Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 3


Karina pagi itu sudah sibuk di dapur mansion mendiang ibu mertuanya. Dia berencana membuat sarapan pagi untuk suaminya. Dia sudah lama tidak memasak untuknya sehingga pagi itu setelah melaksanakan kewajibannya sebagai muslim juga berdzikir sebentar langsung menuju dapur.


Bahkan asisten rumah tangga mansion itu belum ada disana karena waktu masih menunjukkan pukul empat lebih empat puluh. Biasanya mereka mulai memasak pukul lima dan menyelesaikan pekerjaan lain sebelumnya.


"Biar kami saja non." Tawar bibi melihat Karina sudah sibuk di dapur sebelum dirinya.


"Nggak papa bi, saya ingin menyiapkan sarapan untuk suami saya." Jawab Karina lembut.


"Baiklah non. Saya menyelesaikan pekerjaan yang lain saja."


"Iya bi." Karina kembali sibuk membuat bubur nasi kesukaan suaminya. Dia ingin memberikan makanan lembut dulu untuk suaminya karena Karina yakin, suaminya tidak makan apapun sedari kemarin. Sehingga pencernaannya perlu yang lembut-lembut dulu.


Setengah jam, bubur yang dibuatnya sudah siap, juga teh hijau juga. Karina membawa nampan itu masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Berniat untuk membangunkan untuk makan karena waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Karena perutnya pasti merasa lapar yang sejak kemarin belum diisi. Apalagi tubuhnya terlihat lebih kurus dan tak terurus sebelum mereka berpisah dulu.


Cklek


Pintu ruang kerja terbuka, Karina membawa nampan itu masuk dan meletakkan di meja tak jauh dari sofa tempat Johan berbaring masih dengan nyenyaknya. Wajah lelah tergambar jelas di wajah suaminya. Ditambah sembab karena menangis kemarin mewarnai wajah suaminya yang terlihat lebih tirus itu membuat Karina merasa bersalah karena meninggalkannya.


Meski itu karena papanya yang merasa sakit hati dengan perlakuan mendiang ibu mertuanya namun Karina tidak seharusnya mengikuti perintah papanya.


"Mas." Ucap Karina membangunkan Johan dengan nada lembut.


"Mas Johan. Bangun yuk! Sarapan dulu." Suara lemah lembut itu keluar lagi dari bibir Karina. Dengan sabar dia membangunkan suaminya penuh kasih sayang.


"Ukh." Suara rintihan dari Johan tak membuatnya segera bangun, dia malah semakin menarik selimutnya untuk menutup seluruh tubuhnya hingga leher.


"Mas, makan dulu yuk! Nanti tidur lagi." Ucap Karina lagi.


"Lima menit lagi." Guman Johan tidak jelas tak sadar.


"Huff... Nanti sarapannya dingin Lo. Sejak kemarin kan mas tidak makan apapun." Ucapan Karina membuat Johan membuka matanya, mengumpulkan nyawanya yang masih linglung karena bangun tidur. Saat mengingat kemarin adalah hari kematian ibunya membuat Johan terdiam dan terbangun. Namun masih dalam posisi tidur di sofa.


Saat mengingat suara istrinya tadi bukan mimpi membuat Johan terbangun sontak mencari keberadaan istrinya yang dirindukannya.


"Karin." Seru Johan entah kenapa merasa takut jika dia sedang bermimpi lagi.


"Iya mas." Jawab Karina yang sedang membuka tirai jendela ruang kerja suaminya karena hari sudah terang.


"Kau benar Karin? Istriku." Ucap Johan tersenyum bahagia bercampur haru. Sepertinya dia lupa kalau istrinya sudah sejak kemarin menemaninya selalu disisinya.


Johan sontak berdiri tak sabar menghampiri istrinya yang masih melangkah mendekatinya.


"Syukurlah! Kukira aku sedang bermimpi tadi." Ucap Johan sambil memeluk tubuh istrinya erat.


Dia bisa kehilangan keluarganya yang lain. Namun ditinggal istrinya seperti sebelumnya rasanya dia tak akan bisa hidup lagi. Kemarin-kemarin saat istrinya tidak ada di sisinya dia masih bertahan hidup karena istrinya masih hidup bagaimana kalau istrinya pergi meninggalkan dirinya selamanya seperti kakak dan ibunya.


