
Sudah empat hari semenjak Anin sakit Dimas memilih berdiam di rumah, bahkan ia juga Dimas membantu Anin membersihkan rumah dan memasak tanpa mengeluh Dimas memberikan perhatian penuh pada Anin membantunya meminum obat, benar-benar menjadi suami siaga.
Hari ini kondisi Anin sudah lebih baik, selera makannya juga kembali lagi, pagi sekali Anin terbangun tanpa sepengetahuan Dimas, Anin memasak dan membuat Brownies spesial untuk Dimas, kata Dina kakaknya itu suka dengan Brownis setiap pulang kerja ia selalu membeli Brownis Amanda yang terkenal di wilayah Bandung dan sebagai ungkapan terimakasih Anin membuatkan Brownis khusus untuk suaminya itu.
"Kamu udah bangun dari tadi?" tanya Dimas mengucek matanya.
"Iya Mas, Mas mandi dulu Anin udah masak nanti kita makan ya," ucap Anin sambil melipat selimut.
"Sudah mendingan?"
"Alhamdulillah udah mendingan, Mandi dulu gih." ucap Anin.
Dimas pun mengangguk dan langsung berjalan ke kamar mandi, Anin memilih turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan mereka, Brownies yang ia buat pun sudah ia selesai.
Tak lama teriakan terdengar dari kamar mereka, Anin pun langsung naik ke atas untuk mengecek Dimas yang memanggilnya.
"Ada apa Mas?" tanya Anin di depan pintu kamar mandi.
"Tolong ambilin handuk, saya lupa bawa," ucap Dimas mengintip di balik pintu.
Dengan ragu Anin mengambil handuk Dimas dan memberikannya, Anin menutup matanya dengan tangan kirinya.
"Ini." ucap Anin memberikan handuk
"Jauh banget susah ngambilnya, kamu jangan tutup mata gitu," ucap Dimas.
Anin berjalan satu langkah dan menyodorkan handuk Dimas dengan mata masih tertutup.
"Nih Mas," ucap Anin.
"Oke Makasih." ucap Dimas langsung mengambil handuk dan menutup pintu
Anin yang mendengar suara pintu kamar mandi tertutup membuka matanya namun apa yang terjadi Anin terkejut saat Dimas berdiri di depannya dan menatapnya.
Anin menatap Dimas dengan rambut basah dan dada bidangnya serta otot yang tercetak di perutnya. Anin memundurkan langkahnya karena terkejut melihat Dimas bertelanjang dada dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Kenapa?" tanya Dimas.
"Mas bukannya tadi minta handuk tapi udah keluar aja." ucap Anin gugupm
"Cuman pake handuk bentar, lagian kamu tutup matanya kelamaan," ucap Dimas.
"Ya sudah pake baju dulu terus turun ke bawah, Anin siapin dulu sarapannya." ucap Anin pergi.
"Tunggu bentar." ucap Dimas menarik penggelangan tangan Anin.
Anin yang terkejut langsung membalikan badannya ke arah Dimas, Dimas berjalan mendekati Anin dan Anin yang gugup langsung memundurkan langkahnya hingga tak sadar menabrak tembok.
Dimas makin mendekat membuat Anin gugup apa yang akan Dimas lakukan padanya, Anin menutup matanya dengan jantung yang berdebar.
"Sudah gak panas." ucap Dimas menempelkan telapak tangannya di dahi Anin.
"Iya Anin kan udah bilang mendingan," ucap Anin membuang Nafasnya karena kelakuan Dimas.
"Tapi kenapa pucet gitu mukanya?" tanya Dimas.
Shit!
Dimas malah bertanya mengapa wajahnya pucat? sudah pasti karena kelakuannya saat ini yang mendorong Anin hingga menabrak dinding, Anin benar-benar gugup dengan kelakuan Dimas.
"Anin mau siapin dulu nasinya," ucap Anin langsung berlari keluar.
