
Manusia biasanya akan tersadar setelah ditimpa musibah dan cobaan. Kelak ia menyadari bahwa Tuhan maha segalanya yang mengetahui apa yang akan terjadi.
Sudah dua hari Anin dirawat di rumah sakit untuk pemulihan, kondisinya sedikit membaik hanya saja ia belum bisa bertemu dengan banyak orang ia hanya ingin ditemani Dimas meskipun orangtuanya berada di Bandung.
"Mau makan buah?" tanya Dimas.
"Ingin mangga," ucap Anin.
Dimas mengangguk kemudian mengambil buah mangga yang sudah di kupas kulitnya, untung saja Mamah Anin tadi datang membawa mangga karena ia bilang Anin akan merasa ngidam di awal kehamilan.
"Kapan pulang?" tanya Anin.
"Nanti Mas tanya dokter,"
"Afifa gimana?"
"Dia sama Ibu baik-baik aja kemarin sempat panas badannya mungkin dia kangen kamu," ucap Dimas.
"Maafin Anin Mas." ucapnya.
Dimas hanya tersenyum mengelus kepala Anin, ia merasa bersalah karena sudah membiarkan Anin sendirian dan mengalami trauma untung saja Evan sudah tertangkap hanya menunggu sidang kasusnya
*-*-*-*-*
Empat hari sudah Anin dirawat hari ini sudah waktunya ia pulang karena kondisinya sudah membaik, Dokter juga menyarankan agar Anin tidak dibiarkan sendirian untuk beberapa waktu termasuk membiarkan dia bersama Afifa karena takut traumanya akan kembali.
Dimas binggung ingin membawa Anin ke rumah atau kerumah orang tuanya, ia takut Anin mengingat kejadian yang terjadi saat di rumahnya ia pun memilih mendiskusikannya dengan kedua orangtua Anin juga Bapak Dimas yang ikut menjemput Anin di rumah sakit.
"Lebih baik bawa Anin ke rumah kalian saja supaya traumanya cepat hilang," ucap Bapak Dimas
"Iya Dimas lebih baik bawa dia pulang ke rumah kalian bawa juga Afifa pulang supaya traumanya juga cepat hilang," ucap Mamah Anin.
Dimas hanya mengangguk setuju meskipun ada rasa tak yakin namun karena ada keluarganya ia yakin Anin akan segera pulih dari traumanya.
Sesampainya di rumah, Anin turun dari mobil menatap rumah dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Dimas, ia tahu Anin sedang mengingat kejadian yang sudah terjadi, Dimas menggenggam tangan Anin dan menuntunnya masuk ke dalam rumah mereka.
"Selamat datang Anin," ucap semua di dalam rumah.
Anin terkejut saat ia masuk ke dalam rumah sudah banyak orang yang datang, Ibu yang mengendong Afifa, Dina, Rendra, Gilang, Friska juga ke lima karyawan Anin berada di rumahnya.
"Kalian kok bisa di sini?" tanya Anin.
"Kita mau nyambut kedatangan Bos kita," ucap Rendra membuka percakapan.
"Iya kita rindu Ibu Bos," ucap salah satu karyawannya.
Anin menatap heran kemudian menatap ke arah Dimas memberi kode untuk menjelaskan, Dimas pun menjelaskan bahwa mereka datang karena keinginan sendiri dan karyawan Anin sengaja ia liburkan hari ini untuk menyambut kepulangan Anin.
"Terimakasih kejutan kalian," ucap Anin mulai terbiasa kembali.
"Sama-sama bu bos, sorry ya gak bisa nengok kemaren gue banyak kerjaan," ucap Rendra.
"So sibuk lo!" ledek Gilang yang membuat mereka tertawa.
Dimas mengajak Anin duduk tak lupa juga mertuanya yang berada di sana, Mereka semua terlihat bergembira terutama dengan keributan tiga sabahat ini yang sudah lama tidak berkumpul.
"Bu, Anin boleh gendong Afifa?" tanyanya yang membuat semuanya terdiam.
