
"Kita harus membawanya ke rumah sakit." Ucap dokter Ivan setelah dia memeriksa tubuh keseluruhan Karina.
"Apa harus sekarang?" Tanya dokter Nathan saat melihat sang putra keluar dari kamar Karina.
"Kondisinya buruk, stres dan tekanan membuat luka kembali menganga, bahkan jahitan mengeluarkan darah terus menerus. Jika tidak segera ditangani di ruang operasi dia akan kehilangan banyak darah." Jelas dokter Ivan menatap sang papa intens.
Dokter Nathan terdiam, dia tak mau membawanya ke rumah sakit. Karena tak mau suaminya menemukannya. Setelah melihat keadaan putrinya yang jauh dari kata baik-baik saja membuat dokter Nathan untuk membawa kembali putrinya. Kalau perlu dia akan melakukan gugatan perceraian pada suami putrinya itu karena gagal membahagiakannya. Meski tidak secara langsung menyakiti.
"Siapkan peralatannya, kita lakukan di sini saja!" Putus dokter Nathan membuat dokter Ivan tercengang tak percaya.
"Pa, itu tidak bisa ditangani seperti itu?" Protes dokter Ivan menatap papanya dengan raut wajah yang campur aduk. Kesal, marah, kecewa dan tak percaya.
"Bisa. Aku bisa." Jawab dokter Nathan tegas tak mau dibantah. Dia pun menoleh menatap Ramon yang masih setia di sisinya setelah memberikan perintah pada orang-orangnya tadi.
"Baik tuan." Jawab Ramon patuh.
"Paman, jangan dengarkan ucapan konyol papa!" Cegah dokter Ivan kembali menoleh menatap sang papa yang mencoba menghindari kontak mata dengan putranya itu.
"Pa, kita tidak bisa seenaknya melakukan hal itu pada pasien. Kondisi Karina serius. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Peralatan disana lebih lengkap!" Bujuk dokter Ivan.
"Kalau papa bilang siapkan disini lakukan disini!" Tegas dokter Nathan lagi pergi dari sana diikuti Ramon. Ramon sendiri tak mau membantah. Apapun titah sang majikan dia hanya bisa menjawab iya tanpa membantah meski titah sang tuan adalah mustahil. Namun entah bagaimana caranya Ramon bisa melakukannya tanpa kesalahan dengan cara apapun. Meski harus menghalalkan segala cara.
"Papa!" Seru dokter Ivan tak digubris oleh dokter Nathan.
"Kau hanya perlu menghubungi tim operasimu!" Ucap dokter Nathan sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya.
"****." Umpat dokter Ivan yang selama hidupnya baru saja mengumpat. Sebelumnya meski mengumpat, dokter Ivan melakukan dalam hati tak pernah menunjukkan emosinya di luar kesadarannya.
Dokter Ivan terpaksa menuruti perintah sang papa kalau ingin nyawa Karina baik-baik saja tidak Karina sekarang adiknya, adik kandungnya, adik yang selama ini dikira mati, adik yang selama ini yang mampu menggetarkan hatinya untuk pertama kalinya.
Dia pun meraih ponselnya menghubungi tim dokter untuk operasi darurat pada Karina. Untung saja semuanya menyanggupinya meski sudah lewat jam kerja. Entah karena rasa kemanusiaan atau karena tak bisa menolak karena titah sang direktur utama rumah sakit tempat mereka bekerja. Yang jelas dalam lima belas menit mereka harus tiba di kediaman mansion dokter Ivan seperti alamat yang dikirimkan lewat chat room.
Tak sampai lima belas menit, salah satu kamar di mansion besar milik dokter Nathan sudah seperti meja ruang operasi. Entah sejak kapan kamar itu berubah menjadi ruang darurat operasi untuk pasien. Seolah kamar itu memang sejak lama disiapkan. Tapi mengingat keluarga mereka adalah dokter semua, tak menutup kemungkinan dokter Nathan memang sebenarnya sudah memiliki kamar operasi yang bisa digunakan sewaktu-waktu secara mendadak dan darurat.
