Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 11


Tak berselang lama setelah Dimas melamar Anindira, keluarga memutuskan untuk mempercepat pernikahan mereka.


Anin dan Dimas menyetujuinya karena semua sudah diatur keluarga dua belah pihak, pernikahan mereka diadakan tidak terlalu mewah seperti Karina dulu, keluarga Anindira menyarankan mengadakan pernikahan sederhana meskipun Anin menginginkan pernikahan yang ia impikan namun karena ini pernikahan kedua bagi Dimas dan Anindira juga merasa tidak perlu terlalu mewah hanya sanak saudara dan teman-temannya saja yang datang.


Hari ini Dimas datang menjemput Anin untuk fiting baju, sejujurnya Dimas tidak ingin pergi karena Anin juga tidak menyetujui namun Ibu Dimas meminta agar Anin dan Dimas memilih sendiri karena bagaimanapun ini pernikahan pertama untuk Anin dan pasti Anin memiliki keinginan untuk pernikahannya, bagaimanapun pernikahan hanya sekali seumur hidup.


"Sudah Mamah bilang gak usah fiting baju, Mamah udah pesen baju untuk kalian nanti Mamah minta fotonya," ucap Mamah pada Dimas yang sedang menunggu Anin di bawah.


"Gapapa Mah, lagipula Anin pasti ingin pilih gaun untuk pernikahannya," jawab Dimas.


Dimas tahu Mamah mertuanya itu tidak mau mengadakan pernikahan terlalu mewah, ia juga sudah menentukan baju dan semuanya termasuk makanan dan gedung, tidak seperti Kirana dulu, semuanya dipilih sesuai keinginannya sendiri dan Dimas yang juga memilihnya.


Tak lama Anin turun dan menghampiri mereka berdua.


"Kita pergi dulu Mah," pamit Dimas langsung berdiri saat Anin turun.


"Ya sudah kalian hati-hati." ucap Mamah.


Di dalam mobil Anin hanya menunduk terdiam tanpa menoleh pada Dimas yang sedang fokus menyetir, Dimas juga merasa canggung dengan situasi seperti ini, ia tahu Anin sejak kemarin sudah bilang tidak ingin pergi namun Dimas memaksanya, meskipun ia sendiri juga hanya disuruh Ibu.


"Maaf saya memaksa kamu pergi, Ibu terlalu memaksa," ucap Dimas.


"Nggak, gapapa Mas cuman gak enak sama Mamah aja dia udah pilihin baju,"


"Baju yang Mamah pilih itu baju waktu Kirana nikah, saya juga kurang setuju dengan baju itu karena bagaimanapun ini pernikahan pertama kamu jadi kamu bebas pilih,"


"Makasih Mas." ucap Anin singkat.


Memang benar, ini pernikahan pertama dan terakhir untuk Anindira, meskipun karena Turun Ranjang tapi bagi Anin pernikahan hanya sekali seumur hidupnya ia tidak mau main-main dalam pernikahan, meskipun belum ada cinta diantara keduanya namun ia yakin suatu hari mereka bisa saling jatuh cinta dan menjadi keluarga yang harmonis.


Tibalah mereka di Butik, Dimas masuk lebih dulu sedangkan Anin masih menimbang-nimbang, ia benar-benar tidak semangat untuk memilih gaun meskipun ia sudah pernah membuat sendiri desain gaun yang ia impikan saat SMA dulu namun ia tidak mau merepotkan desainer untuk membuatkannya dan lagipula orangtuanya tidak akan setuju jika ia membuat gaun.


"Kamu mau pilih gaun yang mana?" tanya Dimas.


Anin masih menimbang-nimbang ia memilih berjalan bersama pemilik butik yang menunjukkan beberapa gaun rancangannya yang baru ia buat, namun tidak ada pilihan yang pas untuk Anin, beberapa gaun sangat bagus namun ada beberapa yang kurang menurut Anin.


Namun melihat Dimas yang tampaknya sudah bosan menunggu akhirnya Anin memilih salah satu gaun yang dikiranya tidak akan membuat lekukan tubuhnya terlihat begitu jelas karena ia memilih untuk menggunakan jilbab saat acara pernikahannya sesuai keinginannya sejak lama.


Setelah memilih, pemilik butik menyuruh Anin mencobanya namun Anin menolaknya karena ia rasa gaunnya sudah sangat pas untuk badannya yang tidak terlalu berisi, ia juga tak ingin Dimas lebih lama menunggunya.


"Ada yang mau kita beli lagi?" tanya Dimas.


"Gak ada, kita langsung pulang aja, oh iya Afifa gimana?" tanya Anin.


"Baik, dia dirawat sama Ibu sama Dina juga, kita makan dulu gimana?" tanya Dimas.


"Boleh." jawab Anin.


Anin meminta Dimas mengajaknya ke Chingu Cafe tempat favoritnya. Dimas menyetujuinya mereka memesan beberapa makanan.


"Saya ingin bicara serius sama kamu," ucap Dimas.