"Boleh Nak, dia kan anak kamu,"ucap Ibu tersenyum.
Anin mengendong Afifa berdiri sambil menimang-nimangnya ia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Afifa beberapa hari bahkan sampai nekat bunuh diri padahal ia sudah berjanji pada alm kakaknya menjaga anaknya dan juga Dimas.
Afifa tertidur di pangkuan Anin, ia pun memilih duduk di sofa kembali bersama Afifa yang masih ia gendong.
"Gimana sama kasusnya Evan?" tanya Anin yang membuat semuanya hening dan menoleh ke arahnya.
Mereka semua merasa tegang, pasalnya mereka sudah berdiskusi agar tak membahas masalah Evan karena takut Anin trauma, tapi dia sendiri yang membahasnya dan membuat mereka semua saling berpandangan binggung.
"Evan sudah ditangkap." ucap Dimas.
"Kaki Papah gimana sekarang? Katanya Evan yang nabrak mobil Papah waktu itu," ucap Anin.
Mamah dan Papah juga yang berada diruangan saling bertatapan binggung benar-benar tak tahu harus mengatakan seperti apa pada Anin ia takut salah bicara.
"Kaki Papah hanya cidera tulang saja, tapi sekarang memang butuh tongkat supaya lancar jalannya," jawab Papah tersenyum.
"Kenapa Evan bisa nabrak mobil Papah? Kenapa dia bisa tahu itu Papah padahal selama ini Anin gak pernah cerita tentang kalian ke dia," tanya Anin.
Semuanya ikut penasaran, termasuk Dimas dan Gilang mereka juga tahu Evan tak mengenal orangtua Anin tapi ia mencelakakannya.
"Evan bertemu Papah di kantor kecamatan ngurus surat perpindahan dia ke Bogor, dia bilang kenal dengan kamu dan pernah menjadi bos kamu, di sana kami kenal," ucap Papah.
"Nin sudah ya jangan di bahas," ucap Dimas.
"Anin harus tahu dulu motif Evan sampai Papah jadi korban?"
"Dia sempat bilang ingin menikahi kamu, Papah bilang kamu sudah menikah dengan Dimas dan memuji Dimas secara terang-terangan di depan dia mungkin karena itu dia merasa sakit hati dan nabrak mobil papah."
"Terus dia nyelamatin Papah tanpa merasa bersalah?" ucap Anin sudah kesal.
"Nak sudah ya sekarang Evan sudah ditahan dengan banyak tuntutan," ucap Mamah.
"Enggak bisa gitu Mah, Mamah Gilang juga jadi korban Evan dan masuk rumah sakit juga kan?" ucap Anin pada Gilang.
"Itu kesalahan saya Nin," jawab Gilang.
Dimas menggambil Afifa yang sudah terlelap dan menidurkannya di atas, ia mengajak Anin ke kamar namun Anin menolak dan memilih mendiskusikan masalahnya dengan Evan bersama keluarga yang sudah berkumpul.
"Waktu dia datang ke sini kejadian kedua kalinya, dia bilang kalau dia yang hancurin perusahaan Mas Dimas, dia juga ngejebak Gilang dan dia yang bikin Papah kecelakaan semuanya karena Anin," ucap Anin.
"Berhenti menyalahkan diri sendiri Anin ini bukan salah kamu!" ucap Dimas tegas.
Dimas menatap pada Anin dengan wajah serius ia tak mau Anin menyalahkan dirinya sendiri lagi dan membuatnya trauma.
"Sudah lebih baik kita makan bersama, Ibu sudah masak, Ayo Din bantu Ibu siapin," ajak Ibu berdiri.
"Iya Bu." jawab Dina.
Karyawan perempuan Anin yang merasa canggung dengan situasi yang terjadi ikut membantu Ibu menyiapkan makanan untuk mereka, sedangkan Dimas mengajak Anin ke atas sekaligus menyuruhnya mengganti baju.
