Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 33


Hari ini peresmian toko Anin yang baru di buka, Anin mengadakan syukuran kecil bersama karyawannya dan orang tua Dimas juga Dina yang datang. 


Tidak hanya itu Anin juga membagikan nasi kotak pada toko-toko disebelahnya sebagai menyambung tali silahturahmi juga rasa syukurnya.


"Alhamdulillah toko brownis Anindira sudah resmi di buka semoga usaha ini lancar ke depannya." sambutan Dimas di penuhi dengan tepuk tangan yang lainnya.


"Kalian silahkan nikmati makanannya nanti siang jam 10 kita sudah harus bekerja karena sudah ada sepulub pesanan online yang harus diantar hari ini!" lanjut Dimas.


"Wahh sepuluh, kita harus semangat!!" ucap karyawannya.


Anin dan Dimas tersenyum melihat antusias dari karyawannya dengan muka sumringah. Ibu dan Bapak nampak sedang menikmati bermain dengan Afifa yang sejak tadi di pangkuan mereka tengah tertawa lepas dengan gigi yang baru tumbuhnya.


"Mas gak makan?" tanya Anin.


"Belum lapar." ucap Dimas.


Anin mengambil piring dan menaruh nasi kuning, ayam dan tumis tempe ia menyuapkannya pada Dimas agar makan barang sesuap karena sejak pagi mereka belum sarapan.


"Ayo makan Mas,"


"Kamu juga makan ya," ucap Dimas sambil memakan suapan Anin.


Anin tersenyum mengangguk lalu memberikan piringnya pada Dimas, Anin mengambil botol susu formula untuk Afifa karena sudah waktunya ia tidur. Sejak tadi sudah menguap beberapa kali dan sekarang sudah mulai rewel karena mengantuk.


"Bu, biar Afifa sama Anin aja kayaknya udah ngantuk juga, Ibu sama Bapak makan dulu," ucap Anin.


"Kayaknya memang ngantuk nih, yaudah kamu tidurin dia dulu aja," ucap Ibu.


Anin mengambil Afifa dan mengendongkannya dengan ngedongan sambil mengayunkannya agar tertidur. Meskipun sedikit rewel namun akhirnya ia pun tertidur sendiri karena kelelahan sedangkan Dimas telihat sibuk dengan ponselnya tanpa ikut berbincang dengan yang lainnya


"Teh, sekarang gak bikin maket lagi?" tanya Dina.


"Nggak dek, lagian waktunya juga lama yang ordernya juga gak terlalu banyak,"


"Gimana kuliah kamu?" lanjut Anin.


"Alhamdulillah lancar teh udah mulai ikut praktek juga kemaren di rumah sakit,"


"Kuliah yang bener ya jadi perawat itu sama tanggung jawabnya kayak Dokter,"


"Siap teteh ku sayang." ucap Dina tersenyum.


"Eh Din teteh mau tanya,"


"Mau tanya apa?"


Anin tampak berpikir sejenak sambil menatap ruangan, orang-orang masih sibuk berbincang dan menikmati makanan mereka Anin melihat Dimas yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Kamu mulai pake hijab dari kapan?" tanya Anin pelan.


"Dari kelas empat," ucap Dina.


"Dari sekolah dasar kamu udah berhijab?" tanya Anin terkejut.


"Iya teh kan Adek sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah jadi harus pake kerudung cuman kalau buat sehari-hari mulainya dari kelas empat soalnya disuruh Ibu sama Bapak."


"Oh gitu ya." ucap Anin dengan senyum canggung.


"Kenapa memangnya?"


"Gapapa, cuman penasaran aja kamu kan sehari-hari berhijab,"


"Iya teh kan udah kewajiban sebagai wanita muslim harus berhijab dan Bapak sama Ibu juga nyuruh Adek berhijab, aku awalnya takut sama Bapak karena di suruh-suruh tapi sekarang aku sadar kalau berhijab itu memang kewajiban." jelas Dina.


"Memang sih, teteh juga ingin berhijab," ucap Anin.


"Beneran teh? Wah kalau teteh berhijab pasti Mas Dimas bakalan seneng banget, soalnya dulu Mas pernah bilang kalau nanti punya istri pengen berhijab." ucap Dina.