"Bicara aja," ucap Anin sambil meminum minumannya.


"Setelah kita menikah saya mau kamu tinggal di rumah saya bersama Afifa, saya juga gak akan ngebatasin semua keperluan kamu dan Afifa, saya juga tahu kamu sedang membuat meniatur yang dipesan online saya juga tidak akan melarang kamu dan apa yang kamu lakukan selama hal itu tidak menganggu aktivitas kamu dan kewajiban kamu sebagai seorang istri dan Ibu," tutur Dimas.


"Terimakasih untuk pengertiannya, mungkin setelah menikah Anin cuman ngambil beberapa pesanan aja sisanya Anin bakal jalanin peran Anin sebagai istri dan Ibu," jawab Anin.


"Satu lagi, saya tahu kita menikah bukan karena saling mencintai tapi dalam islam pernikahan hanya sekali seumur hidup mungkin tidak bagi saya tapi mungkin untuk kita berdua semoga ini yang terakhir saya harap kamu bisa menjalani kewajiban kamu dan saya minta kamu untuk bersabar karena bagaimanapun saya juga butuh waktu untuk memulai hal baru termasuk kamu juga,"


"Baik, Anin juga tahu Mas inshaallah semoga bisa," ucapnya.


"Dan..., untuk kewajiban suami istri pada umumnya setelah menikah mungkin saya belum bisa memenuhinya, kita bisa tidur satu ranjang tapi saya mungkin belum bisa melakukannya," ucapnya sedikit ragu.


Anin terdiam sejenak, ia tahu maksud Dimas yang berbicara dengannya sedikit ragu.


"Gapapa Mas, Anin tahu lagipula akan lebih baik jika kita melakukannya saat kita saling mencintai dan menginginkan bukan, lagipula Afifa masih kecil Anin tidak akan menuntut Mas dalam hal apapun," jawab Anin tersenyum pada Dimas.


Dimas menganggukan kepalanya tanda setuju, syukurlah Anin menyetujuinya dan tidak menolaknya ia pikir Anin akan membantah apa yang ia ucapkan namun Anin terlihat setuju dengan semuanya.


*-*-*-*


Selain teman-teman Anindira juga saudara-saudara mereka termasuk Bude dan Pakde yang datang jauh-jauh dari Jogja bersama Hasan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Anindira Maheswari binti Jajang Jaenuddin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap Dimas lantang.


"Bagaimana saksi Sah?"


"SAH" ucap saksi.


Mereka semua mengcap hamdalah.


Tibalah mereka menukar cincin, Dimas menatap Anindira yang kini sudah resmi menjadi istrinya, ia sangat cantik dengan gaun yang ia pilih dan hijab yang ia kenakan membuat Dimas sempat pangling menatapnya, meskipun belum mencintai Anindira namun ia akui Anindira memang benar-benar sangat cantik, Dimas menyematkan cincinnya di jari Anindira namun terhenti sejenak.


Ia ingat cincin yang saat ini ia pasangkan pada jari Anindira adalah cincin Alm Kirana yang ia berikan sesaat sebelum Kirana menghembuskan nafas terakhirnya, dan ia teringat saat pertama kali ini memasangkan cincin di jari Kirana dan ia membayangkan sosok Kiranalah yang kini berdiri di hadapannya.


"Kirana, aku rindu," ucap Dimas sedikit berbisik yang langsung memeluk Anin saat setelah bertungkar cincin.


Semua orang bertepuk tangan bahagia saat keduanya berpelukan namun tidak dengan Anin rasanya ia ingin segera pergi, baru saja Dimas mengucapkan ijab kabul dan kini ia langsung memanggil dirinya Kirana, apakah sebegitu dalamnya ia mencintai Kirana? Mengapa sampai berhalusinasi seakan-akan dirinya adalah Kirana, rasanya sesak di dada, mengapa Dimas tidak mau menerima dirinya?


Dimas melepaskan pelukannya, ia langsung tersadar bahwa yang ia peluk bukanlah Kirana melainkan Anin, adik kandung Kirana yang kini sudah menjadi istrinya, Anindira yang masih terkejut dan sedikit kecewa berusaha tersenyum menatap Dimas yang baru saja menyerka air mata rindunya pada alm istrinya, Anin sebisa mungkin menetralkan hatinya mencoba ikhlas.


Acara pernikahannya hanya digelar sampai sore, dari pagi Anin dan Dimas tidak saling bicara bahkan saat di pelaminan pun keduanya saling terdiam tak bertegur sapa.


Anin mencari keberadaan Gilang yang sudah sebulan sejak mereka terakhir kali bertemu di Kafe tidak saling berkomunikasi, Anin sudah memberikan undangannya pada Gilang melalui pesan whatsapp namun nomor telepon Gilang sudah tidak aktif mungkin ia sudah mengantinya.


"Selama ya Bro, semoga Anindira jodoh loe," ucap Rendra tersenyum bahagia kearah Dimas.


"Thanks, Gilang apa dia?" tanya Dimas sedikit pelan.