Setengah jam kemudian operasi sudah siap dan akan segera dimulai. Awalnya tim dokter itu tersentak kaget mendengar mereka akan melakukan operasi darurat pada seorang pasien. Dan mereka kembali terkejut saat tahu siapa pasien tersebut. Tentu saja pasien khusus dokter Ivan. Mereka bahkan hanya bisa diam tak berani bertanya tentang siapa dan apa hubungannya dengan keluarga dokter Ivan.
Dan lagi saat melihat dokter Nathan juga ada disana membuat mereka tak kalah terkejut lagi. Karena mereka memang tidak tahu ada hubungan apa dokter Ivan dan dokter Nathan selama ini. Dan setelah mereka memperhatikan dengan seksama. Keduanya memang memiliki kemiripan sebagai anak dan ayah. Namun mereka tetap hanya diam tak berkomentar apapun.
.
.
"Ada apa sebenarnya tuan?" Tanya Edo menatap Riko yang terlihat cemas. Keduanya memang tak berkenalan secara resmi karena Johan memang tak pernah mempertemukan mereka. Karena memang tidak perlu untuk bertemu.
"Aku Riko." Riko mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan disambut baik oleh Edo.
"Saya Edo."
"Tawanan kami kabur. Aku ingin mengabari hal itu. Namun melihat kondisi bos seperti ini membuatku urung mengatakannya. Dia sungguh sangat terpukul dengan kepergian istrinya." Jelas Riko sambil pergi meninggalkan kamar pribadi Johan setelah diperiksa dokter dan mengatakan Johan hanya stres dan kelelahan serta tekanan yang berlebihan hingga membuat Johan shock.
"Aku akan mencari dengan yang lain keberadaannya. Aku hanya minta tolong padamu. Tolong jaga bos!" Ucap Riko menatap Edo penuh harap.
"Tentu saja."
"Aku akan menambah bodyguard di samping bos untuk menjaga bos jika butuh sesuatu." Edo hanya mengangguk.
"Aku pamit." Edo pun hanya mengangguk.
.
.
"Ada apa sejak kemarin ramai sekali?" Tanya Ambar saat dia duduk di meja makan pagi itu.
"Nyonya muda pergi nyonya." Jawab bibi.
"Baguslah! Seharusnya sejak lama." Ucap Ambar dengan nada sinis.
Bibi hanya mengelus dada sabar tak percaya melihat ucapan sinis majikannya. Dia selalu kaget saat melihat perlakuan buruk majikannya pada menantunya yang tidak pernah disukainya itu. Apalagi setelah Ken meninggal semakin buruk saja perlakuan sang nyonya pada menantunya.
"Selamat pagi nenek." Sapa Ine muncul di ruang makan sudah rapi dengan seragam sekolahnya diikuti Celine yang juga sudah rapi untuk berangkat kerja.
"Selamat pagi bu." Sapa Celine sopan.
"Selamat pagi sayang. Wah, cucu nenek sudah cantik mau sekolah ya?" Sapa balik Ambar tersenyum ramah pada sang cucu.
"Pagi juga, kamu juga sudah siap?" Sapa balik Ambar pada Celine ramah juga. Sungguh berbeda sekali perlakuannya pada sang menantu yang sah.
"Iya Bu." Jawab Celine sopan duduk di kursi makan di sebelah putrinya.
"Nenek nanti pulang sekolah kita jadi ke taman bermain kan?" Tanya Ine menatap Ambar penuh harap.
"Tentu saja, nanti nenek jemput ya, nenek akan ajak Ine ke taman bermain." Jawab Ambar tersenyum sumringah.
"Asyik... ke taman bermain. Terima kasih nenek. Boleh kan ma?" Tanya Ine menatap sang mama.
"Ine sayang, Janji nggak boleh nakal ya?" Ucap Celine.
"Okey mama." Jawab Celine membuat Ambar tertawa bahagia. Diikuti Celine ikut tersenyum bahagia melihat putrinya bahagia juga.
.
.
tbc