Anin terdiam saat Dina berkata begitu pantas saja Dimas kemarin menyuruhnya berhijab. Bukan Anin tak mau menuruti entah mengapa dirasa hatinya belum siap, namun ia tahu sudah kewajiban umat muslim wanita untuk menutup aurat.


"Teh jangan dipaksakan kalau belum siap, kalau teteh sudah mantap dan hati teteh yakin teteh boleh minta tolong sama Dina buat bantuin cari baju dan kerudung nanti aku bantuin caranya," ucap Dina yang tahu Anin bimbang.


"Makasih dek, inshallah teteh juga lagi coba buat mantapin hati, teteh takut belum siap terus nanti dilepas lagi."


"Coba dulu aja teh gak usah harus nunggu siap banget, teteh bisa coba kalau ke pasar pake hijab atau belanja atau datang ke toko pake hijab pokoknya kalau ketemu orang-orang luar aja nanti kalau sudah terbiasa teteh bakalan malu sendiri kalau mau dilepasin hijabnya yang penting niat dihati bener-bener,"


"Nanti teteh coba, makasih sarannya."


Dina tersenyum kemudian berpamitan pergi karena sudah ada janji, Ibu dan Bapak juga berpamitan pulang karena toko juga akan mulai di buka dan karyawan Anin juga sudah mulai membuat brownis pesanan.


"Nin kita pulang sekarang?" tanya Dimas.


"Anin mau nyicipin brownis buatan mereka dulu Mas takutnya nanti gak sesuai rasanya, Afifa biar di tidurin di kamar atas aja" ucap Anin.


"Tapi Mas ada janji mau keluar dulu sebentar gimana?" tanya Dimas.


"Ya udah Mas pergi dulu aja nanti kalau sudah selesai jemput kita," ucap Anin tersenyum.


"Ya udah kamu tunggu di sini jangan sampai pulang sebelum Mas jemput!"


"Iya Mas." jawab Anin membawa Afifa ke atas.


Dimas sudah menyiapkan ruangan atas untuk dijadikan kamar dan tempat bermain untuk Afifa, ia sengaja mendekorasi ruangan atas agar jika Afifa ikut ia bisa tidur di sana bersama Anin karena ia sudah tahu istrinya itu akan sering datang bersama anaknya ke toko.


*-*-*-*-*


Dimas mendapatkan telepon dari pak Herman polisi yang juga teman Ayahnya itu, beliau bilang ia sudah mengetahui siapa yang di telepon oleh Gilang dan menyuruh Dimas untuk datang ke kantor polisi karena ada beberapa hal yang mereka tanyakan juga.


"Bagaimana Pak?" tanya Dimas


"Ini nomor telepon dan namanya," ucap Pak Herman.


"Evan?" ucap Dimas terkejut.


"Dimas, sebenarnya ada yang saya ingin tanyakan sama kamu," ucap Pak Herman.


"Ada apa?"


"Seminggu yang lalu bapak kamu ke sini dan beliau bilang perusahaan kamu sedang dalam masalah karena ada orang yang ingin menghancurkannya, apa orang ini dan nomor telepon yang ia tuju adalah pelakunya?" tanya Pak Herman.


Dimas terdiam ia binggung menjawab apa karena masalahnya jika polisi tahu sudah pasti Gilang dan Evan akan diringkus ia bukannya tak ingin pelakunya dapat ganjaran hanya saja ia juga harus tahu secara jelas apa motif yang tersembunyi di balik pengkhianatan Gilang sahabatnya.


"Dia sahabat saya, saya juga tidak tahu mengapa dia melakukan ini mungkin karena ada kesalah pahaman diantara kami," jawab Dimas.


"Saya tahu, tapi jika kamu butuh bantuan jangan sungkan, ingat jangan sampai kamu membebaskan penjahat Dimas, karena ia bisa saja berbuat lebih sewaktu-waktu tapi saya yakin kamu juga tahu tentang ini!" ucap pak Herman.


"Iya pak, terimakasih bantuannya saya pamit dulu." ucap Dimas kemudian memberikan amplop putih.


"Eh tidak perlu." ucap Pak Herman menolak.


"Keerja keras juga harus di bayar pak," ucap Dimas tersenyum pergi.


