
Sudah 3 hari ini Jodi selalu senyum-senyum sendiri, bukannya ikut merasa bahagia, seluruh karyawan Cafe malah merasa ngeri.
"Berhentilah memasang wajah seperti itu, aku jadi merasa takut." ucap Arick.
Kini ia dan Jodi sedang menuju ke tempat pertemuan dengan sang investor.
"Aku sedih kamu bingung, aku bahagia kamu takut. Bagaimana maumu sih Rick?" tanya Jodi tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar ponsel. Saat ini ia sedang berbalas pesan dengan Jasmin, merencanakan acara lamaran. Yang niatnya akan dilaksanakan 2 minggu lagi.
Arick hanya geleng-geleng kepala, dari gelagat Jodi ini ia bisa menebak jika Jodi dan Jasmin kini sudah bersama.
Setengah jam perjalanan, akhirnya ia sampai di kantor pak Jaya. Pebisnis properti yang mulai tertarik dengan Cafe rooftop.
Niatnya pak Jaya ingin membuka Cafe rooftop di kota bandung. Disana ia memiliki Villa diatas puncak. Ia yakin jika Villa nya akan semakin banyak pengunjung jika ditunjang dengan layanan Cafe rooftop ala Arick dan Jodi.
Arick dan Jodi menyambut baik niat pak Jaya, terlebih keuntungan yang akan mereka peroleh akan semakin banyak. Pasalnya pak Jaya hanya meminta keuntungan 5 persen dari Cafe itu, tujuan pak Jaya hanya pada bertambahnya pengunjung Villa.
Pak Jaya menginginkan dalam waktu 6 bulan kedepan Cafe itu sudah mulai beroperasi.
Lama mereka membuat kesepakatan dan surat perjanjian kerja, hingga adzan zuhur, barulah mereka selesai.
"Kami pamit dulu Pak." Pamit Jodi pada Jaya dan Asistennya.
Semuanya berjabat tangan menandakan kesepakatan yang telah terjalin. Arick dan Jodi pun memutuskan untuk kembali ke Cafe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Rick, 2 minggu lagi aku akan melamar Jasmin. Jadi minggu ini sebaiknya kita ke bandung dan memeriksa keadaan si Villa pak Jaya." ucap Jodi, baru saja ia dan Arick turun dari mobil.
Arick mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui ide Jodi.
"Bagaimana kalau hari senin ke bandung, minggu ini aku ingin mengantar Jihan periksa kandungan."
"Oke."
"Eh tunggu dulu, 2 minggu lagi apa? kamu akan melamar Jasmin? alhamdulilah, selamat ya Jo." Arick menepuk pelan bahu Jodi.
Dengan senyum merekah keduanya masuk ke dalam lift basement mall, menuju Cafe mereka diatas Mall ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesuai rencana, hari minggu ini Arick menemani sang istri untuk memeriksakan kandungan. Zayn tidak diajak, Zayn, Asih dan Puji bersambang ke rumah Sofia.
Karena tidak ingin Jihan kelelahan, Arick meminta 1 kursi roda pada salah satu perawat untuk mebawa sang istri ke ruangan Dokter Diah.
"Aku masih kuat berjalan Mas, kenap pakai-pakai kursi roda begini?" tanya Jihan, kini ia sudah duduk si kursi itu dan di dorong oleh sang suami.
"Jangan banyak protes, biarkan suamimu ini menunjukkan perhatiannya," jawab Arick sambil mengelus pucuk kepala Jihan.
"Jangan kenceng-kenceng Mas, jilbabku ketarik-tarik."
"Hihi, maaf ya?" ucap Arick, namun ia ulangi sekali lagi untuk mengusap kepala sang istri.
Kini Arick dan Jihan sudah sampai di kursi tunggu ruangan dokter Diah.
"Kamu lihat, semua kursi tunggu sudah penuh, untung kita tadi minta kursi roda ini," ucap Arick, ia mendekat pada telinga sang istri dan berbisik-bisik.
Jihan mengangguk kecil, kemudian menyentuh salah satu tangan Arick yang berada di pundaknya.
