mukanya, apa yang baru saja terjadi ia benar-benar malu.
Padahal ia memakai celana boxer namun melihat Anin yang histeris menatapnya malah membuatnya takut sendiri, rasanya ia sangat malu mengapa handuk yang ia lilit bisa terjatuh ke lantai saat Dimas menabrak Anin, Dimas menggelangkan kepalanya dan ia binggung bagaimana nanti ia bertemu Anin setelah kejadian yang baru saja terjadi?.