"Anak ini tidak berubah." ucap pak Herman.


Pak Herman memang tidak memiliki jabatan tinggi di kepolisian dulu ia masuk polisi di bantu Bapak Dimas karena kegigihannya dan di didik olehnya. Sejak itu beliau merasa berutang budi pada Bapak Dimas dan ia juga akrab dengan keluarga Dimas.


Dimas sudah mendapatkan semua bukti-bukti dan pelaku utamanya adalah Evan, ia tak mengira lelaki itu sepertinya sangat terobsesi dengan Anin hingga melakukan hal seperti ini dan menghancurkan perusahaannya.


*-*-*-*-*


Seminggu berlalu toko brownis Anin kini sudah berjalan lebih baik banyak pesana baik online dan mereka yang langsung datang ke tempat, selain brownis Anin juga sudah mantap membuat cake biasa dan cake untuk ulang tahun dan ternyata cakenya juga cukup banyak yang minat terlebih harganya yang sangat bersahabat kebanyakan yang membelinya adalah mahasiswi.


"Hari ini masih banyak pesanan yang di kirim?" tanya Anin.


"Iya Mbak, tapi Ridwan sama Denis belum pulang soalnya nganter pesanannya juga lumayan jauh," ucap karyawannya.


"Tapi sudah semua kan?" tanya Anin.


"Sudah mbak, tinggal mereka antar aja ke alamatnya."


"Ya sudah kalau gitu saya tinggal dulu ya Afifa kasihan ditinggal di rumah sama Ayahnya takut nangis." ucap Anin.


"Eh ada satu penasan masuk." ucap karyawan itu kemudian meminta karyawan lainnya untuk membungkusnya.


"Rin, dua brownis coklat," ucapnya.


"Ada pesanan lagi?" tanya Anin.


"Iya Mbak diantar ke rumahnya," ucap Karyawannya.


"Ya udah biar saya aja yang antar sekalian pulang." ucap Anin.


"Iya tulis alamatnya dulu Mbak,"


Anin sudah mendapatkan alamatnya, ia pun melajukan motornya bersiap mengantarkan pesanan brownisnya yang alamatnya searah dengan rumahnya.


"Adinarya? Kayak kenal namanya." ucap Anin setibanya di rumah pelanggannya itu.


Anin turun dari motor dan menekan bel rumah tak berapa lama pria dengan kaos abu dan celana chino membuka pintu.


"Mas ini pesanannya," ucap Anin tersenyum kemudian terkejut.


"Hai Anin." ucap Evan tersenyum.


"Kamu yang pesan? Ini pesanannya," ucap Anin dengan wajah datar.


"Jadi brownis Anindira itu brownisnya kamu?" sambil mengambil brownisnya dari tangan Anin.


Anin hanya mengangguk sambil menatap malas ke arah Evan yang tersenyum ke arahnya, pantas saja namanya Adinarya tentunya saja itu namanya panjangnya Evan jika tahu dia yang memesan Anin lebih memilih karyawannya yang mengantarkannya.


"Aku ambil uangnya dulu, kamu mau tunggu dulu di dalam?" tanyanya.


"Gak usah aku tunggu di sini lagi buru-buru!"


"Aku ambil dulu uanganya kalau gitu," ucap Evan masuk ke dalam.


Anin menunggu Evan sedikit lama, entah dimana dia mengambil uang karena belum juga kembali bikin kesal Anin saja, ia pun memilih untuk duduk di kursi luar karena pegal menunggu sambil berdiri.


"Nih uangnya" ucapnya memberikan uang pecahan seratus.


"Makasih." ucap Anin berdiri.


"Ehh kamu mau kemana? Aku udah bikin minum kita minum dulu sebentar." ajaknya.


"Aku buru-buru Van," ucapnya.


"Sebentar aja, aku juga mau tanya kondisi papah kamu katanya harus terapi,"


Anin terdiam sejenak, ia tidak tahu kalau papahnya di terapi karena sejak kecelakaan itu Anin tidak pernah lagi menghubungi orangtuanya terlebih karena Mamahnya yang ingin Anin bercerai jika Dimas bangkrut.


"Kamu belum hubungin orang tua kamu?" tanyanya.


