
"Kau sudah baik-baik saja?" Tanya Ryan melihat Johan sudah duduk di kursi ruang kerjanya pagi itu. Meski wajahnya masih sedikit pucat namun Johan memaksakan dirinya untuk bangun dari ranjang. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya pagi ini dan segera pergi mencari keberadaan istrinya.
"Hmm." Jawab Johan acuh.
"Jangan memaksakan diri jika memang masih belum baik-baik saja!" Saran Ryan menatap Johan.
"Hmm." Johan masih menjawab singkat, tanpa menatap Ryan masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Kau mual lagi pagi ini?" Tanya Ryan lagi dengan nada cemas. Johan mendongak menatap wajah Ryan yang terlihat mencemaskannya. Johan hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Lalu? Kenapa kau masih bekerja? Kau bisa mengajukan cuti sakit." Ucap Ryan masih dengan nada cemas.
"Aku harus mencari istriku." Jawab Johan yang akhirnya mau bersuara.
"Tapi kau sedang sakit, itu malah akan membuat cemas istrimu jika kau sakit." Bujuk Ryan karena mual-mual muntah Johan memang sangat parah.
"Aku sudah... " Bruak... cklek..
Hoek ... Hoek...
Hoek... Hoek...
Belum selesai Johan bicara langsung berlari ke arah kamar mandi di dalam ruangannya dan mengeluarkan isi perutnya lagi. Ryan menghela nafas panjang melihat sahabatnya kembali mual.
"Kurasa kecurigaanku benar, apalagi hasil sampel darahnya normal." Guman Ryan seraya menghampiri Johan dan membantunya tanpa rasa jijik. Dia meletakkan berkas yang dipegangnya sejak tadi di meja kerja Johan begitu saja.
Hoek... Hoek...
Johan masih terus memuntahkan isi perutnya dengan Ryan yang memijit tengkuknya.
"Lebih baik istirahat!" Saran Ryan masih belum mampu mengatakan kecurigaannya.
Johan menggelengkan kepalanya sambil keluar dari dalam kamar mandi dengan dibantu Ryan karena tubuhnya sangat lemas.
"Aku tak mau menunda-nunda lagi. Aku merindukannya Ryan." Guman Johan yang masih bisa didengar Ryan yang membantunya duduk di sofa ruang kerjanya.
"Tapi kondisimu sedang tidak baik-baik saja. Lihatlah! Tubuhmu sangat lemas dan tak bertenaga. Bagaimana bisa kau mencari istrimu sedang tubuhnya saja sedang lemah seperti ini. Aku akan membantumu. Selama ini aku juga sudah mencari informasi dimana keberadaan istrimu. Meski hasilnya masih nihil. Kau cukup istirahat saja, saat aku sudah tahu dimana keberadaannya. Aku pasti akan memberi tahumu." Bujuk Ryan panjang lebar yang tidak dijawab oleh Johan karena dia memilih untuk memejamkan matanya sambil meletakkan lengan kanannya menutup kedua matanya karena ucapan Ryan benar karena tubuhnya tidak baik-baik saja.
Ryan terdiam saat melihat air mata yang menetes di kening Johan. Ryan tahu sahabatnya itu sangat menderita bahkan seorang Johan baru kali ini dilihatnya menangis karena terpaksa dipisahkan dari istrinya. Ryan benar-benar ingin mengumpat kesal pada papanya. Kalau saja dia bukan papa kandungnya, Ryan pasti akan memaksanya dengan sedikit kekerasan.
Puk... puk...
Tepukan di pundak Johan dari Ryan mencoba menghibur meski Ryan sendiri yakin kalau itu tidak akan mengurangi rasa rindunya pada istrinya.
.
.
.
Ryan menatap gedung perusahaan sepuluh lantai di depannya itu. Setelah membujuk dan menenangkan Johan, Ryan memutuskan untuk pergi ke perusahaan yang sempat dijadikan Johan sebagai tempat kerjanya. Sebelum seseorang 'merebutnya' karena Johan memang tidak berhak atas perusahaan tersebut.
"Selamat siang dokter Ryan!" Sapa resepsionis yang sudah mengenal Ryan tersenyum ramah.
"Apa aku bisa bertemu dengan pimpinan?" Tanya Ryan ramah sambil membalas senyuman resepsionis.
"Silahkan ke lantai sepuluh pak! Pimpinan sedang ada tamu, mungkin sebentar lagi selesai." Jawab resepsionis ramah tak lupa senyum manisnya terus mengembang.
"Terima kasih."
Ryan menuju lift dan masuk hingga menuju lantai sepuluh. Saat ini jam kerja karena jm istirahat masih satu jam lagi. Sehingga tak ada siapapun yang menggunakan lift, Ryan hanya sendiri di dalam lift.
Cklek
"Kau sudah datang?" Ucap Ivan melihat adiknya muncul. Ryan memang sudah menghubunginya pagi tadi saat Ryan keluar dari ruang laboratorium rumah sakit setelah membaca hasil sampel darah Johan.
