Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 143


Seminggu setelah kejadian di restoran itu, setiap hari Johan makan siang di tempat itu. Berharap bisa bertemu tanpa sengaja dengan istrinya yang dirindukannya itu. Namun lagi-lagi hasilnya nihil. Dia tak pernah bertemu dengan wanita yang mirip istrinya itu.


Edo dan Riko diminta tolong oleh Johan untuk mengerahkan sebanyak-banyaknya orang-orangnya untuk mencari lagi keberadaan istrinya. Namun hasilnya tetap nihil. Seolah memang ada orang yang sengaja menyembunyikan istrinya. Seolah ada orang yang membuat mereka agar tidak bertemu.


Awalnya Edo heran kenapa tuannya setiap hari ingin makan siang di restoran itu. Namun nyatanya dia berharap agar bertemu lagi dengan wanita yang dilihatnya yang mirip istrinya.


"Kamu dimana sayang? Aku merindukanmu." Guman Johan setelah hampir dua jam dia duduk di restoran itu. Padahal jam makan siang sudah habis sejak tadi. Namun Johan masih bertahan di tempatnya duduk. Kursi reservasi restoran dekat pintu keluar. Berharap dapat melihat siapapun yang keluar masuk restoran tersebut.


"Aku tak akan menyerah akan terus menunggumu pulang." Guman Johan lagi dengan raut wajah sendu. Wajah itu kembali ditunjukkan setelah hampir setahun lebih wajah dingin dan datar yang ditunjukkannya setiap hari.


"Tuan." Panggil Edo. Johan diam tak bergeming masih larut dalam lamunannya.


"Tuan." Johan masih diam, Edo tampak menghela nafas panjang.


"Tuan." Baru Johan terkejut dengan panggilan Edo yang disertai sentuhan di bahunya.


"Ya?" Tanya Johan dengan tampang tak bersalah.


"Meeting setengah jam lagi." Beri tahu Edo yang langsung diangguki Johan dan segera berdiri dari tempat duduknya. Sambil merapikan jasnya Johan menghela nafas panjang. Dia pun melangkah menuju mobil tempatnya parkir.


Di saat bersamaan, seorang wanita berhijab syar'i keluar dari mobil dengan seorang pria yang begitu posesif dan overprotektif pada wanita itu.


"Hati-hati dek!" Peringat pria itu posesif berlari mengejar wanita itu.


"Aku baik-baik saja kakak." Jawabnya terus melaju masuk ke dalam restoran tersebut.


Mobil Johan melintas di belakang wanita itu yang sudah masuk ke dalam restoran.


"Restoran juga tak akan lari jika kau bergegas seperti itu." Peringat pria yang dipanggil kakak oleh wanita tadi.


"Ini sudah jadwalku untuk mengunjungi restoran papa kak, sesuai amanat papa. Aku mau mengeceknya seminggu sekali. Seharusnya aku sudah bisa pergi sendiri, kenapa kakak mengikutiku terus?" Ucap wanita itu terdengar manja, itu pun dia lakukan karena mereka sudah masuk ke dalam ruang kerja restoran.


"Kakak mengkhawatirkanmu, kamu baru pulang dua minggu yang lalu. Dokter Albert menyuruhku tetap mengawasi mu." Elak sang kakak tak mau disebut posesif.


Namun dia sangat mencemaskan sang adik kalau-kalau penyakitnya kambuh meski sebenarnya itu tidak akan terjadi. Hanya saja segalanya harus diatur, seperti pola makan dan pola hidup sehatnya serta psikisnya pun berpengaruh.


"Terima kasih kak, sudah mencemaskanku adikmu ini. Tapi, tolong beri aku sedikit kepercayaan. Kalau setelah ini aku akan baik-baik saja." Pinta sang adik menatap kakaknya memelas penuh permohonan.


Sang kakak terlihat menghela nafas panjang melihat permohonan adiknya tentu saja dia tidak akan bisa jika tidak luluh. Namun ke overprotektifannya tidak akan hilang begitu saja. Apalagi mereka sudah dipisahkan lebih dari dua puluh tahun.


"Okay...okay... untuk hari ini kakak akan tetap disini. Besok... besok kakak tidak akan mengikutimu lagi hanya sopir yang akan mengantarkanmu kemanapun kamu pergi. Tidak ada penolakan." Tegas sang kakak membuat sang adik berbinar matanya.


"Terima kasih kak." Ucap sang adik tersenyum manis. Sang kakak ikut tersenyum sambil mengusak puncak kepala sang adik yang tertutup hijab.


