
Johan terkulai lemas di kursi di dalam ruang kerja Edo. Setelah ruang kerjanya dipaksa turun oleh Ivan, dokter senior rekan sesama dokternya di rumah sakit tempatnya bekerja dulu. Johan masih shock dan terkejut mendengar pernyataan yang mengejutkannya tentang keinginan istrinya untuk mengajukan gugatan cerai padanya.
Sungguh, Johan tak mau mempercayai hal itu sepenuhnya. Dia masih tidak percaya pada ucapan Ivan. Malah dirinya mendesak untuk bertemu muka langsung dengan istrinya yang entah dimana namun alasan Ivan terlalu mengada-ada kalau dirinya sudah tidak berhak untuk menemui istrinya setelah hampir setahun dia membiarkan istrinya pergi tanpa mencarinya.
Padahal banyak yang tahu kalau dirinya tidak pernah menyerah seharipun mencari keberadaan istrinya. Tak pernah berhenti berharap suatu saat istrinya akan kembali dan mereka akan bersama selamanya. Memang dia yang begitu bodoh kurang memperhatikan pengobatan untuk istrinya tentang penyakit yang dideritanya. Dia ingin mendampingi setiap saat setiap waktu.
Tapi pekerjaan mengurus perusahaan bukanlah pekerjaan mudah yang harus ditinggalkannya setiap saat setiap waktu. Bahkan waktunya banyak terbuang karena demi sedikit tidak memperhatikan istrinya. Dia juga tidak mengelak tentang hal itu. Dan karena itu pula dia menyesal dan berusaha mencari dimanapun keberadaan istrinya. Bahkan di setiap sudut kota sudah ditelusurinya namun seolah istrinya hilang bak ditelan bumi membuatnya semakin frustasi.
Namun kehidupan tetap berjalan termasuk mengurus perusahaan yang sedikit mengalami keguncangan karena Johan sibuk mencari keberadaan istrinya. Namun sampai akhir dia tetap tak akan menyerah. Dan hari ini tiba-tiba ada yang datang mengatakan kalau istrinya sudah melimpahkan seluruh saham perusahaan yang dimilikinya untuk diurus. Seolah istrinya itu tidak mempercayai dirinya lagi sebagai seorang suami untuk mengelolanya.
Bahkan saham terbesar yang dimiliki istrinya bisa saja membuat istrinya langsung menjadi presiden direktur utama di perusahaan milik almarhum kakaknya itu. Namun bukan hal itu yang sejak dulu diinginkan istrinya namun keadaan yang memaksanya. Namun dengan suka rela istrinya memberikan kepercayaan padanya untuk mengelolanya meski sebagian besar dana perusahaan harus melalui tanda tangannya sebagai pemegang saham terbesar.
Johan sah-sah saja istrinya melakukan hal itu dan tidak merasa keberatan. Toh mereka suami istri yang selamanya akan tetap bersama. Begitulah kepercayaan dibangun sebelumnya. Sampai hari ini Johan tak percaya istrinya melakukan hal setega itu padanya bahkan katanya sedang mengurus surat gugatan perceraian.
"Hahaha...." Tawa getir Johan dalam ruangan Edo membuat Edo bergidik ngeri.
"Tuan, anda baik-baik saja." Tanya Edo yang sejak tadi mengurus berkas meeting tentang pemegang saham terkait kepemimpinan yang sudah diambil alih oleh Ivan yang mengaku menjadi pengelola yang diberi surat kuasa oleh pemegang saham terbesar yaitu Karina. Dan tentu saja semua orang tahu hal itu.
"Dia mau menceraikanku Edo." Bisik Johan lirih terdengar sedih dan putus asa.
Edo diam, dia tak bisa menjawab apapun karena ucapan Ivander Mulia tadi. Ucapannya cukup meyakinkannya dengan alasan kekerasan mental yang dilakukan oleh ibu bosnya membuat Edo sedikit menyetujuinya namun dia tahu betul bosnya sangat mencintai istrinya itu. Bahkan kesempatan untuk memiliki semua harta istrinya itu sangat banyak namun Johan tak melakukannya karena terlalu mencintai istrinya itu.
"Apa yang harus kulakukan Edo? Istriku sudah membuangku kan? Dia sudah tidak menginginkanku kan?" Bisik Johan lemah terdengar sedih.
"Tuan tidak boleh menyerah, setidaknya kita harus menemukan dimana non Karin memastikan semua itu. Non Karin bukan orang yang seperti itu." Ucap Edo memberi semangat.
"Tapi kesalahanku terlalu besar Edo, dan perlakuan ibu. Aku pun jika menjadi istriku pasti sudah sejak dulu pergi meninggalkan keluargaku. Kau tahu sendiri aku seperti apa. Istriku merupakan wanita yang terlalu sabar untuk tetap bertahan di sisiku meski mendapat perlakuan buruk dari ibuku." Ucap Johan meratap sedih mengusap wajahnya kasar merasa frustasi.
"Tuan harus menemukannya, meminta langsung penjelasan langsung. Jika yang dikatakan tuan Ivan benar tentang nona, saat itulah tuan baru mengambil keputusan. Jangan secepat itu mengiyakan apa yang dikatakan tuan Ivan sebelum anda bertemu sendiri secara langsung nona. Hingga membuat anda akan menyesal nantinya." Bujuk Edo.
"Dia bahkan menolak bertemu langsung denganku Edo. Aku tahu dia pasti menjadi benci dan marah padaku." Ucap Johan putus asa.