Sedangkan Dimas hanya tersenyum melihat Anin yang salah tingkah karena perbuatannya, niat awalnya ingin mengerjai Anin saja namun melihat wajah Anin yang pucat membuatnya kasihan untung saja Dimas tidak menciumnya hampir saja ia hilang kendali dan membuat anak orang jantungan.
Dimas tersenyum simpul kemudian memakai bajunya dan turun ke bawah, sampai di bawah ia melihat meja makan yang penuh dengan makanan juga buah-buahan Dimas sempat termangu dengan sajian yang Anin buat padahal dirumah ini hanya tinggal mereka berdua.
"Kamu masak sebanyak ini?" Tanya Dimas.
"Iya Mas, sekalian buat Ibu juga nanti kita jemput Afifa pulang ya," ucap Anin menuangkan nasi untuk Dimas.
Dimas mengambil Ayam balado juga gudeg yang Anin masak, tanpa banyak bicara Dimas melahapnya dengan cepat, sudah beberapa hari Dimas tidak enak makan karena sering memesan makan di luar atau jika tidak ia membuat mie instan karena Dimas tidak bisa masak.
Dan sekarang Anin membuat selera makannya kembali lagi, masakan yang Anin masak memang pas di lidahnya bahkan beberapa masakan yang sering Anin masak adalah makanan favoritnya meskipun Dimas tidak pernah memuji masakannya namun Anin selalu memasak dengan rasa yang sama.
"Mas cobain brownisnya, Anin baru bikin." ucap Anin memberikan potongan brownis.
"Kamu bikin sendiri?"
"Iya Anin bikin brownis coklat, tadinya mau bikin brownis pandan juga tapi gak keburu,"
Dimas menyuapi brownjs dengan toping keju buatan Anin, rasanya tak kalah enak dengan brownis yang sering ia beli.
"Kamu jago juga bikin kayak gini, rasanya enak," ucap Dimas dengan wajah datarnya seperti biasa.
"Belajar dari Bude waktu di Jogja Anin sering bikin ini," ucapnya tersenyum.
Dimas mengangguk dan kembali mengambil brownis dan memakannya, ternyata banyak kepandaian yang Anin bisa dan ia juga sering belajar dari Budenya membuat Dimas kagum dengan kepandaian Anin.
"Mas ini kopinya lebih nikmat makan Brownies minumnya kopi."
"Makasih." jawab Dimas.
"Anin juga mau bilang makasih Mas udah jagain Anin selama Anin sakit," ucapnya tersenyum.
"Sudah menjadi kewajiban saya buat ngejaga kamu, jadi jangan sungkan karena kamu tanggung jawab saya," ucap Dimas
"Ya sudah makan lagi brownisnya, yang buat Ibu udah Anin pisahin,"
"Ya sudah kamu siap-siap nanti kita langsung jemput Afifa." ujar Dimas.
*-*-*-*
Dimas kembali ke kantor setelah lima hari lamanya ia mengambil cuti, hari ini ada beberapa rapat yang akan ia hadiri dan juga pertemuan dengan beberapa klien yang mengajak bekerjasama dengan perusahaannya.
"Pak ini data yang sudah saya buat," ucap Friska yang datang ke ruangan Dimas.
"Terimakasih." ucap Dimas tanpa menatap Friska.
"Maaf pak saya boleh minta hasil rapat sebelumnya?" tanya Friska.
"Untuk apa?" tanya Dimas menatap dingin kearah Friska.
"Saya rasa ada kesalahan dalam rapat kamarin dan dari data yang yang saya lihat pengeluaran dana kerjasama anda sebelumnya cukup banyak jadi biar saya catat,"
"Pengeluaran? Saya belum bekerjasama sebelum ini karena rapat kemarin mereka membatalkannya." jawab Dimas.
"Kalau gitu bisa saya lihat dulu, biar saya cek dulu mungkin ada kesalahan saat mengentry data,"
"Baik saya kirim datanya lewat email, dan ini berkasnya tapi sudah direvisi," ucap Dimas memberikan laporan.
"Baik terimakasih." pamit Friska.