"Dia titip salam sama Loe, gue berharap semuanya bisa kembali membaik," ucap Rendra yang langsung menyalami Anin.


"Selamat ya Nin, semoga jadi keluarga sakinah mawadah warahmah," ucap Rendra.


"Makasih a, a'Gilang gak datang?" tanya Anin.


Rendra menatap ke arah Dimas yang sama menatap ke arahnya, pertanyaan Anin membuat keduanya bungkam, Rendra sebisa mungkin mencari jawaban agar Anindira tidak mengetahui masalah Dimas dan Gilang.


"Oh Gilang lagi keluar kota sama saudaranya, biasalah so sibuk si eta mah," jawab Rendra tertawa.


"Oh gitu pantesan nomornya gak aktif soalnya udah sebulan gak pernah lihat dia," ucap Anin.


Rendra hanya tersenyum kecil ke arah Anin dan menatap ke arah Dimas yang tampaknya menghela nafas juga dengan pertanyaan dari Anin.


Rendra memilih turun dari pelaminan setelah mengambil potret dengan mereka.


Acara telah selesai, Dimas meminta pada keluarga untuk membawa Anin dan Afifa langsung tinggal di rumahnya, untungnya semua baju sudah dipindahkan ke rumah Dimas jauh-jauh hari sebelum pernikahan mereka, hanya sisa beberapa baju saja yang belum Anindira bawa namun sudah ia siapkan di kopernya.


Anin sedang menggendong Afifa yang masih terlelap sepertinya ia lelah setelah acara seharian, Afifa kini sudah menginjak lima bulan dan tubuhnya kini sudah gemuk meskipun hanya minum susu formula namun Afifa sangat sehat hingga sekarang bahkan terlihat menggemaskan membuat Anindira begitu sangat menyayanginya.


"Kamu Mandi duluan aja, biar Afifa saya jaga," ucap Dimas setelah mereka sampai di rumah.


"Iya Mas, barang-barang Anin ditaruh di mana?" tanya Anin.


"Di lemari samping, saya belum merapihkannya," ucap Dimas menunjuk lemari kamar mereka.


Anindira mengambil pakaiannya dan handuk ia memilih mandi karena badannya sudah terasa sangat lengket sejak siang tadi, sedangkan Dimas ia masih memegang susu tabung untuk Afifa yang sudah ia tiduri di ranjangnya, sebenarnya Afifa sudah memiliki ranjang di samping tempat tidur miliknya namun ia takut Afifa terbangun jadi ia belum memindahkannya.


Beberapa menit Anin sudah selesai mandi, wajahnya juga sudah bersih dari makeup ia kini menggunakan piyama merah dengan rambut yang masih terlilit handuk, terlihat kulit putihnya dan leher jenjangnya ia sedang berjalan ke arah ranjang dan duduk di dekat Dimas, sedangkan Dimas berusaha menahan dirinya agar tidak terlalu terpikat dengan Anindira yang memang mempesona, bahkan saat ia tidak bermakeup tampak sangat cantik natural.


"Mas Mandi dulu, biar Afifa Anin jagain dulu udah itu kita makan tadi Mamah bawain masakan juga untuk kita," ucap Anin.


Dimas langsung bangkit dari tempat tidurnya dan memilih masuk ke kamar mandi, ia mencoba mengatur detak jantungnya benar-benar sangat sulit untuknya berada dalam satu ruangan bersama Anindira bahkan satu kamar.


Meskipun kini Anin resmi menjadi istrinya namun rasanya sangat canggung terlebih Anindira malah bersikap baik padanya, meskipun mereka memang sebelumnya memiliki hubungan baik sebagai ipar namun tetap saja rasanya kini status mereka sudah berubah dan membuatnya tak karuan, bagaimana cara ia bisa menjalani hubungan rumah tangga dengan Anindira jika dalam hatinya ia belum siap untuk kembali memulainya.


Dimas mengusap wajahnya dengan kasar, ia malah teringat dengan Kirana bahkan sejak pertukaran cincin tadi pun ia masih merindukan sosok Kirana, entah sampai kapan ia bisa melupakan Kirana yang sudah tiada dan menerima Anindira sebagai istrinya, ia juga tidak mau menyakiti Anindira namun ia juga takut memulainya.


Sedangkan itu, Anindira menghela nafasnya setelah Dimas pergi ke kamar mandi, ia benar-benar gugup saat ini, meskipun ia tahu tidak akan ada hubungan seperti suami-istri karena mereka sepakat akan melakukannya jika keduanya sudah saling jatuh cinta namun rasanya benar-benar canggung bagi Anindira satu kamar dengan Dimas yang dulu kakak iparnya, apalagi ia akan tidur bersama mulai hari ini dan membuat pacu jantungnya meningkat.


Anindira mencoba menetralkan dirinya bagaimanapun ini keputusannya dan mereka sudah menjadi suami-istri artinya Anindira harus bisa membiasakan diri melihat Dimas setiap hari dan hidup bersamanya.