Maaf mas. Batin Karina merasa bersalah.


"Kita sarapan dulu yuk, Sudah kubuatkan bubur kesukaan mas." Ajak Karina yang masih dipeluk erat oleh suaminya.


"Benarkah?" Jawab Johan antusias sambil melepas pelukannya. Karina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Suapi ya?" Pinta Johan manja yang disambut tawa oleh istrinya.


.


.


Karina menyiapkan pakaian suaminya di ranjang kamar mereka jika menginap di mansion. Meski pakaian Karina tidak seberapa disini setidaknya masih ada untuk dia berganti pakaian setelah mandi tadi. Dia masih mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil duduk di meja rias kamar itu menatap kosong ke arah cermin rias.


Suaminya sedang masih tadi setelah tadi dia mandi juga. Bahkan dia masih memakai bath rope karena rambutnya masih basah berencana akan memakai pakaiannya setelah mengeringkan rambutnya. Hanya saja tidak ada hair dryer di kamarnya membuat Karina memilih untuk mengeringkannya dengan handuk saja.


Cklek


Karina menatap bayangan suaminya keluar dari kamar mandi dari cermin tersenyum bahagia yang ditatap dengan senyuman juga oleh suaminya. Johan terdiam merasakan kerinduan yang mendalam dalam tatapannya. Dia pun tidak menghampiri pakaiannya tapi malah menghampiri istrinya yang sibuk mengeringkan rambutnya. Johan yang kini hanya berbalut handuk sebatas pinggang saja tampak seksi. Meski tubuhnya sedikit kurus namun tidak menghilangkan tubuh sixpack nya.


"Mau dibantu?" Tawar Johan bukan memegang handuk yang dipegang istrinya tadi malah mendekap tubuh istrinya lembut penuh kerinduan. Bahkan dia mulai mengecupi tengkuk leher istrinya intens.


"Mas." Lirih Karina yang lebih mirip ******* di telinga Johan. Seketika dia pun merasa bergairah.


"Aku merindukanmu." Bisik Johan sensual di telinga istrinya yang membuat wajah Karina seketika merona merah tersipu malu.


"Bolehkah?" Bisik Johan lagi tak berhenti mengecupi tengkuk hingga leher istrinya dan meninggalkan jejak kemerahan. Johan sontak membopong tubuh istrinya saat Karina menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakannya untuk menyatukan diri.


Johan yang hanya berbalut handuk langsung melepasnya setelah melepas bath rope istrinya. Sudah lama dia tidak menyentuh istrinya. Sudah setahun lebih dan dia tak pernah melakukan pada siapapun karena tidak pernah bernafsu selain pada istrinya.


Johan tanpa banyak bicara langsung mulai mengecupi jemari kaki istrinya hingga naik terus ke atas bergantian. Karina hanya diam mengigit bibirnya membuat Johan semakin berga irah. Tak lupa ditelusuri setiap lekuk tubuh istrinya mulai atas hingga perut tanpa terlewatkan satu pun.


Dia sungguh sangat merindukan tubuh istrinya itu. Tubuh indah yang hanya dirinya yang menikmati meski pernah menjadi janda mendiang kakaknya itu. Namun belum sempat mengambil milik berharganya dan dialah pemiliknya itu.


"Kau milikku." Bisik Johan sensual mulai aksinya setelah meraba milik istrinya yang sudah basah.


Hingga suara desa han desa han terdengar di kamar pagi itu. Johan tak melepaskan istrinya sama sekali hingga entah sudah pelepasan yang keberapa bahkan Johan tak ingat. Dia ingin melampiaskan kerinduannya yang selama ini tertahan dan tak mampu dilampiaskan karena istrinya entah dimana. Dia berjanji di dalam hatinya apapun yang terjadi dia tak akan membiarkan siapapun memisahkan mereka lagi.


Apapun yang terjadi dia akan mempertahankan istrinya disisinya meski harus mengikat kuat kaki dan tangannya agar tidak kabur darinya sekali lagi.


"Aku mencintaimu sayang." Bisik Johan untuk pelepasan yang kesekian kalinya.


.


.