Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 06


Hari ini entah apa yang akan Anindira lakukan, ia masih bergelut dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Awalnya ia pikir keadaan akan berubah setelah hari wisudanya, namun ternyata ia tetap merasakan hal yang sama, kesendirian dan kesepian seperti saat ini, ia memilih mengurung dirinya di kamar karena kedua temannya pun sudah pulang ke rumahnya dan melanjutkan kehidupan mereka masing-masing.


"Nduk kamu belum bangun?"


Ketukan Bude membuatnya bangkit dari kasur tipisnya, ia enggan menjawab Bude karena hari ini ia ingin mengurung dirinya dan beristirahat di dalam kamar seharian. Besok senin ia akan kembali bekerja dan dengan jadwal yang berbeda tentunya karena Evan memindahkannya di perusahaan keduanya.


"Dimas mau pulang sekarang," ucapnya kembali.


Anin menekuk lututnya dan memilih pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Sepertinya rencana ia akan beristirahat harus di pending.


Dimas sedang memasukan barang-barangnya, tadinya ia akan pulang pagi ini namun Kirana dan Dina menitip beberapa oleh-oleh yang harus ia beli di Malioboro dengan terpaksa Dimas harus membelinya dan pulang nanti sore.


"Mas mau pulang?" tanya Anin


"Iya, tapi Kirana nitip oleh-oleh jadi saya ke Malioboro dulu," ucapnya.


Anin hanya mengangguk dan langsung berjalan ke arah dapur untuk meminum air putih yang sudah menjadi kebiasaannya jika bangun tidur ia langsung meminum air putih.


"Kamu mau ikut ke Malioboro? Bude sama Pakde udah pergi," ucapnya.


Boleh, tunggu bentar Mas mau ngambil tas sama handphone dulu," ucapnya berlarian ke kamar.


*-*-*-*-*


Di mobil Anindira sibuk menelepon Kirana untuk menanyakan oleh-oleh apa saja yang ia pesan, tak lama mereka sampai di Malioboro, untungnya karena masih pagi jadi belum terlalu ramai oleh turis yang berlalu-lalang ke sana.


"Kita beli apa dulu?" tanya Anin.


"Gantungan kunci sama gelang," ucap Dimas berjalan ke arah pedagang.


"Mas, gantelannya di sini gak bisa beli satuan harus satu pack," ucap Anin.


"Oh iya, kebanyakan jadinya lagian gak bisa campur juga ya?" ucap Dimas.


"Yaudah gapapa beli satu pack aja sisanya kasih karyawan kantor Mas aja," ucap Anin.


Mereka membeli gantungan kunci dan gelang yang di pesan Kirana, mereka berjalan mengelilingi Malioboro, memang tidak ada yang begitu spesial bagi mereka karena mereka sudah sering pergi kesini.


"Mas istirahat dulu ya, Anin mau beli ice cream mcdonald's," ucapnya menunjuk ice cream pinggir mall Malioboro.


"Kayak anak kecil." ucapnya sambil mengikuti Anin yang dengan girang memesan es krim.


"Nih buat Mas," ucapnya memberikan ice cream corn.


Dimas dengan terpaksa menerimanya karena tidak enak menolak yang Anindira belikan. Mereka kemudian berjalan ke arah keraton berjalan kaki karena mobil Dimas di parkir lumayan jauh.


Keduanya duduk di bawah pohon sambil menikmati es krim mereka, Anindira sibuk menatap ke arah jalan, sedangkan Dimas fokus pada ponselnya karena banyak tugas yang akan ia kerjakan setelah pulang.


"Kapan balik ke Bandung?" tanya Dimas.


"Gak tahu, masih betah di sini," ucapnya sambil menatap jalanan


Dimas tidak kembali bertanya, ia memilih memasukan ponselnya kesaku jaketnya, ia memilih untuk menatap ke arah jalan yang sudah banyak orang yang berlalu-lalang, banyak yang menatap Anindira sambil tersenyum, namun Anindira tak memperdulikan tatapan orang-orang yang menatapnya, sepertinya ia sudah terbiasa dengan orang-orang yang menatap kagum ke arahnya.


"Matanya mau beli Bakpia sama Coklat mongo? Kita beli sekarang aja keburu siang," ajak Anindira.


Di dalam mobil Anindira sudah menguap beberap kali, ia juga menyederkan kepalanya di Mobil dengan mata yang sayu.


"Kamu ngantuk?" tanya Dimas.


"Iya, udah masuk jam tidur." ucap Anin.


"Kam tidur? Kamu tidur jam segini gak salah?"


"Aku insomnia jadi biasanya baru bisa tidur jam sepuluh siang," ucap Anin.