Tok tok tok


Keduanya menoleh bersamaan menatap pintu.


"Masuk!" Seru sang adik duduk di kursi kerjanya. Sang kakak duduk di sofa dekat meja kerja adiknya.


"Non Karin, saya ingin menyerahkan laporan mingguan yang anda pinta." Ucap gadis muda yang baru saja masuk itu sambil mengulurkan sebuah map.


"Terima kasih." Wanita yang dipanggil Karin itu tersenyum sambil menerima uluran map itu.


"Saya undur diri non." Karin hanya mengangguk.


Ya, wanita berhijab syar'i itu adalah Karina, sudah dia minggu yang lalu dia pulang ke negara asalnya. Setelah pengobatan dan perawatan di negara tetangga hampir satu tahun, dokter Albert, dokter yang bertanggung jawab merawatnya menyatakan dirinya sembuh total membuat Karina bahagia dan semangat hidupnya mulai menyala.


Tentu saja dengan sang kakak, Ivan yang tak lain dokter Ivan memilih untuk cuti mengurus rumah sakit demi menjaga sang adik melakukan terapi dan menjadi bodyguard dadakan sang adik setelah pulang dari pengobatannya dan dinyatakan sembuh total. Tapi ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh Ivan seperti yang dikatakan tadi.


Dan selama berada di tanah air, dokter Nathan, papa mereka memberikan restoran milik keluarga Mulia yang merupakan restoran milik sang mama semasa hidupnya yang sekarang hanya diserahkan pada orang kepercayaannya untuk mengurusnya.


Awalnya Karina menolak karena dia sudah memiliki sebuah butik yang akhirnya membuat Karina enggan untuk datang ke butik miliknya sendiri yang sudah lama ditinggalkannya.


"Kau akan menemuinya?" Tanya Ivan setelah melihat adiknya tidak sibuk lagi dengan pekerjaannya. Karina terdiam, tubuhnya menegang. Setelah melihat beberapa waktu lalu suaminya berduaan dengan seorang wanita cantik berhijab syar'i pula membuat Karina ragu untuk menemui suaminya lagi.


"Kakak bisa meninggalkanku, aku sedang sibuk." Usir Karina dengan nada lembut tak berani menatap sang kakak malah pura-pura sibuk dengan kertas-kertas di mejanya.


"Bisa saja wanita itu adalah rekan bisnisnya." Ucap Ivan menghibur adiknya agar tidak salah paham.


Rekan bisnisnya? Sejak dulu, suaminya tak pernah mempunyai rekan bisnis wanita, kalau pun ada, mereka mungkin sekretaris yang mendampingi. Namun saat itu dia melihat keduanya tampak akrab dan bercanda dengan tertawa bahagia. Apa benar hanya rekan bisnis? Sedangkan informasi yang didengarnya dari percakapan papa dan kakaknya sebelum mereka pulang ke tanah air, sikap suaminya tampak dingin dan datar saat bersama siapapun termasuk seorang wanita yang dikenal ataupun tidak dikenalnya. Batin Karina berkecamuk.


"Dek.." Tidak ada sahutan dari Karina.


"Dek..." Lagi-lagi tidak dijawab bahkan menatap dirinya pun tidak.


"Karin." Seru Ivan lebih kencang.


"Eh, iya kak?" Sontak Karina mendongak menatap sang kakak yang menghela nafas panjang sambil menatapnya.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Ivan yang didiamkan oleh Karina.


"Lebih baik kau tanyakan langsung padanya, siapa wanita itu. Aku yakin mereka tidak ada hubungan apapun." Hibur Ivan.


"Bagaimana kalau mereka ada hubungan?" Tanya Karina menatap Ivan lekat membuat Ivan sedikit terkejut. Tampak raut wajah cemburu di wajah adiknya. Senyum tipis terlihat di wajah Ivan meski Karina tidak menyadarinya.


"Bagaimana pun kau masih istrinya, kau belum bercerai dengannya. Kau masih berhak atas dirinya. Kalau pun dia memiliki wanita lain, kau bisa menuntut perceraian atau mempertahankan pernikahanmu." Hibur Ivan membuat Karina terdiam. Namun dia ragu suaminya masih mencintainya, sudah hampir setahun dia pergi tanpa kabar. Itu juga sudah menjadikan pernikahan mereka tidak sah secara agama.


"Sudah hampir sore, kita pulang. Papa mengadakan makan malam keluarga besar untuk memperkenalkanmu. Kau sudah siap kan?" Tanya Ivan.


"Iya kak, aku harus siap." Jawab Karina memaksakan senyumnya.


.


.


TBC