Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 64


Namun sayang, berulang kali Puji menghubungi nomor Arick, tapi nomor itu ternyata tidak aktif.


Puji tidak tahu, jika Arick dan Jihan sudah membuat kesepakatan. Jika sedang menyetir sendirian sebaiknya ponsel di nonaktifkan. Untuk menghindari terjadinya kecelakaan karena menelpon saat sedang mengemudi.


"Ya Allah, kok nomornya pak Arick tidak aktif ya?" cemas Puji, meski begitu ia masih terus mencoba menghubungi.


"Mungkin ponselnya dimatikan Bude, karena sedang mengemudi," tebak Asih dan dibenarkan oleh Puji.


Akhirnya Puji menyerah, hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


30 menit kemudian, akhirnya Jihan dan semua orang sampai di rumah sakit. Ternyata dokter Diah sedang menangani pasien lain yang sedang melahirkan, akhirnya Jihan dilarikan ke UGD untuk mendeteksi kontraksi dan juga detak jantung janin yang disebut Cardiotopography (CTG).


Dari hasil CTG dinyatakan bahwa kontraksi Jihan sudah cukup berdekatan yang artinya bayi dalam kandungan sudah tidak sabar lagi untuk lahir, akhirnya Jihan pun diharuskan rawat inap.


Setengah jam kemudian dokter Diah datang dan langsung melakukan pemeriksaan melalui USG.


"Bayi 1 sudah berada di jalur lahir Bu," jelas Diah pada Sofia yang ikut masuk mendampingi Jihan.


"Jadi sekarang sudah saatnya lahir Dok?" tanya Sofia tidak sabaran.


Diah tidak langsung menjawab, ia memberi sedikit jeda.


"Dengan kondisi usia kandungan Jihan, bisa saja kita melahirkan bayi-bayi ini, namun hal yang paling dikhawatirkan adalah kondisi paru-paru bayi dan juga berat badan bayi. Dari hasil USG berat badan bayi 1 adalah 2,1kg dan bayi 2 adalah 2kg. Jadi sebaiknya kita tunda dulu untuk melahirkan." jelas Diah hati-hati.


"Jihan harus dirawat inap 1 malam dan diberi obat untuk menahan kontraksi, jika besok kontraksi bisa berkurang, maka Jihan diperbolehkan pulang dan menunggu 1 minggu dengan syarat Jihan tidak boleh ada kegiatan sedikitpun dan full bed rest, akan tetapi jika kontraksi tidak berkurang maka Jihan harus melahirkan saat itu juga, dengan semua resiko yang ada," tambah Diah.


Sofia yang mendengarkan itu merasa pilu, tak tega melihat kesakitan Jihan. Ia pun bingung harus bagaimana, hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Allah dan juga Diah sebagai dokter kandungan Jihan.


"Saya akan memberi obat untuk paru-paru si janin agar bisa lebih matang jika kondisi Jihan tidak sesuai harapan." ucap Diah.


Air mata Jihan mengalir dengan deras, ia menangis tanpa suara. Rasa sakitnya kini sudah tak terasa lagi, berubah menjadi kesedihan yang amat sangat mendalam. memikirkan nasib kedua anaknya.


Sofia mengelus lembut tangan Jihan, ia mengangguk kecil meminta Jihan untuk menyetujui keputusan dokter Diah itu.


Dan Jihan pun hanya bisa menurut, ia mengangguk kecil sebagai jawabannya.


Akhirnya Jihan di rawat dulu, dan dokter Diah mulai menyuntikkan beberapa obat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dengan perlahan, Arick mulai memarkirkan mobilnya di area parkir Villa Jaya. Ia mengambil tas kerja dan mulai turun dari dalam mobil.


Arick ingin segera memerika pembangunan Cafe, juga menyerahkan beberapa gambar design perabot yang diinginkan olehnya dan Jodi.


Sambil berjalan, Arick mengambil ponselnya dan mulai menekan tombol power, berniat menghidupkan ponsel itu.


Langkahnya terhenti ketika ia melihat banyak panggilan tak terjawab dari sang istri, Jasmin dan Selena.


Hatinya mulai merasa cemas, buru-buru ia langsung menghubungi nomor Jihan.


Untunglah, dipanggilan pertama, panggilam Arick itu langsung mendapat jawab.


