
20 menit kemudian.
Jihan dan Arick akhirnya keluar dari dalam minimarket, awalnya hanya ingin membeli pembalut namun malah berbuah jadi berbelanja beberapa kebutuhan.
Demi belama-lama di dalam sana.
"Mas, kamu jodohin Dimas sama Asih ya?" tanya Jihan yang mulai memahami maksud sang suami.
Arick tersenyum, ketahuan juga. Pikirnya. Lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi kan Asih sudah punya kekasih Mas di kampungnya sana." Jelas Jihan sungguh-sungguh dan senyum Arick langsung menghilang.
"Ha? benarkah?" tanyanya terkejut dan Jihan mengangguk.
"Mana aku tahu kalau Asih sudah memiliki kekasih, yang aku tahu hanya Dimas menyukai dia. Karena itulah aku sedikit memberinya kesempatan." Jelas Arick dan Jihan terkekeh.
Saat sudah semakin dekat dengan mobil, dilihatlah oleh keduanya Dimas yang keluar dari dalam mobil itu dengan wajah yang murung.
"Hem, ada yang patah hati sayang," bisik Arick dan Jihan hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Percintaan anak muda memang lucu, pikirnya.
Dimas buru-buru mengambil 3 kantong plastik di tangan Arick dan membawanya ke bagasi. Sedangkan Arick membukakan pintu untuk istrinya segara masuk dan duduk disana.
Sebelum ikut masuk, ia meminta Dimas untuk mendekat.
Mereka berbincang sejenak di samping mobil itu.
"Dim, maaf ya, saya mana tahu kalau Asih sudah memiliki kekasih," ucap Arick sambil menepuk pundak sang supir.
"Itu bapak tahu," jawab Dimas cepat.
"Baru tahu," kilah Arick tak kalah cepat.
"Kamu sudah menyerah?" tanya Arick menyelidik dan dilihatnya Dimas yang menggeleng.
"Belum Pak, lagipula saya belum berusaha, tadi hanya bertanya-tanya dan ternyata Asih sudah memiliki kekasih, Ilham namanya," desis Dimas dengan wajah yang murung.
Arick terkekeh.
"Kamu yakin belum menyerah? kalau yakin saya punya ide," tawar Arick dan Dimas langsung menatapnya penuh harap.
"Yakin Pak, saya belum menyerah, apa idenya?" tanya Dimas tidak sabaran.
"Lamar Asih dan segera nikahi dia, tantang juga pacarnya itu untuk melakukan hal yang sama. Ibaratnya siapa cepat dia dapat. Lagipula, wanita lebih suka kepastian daripada hanya pacaran-pacaran tidak jelas."
Benar. Batinnya yakin.
Lagipula kini ia sudah memiliki pekerjaan, Dimas yakin bisa menghidupi Asih dengan layak.
"Terima kasih Pak," ucap Dimas dengan senyum yang mulai kembali.
Dan Arick mengangguk.
Akhirnya kedua pria ini berpisah setelah saling bersepakat. Lalu memasuki mobilnya masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di rumah, Jihan lalu mengantar anak-anaknya ke kamar baby ZAJ. Sementara Arick langsung menuju kamarnya sendiri.
Jihan dan Puji saling pandang, setelah memperhatikan Asih dan Melisa yang seperti melamun. Seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing dan saling mendiami.
"Asih, Melisa? kalian kenapa?" tanya Jihan sedikit cemas. Jihan tidak ingin kedua babysisternya terlibat masalah.
Kedua wanita yang dipanggil ini kompak mengabgkat wajah dan menatap sang majikan.
"Tidak ada apa-apa Bu," jawab mereka berdua kompak.
Dan Jihan makin mengeryit bingung.
"Gara-gara Dimas ya?" tebak Puji langsung dan mengagetkan kedua wanita itu.
Benar, pikir Asih dan Melisa kompak.
Asih bingung sendiri dengan perasaanya, karena tiap kali berdekatan dengan Dimas jantungnya selalu berdetak tak beraturan. Sementara detak itu harusnya hanya ia tujukan pada sang kekasih, Ilham. Selain itu ia juga merasa bersalah pada Melisa, karena selama ini ia tahu Melisa menyukai Dimas.
Sementara Melisa patah hati, kini ia tahu jika Dimas menyukai Asih. Itu tergambar jelas di wajah sang pujaan hati, kala mendengar mana Asih wajahnya langsung berseri. Melisa pun malu karena selama ini selalu melarang Asih untuk menyukai Dimas.
"Asih, Melisa, jodoh itu sudah ada yang mengatur, jadi jangan terlalu kalian pikirkan. Apalagi sampai membuat kita sesama wanita saling bermusuhan," jelas Jihan, Asih dan Melisa baginya sudah seperti adik, ia tak mau kedua adiknya itu berselisih paham.
"Memperbaiki diri sambil menunggu jodoh itu datang adalah pilihan yang paling tepat, kalian pernah dengar kan, kalau jodoh itu adalah cerminan diri kita," ucap Jihan lagi dan Asih Melisa mengangguk setuju.
"Siapapun itu jodoh kalian nanti, entah Dimas atau bukan, pasti adalah yang terbaik dari Allah. Jadi jangan terlalu bersedih perihal jodoh, Ya?" tanya Jihan dan lagi-lagi Asih dan Melisa mengangguk.
Benar, siapapun jodoh mereka nanti itu adalah takdir dari Allah. Asih dan Melisa saling memeluk, memberi ketenangan satu sama lain. Ihklas dan menyerahkan semuanya pada kuasa Allah.
"Anak muda," desis Puji dengan terkekeh.