"Mas gak mau kalau kamu selalu nyalahin diri kamu atas kesalahan orang lain," ucap Dimas.
"Tapi Mas.."
"Evan yang jahat itu bukan karena kamu, perusahaan ngalamin kerugian bukan karena kamu, Papah dan Mamah Gilang jadi korban bukan karena kamu semua sudah takdir Anin." tegas Dimas.
Anin terdiam menunduk meremas bajunya, sejujurnya traumanya belum sepenuhnya hilang terlebih saat sampai di rumah tadi pun ia masih mengingat bagaimana Evan masuk dan menindihnya, ia hanya berusaha menahan rasa takutnya demi keluarganya, ia mencobanya demi Afifa ia harus lakukan.
"Anin." panggil Dimas melembut memegang bahu Anin.
"Mas bisa tinggalin Anin sendirian?" ucapnya menutup mata seraya mengigit bibirnya.
Dimas menatap Anin yang nampaknya tak baik-baik saja, tak mungkin ia bisa membiarkan Anin sendirian seperti ini ia tak mau melakukan kesalahan lagi.
"Lihat Mas sekarang!" ucap Dimas.
Anin menggeleng cepat menarik bajunya dengan erat dan badannya sudah bergetar hebat, Dimas terus memegang bahu Anin ia mencoba memeluk Anin dan mengelus rambut panjangnya.
"You never walk alone!" bisik Dimas yang langsung membuat Anin terdiam dan membuka matanya.
"Liverpool itu Mas," ucap Anin tersenyum.
"I love you full." ucap Dimas.
"Love you so much," ucap Anin tersenyum.
Dimas mencium bibir Anin singkat kemudian menunggu Anin selesai mengganti baju meskipun ia menahan berat hasratnya melihat lekukan tubuh Anin yang sempurna di depan matanya, sabar Dimas ini ujian!
*-*-*-*-*
Anin sudah sedikit membaik terutama Dimas yang mengenggam tangannya sampai mereka turun ke bawah untuk makan bersama, Anin tersenyum bahagia ternyata benar kata Dimas banyak orang yang peduli dan sayang padanya, Anin tak mau menyalahkan dirinya lagi mulai saat ini.
"Teh ayo kita makan," ajak Dina.
"Anin harus banyak makan sayur," ucap Mamah mengambilkan Anin nasi.
"Ayamnya juga kasih," ucap Ibu.
"Jangan kasih sambal, mulai sekarang kurangi makan sambal!" ucap Papah.
"Tempenya kasih juga," ucap Bapak.
Anin hanya terdiam melihat orangtuanya dan mertuanya memasukan lauk pauk ke piring Anin, sungguh membingungkan ia juga dilarang Dimas mengambilkan makanan untuknya, Dimas memilih mengambil sendiri.
"Mah ini porsinya terlalu banyak," protes Anin.
"Banyak gimana, sudah makan dulu habiskan ya," ucap Mamah.
Anin hanya pasrah melihat piring di hadapannya yang sudah penuh dengan lauk pauk dan nasi ia memakannya dengan tenang, sedangkan karyawannya juga Gilang dan Rendra mereka sedang menikmati makan di ruang tamu sambil bercengkrama.
"Anin mau nambah lagi?" tanya Ibu.
"Enggak bu, ini juga belum habis,"
"Kamu mau makan apa udah ini?" tanya Mamah.
"Gak mau apa-apa ini juga udah kenyang," tolak Anin.
Anin merasa binggung dengan orang-orang yang menyuruhnya makan dengan banyak, padahal di rumah sakitpun ia makan dengan normal tapi hari ini mereka memberi porsi Anin lebih banyak seperti tidak makan satu minggu saja.
Anin sudah selesai menghabiskan nasinya meskipun masih ada sisa untungnya Dimas yang menghabiskannya karena ia tahu nasi yang sisa di piring itu mubadzir jika tidak di habiskan.
"Bu, ini susu hamilnya kata Friska ini merk yang bagus," ucap Gilang.
