Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 137


"Bagaimana?" Tanya dokter Nathan menatap Ramon yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Beliau sudah terlihat baik-baik saja tuan." Jawab Ramon ambigu.


"Hmm. Apa dia terlihat dekat dengan seorang wanita?" Tanya dokter Nathan lagi.


"Lima bulan terakhir ini saya tidak melihatnya bersama wanita manapun selain pertemuan dengan klien. Itupun tidak berlangsung lama dan tatapannya terlihat dingin dan datar meski sedikit senyum yang terlihat dipaksakan." Jelas Ramon lagi.


"Aku mau melihat sampai mana dia bertahan." Ucap dokter Nathan.


"Apa kita harus mendekatkannya dengan seorang wanita penggoda?" Usul Ramon membuat dokter Nathan masih terdiam.


"Begitu juga boleh. Kau atur semuanya!" Titah dokter Nathan.


"Baik tuan."


"Tapi..." Ramon kembali mendongak menatap sang tuan sebelum dia berniat untuk pamit.


"Surat gugatan cerai itu belum kau kirimkan bukan?" Tanya dokter Nathan menatap Ramon lekat.


"Belum tuan, seperti titah anda. Saya masih menahannya. Saya masih menunggu titah dari tuan." Jawab Ramon.


"Baiklah. Aku akan kembali kesana. Kabari terus perkembangannya!" Ucapnya sebelum mengusir halus Ramon.


"Baik tuan."


.


.


"Papa tak bisa melakukan hal itu tanpa persetujuan Karin." Bantah dokter Ivan saat melihat sang papa mengatakan kalau dia akan mengirim surat gugatan cerai pada suami Karina, yaitu Johan.


"Aku bisa." Jawab dokter Nathan yakin.


"Semua bukan salahnya pa, Ivan yakin bukan Johan penyebab Karin terluka secara psikis. Ivan kenal siapa dokter Johan." Bantah dokter Ivan lagi.


"Tapi secara tidak langsung dia lah penyebab utamanya. Kalau saja Karin tidak menikah dengannya, Karin tidak akan menderita lebih lama. Sampai penyakitnya parah seperti itu. Padahal dia juga seorang dokter. Dia tidak peka sama sekali." Kesal dokter Nathan mengingat penderitaan putrinya yang telah lama hilang itu meski hanya dari orang-orang kepercayaannya.


"Pa, meski begitu Johan sangat mencintainya. Ivan tahu itu, dia sempat memperingatkanku untuk menjaga jarak dengan Karin. Dia bahkan memberikan perhatian dan cinta yang tulus padanya bahkan sebelum dia bertemu dengan kita." Bela dokter Ivan tak mau membuat adiknya kembali menderita. Dia tahu betul saat adiknya itu bercerita tentang suaminya. Dia juga tahu betul seberapa besar rasa cinta adiknya itu bahkan lebih besar dari almarhum mantan suaminya yang ternyata juga kakak Johan.


Dokter Nathan terdiam, dia tak bisa menjawab ucapan dokter Ivan. Karena bagaimanapun dia juga terlambat memberikan kasih sayang untuk putrinya. Seharusnya dia mencari keberadaan putrinya itu sejak lama. Dia pikir dirinya juga ikut andil dalam ketidak bahagiaan putrinya karena terlambat menemukannya.


"Ibu mertuanya tidak menyukainya. Aku tak mau putriku diperlakukan buruk kembali oleh wanita culas itu." Jawab dokter Nathan sudah tidak emosi lagi.


"Tapi Karin sangat mencintai suaminya. Bahkan dia rela bertahan di sisinya meski perlakuan buruk itu. Bukan membalas dendam pada Johan yang harus papa lakukan tapi pada ibunya. Setidaknya dia harus merasa menyesal karena telah membuang berlian berharga sebagai menantunya." Ucap dokter Ivan terdengar seperti nasihat.


"Aku akan menahan surat gugatan cerai itu. Aku juga ingin tahu berapa lama lagi dia akan bertahan menunggu kembalinya Karin."


"Itu lebih baik, aku juga tak mau membahas surat cerai itu lagi, tunggu sampai Karin benar-benar sembuh. Dan kita akan bahas, apa yang akan dia pilih. Bertahan di sisi suaminya atau menggugat cerai suaminya..."


