Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 127


"Ada urusan apa dokter Nathan bertemu denganmu sayang?" Tanya Johan masih berusaha lembut karena tak mau istrinya merasa tertekan dengan keposesifannya. Meski hatinya merasa dongkol melihat istrinya berbincang dengan pria lain tanpa dirinya meski dokter Nathan seorang pria paruh baya berumur, namun fisik dokter Nathan masih terlihat bugar di usia yang tidak muda lagi.


"Hanya berterima kasih." Jawab Karina singkat sambil membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Padahal tangan Johan masih setia melingkar di pinggangnya. Karena hari itu Johan membawa sopir pribadi untuk menemani istrinya kontrol dan terapi pasca operasi pengangkatan kista di rahimnya.


"Berterima kasih?" Tanya Johan mengernyit, apa yang dilakukan dokter Nathan sampai istrinya repot-repot berterima kasih bahkan kapan mereka bertemu, setahunya dia tak pernah melewatkan kesempatan meninggalkan istrinya sebentar saja. Meski beberapa kali meninggalkan itupun hanya sebentar dan tetap ada bodyguard di sampingnya yang melaporkan segala hal yang terjadi pada istrinya saat dirinya sedang tidak berada di sisi istrinya.


"Dokter Nathan yang menolongku saat aku jatuh dari ranjang saat itu mas." Jawab Karina menoleh menatap suaminya.


Membuat Johan sontak terkejut, dia tak pernah mendengar hal itu. Saat dia diberi tahu kabar tentang istrinya yang harus dilakukan operasi tindakan saat itu dia tak tahu kalau hal itu terjadi karena istrinya jatuh dari ranjang dan sayangnya tidak ada yang berjaga di dalam bahkan suster sekalipun. Dan hal itu semakin membuat deretan kesalahan yang dilakukannya pada istrinya membuat Johan menundukkan kepalanya merasa bersalah karena merasa lalai.


Karina yang menatap suaminya menundukkan kepalanya merasa bersalah membuat Karina tak tega, bagaimana pun dia sangat mencintai suaminya itu meski beberapa kali dikecewakan. Namun rasa cinta suaminya memang begitu besar padanya.


"Aku baru sempat bertemu tadi setelah saat itu. Jadi sekalian aku mengucapkan terima kasih padanya." Ucap Karina mencoba menghibur suaminya agar tidak terlalu merasa bersalah.


"Maaf. Seharusnya aku tidak berlaku buruk tadi saat melihatnya. Aku akan minta maaf dan berterima kasih dengan benar lain waktu." Ucap Johan menatap istrinya dengan tatapan rasa bersalah.


"Iya mas." Johan menyerukkan wajahnya ke leher istrinya membuat wajah istrinya memerah karena malu, karena ada sopir yang mengemudikan mobil mereka.


"Maaf. Maafkan aku sayang." Bisik Johan penuh sesal dalam cerukan leher istrinya.


.


.


"Kau sudah mendapatkan informasinya?" Tanya dokter Nathan setelah dia sampai di mansionnya.


Kini dia duduk di kursi kebesaran di ruang kerjanya. Setelah pensiun dari jabatannya sebagai direktur pemilik rumah sakit dan perusahaan membuat dokter Nathan menghabiskan waktunya di ruang kerja di mansionnya. Selain mengawasi pekerjaan yang dilakukan orang kepercayaannya dip perusahaan juga putranya di rumah sakit.


Dokter Nathan hanya duduk-duduk di mansion tanpa ditemani siapapun. Itulah sebabnya dia sangat antusias saat tahu kalau putrinya masih hidup. Dan berharap dia belum menikah dan bisa menemaninya di mansion besarnya yang membuatnya kesepian itu.


Hanya sesekali dia akan muncul di perusahaan atau rumah sakit jika dia ingin. Namun akhir-akhir ini dia sering muncul di rumah sakit dengan alasan ingin bertemu dengan putrinya tersebut saat seseorang kepercayaan di rumah sakit selain putranya memberi kabar tentang jadwal kontrol putrinya.


Dokter Nathan pun belum siap mengatakan yang sebenarnya pada Karina tentang siapa dirinya. Dia takut kalau putrinya menolaknya karena menelantarkannya. Dia butuh waktu untuk menyiapkan diri mengatakan yang sebenarnya pada putrinya yang telah lama berpisah dari keluarganya itu.