"Nanti telepon," ucap Anin.


"Nin hanya minum sebentar kok kamu bisa kan kita hanya ngobrol sebagai teman," ucapnya.


Anin berpikir sejenak ia bukannya ingin berada di sini lebih lama namun ia juga ingin menanyakan kabar orang tuanya dan Evan lebih mengetahui kabar orangtuanya.


"Papah kenapa harus di terapi?" tanya Anin kemudian duduk


"Papah kamu ngalami cidera di pangkal pahanya jadi agak kesulitan berjalan makanya sekarang harus terapi."


"Tapi hanya itu aja kan gak ada yang lain?" tanya Anin.


"Aku juga kurang tahu terakhir aku ke sana udah lama, kamu gak ada komunikasi? Padahal mamah sama papah kamu khawatir," ucapnya.


"Ya nanti aku tanya." ucapnya.


"Kalau gitu minum dulu kamu juga haus kan," ucapnya memberikan air sirup.


Anin mengambilnya karena tak enak juga sudah disuguhkan oleh Evan, Anin meneguknya dan menyisahkan sedikit ia memang haus sejak tadi terlebih hari sudah sore.


"Nin aku belum bilang ke kamu kalau aku sudah pindah ke sini." ucapnya


"Iya aku juga gak tahu," ucap Anin.


Tiba-tiba tubuh Anin terasa panas dan merasa sedikit mengantuk bahkan kini ia melihat Evan sedikit memburam Anin mencoba menstabilkan keadaannya, namun entah mengapa ia merasakan tubuhnya panas bahkan ia sangat menginginkan disentuh apalagi melihat Evan saat ini tersenyum ke arahnya entah mengapa ia mengingkannya


"Kamu kenapa?" tanya Evan.


"Evan." ucapnya terdengar sensual dengan mata sayu.


"Anin kamu gak kenapa-napa?" tanya Evan mendekati Anin.


"Evan tolong aku badan aku rasanya panas," ucap Anin.


Evan mencoba mendekatkan dirinya pada Anin ia memegang bahu Anin, Anin ingin menolak tangan Evan yang berani memegang bahunya namun ia juga sangat menginginkan sentuhan


"Dimana yang kerasa panas?"


"Semuanya Evan." ucap Anin.


"Biar aku bantu di dalam ya?" ucap Evan menarik Anin ke dalam rumahnya.


Anin berusaha menolak Evan yang mengajaknya masuk kerumahnya namun badannya tak berdaya sangat panas dan merasa mengantuk.


"Kita buka aja bajunya ya," ucap Evan di sofa.


"Enggak Evan, aku ingin pulang!" ucap Anin menahan tangannya di dada.


"Tapi badan kamu katanya panas, aku buka," ucapnya mencoba menarim tangan Anin dan mencoba membuka baju Anin.


Anin meronta meskipun ia menginginkan sentuhan saat ini karena tubuhnya bereaksi namun ia mau sampai menyerahkan tubuhnya pada Evan yang saat ini ingin memperkosanya.


"Tolong!!!" ucap Anin berteriak.


"Anin percuma kamu teriak tidak ada yang mendengar di sini hanya kita berdua sayang," ucap Evan.


"Evan tolong jangan begini!" ucap Anin memohon.


"Kamu yang buat aku gila Anin aku sudah lama menginginkan kamu," ucapnya.


"Tolong!!" ucap Anin.


Evan memcoba membuka kancing baju Anin sudah dua kancing atas terbuka dan Anin makin merasakan tubuhnya benar-benar bergairah namun ia masih sadar.


"Evan sialan." ucap Gilang tiba-tiba datang.


Gilang yang baru datang langsung menarik Evan dan meninjunya namun Evan malah membalasnya untuknya badan Gilang lebih besar ia dapat menahannya.


"Apa yang lo lakuin, lo mau perkosa Anin," ucap Gilang emosi.


"Eh lang lo bukannya suka sama Anin, come'on kita giliran aja dia lagi butuh tubuh kita!" ucap Evan tak waras.


"Lo gila apa yang udah loe kasih sama dia hah?" ucap Gilang melihat Anin dengan mata sayu.


"Gilang tolong," ucap Anin yang masih sedikit sadar.