Dimas hanya mengangguk dengan pikirannya yang entah tertuju pada apa, ia baru tahu jika Anindira pengidap Insomnia, tenyata sungguh kesahihan kehidupan gadis cantik ini, jauh dari keluarga dan memiliki keluarga yang tidak peduli, ia juga harus berjuang untuk sekolahnya dan menjalankan kehidupannya seorang diri benar-benar wanita tangguh.


"Kamu mau ikut turun atau mau tunggu di mobil?" tanya Dimas.


"Di sini aja, eh Anin titip Bakpianya rasa kacang ijo dua ya Mas," ucapnya menyodorkan uang seratus ribu.


"Udah biar saya belikan gak usah di bayar," ucap Dimas.


"Gapapa, ini buat temen." ucapnya langsung memberi uang pada Dimas dan langsung menyenderkan badannya dan menutup matanya.


Dimas pun dengan terpaksa menerima uang Anindira karena ia memaksanya, ia pun menutup pintu mobil dan membeli beberapa oleh-oleh yang di minta Kirana dan Dina adiknya.


"Ternyata dia benaran tidur," ucap Dimas saat membuka pintu mobil.


"Kenapa ada orang secantik dia, bahkan saat tidurpun dia tetap cantik" gumam Dimas dalam hati yang beberapa menit kemudian tersadar dengan apa yang ia ucapkan dalam hatinya.


Secantik apapun Anindira, tentu lebih cantik istrinya yakni kakak kandung Kirana yang selalu setia menunggunya pulang kerja dan menyambutnya dengan senyuman manisnya, Dimas merindukan Kirana yang sudah tiga hari tidak bertemu.


Sampai di rumah, Anindira masih terlelap, Dimas merasa canggung membangunkannya karena ia sepertinya tertidur dengan lelap.


"Nin, sudah sampai," ucap Dimas sedikit keras agar Anindira mendengarnya.


Anindira membuka matanya dan tersadar ia sudah sampai di rumah Bude, iapun membuka seatbelt dan turun dari mobil dengan wajah mengantuknya.


"Nih pesanan kamu sama uang kembaliannya," ucap Dimas memberikan dua bungkus Bakpia dan uang.


"Makasih." ucapnya dengan mata masih mengantuk.


Ia pun langsung mengambilnya dan berjalan ke kamarnya, baru beberapa langkah ia tersadar dan langsung berjalan ke arah Dimas yang memasukan barang-barangnya ke dalam mobil.


"Mas, Anin titip ini," ucap Anin menghampiri Dimas.


"Buat siapa?" tanya Dimas binggung.


"Buat Gilang, Mas kenal kan?"


"Gilang siapa?" tanya Dimas binggung.


"Gilang Ardiansyah, teman Mas kan?" tanya Anin.


"Kamu kenal dia dari mana?" tanyanya terkejut karena Anin mengenal sahabatnya itu.


"Waktu itu ketemu di nikahan teteh terus kenalan katanya dia sahabat Mas Dimas, baru beberapa bulan lalu juga dia main ke Jogja katanya ada kerjaan di sini," ucap Anin.


Dimas termenung, benarkan Gilang mendekati Anindira? Bahkan sampai datang ke Jogja, Dimas hanya berharap Gilang tidak mempermainkan Anindira seperti sebelum-sebelumnya.


"Ya sudah nanti saya kasih ke dia," ucap Dimas langsung memasukan bingkisannya ke mobil.


"Mas mau langsung pulang?"


"Iya, kasihan teteh kamu di tinggal lama-lama,"


"Bilang aja Mas kangen," ucapnya sambil tertawa.


"Kyalah, memangnya kamu gak kangen sama teteh kamu?" tanya Dimas.


"Kangen sih, tapi kan sekarang udah ada Mas Dimas yang selalu di samping teteh jadi ganti posisi sekarang," ucap Anin.


"Kangan lupa pulang ke Bandung jangan betah di kota orang seorang diri." ucap Dimas.


Dimas hanya mengangguki, setelah selesai urusan keduanya , Anin memilih kembali ke kamar kostannya dan memilih tidur, sedangkan Dimas sudah berpamitan pulang pada Bude dan Pakde di Kedai.


*-*-*-*-*


Sudah empat bulan berlalu, Anin bekerja di perusahaan hampir setiap hari, sudah dua bulan terakhir juga Evan selalu mengantar-jemputnya, Anin juga tidak bisa menolaknya karena Evan selalu memaksanya dan itu membuat Anin menjadi risih dengan Evan karena sudah benar-benar mengatur hidupnya.


