Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 56


Sampai di Cafe, Arick tak mendapati keberadaan Jodi dimanapun. Bahkan kata salah satu karyawan mengatakan jika Jodi belum datang sedari tadi pagi.


Tak biasanya Jodi pergi tanpa pemberitahuan seperti ini.


Meresa sedikit cemas, takut terjadi sesuatu pada Jodi, akhirnya Arick mencoba menghubungi sahabatnya itu.


Hingga panggilan ketiga, Jodi tetap tak menjawab panggilannya.


Kemana Jodi? ada apa dengan dia? pikirnya penuh tanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan disinilah Jodi berada, duduk di lobby hotel tempatnya bekerja dulu. Duduk bersebelahan dengan sang gadis pujaan Jasmin.


Jasmin meremat kedua tangannya yang berada dipangkuan. Mendadak gugup, karena sudah cukup lama mereka duduk dan saling berdiam diri.


"Apa ada masalah yang penting sampai kamu memanggilku kesini?" tanya Jodi memecah keheningan.


Jasmin terdiam, sebenarnya tidak ada masalah apapun, dia hanya ingin memastikan sesuatu, perasaan Jodi.


Tapi bagaimana caranya?


Kata Selena, dia harus berpura-pura ikut kencan buta, jika Jodi melarang, tanyakan alasannya. Dan disitulah kamu akan tahu perasaan Jodi yang sebenarnya.


"Kenapa malah diam?" tanya Jodi lagi dan Jasmin makin gelagapan.


"Em, begini Jo. Aku, aku nanti malam akan ikut kencan buta bersama Selena. Ba-bagaimana menurutmu?" jawa Jasmin sekaligus bertanya, ia memberanikan menatap mata Jodi.


Dilihatnya Jodi hanya terdiam, menatapnya dengan tatapan yang entah artinya apa.


"Apa sekarang kamu sudah bisa melupakan Arick?" Jodi bertanya, namun matanya tetap menatap lekat pada Jasmin.


Tatapan yang membuat Jasmin salah tingkah.


"Aku sudah lama melupakan Arick." Jasmin sedikit menunduk, kembali meremat tangannya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Baguslah, dengan begitu kamu bisa melanjutkan hidup dengan lebih mudah," ucap Jodi, ia memalingkan wajah dan kembali menatap ke depan.


Ada desiran aneh yang menyayat hati Jasmin, seolah cintanya kembali bertepuk sebelah tangan.


Reaksi Jodi kali ini bukanlah seperti yang ia harapkan.


Merasa kecewa, Jasmin pun beranjak berdiri. Menyerahkan sebuah paper bag pada Jodi.


"Ini jaketmu, aku masuk dulu," ucap Jasmin, dan kemudian berlalu, berulang kali mengerjabkan matanya yang terasa panas.


Jodi terdiam, duduk sambil memandangi paper bag diatas meja itu.


Malam minggu lalu, Jasmin mengunjunginya di Cafe. Karena pulang terlalu malam, ia meminjamkan jaket itu pada Jasmin.


Berharap jaket itu akan membawa hubungan mereka semakin dekat, tapi entah kenapa kini ia malah hubungannya berubah menjadi semakin menjauh.


Kencan buta?


Jodi tersenyum getir, ternyata ia sedikitpun tak menarik dimata Jasmin. Bahkan setelah lukanya sembuh, kini ia ingin berpaling kepada orang lain.


Jodi berdiri, diambilnya paper bag itu dan kemudian berlalu. Keluar dari hotel dan menuju Cafe.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu darimana?" tanya Arick pada Jodi, baru saja Jodi sampai di Cafe dan kebetulan Arick baru keluar dari ruangannya.


Yang ditanya hanya saja, seolah tidak mendengar pertanyaan itu. Jodi terus berjalan menuju ruangannya dan Arick mengekor, ia sungguh penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Jodi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Arick lagi, kini keduanya sudah duduk berhadapan, terhalang oleh meja kerja milik Jodi.


"Jo, kamu mendengarku atau tidak?" Kini suara Arick mulai meninggi.


"Jasmin Rick, Jasmin."


Arick menghela napasnya lega, dia kira ada masalah serius, ternyata hanya masalah cinta-cintaan.


"Kenapa dengan Jasmin?"


"Lalu?"