"Assalamualaikum Ji, sayang ada apa? semuanya baik-baik saja kan?" Tanya Arick tergesa, bahkan salamnya pun belum mendapat jawaban.


"Walaikumsalam Pak, ini saya Asih."


"Loh Sih, ibu mana?" tanya Arick, ia merasa heran kenapa ponsel sang istri diangkat oleh Asih, lancang sekali, pikirnya.


"Em anu Pak, I-ibu masuk rumah sakit, tadi kontraksi lagi, tapi belum bisa melahirkan, harus dirawat dulu," jawab Asih takut-takut bercampur cemas.


Arick terdiam, seolah dunia berhenti berputar dan dia jatuh melayang tanpa dasar.


"Pak."


"Pak."


"Pak."


"Kenapa pak Arick pergi lagi?" gumam Rosa pelan, ia memperhatikan mobil Arick yang mundur dengan gegabah, lalu melaju keluar area Villa dengan kecepatan tinggi.


"Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada pak Arick." gumam Rosa lagi yang merasa cemas, melihat dari cara Arick membawa mobil itu, ia tahu saat ini Arick sedang tidak baik-baik saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pikiran Arick kacau, matanya terasa panas seolah ingin menangis. Yang bisa ia lakukam kini hanyalah mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ingin segera menemui sang istri.


Ya Allah, hamba mohon, lindungilah istri dan anak-anak hamba. Berilah keselamatan untuk mereka semua, hamba mohon.


Astagfirulahalazim, Astagfirulahalazim, Astagfirulahalazim ....


Ciittt!!!!


"Astagfirulahalazim." ucap Arick terkejut, hampir saja ia menabrak seekor kucing.


Hatinya semakin cemas, takut-takut jika ini adalah pertanda buruk. Ia hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Allah, ia dan Jihan masih bisa bertemu dan berkumpul dengan anak-anak mereka.


Subhaanalladzii sakkhara lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun.


Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali.


Kini Arick mulai memelankan laju kendaraannya, melaju dengan lebih hati-hati menuju kota Jakarta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jasmin, Selena dan Jodi sudah berada di rumah sakit, Kris dan Haris belum bisa datang karena pekerjaan.


Kini semua orang berkumpul di ruang rawat Jihan. Jihan di rawat di ruang VVIP dan ruangan itu bisa mencakup cukup banyak orang.


Sofia sengaja tidak memberi kabar tentang Jihan pada Nami, karena saat ini Nami, Faruq, Aluna dan Rizky sedang menjalani Umroh di tanah suci, Mekkah.


Takut membuat Nami cemas, akhirnya ia memilih diam.


"Ji." Panggil Jasmin pelan, kini ia dan Selena duduk disisi ranjanh Jihan.


Keduanya benar-benar tak tega melihat kondisi Jihan kini. Tangannya dipasang infus dan terlihat jelas kesedihan diwajah Jihan.


"Semuanya akan baik-baik saja," ucap Selena dengan sesenggukan, sedari tadi ia tak berhenti menangis. Rasanya-rasanya Jamin ingin sekali mengusir Selena. Bukannya menguatkan ia malah membuat Jihan semakin sedih.


"Kata Asih, Arick sudah kembali ke Jakarta. Mungkin Allah ingin kamu lahir di dampingi Arick, karena itulah ia memberi jalan untuk menunda kelahiran si kembar," jelas Jasmin, ia berusaha sebaik mungkin untuk membuat Jihan kembali bangkit dari keterpurukannya.


Jihan hanya bisa mengangguk kecil sebagai jawaban, lidahnya kelu dan mulutnya terasa berat untuk buka suara.


Tidak, aku harus kuat demi anak-anak. Kita harus semangat sayang. Batin Jihan, ia mengelus perutnya sendiri dan kedua anaknya menendang sebagai jawaban.


.


.


.


Mohon maaf, updatenya tidak teratur, selain mau lebaran authornya juga punya cerita baru 😅


Berhubung ini lebelnya udah tamat, jadi fokusnya ke yg masih Up, maaf ya. Walaupun disini lebih rame pembaca, tapi author tetep pilih cerita baru untuk difokuskan dulu. Sekali lagi maaf ya kalau updatenya luama sampe kalian lupa alurnya 😅😅😅


Mohon maaf lahir dan batin 🌹🙏


yuk mampir