Hidup Anin lebih menderita ketika ia sudah menetap bekerja di perusahaan Evan, bahkan ia sering risih kala Evan selalu menyuruhnya makan bersama ketika jam istirahat, Anin tidak bisa menikmati waktunya bersama teman-teman kantornya karena Evan selalu membatasinya. Anin mencoba bersabar karena waktu kontraknya akan habis dua bulan lagi dan ia juga sudah membulatkan tekatnya untuk keluar dari perusahaan Evan dan akan kembali ke Bandung.


Suara telepon membuyarkan lamunan gadis cantik itu, lagu This Town dari Niall horan membuatnya harus mengangkat telepon.


"*Hallo."


"Hallo Nin, Kirana lagi dirumah sakit mau lahiran*," ucap Mamah dibalik telepon.


"Mah bukannya sekarang baru 8 bulan?" tanya Anin khawatir.


"Iya, kamu bisa pulang ke Bandung? Kirana nunggu kamu," ucap Mamah dengan suara serak.


"Anin masih kerja." ucapnya.


"Mamah mohon kamu pulang, Kirana cari kamu," ucap Mamah dengan nada permohonan.


"Oke nanti Anin ambil karcis," ucapnya mematikan sambungan.


Entah mengapa perasaan Anindira menjadi tidak enak, memang sudah seminggu ini ia tidak menghubungi Kirana karena kerjaannya yang menumpuk dan ia juga sedang membuat sibuk membuat beberapa desain untuk perusahaannya.


Anindira meminta Hasan anak Bude membelikan Tiket kereta, ia akan pulang nanti sore ini karena Mamah menyuruhnya pulang, ini kali pertama mamahnya menghubunginya sejak empat tahun berlalu.


"Pak, saya mau izin pulang ke Bandung," ucap Anindira menemui Evan.


"Izin? Kenapa mendadak?"


"Tadi baru dapat telepon dari Mamah saya di suruh pulang," ucapnya.


"Berapa hari?" tanyanya.


"Mungkin tiga hari." ucapnya Anin dengan nada tak meyakinkan.


"Tiga hari? Tapi lusa kita sudah ada janji rapat untuk kerjasama kan? Dan kamu yang akan presentasi," ucap Evan.


"Materinya sudah saya siapkan pak, tapi saya tidak bisa janji untuk hadir di rapat karena sepertinya keadaan mendesak saya untuk pulang," ucap Anindira dengan nada sopan.


"Tidak bisa seperti itu, kamu tahukan dalam pekerjaan harus bertanggung jawab kamu juga sudah di tunjuk untuk mempresentasikan juga dan kamu setuju kenapa sekarang harus di batalkan," ucapnya dengan nada tinggi.


"Saya minta maaf, tadinya saya memang setuju pak, tapi saya harus pulang ke Bandung," ucap Anin.


"Kamu kerjakan dulu saya materi kamu, saya akan cek dan juga maket kamu selesaikan, setelah selesai pekerjaan kamu antarkan pada saya, dan setelah selesai rapat kamu baru saya izinkan untuk pulang," ucap Evan kemudian pergi dari ruangan.


Anindira tidak bisa memaksa atasannya itu karena ia tidak mendapatkan izin untuk cuti beberapa hari, sebelumnya memang ia mendapat tugas untuk memprestasikan hasil kerjanya, ia sedang membuat arsitektur minimarket baru untuk perusahaan, ia sudah selesai merancangnya namun miniaturnya belum selesai ia kerjakan.


Anin memilih kembali ke ruang kerjanya dan kembali menyelesaikan materinya yang ia revisi, mungkin memang ia tidak akan mendapat izin pulang hari ini, lagi pula Mamah dan Papahnya juga tidak pernah mengharapkan kehadirannya, ia berdoa semoga persalinan Kirana berjalan lancar meskipun ia tidak bisa datang.


Rancangan Anindira sudah selesai di kerjakan, ia juga sudah merevisi semuanya hanya tunggu dua hari lagi ia akan mempresentasikannya, ia berharap bisa langsung pulang bertemu dengan Kirana dan keponakannya.


Telepon Anindira kembali berdering panggilan masuk yang sama dari Mamah.


"Iya Mah?" tanya Anindira.


"Kamu bisa langsung pulang kan? Kirana menunggu kamu," ucap Mamah


"Mah, kayaknya Anin pulang lusa soalnya masih ada kerjaan yang harus Anin selesain, lusa juga harus presentasiin hasilnya," jawab Anin.


"Anin, kenapa kamu gak bisa izin beberapa hari? Tolong jangan keras kepala lagi Kirana menunggu kamu!" ucap mamah dengan nada tinggi.


