
Grup WhatsApp: Wanita Tercantik Di Dunia
Anggota : Jasmin, Selena, Jihan.
Jasmin : Ehem, aku punya kabar bahagia. Tanya dong kabar apa yang aku punya.
15 menit Jasmin menunggu namun tak ada jawaban dari kedua sahabatnya. Senyum yang sedari tadi mengembang mulai pudar.
Jasmin : Nggak asik, punya Hp nggak ada gunanya.
Jasmin memasang emoticon cemberut, sama persis seperti wajahnya saat mengirim pesan itu.
Ting!
Buru-buru Jasmin menggapai ponselnya yang tergeletak diatas meja, berharap jika bunyi notifikasi itu adalah balasan dari salah satu sahabatnya
Dan benar saja, Jasmin langsung tersenyum ketika melihat pesan itu adalah pesan grup dari Jihan.
Jihan : Kamu punya kabar bahagia apa Jas?
Selena : Kamu punya kabar bahagia apa Jas? (2)
Jasmin : Dasar Selena males ngetik! sukanya copy paste.
Kesal Jasmin.
Jihan yang melihat pesan grup itu hanya mengulum sedikit senyumnya.
Jihan : Jadi apa kabar bahagianya Jas?
Jasmin sedang mengetik... lama sekali, seolah itu adalah pesan yang sangat panjang.
Jasmin : Aku dan Jodi akan bertunangan 11 hari lagi.
"Mas, 11 hari lagi Jasmin dan Jodi akan bertunangan?" tanya Jihan pada sang suami, kini ia memang sedang duduk bersebelahan dengan Arick di ruang tengah. Arick sedang asik menonton televisi dan Jihan bermain ponsel. Zayn jangan ditanya, jam 9 malam seperti ini ia sudah tertidur.
"Iya sayang, 11 hari lagi Jodi dan Jasmin bertunangan."
"Kok Mas tidak pernah bercerita jika Jasmin dan Jodi sudah bersama," tanya Jihan sedikit cemberut, ia merasa sudah banyak ketinggalan berita.
"Jangan cemberut seperti itu, jika kamu masih memasang wajah seperti itu, aku akan mengajakmu membuat jalan untuk Anja dan Jani," ledek Arick, Jihan yang kesal langsung saja memukul lengan suaminya itu.
"Aw, pukul pukul, cium dong sayang?" Arick mendekatkan bibirnya.
"Ehem! di kamar Mas, di kamar." Kesal Puji, sedari tadi ia juga menonton televisi, dan tidak dipedulikan oleh pasangan suami istri itu.
"Eh ada Mbak Puji," kekeh Arick.
"Dari tadi kali Mas, makanya kalau buka mata itu yang lebar, biar keliatan semuanya."
Jihan terkekeh, kemudian kembali menatap layar ponselnya.
Selena : Alhamdulilah, selamat ya, sebenarnya aku juga punya kabar yang lebih bahagia daripada kabar mu.
Jasmin : Kabar apa? awas kalau tidak penting.
Selena : Jangan terkejut ya, jangan terkejut, aku sudah mengingatkan.
Jasmin : Banyak bicara, cepat katakan! kamu punya kabar apa?
Jihan : Selena dan Kris sebenarnya sudah bertunangan 2 bulan yang lalu.
Selena : What? darimana kamu tahu Ji? selama ini aku sudah menutupnya rapat-rapat.
Jihan : Kris yang membukanya lebar-lebar, hahaha. Dia memberi tahu semua orang, dan mengatakan jangan sampai kamu dan Jasmin tau. Tapi ku rasa, kini saatnya semua orang tahu.
Jasmin termenung, benar-benar terkejut mengetahui kabar ini. Selena dan Kris bertunangan? dan dia tidak tahu apa-apa. Kenapa semua orang tidak ada yang memberi tahunya? jahat sekali.
Jasmin : Kalian jahat! tidak ada yang memberi tahuku, apa aku bukan bagian dari kalian? apa ini yang kalian bilang saudara?
Jasmin si mulut pedas mulai beraksi.
Selena : Dasar bodoh! aku melakukan ini semua demi kamu, aku tidak ingin bahagia sendiri sementara kamu masih belum menemukan kebahagiaan.
Jasmin tergugu, mendadak matanya berkaca-kaca merasa haru.
Jasmin : Benarkah?
Selena : Tidak.
Jihan : Hahahaha.
Selena : Hahahaha (2).