"Ini tuan." Jawab Ramon sambil menyodorkan tabletnya tentang informasi tentang keluarga nona Karin sekarang termasuk kehidupan selama menikah juga keluarga suaminya sekarang.


"Jadi putriku menikahi adik almarhum suaminya?" Tanya dokter Nathan terlihat tak suka mendongak menatap wajah Ramon.


"Benar tuan."


"Hanya karena almarhum suaminya mewariskan semua hartanya pada putriku? Sehingga wanita yang haus harta itu memaksa putriku menikahi putranya yang lain?" Seru dokter Nathan semakin kesal. Putrinya dijadikan ladang uang oleh wanita yang sayangnya adalah ibu mertuanya itu.


"Benar tuan." Ramon hanya mengiyakan tak berani membantah ucapan sang tuan. Dia sendiri juga sempat kesal saat membaca laporan tentang putri tuannya yang telah lama berpisah dari majikannya itu.


"Brengsek wanita itu. Aku yakin saat itu dia jatuh karena tekanan ibu mertuanya itu kan?" Seru dokter Nathan menatap Ramon nyalang.


"Sial." Umpat dokter Nathan mengepalkan tangannya marah.


"Wanita itu... wanita itu... hancurkan wanita itu!" Titah dokter Nathan marah.


"Ya?" Tanya Ramon menatap tuannya yang terlihat marah dengan wajah memerah.


"Kau tuli?" Kesal dokter Nathan menatap Ramon, entah kenapa dia melampiaskan kemarahannya pada asisten kepercayaannya itu.


"Apa nanti nona tidak akan bersedih melihat ibu mertuanya hancur? Maksud saya, nona terlihat menyayangi ibu mertuanya itu... apa nanti..."


"Apa yang coba ingin kau katakan?" Seru dokter Nathan semakin marah.


"Nona, bagaimana pun beliau adalah ibu mertua nona. Apa nona akan baik-baik saja nanti saat melihat ibu mertuanya hancur? Apalagi nona sangat mencintai suaminya yang notabene adalah putra dari ibu mertuanya itu. Dan nona pasti akan sedih, apalagi saat tahu jika yang menghancurkannya adalah anda, ayah yang baru ditemuinya setelah lama berpisah." Nasehat Ramon yang membuat dokter Nathan terdiam dan mencoba kembali mencerna semua ucapan asistennya.


"Lalu? Apa yang harus kulakukan untuk memberinya pelajaran?" Tanya dokter Nathan berusaha meredam emosinya.


"Sebaiknya tuan mengatakan dulu yang sebenarnya tentang siapa tuan. Setelah itu baru lakukan hal lainnya." Saran Ramon.


"Aku.. aku belum siap dengan penolakannya. Bagaimana pun juga sudah puluhan tahun kami menelantarkannya." Jawab dokter Nathan terlihat lemah.


"Tapi and tidak sengaja menelantarkannya. Anda sendiri tidak tahu kalau nona masih hidup. Anda baru mengetahui akhir-akhir ini juga. Nona orang yang bijak, nona pasti bisa mengerti tentang penjelasan tuan." Nasehat Ramon membuat dokter Nathan kembali terdiam tampak berpikir.


"Kau benar." Jawab dokter Nathan kembali melanjutkan informasi tentang Karina di tablet yang masih dipegangnya itu.


"Apa-apaan lagi ini?" Seru dokter Nathan lagi saat membaca informasi itu sampai akhir.


"Tentang apa tuan?" Tanya Ramon yang tidak tahu bagian mana lagi cerita yang membuat tuannya marah.


"Ibu mertuanya benar-benar brengsek. Apa katanya... dia mau putriku bersedia menerima madu untuk suaminya?" Kesal dokter Nathan lagi, padahal tadi dia sudah sedikit tenang. Saat membaca informasi kenapa Karina saat itu merasa stres dan tertekan karena desakan dari ibu mertuanya yang memintanya untuk merestui suaminya menikah lagi.


"..." Ramon hanya diam, dia juga akan marah mendengar putrinya diperlakukan tidak adil seperti itu hanya karena harta warisan.


"Panggil pengacara! Aku akan membuat mereka bercerai. Aku tak akan membiarkan putriku menderita terlalu lama dengan suaminya sekarang. Dan aku tidak peduli meski mereka saling mencintai." Putus dokter Nathan final.


"Ya?"


.


.


TBC