"Nanti setelah teteh lahiran Anin bakal telepon," ucap Anin malas karena Mamahnya mulai kembali marah.


"Apa kamu gak bisa luangkan waktu buat keluarga? Kirana lagi berjuang di sini dan dia menunggu kamu apa kamu gak bisa berkorban Anin?" ucapnya dengan marah.


"Mah bukan begitu Anin.."


"Sudahlah kamu memang tidak berubah selalu keras kepala dan memikirkan diri sendiri!" ucap Mamah langsung mematikan sambungan telepon.


Anin mengusap wajahnya dengan telapak tangan, ia benar-benar harus menahan sabar karena Mamahnya tidak pernah berubah bahkan sejak empat tahun belakangan ini beliau selalu berkata ketus padanya.


Ponselnya kembali berdering, membuatnya mau tak mau harus mengangkatnya, kali ini panggilan masuk dari Dimas.


"Halo." ucap Anindira.


"Halo Anindira, kamu bisa pulang hari ini?" tanya Dimas dengan nada khawatir.


"Tadi Anin udah bilang ke Mamah gak bisa," ucapnya.


"Kirana lagi kritis, dia pendarahan hebat dan dia minta ketemu kamu," ucap Dimas.


Tiba-tiba jantung Kirana berhenti berdetak, tangannya bergemetar hebat apa yang di katakan Dimas membuatnya terkejut hebat, kakaknya, kakak yang ia sayangi sedang kritis dan menunggunya? Anindira mematikan sambungan telepon, tak peduli ia akan di pecat ia harus pulang hari ini sebelum penyesalan menghampirinya untuk seumur hidup.


"Permisi." ucap Anindira mengetuk pintu Evan.


"Ada apalagi, apa sudah selesai materi yang kamu buat?" tanya Evan.


Anindira memberikan flashdisk pada Evan dan berkas yang sudah ia susun termasuk rancangan yang ia buat.


"Saya akan pulang sore ini, semua data sudah saya siapkan," ucap Anindira.


"Maksud kamu apa? Anindira apa penjelasan saya tadi kurang jelas?" tanyanya.


"Saya mengerti, tapi kakak saya sedang kritis di Bandung dan ia sedang menunggu saya," ucap Anindira.


"Apa? Tapi seharusnya kamu memberitahu saya sejak Awal," ucapnya.


"Saya baru mendapat kabar kembali beberapa menit yang lalu, dan ia sedang menunggu saya," ucap Anindira.


"Tapi pekerjaan kamu?"


"Saya minta maaf tidak bisa menyelesaikannya, saya mohon pengertian anda," ucap Anindira.


"Anindira apakah kamu bisa professional? Saya sudah menyuruh kamu bekerja di sini dan kamu mendapat pekerjaan yang baik, kamu seharusnya tidak mengecewakan saya!"


"Aaya tahu Pak, tapi saya benar-benar harus pulang," ucapnya.


"Anindira, kamu tahu saya selalu memperlakukan kamu dengan baik bahkan lebih dari karyawan yang lain, tapi bukan berarti kamu bisa meninggalkan pekerjaan kamu begitu saja!" ucap Evan makin tinggi.


"Pak Evan, saya tahu anda memang baik pada saya, anda juga selalu memperlakukan saya dengan baik, saya juga selalu berusaha bekerja dengan baik tapi kali ini saya benar-benar tidak bisa menyelesaikan pekerjaan saya sampai tuntas pak saya harus segera pulang, jika anda tidak mengizinkan saya bersedia mengundurkan diri hari ini!" ucapnya menatap Evan yang terkejut.


"Anindira bukan begitu maksud saya, saya hanya meminta kamu profesional, kamu tahu kan saya peduli pada kamu juga karier kamu dan pekerjaan kamu," ucap Evan.


"Anda memang peduli pada saya dan pekerjaan saya, tapi tidak pada keluarga saya, saya minta maaf pak mulai hari ini saya mengundurkan diri, terimakasih atas semua kebaikannya pak, surat pengunduran dirinya akan saya kirim sore ini." ucap Anindira langsung pamit.


Evan memanggilnya beberapa kali namun Anindira tidak menghiraukannya ia sudah menahan emosinya sejak tadi pada Evan yang tidak memberika izin untuk pulang, ia tidak peduli pada pekerjaannya ia memang sudah tidak tahan lagi.


Beruntungnya surat pengunduran dirinya sudah ia ketik, ia hanya menganti tanggal dan langsung mencetaknya, ia pun langsung menandatangani surat tersebut dan meminta temannya memberikan surat tersebut pada Evan, Anindira langsung mengambil tasnya dan pergi dari kantor.