Dimas mengerutkan keningnya saat Friska memberitahu banyak pengeluaran dana yang di keluarkan saat rapat kerjasama sebelumnya padahal kerjasama mereka sudah di batalkan sebelah pihak.
Dimas juga tidak menerima laporan tentang keuangan di perusahaan sebelumnya, ia yakin ada orang yang berkhianat pada perusahaannya, Dimas harus mencari tahu semuanya.
Friska pun memeriksa email yang Dimas kirim, sepertinya ada orang yang sengaja mengambil dana perusahaan atas dasar kerjasama, Friska akan mencari tahu sendiri karena bagaimana pun ia sudah menjadi karyawan ia membantu dan bertanggung jawab terutama untuk menebus kesalahannya dimasalu pada Dimas ia akan membantu Dimas di perusahaannya.
*-*-*-*-*
Anin sudah selesai dengan kegiatannya, hari ini Ibu menemani Anin di rumah membantu mengaja Afifa, Anin menintipkan Afifa pada Ibu sedangkan ia sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, ia juga pergi mencuci pakaian Afifa yang sudah menumpuk ditambah pakaian Dimas yang belum sempat ia setrika.
Awalnya Dimas menyarankan kembali agar mereka mencari pembantu agar Anin tidak terlalu kelelahan namun Anin menolaknya ia rasa masih bisa menyelesaikannya sendiri, ia hanya butuh pengasuh Afifa namun Anin berpikir kembali ia ingin menjaga dan membimbing Afifa sendiri, ia ingin menjadi orang pertama yang melihat tumbuh kembang Afifa melihat Afifa bertambah kepintaran Anin ingin menjadi Ibu yang siap siaga untuk Afifa.
Tiba-tiba telepon Anin berdering, panggilan dengan nomor yang tidak dikenal, Anin tidak ingin mengangkatnya namun ia juga penasaran
"*Hallo"
"Bagaimana kabarmu*?" ucap seseorang di balik telpon.
"*Maaf ini siapa?"
"Saya Gilang, apakabar Anin?"
"Oh a'Gilang, Baik alhamdulillah gimana kabarnya a?"
"Baik, maaf waktu nikah gak bisa datang,"
"Oh iya gapapa kok."
"Bisa ketemu?"
"Ke rumah aja a, nanti sore Mas Dimas pulang,"
"Saya maunya ketemu kamu bukan Dimas*," ucapnya dengan nada tertawa.
"*Bisa, kan sekalian ketemu mas Dimas,"
"Ya sudah nanti saya hubungi kamu lagi, salam rindu nin,"
"Iya a*." ucap Anin mematikan sambungan teleponnya.
Anin tiba-tiba terpikir akan Gilang yang baru lagi menghubunginya setelah sekian lama tidak ada kabar sejak Anin memberitahunya akan menikah, Gilang menghilang dan tidak ada kabar apapun bahkan nomor telponnya pun tidak aktif dan baru sekarang Gilang tiba-tiba meneleponnya kembali.
Anin tidak memberitahu Dimas bahwa Gilang menghubunginya, karena mungkin Gilang sudah menghubungi Dimas lebih dahulu karena mereka bersahabat.
*-*-*-*-*
Ibu sudah pulang ke rumah setelah magrib, Anin sudah menidurkan Afifa di kamar, ia menunggu Dimas yang belum pulang padahal sudah jam 8 malam Dimas juga tidak memberi kabar pada Anin membuatnya Anin khawatir, Anin memilih menonton tv sambil menunggu Dimas.
"Assalamualaikum." ucap Dimas membuka pintu
"Waalaikumsalam." ucap Anin langsung menyalami Dimas.
"Belum tidur?" tanya Dimas sambil membuka sepatunya.
"Belum Mas, airnya udah Anin panasin mau Anin siapin?"
"Saya mandi air dingin aja gerah." ucap Dimas.
"Oh ya udah Anin siapin makan nanti udah mandi langsung makan,"
"Iya, saya ke atas dulu,"
Anin mengangguk tersenyum sambil pergi ke arah dapur.