Jasmin : Sialan!
"Sayang, kamu belum mengantuk? sepertinya semangat sekali berbalas pesan dengan mereka," tanya Arick, jujur saja, kekehan kecil Jihan sebenarnya sedikit menganggu acaranya menonton televisi.
"Belum Mas, sebentar lagi aku tidur."
"Saya tidur duluan lah Mbak," pamit Puji pada Jihan, dengan menguap ia mulai bangkit dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang bener belum ngantuk?"
Jihan : Sebenarnya aku juga punya kabar yang tak kalah membahagiakan.
Jasmin : Apa? kamu membeli lingeri lagi?
Selena : Apa? kamu membeli lingeri lagi? (2)
Jasmin : Berhentilah copy paste Selenaa!!!
Selena : Baiklah, jadi apa kabar bahagianya, jika tidak bahagia bahagia amat traktir kami makan siang besok.
Jihan terkekeh, kemudian mengetikkan kabar bahagia yang ia punya.
Jihan : Bayi kembarku adalah bayi yang cantik-cantik.
Selena : Wah! benarkah? baby girl?
Jihan : Iya..
Jasmin : Alhamduliah, Zayn punya adik-adik perempuan. Selamat Ji..
Jihan : Terima Kasih.
Selena : Baiklah, ternyata malam ini kabar terbahagia adalah kabar Jihan, jadi apa keinginanmu yang ingin kami kabulkan?
Tiap seminggu sekali, mereka akan selalu tukar kabar bahagia. Dan kabar terbahagia boleh meminta 1 permintaan dan yang lainnya akan mengabulkan permintaan itu.
Jihan : Aku minta, saat aku melahirkan nanti kalian ada disana.
Pinta Jihan dengan tulus, entah kenapa, ia merasa tidak ingin mengulang masa lalu. Saat melahirkan bayi kembarnya nanti, Jihan ingin semua orang yang ia sayangi bisa hadir mendampingi.
Terdengar kekanak-kanakan memang, tapi entah kenapa, itulah yang ia inginkan saat ini.
Selena : Siap Nyonya, walau ada meeting aku akan meninggalkan meeting itu dan menemanimu.
Jasmin : Siap Bos, walau hujan badai aku akan tetap datang menemuimu.
Selena : Ya iyalah, kan kamu perginya pakai mobil. Tidak akan kebasahan.
Jihan : Hahaha, benar.
Jihan : Awas kalau kalian mengingkarinya.
Selena : Tidak tidak, aku akan menepatinya.
Jasmin : Lihatlah nanti, aku pasti akan menepati janjiku.
"Sayang, sudah hampir jam 10. Ayo tidur," ajak Arick, ia lalu menekan remot TV dan mematikan televisi itu.
Jihan melihat jam di dinding, benar, 15 menit lagi jam 10.
"Baiklah, ayo kita tidur," jawab Jihan, keduanya lalu masuk ke dalam kamar mereka.
Selena : Tebakan ku dulu benar, anak Jihan perempuan, jangan lupa janjimu Jas, belikan aku tas baru.
Jasmin : Tolong lupakan kesepakatan kita itu, sekarang aku sedang miskin.
Selena : Dasar rakyat jelata!
Jasmin : Aku akan menggantikannya dengan dompet.
Jihan : Aku tidur, bayi ku yang lain sudah meminta tidur.
Jasmin : Bayi tua!
Selena : Bayi bangkot!
Jasmin : Bayi tidak tahu diri!
Selena : Bayi tidak tahu malu.
Ting!
Ting!
Ting!
"Matikan ponselmu," titah Arick dan Jihan menurut.
"Iya Mas, ini sudah." Jihan lalu meletakan ponselnya diatas nakas, kemudian berbaring diatas ranjang.
Arick memindahkan Zayn, dari box bayi ke tempat tidur mereka, jika malam nanti Zayn terbangun tidak begitu merepotkan Jihan.
"Sayang, aku sudah bilang belum sih, besok aku dan Jodi akan ke bandung," ucap Arick ketika ia sudah ikut berbaring disisi Zayn yang lain.
"Sudah Mas, kamu juga bilang kalau sorenya akan langsung pulang. Mungkin baru sampai dirumah saat malam."
"Kamu tidak apa-apa ku tinggal?"
"Tidak Mas." jawab Jihan dengan memperlihatkan senyumnya, tidak ingin membuat suaminya itu merasa cemas.