
Sampai di kamar anak-anak, Jihan langsung menidurkan Jani di boxs bayi miliknya. Jani hanya menggeliat kecil, lalu kembali asik dengan mimpinya sendiri.
Air mata Jihan mengalir, saat melihat ketiga anaknya sudah berkumpul. Lengkap dengan dirinya dan Arick. Jihan merasa ia sangat disayang oleh Tuhan, karena kini hidupnya benar-benar sempurna.
Keluarganya utuh.
Terima kasih ya Allah. Batin Jihan penuh syukur. Ia memeluk tubuh suaminya yang sedari tadi berdiri disamping.
"Ji, ajak Arick istirahat. Ibu tadi sudah minta Puji untuk mengantar makanan ke kamar kalian," ucap Sofia dan Jihan mengangguk.
Sebelum kembali ke kamar, Jihan juga mengenalkan Arick pada pengasuh baru anak-anak mereka, yaitu Melisa.
Dengan sopan, Melisa memperkenalkan diri. Arick hanya mengangguk tanpa ekspresi. Ia malah buru-buru menarik tangan sang istri untuk pergi menuju ke kamar mereka.
Asih terkekeh, jadi ingat masa lalu saat ia sudah tersenyum lebar ternyata tuannya tidak menanggapi.
"Kamu daritadi cengengesan terus, apa ada yang membuatmu bahagia Sih?" tanya Sofia heran, ia memeriksa kelengkapan baju ketiga cucunya, takut-takut ada yang kurang.
"Bahagia dong Nyonya, kan Jani sudah pulang," jawab Asih masih dengan terkekeh.
"Oh iya Sa, itu tadi Arick, anak Ibu sekaligus suaminya Jihan. Ibu minta kamu dan Asih bersikap sopan, jaga nama baik dan kehormatan kalian. Kalian kan masih gadis, bukannya ibu suudzon, tapi sekarang musimnya pelakor. Dan ibu tidak mau kalian jadi seperti itu, paham kan maksud ibu?" ceramah Sofia, panjang kali lebar. Tak ingin basa basi, ingin mengatakan yang ada diisi hati.
"Paham Bu," jawab Asih dan Melisa kompak, mereka bahkan mengangguk kecil sebagai jawaban.
Setelah mengatakan itu, Sofia pamit keluar. Tinggalah Asih dan Melisa di kamar ini.
"Baru pertama kali ketemu pak Arick langsung dikira pelakor, nyonya Sofia orangnya galak ya?" Melisa buka suara, ia merasa sedikit tersinggung dengan ucapan majikannya itu.
"Memang galak, makanya jangan macem-macem," jawab Asih apa adanya.
Keduanya lalu duduk di karpet tebal dan mulai melipat baju-baju bayi ini, juga baju mereka sendiri sambil menunggu Jani, Anja dan Zayn terbangun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di kamar, Arick langsung menggendong Jihan layaknya pengantin baru. Lalu ia duduk di sofa sambil memangku sang istri.
"Ya Allah Mas, bikin aku kaget," keluh Jihan sambil memukul dada suaminya pelan.
Bukannya menjawab, Arick malah menatap lekat wajah sang istri. Ia lalu melepaskan kerudung Jihan dan memindai bagian wajahnya satu per satu.
Jihan hanya tersenyum, ia menikmati kala Arick membenahi rambutnya yang sedikit berantakan. Menyelipkannya di balik telinga.
Jihan pun mengelus rahang sang suami yang mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar, tanda sudah lama tidak di cukur.
"Mas tadi sudah makan belum?" tanya Jihan, hampir saja ia lupa jika tadi Sofia berpesan tentang makan siang.
Arick menggeleng, lalu Jihan menoleh ke arah meja. Benar saja, sudah tersaji banyak makanan disana.
"Turunkan aku, aku temani Mas makan dulu." pinta Jihan pelan, kedua tangannya masih menggantung di bahu Arick.
"Tapi aku tidak lapar sayang, aku rindu," jujur Arick, istrinya kini jauh lebih menggoda dibandingkan makanan di atas meja sana.
Jihan yang mendengar itu merasa malu, bahkan jantungnya berdetak tak biasa dan wajahnya mendadak panas, merona.