"Lang apa lo mau nyia-nyain kesempat emas ini lihat tubuhnya butuh belaian ayo come'on!!" ucap Evan.


Gilang mengepalkan tangannya dan kembali memukul Evan yang sudah kehilangan akal, ia tak tahu jika Evan akan berbuat senekat ini untuk mendapatkan Anin bahkan ia sempat ikut terbujuk rayunya Evan untuk kerjasama sialan ternyata ia tertipu


"Gue gak bakal tinggal diem lo udah bikin Anin kayak gini,"


Evan sudah terduduk dengan wajah memarnya, ia tersenyum dan kemudian tertawa keras seperti orang yang kehilangan akal, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan pria satu ini.


Gilang membuka jaketnya dan memakaikannya pada Anin, Anin sedikit sadar ia membopongnya dan mencari kunci motor Anin dan mengantarkannya kerumah, Anin yang sedikit sadar memegang baju Gilang agar tidak terjatuh.


Gilang menekan bel rumah sambil merangkul Anin karena badannya sudah tak seimbang. Tak lama Dimas membuka pintu dan terkejut melihat Anin seperti mabuk


"Kenapa Anin?"


"Lo jagaian dia dulu kayaknya Evan campurin obat perangsang di minuman Anin, gue mau ke rumahnya dulu buat ngurusin dia!" ucap Gilang.


Dimas yang terkejut merangkul Anin yang kini menatap sayu ke arah Dimas bahkan kini kepalanya sudah bersandar di leher Dimas.


"Thanks udah antar loe utang tanggung jawab," ucap Dimas.


"Tenang gue bakal cari tahu!" ucapnya.


Dimas hendak menutup pintu namun Gilang buru-buru mencegahnya.


"Jaket gue sorry, tadi Evan hampir berhasil buka baju Anin jadi gue tutupin." ucap Gilang.


"Sialan!!" ucap Dimas yang sudah naik darah.


"Lo jangan marah-marah biar gue urus dulu lo urus Anin gue rasa dia lebih butuh lo saat ini," ucap Gilang menatap geli.


Dimas membalikan badan Anin dan membuka jaketnya dan memberikan pada Gilang yang kemudian sudah pergi.


Dimas melihat kancing baju atas Anin yang sudah terbuka bahkan terlihat belahan dadanya sedikit, sial hampir saja istrinya di perkosa, dan tapi mengapa bisa Anin bersama Evan dan diantar Gilang ada apa ini? Belum sempat Dimas berpikir Anin sudah mengantungkan tangannya di leher Dimas.


"Mas panas, tolong Anin." ucap Anin.


"Panas?" tanya Dimas binggung.


Anin membuka baju cepat-cepat dan Dimas hanya menelan ludahnya karena Anin nekat membuka baju dihadapannya untung saja dirumahnya tidak ada orang dan Afifa sudah dibawa orangtuanya yang tadi menjemputnya.


"Anin kita ke atas ya." ucap Dimas.


"Anin gak kuat Mas tolong bantuin Anin." ucapnya.


Dimas mengangkat tubuh Anin dan membawanya ke kamar atas, ia tidak mungkin membawa istrinya ke kamar dibawah terlebih dia dan Anin sudah pasti akan membuat sesuatu


"Mas masukin sekarang!" ucap Anin yang sudah di baringkan di ranjang.


Dimas makin takut kala Anin meminta dirinya untuk memasukinya Dimas saja belum terangsang sama sekali karena mereka belum pemanasan, Anin yang sudah bergairah sejak tadi langsung bangun dan mendorong Dimas berbaring di ranjang dan langsung mencium Dimas dengan agresif bahkan ia membuka baju Dimas dan celananya dengan cepat Dimas yang mulai terangsang membuka kaitan bra Anin dan memulai aksinya.


Keduanya saling menyalurkan gairahnya, entah berapa kali mereka melakukannya dan membuat Dimas kelelahan melayaninya karena reaksi obat perangsang Evan sepertinya sangat kuat. Dan tak lama Anin tertidur dengan peluh yang sudah menempel dibadannya, Dimas langsung menutupi tubuh Anin ia pun sudah merasa lelah mereka tertidur dengan Anin yang memeluk Dimas.