"Siapa dulu? ayahnya anak-anak." Bangga Arick. Keduanya terkekeh kecil sampai menarik perhatian ibu-ibu muda yang duduk didekat Jihan.
"Wah, Mbak nya hamil kembar ya?" tanya ibu-ibu muda itu, yang entah siapa namanya dan darimana asalnya. Ia melihat perut Jihan yang lebih besar daripada umumnya dan duduk dikursi roda. Biasanya hanya ibu-ibu hamil kembarlah yang diperlakukan seperti ini. Ibu hamil tua pun jika didalam kandungannya hanya berisi 1 bayi akan tetap kuat berjalan tanpa bantuan kursi roda.
"Iya Bu." Jawab Jihan dengan tersenyum ramah.
"Yang keturunan kembar ayahnya apa ibunya?" tanya ibu itu lagi, sepertinya ibu ini sedang butuh teman untuk diajak bicara agar tidak bosan menunggu antrian masuk.
"Saya Bu yang punya keturunan kembar." Kini Arick yang menjawab, tersenyum tak kalah ramahnya seperti Jihan.
"Ya ampun, pasti anaknya cantik cantik dan ganteng-ganteng, ayahnya aja super ganteng begini," ucap Ibu itu sambil terkekeh pelan.
Jihan tersenyum kikuk, ia mendongak melihat sang suami yang ternyata tersenyum lebar.
Hih! tebar pesona. Kesal Jihan.
Tak lama Jihan dan Arick di panggil, maklum saja mereka bisa lebih cepat dipanggil, karena sebelumnya Arick sudah memesan nomor antrian.
Keduanya mengucap salam ketika masuk dan disauti oleh dokterd Diah. Kini Jihan sudah berbaring diatas tempat tidur, mulai melakukan USG untuk melihat jenis kelamin sang jabang bayi.
"Selamat ya, kalian akan memiliki dua putri yang sangat cantik," ucap dokter Diah, mendengar itu senyum Arick dan Jihan langsung merekah.
Benar-benar bersyukur dikaruniai dua anak perempuan sekaligus.
Alhamdulilah, terima kasih ya Allah. Batin Arick dan Jihan kompak mengucap syukur.
Setelah pemeriksaan melalui USG, dokter Diah juga mengingatkan Jihan untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aktifitas di rumah, seperti saat masuk kamar mandi dan juga menuruni anak tangga.
Biasanya hamil kembar, Hari Perkiraan Lahir (HPL) nya akan lebih cepat dari HPL pada umumnya. Bisa jadi saat memasuki usia 8 bulan, bayi akan segera lahir.
Jihan dan Arick selalu diingatkan untu siap kapanpun waktu itu akan tiba.
Keduanya saling menggenggam ketika mendengar tiap kata penjelasan dokter Diah. Rasanya pun sudah tak sabar untuk bertemu dengan kedua putri mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai melakukan pemeriksaan kandungan, Jihan dan Arick bergegas pulang ke rumah ibu Sofia.
Kini keduanya sudah berada didalam mobil, ikut bergabung bersama kendaraan lainnya memenuhi jalanan kota Jakarta.
"Sayang, bolehkah anak kita nanti ku beri nama Anja dan Jani," ucap Arick sambil meliril sekilas pada sang istri.
"Anjani." Ulang Jihan, bibirnya tersenyum ketika menyebut nama itu.
"Anja untuk anak pertama kita dan Jani untuk anak kedua. Sama seperti Arick dan Jihan." ucap Arick dengan terkekeh kecil, ketika dokter Diah mengatakan anaknya perempuan, nama itu langsung melintas dipikran Arick.
Seperti sebuah petunjuk bahwa nama itu adalah nama yang diinginkan kedua putrinya.
Jihan tersenyum bahagia ketika melihat betapa suaminya begitu antusias dengan si kembar. Jihan pikir, mungkin Arick menginginkan anak laki-laki untuk menjadi anak pertamanya.
Namun kini pikiran itu telah hilang menguap entah kemana. Melihat Arick begitu bersemangat membuat ia yakin, bahwa Arick juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.
Baik anak laki-laki ataupun perempuan, keduanya adalah berkah yang Allah titipkan. Tidak ada pembeda diantara keduanya.