Jodi mengusap wajahnya kasar, entahlah, dia juga bingung lalu bagaimana?


"Jo, nyatakan cintamu. Jangan takut persahabatan kalian akan rusak jika Jasmin menolakmu. Itu hanya alasan untuk orang pengecut."


Jodi terdiam.


Namun kakinya begitu gatal untuk melangkah kembali menemui Jasmin.


"Ya sudah, aku mau memeriksa keadaan Cafe dulu," pamit Arick, dan tetap tidak dipedulikan oleh Jodi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore harinya, Sofia dan Mardi pamit pulang. Selain Zayn yang sudah sembuh, mereka juga merasa tak enak hati jika menginap disini terlalu lama, meskipun sebenarnya Jihan tak sedikitpun mempermasalahkannya.


"Ji, bisa papa bicara sebentar," ucap Mardi, saat ini Jihan dan Mardi sedang duduk di ruang tamu, sementara Sofia mengemas beberapa baju yang ia bawa kemarin.


"Bicara apa Pa?" tanya Jihan, Jihan pikir, ini pasti masalah yang serius.


"Ji, papa bingung harus bagaimana mengatakannya."


Keduanya terdiam, ada jeda yang tercipta.


Jihan pun hanya terdiam, menunggu Mardi menyelesaikan ucapannya yang terdengar penuh dengan kegundahan.


"Anak papa hanya tinggal kamu dan Arick, papa ingin usaha yang papa tekuni ini bisa kalian teruskan. Papa sudah tua, papa ingin pensiun dan menikmati masa tua bersama ibu," ucap Mardi lirih.


Jihan sungguh bingung harus menjawab apa.


"Jika Arick tidak mau meneruskannya, apa kamu bersedia?" tanya Mardi dan Jihan sangat terkejut.


Jihan merasa tak mampu memimpin sebuah perusahaan konstruksi, itu terlalu susah baginya. Namun lidahnya kelu untuk menjawab tidak.


Mardi selama ini berusaha keras untuk membangun perusahaan itu, tujuannya hanyalah untuk anak-anaknya. Dan kini, saat ia sudah tua malah tidak ada yang meneruskan.


"Tidak harus sekarang Nak, 2 atau 3 tahun lagi insyaallah papa masih masih sanggup untuk bekerja, kamu bisa menggantikan papa saat anak-anak sudah besar nanti," jelas Mardi.


Jihan hanya mampu meremat kedua tangannya dipangkuan.


"Sekarang papa ingin tahu apa jawabanmu."


Jihan termenung dan Mardi dengan setia menunggu jawaban. Tanpa disadari keduanya, jika sedari tadi Sofia juga mendengar pembicaraan ayah dan mantu itu, ia berdiri di dekat tembok pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu.


Sofia hanya mampu menghela napasnya berat.


Andaikan saja Arend masih hidup. Batinnya.


"Jihan bicarakan dengan mas Arick dulu ya Pa, Papa tenang saja. Aku dan mas Arick pasti akan memikirkan solusinya juga," jawab Jihan setelah ia cukup lama terdiam.


Mardi mengulas sedikit senyum, hanya pada anak-anaknyalah kini ia meminta bantuan.


Dirasa keadaan mulai mencair, Sofia mulai keluar dan menampakkan diri. Seolah ia baru datang dan tidak mendengar apapun.


"Ji, ibu pulang dulu ya, kamu jaga diri baik-baik. Jangan banyak pikiran dan tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah," titah Sofia.


Jihan tersenyum dan mulai mencium punggung tangan sang ibu takzim, kemudian bergantian Mardi.


Jihan mengantar keduanya hingga didepan mobil.


"Ingat ya, tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah. Sudah ada mbak Puji dan juga Asih, tugasmu sekarang hanya tinggal menjaga kandunganmu." Lagi-lagi Sofia mengingatkan. Jihan melirik Mardi dan sang ayah mertua hanya mengedikkan bahunya seraya tersenyum


"Iya Bu, iya." jawab Jihan.


Setelah mendengar jawaban Jihan, barulah Sofia dan Mardi benar-benar pulang.


Jihan masih berdiri disini, bahkan setelah mobil sang mertua sudah tak nampak lagi ia masih betah berdiam diri.


Ia mengulas senyum, tak ingin berpikir terlalu berat.


Baiklah, nanti akan aku ceritakan pada mas Arick.