"Wah terima kasih, maaf jadi merepotkan," jawab Ibu.
"Tenang aja bu, buat calon keponakan baru mah gak masalah," ucap Gilang.
Anin menatap Gilang dan Ibu binggung, namun ia tak peduli dan memilih berjalan ke ruang tamu dan menemui karyawan dan Friska yang berada di sana.
"Mbak mau brownis?" tanya Rina karyawannya.
"Boleh rasa coklat aja," ucap Anin.
Rina memotong brownis coklat dan memberikannya pada Anin, tak lama Ibu datang membawa segelas susu dan memberikannya pada Anin yang sedang bercengkrama dengan yang lainnya.
"Nin minum susunya dulu,"
"Susu apa bu?" tanya Anin binggung.
"Susu hamil teh, kan teteh udah hamil," ucap Dina.
"Hamil? Kata siapa?" Ucap Anin terkejut.
"Kemarin dokter bilang kalau teh Anin hamil, kita juga ngadain syukuran buat kehamilan teteh." ucap Dina.
Anin masih kebingungan, ia mengambil susu yang masih hangat itu dan berjalan ke arah Dimas yang masih berada di meja makan, saat ini Anin butuh penjelasan bagaimana bisa ia hamil tapi tak tahu sedangkan yang lainnya sudah mengetahui lebih dulu.
"Mas maksudnya gimana?" tanya Anin.
"Apa sayang?"
"Susu ibu hamil buat Anin ini," tunjuknya.
"Kamu minum dulu ya nanti mas jelasin,"
"Jelasin dulu kenapa Anin bisa hamil?"
Dimas, Bapak dan orangtua Anin yang berada di meja makan kompak terkejut dengan pertanyaan Anin bahkan suara Anin yang keras terdengar di ruang tamu dan membuat yang lainnya juga mendengarnya.
Dimas menggaruk kepalanya yang gatal, pertanyaan Anin membuatnya malu, Anin yang sangat pintar dan cerdas bertanya hal demikian di depan orang-orang, sudah tentu ia hamil karena mereka melakukan hubungan suami-istri tak mungkin pula Dimas menjelaskannya di depan yang lainnya, Ayolah Anin!
"Kamu sudah menikah yang tentu bisa hamil," ucap Papah.
"Tapi kok bisa?" tanya Anin polos.
"Ya bisalah kan Dimas sering ngechas jadi cepet hamil!" teriak Rendra dari ruang tamu.
Suara teriakan rendra membuat mereka semua tertawa terkecuali Dimas yang kini menahan malu dengan pertanyaan istrinya dan Anin yang masih diam binggung.
Dimas mengajak Anin dan membawanya ke atas, tak mungkin pula ia menjelaskan di depan orang tua mereka, sambil membawa susu ditangannya Anin menurut mengikuti Dimas.
"Sayang kenapa kamu nanya kayak gitu?" tanya Dimas.
"Anin binggung kenapa bisa hamil!"
"Kan kita udah ngelakuin jadi bisa hamil," ucap Dimas sedikit kesal.
"Tapi perasaan Anin gak ngerasa hamil, kok bisa Anin gak sadar," tanyanya.
"Mas juga baru tahu kemarin waktu kamu di rawat, kata dokter kamu lagi hamil."
"Masa sih? Dokter salah kayaknya," ucap Anin sambil meminum susunya.
Dimas hanya menatap sendu sambil menahan nafasnya, apa Anin terlalu polos untuk hal seperti ini. Namun ia juga sadar mereka belum memeriksanya, Dimas nampak berpikir sejenak lebih baik mereka memeriksakannya langsung ke dokter kandungan.
Belum sempat Dimas berbicara Anin sudah berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, Dimas yang terkejut menghampiri Anin yang masih muntah. Dimas membawa Anin ke ranjang agar ia beristirahat kemudian ia pergi ke bawah untuk mengambil air hangat agar perut Anin terasa lebih baik. Sekarang Dimas yakin Anin memang benar-benar sedang hamil anaknya.