"Tuan?"
"Apa aku harus sukarela melepasnya demi kebahagiaannya.l? Seharusnya aku tidak menerimanya menjadi istriku saat itu jika akhirnya aku menyakitinya. Aku terlalu mencintainya hingga tidak rela melepaskannya saat itu. Maafkan aku sayang, maaf membuatmu menderita seperti ini. Maaf... " Guman Johan di akhir kalimatnya terdengar isakan.
.
.
"Jangan bohong pak, kemarin saya ke kantor dia tidak ada!" Kesal Ambar pagi itu kembali datang ke rumah putranya.
"Sungguh nyonya, tuan saat ini tidak ada di rumah. Tadi beliau terlihat tergesa-gesa meninggalkan rumah pagi-pagi sekali." Ucap sekuriti rumah Johan.
"Maaf nyonya, saya hanya menuruti apa kata tuan." Jawab sekuriti itu terdengar gugup karena takut.
Setelah kepergian Karina, Ambar memang melarang ibunya datang ke rumahnya tanpa seizin darinya apalagi saat dirinya tidak ada di rumah. Jika ibunya ada di rumahnya itu artinya semua trik sudah digunakan ibunya untuk membujuk sekuriti rumahnya hingga tidak mampu menolak titah ibunya yang pemaksa itu. Kini sang sekuriti sudah diancam Johan untuk melarang ibunya. Terang-terangan Johan menyebutkan ibunya untuk dilarang masuk tanpa izin darinya terutama saat dirinya sedang tidak ada di rumah.
"Kurang ajar, dasar anak durhaka." Umpat Ambar meninggalkan rumah putranya. Dia akan pergi ke perusahaan untuk menemui putranya itu dan membuat perhitungan.
Sesampainya di perusahaan, seorang sekuriti baru langsung menghadang Ambar saat hendak masuk ke gedung perusahaan membuat Ambar marah. Dasarnya sejak tadi dia sudah terlihat kesal karena ditolak di rumah putranya sendiri.
"Ada apa? Kenapa kau menghalangi jalanku?" Kesal Ambar menatap sekuriti itu galak. Bukannya takut, sekuriti yang dibayar Ivan itu memang diperintahkan seperti itu oleh Ivan sang presiden direktur langsung.
"Ibu tidak diizinkan masuk ke dalam gedung perusahaan." Ucap sekuriti itu tegas dengan tampang garangnya.
"Apa? Kau tahu siapa putraku? Dia pemilik perusahaan ini." Seru Ambar tak terima mengundang perhatian semua orang di sekitar tempat itu termasuk resepsionis perusahaan yang mengenal betul siapa Ambar. Dia pun pernah mendapat umpatan dari wanita tua itu.
"Maaf nyonya, saya hanya menjalankan tugas." Jawab sekuriti itu masih mempertahankan pintu untuk tidak dibukanya, bahkan dia mengizinkan beberapa orang lalu lalang keluar masuk ke gedung perusahaan itu.
"Dasar sialan, panggil putra saya. Saya akan membuat kamu dipecat dari perusahaan ini." Umpat Ambar kesal melotot pada sekuriti itu. Sekuriti itu hanya diam, dia tidak takut. Selama menyangkut tentang titah tuannya, dia tidak akan takut.
"Panggil Presdir kalian! Sekarang! Cepat! Aku akan membuat perhitungan padamu." Kesal Ambar menuding-nuding wajah sekuriti itu yang masih tak bergeming di depan pintu menghalangi langkah Ambar untuk masuk.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Suara bariton seseorang membuat semua orang menoleh menatap ke arah suara.
"Siapa kau?" Tanya Ambar berani. Dia meneliti pria di hadapannya ini. Pria berjas rapi terlihat wibawa dan tetap sopan meski dia berbicara tegas.
"Saya Ivan nyonya, saat pemilik baru perusahaan ini. Apa ada yang bisa kubantu?" Ucapan Ivan bagai petir di siang bolong oleh Ambar.
Dia menatap tak percaya pada pria di hadapannya ini. Pria asing yang tidak terlalu dikenal Ambar mengatakan dia pemilik perusahaan. Bukannya perusahaan dibangun susah payah oleh almarhum putranya meski ada sedikit campur tangan istrinya yang sekarang menjadi istri dari putra bungsunya yang entah sekarang ada dimana.
"Jangan bicara omong kosong! Perusahaan ini milik putraku!" Seru Ambar tak percaya. Bahkan semua orang yang merupakan karyawan di perusahaan itu tersentak kaget dengan apa yang diucapkan Ivan yang terdengar meyakinkan itu.
"Terserah anda percaya atau tidak. Tapi itulah kenyataannya. Silahkan tanyakan pada putra anda yang sekarang sudah bukan pemilik perusahaan ini. Bahkan sekarang dia sudah mengundurkan diri dari perusahaan." Ucapan Ivan tentu saja membuat semua orang terkejut termasuk Ambar dan tanpa sengaja dia melihat putranya berdiri tak jauh dari tempat perdebatan mereka.
Johan hanya menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan membuat siapa yang melihatnya menatapnya kasihan. Dia memang memutuskan untuk mengundurkan diri. Apa yang ingin diperjuangkan lagi setelah fakta yang didengarnya adalah dia sudah diusir secara tidak langsung oleh pemilik saham terbesar di perusahaan yang dibangun almarhum kakaknya itu.
.
.
TBC