Selesai makan Anin dan Dimas memilih beristirahat di kamar, Dimas sebenarnya ingin beristirahat menonton tv namun ia tahu Anin akan menemaninya karena Anin akan menunggunya agar tidur bersama, Dimas memilih langsung ke kamar karena kondisi Anin masih belum terlalu membaik ia butuh istirahat.
Di dalam kamar Anin dan Dimas sibuk dengan gadget masing-masing, Anin memilih membaca cerita di ******* nya sedangkan Dimas mencari data dan menunggu laporan dari karyawannya untuk rapat besok.
"Mas kita tidur yuk." ajak Anin.
"Kamu tidur duluan, saya belum ngantuk,"
"Mas dari pagi belum istirahat sekarang udah jamnya tidur,"
"Saya masih ada kerjaan sama cek email dari karyawan,"
"Mas udah kerja lebih dari pagi sekarang waktunya istirahat, segala sesuatunya jangan berlebihan bekerja juga butuh istirahat Mas, kalau Mas sakit karena kurang istirahat kasihan sama karyawan sama keluarga Mas kan," omel Anin.
"Iya-iya saya tidur." ucapnya menaruh ponsel.
"Jangan banyak pikiran kalau mau tidur pikirkan yang baik-baik,"
"Iya sayang." ucap Dimas langsung menghadap Anin.
Anin yang mendengar Dimas memanggilnya sayang kembali langsung menatap Dimas lekat, hingga pandangan mereka bertemu, keduanya saling terdiam, Dimas mendekati wajahnya pada Anin yang masih terdiam.
"Kamu juga jangan banyak pikiran langsung tidur." ucap Dimas kemudian mengecup kening Anin.
Anin makin terkejut saat Dimas mengecup keningnya untuk pertama kalinya, dengan senyum malu-malu Anin langsung menenggelamkan wajahnya di selimut dan membuat Dimas tersenyum, entah mengapa ia merasa senang dengan perhatian Anin yang membuatnya ingat waktu.
Dulu saat bersama Kirana ia tidak pernah tidur teratur karena biasanya Kirana akan tidur lebih dulu dan Dimas akan sibuk bekerja hingga larut malam, namun sekarang bersama Anin ia lebih kenal waktu apalagi sejak Anin sakit ia merasakan ke khawatiran namun Anin tetap mementingkan kesehatan Dimas, ia beruntung memiliki istri seperti Anin yang mau menerima dirinya apa adanya dan sabar menghadapinya.
"Kamu kalau sembunyi di selimut Mas cium lagi." ancam Dimas dengan senyum liciknya.
"Malu Mas," jawab Anin di balik selimut.
"Masa malu sama suami sendiri, jadi mau nutupin wajahnya dari suami ya dosa lho mau tidur nutupin wajah," goda Dimas.
"Mas bikin Anin sport jantung!" ucap Anin melepas selimutnya.
"Baru di cium aja udah gitu, gimana kalau lebih," goda Dimas.
"Mas ih!"ucap Anin dengan wajah memerah.
"Oke-oke Mas gak akan goda lagi, udah kita tidur udah malam."
"Good night Mas Dimas." ucap Anin.
"Good night Dek Anin." ucap Dimas masih menggodanya.
"Mas."
"Apa?" ucap Dimas tanpa dosa.
"Jangan panggil Dek!" kesal Anin.
"Ya udah Mba,"
"Mas." Anin bertambah kesal.
"Apa lagi Dek?" ucap Dimas masih menatap Anin.
"Selamat istirahat semoga mimpi indah " ucap Anin langsung menutup matanya.
Dimas hanya tersenyum menatap Anin, menggoda Anin begitu menyenangkan baginya karena Anin tidak langsung marah walaupun hanya protes.
Setidaknya ia bisa tersenyum bersama Anin karena sekarang Anin membuat harinya penuh syukur ia berharap akan ada cinta yang ikut tumbuh dan ia bisa menjalani rumah tangga yang rukun bersama Anin.