"Apa kabar kak?" Sapa Ryan basa-basi.
"Duduklah!" Persilahkan Ivan pada Ryan dan mereka pun duduk di sofa ruang kerjanya yang terlihat mewah itu. Setelah hampir setahun dipegang Ivan, perusahaan mulai sedikit lebih berkembang meski sebelumnya saat dipegang Johan juga berkembang.
Namun saat ini semakin besar dan berkembang saja. Terlihat gedung yang dulunya hanya tujuh lantai sekarang sampai sepuluh lantai, juga ruang kerja Ivan sang CEO menjadi semakin luas juga perabotan baru yang lebih mewah dan terlihat mahal juga.
"Ada apa kau memintaku untuk bertemu? Kalau masalah istri Johan aku..."
"Mbak Karin hamil kak." Ivan terdiam mendengar ucapan Ryan yang memotong perkataannya.
"Apa yang kau katakan?" Ucap Ivan terkejut mendengar pernyataan sang adik. Ingat pernyataan bukan pertanyaan. Itu artinya ucapan Ryan tidak ada keraguan tapi kebenaran.
"Mbak Karin hamil. Mungkin aku belum yakin tapi aku yakin setelah membaca ini." Ryan menyodorkan sebuah berkas rekam medis seseorang yang tak lain tak bukan adalah rekam medis Johan yang dinyatakan sehat wal'afiat tapi kondisi tubuhnya saat ini lemah dan tak bertenaga.
Ivan meraih berkas itu dan membacanya lebih teliti. Ivan mengernyit saat tahu itu bukan hasil rekam medis adiknya tapi malah suaminya.
"Apa maksudmu? Ini rekam medis seseorang yang sehat." Ucap Ivan masih belum paham maksud adiknya.
"Tapi kondisi orangnya tidak sehat dan sedang lemas tak bertenaga." Jawab Ryan ambigu.
"Katakan dengan jelas!" Tegas Ivan menatap Ryan tajam.
"Johan mengalami mual-mual dan muntah. Saat makan semua yang dimakannya langsung dikeluarkan dari perutnya. Dan dia hanya makan buah dan salad yang lebih ke arah asam. Dan kakak tahu hal itu apa? Kehamilan simpatik. Kehamilan yang dialami sang istri tapi semua gejalanya dirasakan oleh suaminya." Jelas Ryan yang langsung membuat Ivan terdiam mulai paham maksud ucapan adiknya mengenai kehamilan Karina.
"Kau yakin?"
"Sangat yakin."
"Kau juga tahu kalau Karina divonis sulit hamil pasca operasi kistanya?" Ryan membelalakkan matanya tak percaya mendengar penuturan sang kakak.
"Ta-tapi dokter hanya bilang sulit hamil bukan berarti mandul atau tak bisa hamil dan punya anak kan?" Bela Ryan mempertahankan pendapatnya.
"Entahlah. Tapi mereka hanya bersama seminggu?" Ucap Ivan masih menolak untuk percaya pendapat Ryan.
"Sehari saja wanita bisa hamil apalagi seminggu. Apalagi jika memang Tuhan sudah berkehendak. Mungkin saja itu jalan Tuhan untuk menyatukan pasangan itu dan bisa mendapat restu dari papa." Pendapat Ryan yang membuat Ivan terdiam. Diam-diam dalam pikirannya dia membenarkan ucapan adiknya yang terlihat masuk akal itu.
"Bagaimana kalau Karina tidak hamil?" Tanya Ivan membuat Ryan terdiam tampak berpikir.
"Apa kakak menuduh sahabatku bermain dengan wanita lain?" Tanya Ryan tak percaya sedikit kesal karena meragukan sahabatnya.
"Aku tidak menuduh tapi bisa...."
"Johan bukan seperti itu kak. Johan adalah sahabatku sejak sekolah menengah, aku tahu betul bagaimana perangainya. Dia bukan pria yang sering celup sana celup sini meski terpisah dengan istrinya. Sekalipun dulu saat sekolah pun dia bukan pria seperti itu." Bela Ryan sedikit kesal menatap kakaknya datar tak berani menunjukkan kekesalannya.
"Entahlah."
"Kakak, kumohon bantu aku mencari tahu dimana keberadaan mbak Karina. Entah dia hamil atau tidak tetap saja papa tidak boleh memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai. Perkara ibu mertuanya dulu pernah memperlakukan mbak Karin buruk, itu dulu dan sekarang beliau juga sudah meninggal. Tak perlu kan memisahkan pasangan itu?" Ucap Ryan menatap Ivan dengan pandangan memohon.
"Aku sudah berusaha kau tahu sendiri bagaimana papa." Elak Ivan membuat Ryan menghela nafas kecewa, dia mendatangi kakaknya berharap bisa membujuk papanya untuk memberi tahu keberadaan istri sahabatnya. Namun sepertinya dia akan gagal sebelum berjuang.
.
.
.