Tahu sang suami menginginkan dirinya, Jihan memberanikan diri untuk memulai. Ia mendekat, bersandar pada tubuh Arick dan menyatukan bibir.
Jihan menutup mata saat Arick mulai memperdalam ciuman mereka.
Bahkan tanpa sadar Jihan melenguh kala tangan sang suami membelai dadanya lembut.
"Sabar, masih nifas," ucap Jihan sambil tersenyum.
"Aku tahu," jawab Arick singkat lalu kembali meraup bibir sang istri. Menelusupkan lidahnya masuk lebih dalam.
Dengan bibir yang masih bertaut, Arick menurunkan baju Jihan hingga sampai di lengan. Ia menelusuri setiap inci tubuh polos sang istri.
Jihan hanya mampu mendesah, tak bisa dipungkiri, ia pun merindukan sentuhan ini.
Cukup lama keduanya saling melepas rindu meski tidak menyatu.
Bahkan Jihan sampai belajar cara membuat tanda merah di dada Arick. Tawa, canda dan saling goda memenuhi seisi ruangan kamar ini.
"Susah ya Mas, buatan ku kok tidak semerah buatan mas Arick," rengek Jihan, padahal ia ingin sekali memenuhi dada suaminya itu dengan stampel kepemilikannya. Tapi baru satu tanda saja ia sudah merasa kesusasahan.
"Lain sayang, kulitmu lebih lembut daripada kulitku," jawab Arick, lalu ia kembali membuat tanda di dada Jihan yang masih terbuka.
"Tuh kan, merah," keluh Jihan, ia cemberut merasa tidak terima karena ia tak bisa membuat tanda semerah itu.
Arick terkekeh, merasa lucu sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari, semua keluarga Mardi berkumpul di ruang tengah. Anja dan Jani masih tidur, bayi kembar itu tidur terus. Sementara Zayn asik berlari kesana kesini.
Untunglah, Asih orangnya lincah dan sigap.
"Rick, syukuran dan Aqiqah Anja dan Jani di rumah ini saja ya?" tanya Sofia, Arick yang tengah asik menonton TV sambil menempel pada sang istri langsung menoleh.
"Iya Bu, lagipula rumah Arick masih di renovasi," jawabnya lalu kembali melihat ke arah TV, sedang asik menonton siaran motoGP.
"Bagaimana kalau besok saja? tidak usah di tunda-tunda, lebih cepat lebih bagus." Sofia kembali bertanya dan Arick hanya menjawab IYA, tapi tak melihat ke arah sang ibu barang sedikitpun.
Merasa kesal pada sang anak, Sofia ingin bertanya pada suaminya.
"Bagaimana Pa? besok malam saja ya kita syukuran dan aqiqah Anja Jani?" tanyanya bertubi, sementara Mardi masih fokus pada televisi, maklum, idolanya sedang memperebutkan posisi pertama di ajang motoGP itu.
"Pa?!" tanya Sofia makin kesal, anak dan ayah sama saja, pikirnya.
Jihan yang melihat itu hanya terkekeh, dari dulu Arick dan Mardi memang gemar menonton acara motoGP. Tiap kali disiarkan mereka tidak pernah ketinggalan.
"Iya Bu, besok kita langsung syukuran dan aqiqah Anja Jani, paginya kita undang semua keluarga dan tetangga," ucap Jihan menjawab pertanyaan Sofia.
"Iya, begitu lebih baik, nanti teman-temanmu juga suruh datang," saut Sofia antusias, dia suka sekali jika rumahnya ramai.
Tak ingin menunda menyampaikan kabar bahagia, Jihan lalu meminta tolong pada Puji untuk mengambil ponselnya di dalam kamar.
Ingin segera memberi kabar Jasmin dan Selena tentang acara besok.
10 menit kemudian, Puji datang memberikan ponsel Jihan. Ia menerimanya seraya mengucapkan kata terima kasih.
Tanpa mengulur waktu, ia langsung membuka whatsapp. Mencari grup Wanita Tercantik di Dunia dan mulai mengetik.
Jihan : Besok malam Anja dan Jani syukuran Aqiqah, pulang kerja langsung ke rumah ibu saja. Ganti pakai baju ku.
Kirim.