Bruk


"Apa maksud kakak dengan surat cerai?" Tanya Karina menatap dokter Ivan dan dokter Nathan lekat. Bergantian, berharap salah satu dari mereka menjelaskan padanya perihal surat cerai yang mereka bicarakan.


Kalau mendengar cerita sang kakak, kakaknya sudah bercerai beberapa tahun lalu tak mungkin itu tentang surat cerainya. Untuk sang papa juga tak mungkin, papanya adalah seorang duda juga. Bahkan tadi Karina sempat mendengar nama suaminya disebut meski tidak keseluruhan.


"Karin, apa yang kamu lakukan disini?" Cemas dokter Ivan melihat Karina keluar dari kamarnya tanpa kursi rodanya. Dia pun sontak mendekati tubuh adiknya.


"Katakan apa yang tadi kalian bicarakan kak?" Tanya Karina tak menggubris pertanyaan Ivan.


"Papa ingin kamu bercerai." Bukan Ivan yang menjawab tapi dokter Nathan yang menjawabnya menatap Karina lembut. Keduanya sontak menoleh menatap dokter Nathan.


"Pa, hentikan!" Sentak Ivan menatap papanya marah. Baru kali ini dia berani pada papanya. Dia tak mau adiknya kembali down karena mengetahui kabar buruk ini.


"Apa maksud papa? Mas Johan gak salah pa, yang salah hanya ibunya. Meski begitu Karin baik-baik saja. Karin adalah istrinya pa." Pinta Karina sedih membuat air matanya jatuh berlinangan.


"Wanita itu juga akan mendapatkan balasan yang setimpal." Jawab dokter Nathan dingin tak mau putrinya berbelas kasihan pada mereka yang telah membuat keadaan putrinya tidak baik-baik saja.


"Tapi bukan berarti aku harus bercerai pa, aku mencintainya. Aku menyayanginya. Bahkan aku rela menukar nyawaku untuknya pa. Kumohon jangan pisahkan kami!" Pinta Karina refleks berlutut entah karena sudah tidak kuat berdiri atau karena memang ingin memohon di hadapan sang papa. Air matanya semakin deras mengalir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya memohon pada sang papa. Bahkan kedua tangannya sudah menangkup di depan dadanya.


"Karin, apa yang kamu lakukan? Berdirilah, tubuhmu belum baik-baik saja!" Bujuk Ivan membantu adiknya berdiri namun Karina masih tak bergeming. Dokter Nathan menatap nanar pada putrinya. Dia sebenarnya kasihan pada putrinya, hanya demi pria itu dia memohon untuknya.


"Pa, katakan sesuatu!" Seru Ivan membuat dokter Nathan tersadar.


"Papa masih menahannya, papa belum mengirimkan padanya." Jawaban dokter Nathan sedikit melegakan hati Karina, hingga dia pun kembali pingsan yang langsung refleks diangkat Ivan untuk dibawa ke kamarnya.


"Karin!" Seru Ivan membuat dokter Nathan cemas.


"Sayang, Karin!" Seru dokter Nathan mengikuti langkah Ivan masuk ke dalam kamar.


.


.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya dokter Nathan setelah Ivan memeriksa tubuh Karina.


"Dia hanya shock. Ini semua karena papa." Tuding Ivan membuat dokter Nathan menundukkan kepalanya merasa bersalah. Dia duduk di sofa dekat ranjang Karina menutup wajahnya dengan kedua tangannya menyesali ucapannya.


"Papa ingin dia bahagia. Tapi bukan dengan pria yang sudah membuatnya sakit." Bisik dokter Nathan membuat Ivan paham seberapa cemas dan khawatirnya sang papa. Dia memang seposesif itu padanya juga adik-adiknya yang lain. Namun karena Karina belum bersama mereka sebelumnya. Mungkin Karina shock mendengar ucapan tegas sang papa, apalagi tentang surat cerai yang dikirimkan pada suaminya tanpa sepengetahuannya.


"Bicara baik-baik pada Karina pa, dia baru sembuh dari sakitnya. Sudah sejauh ini kita berusaha menyembuhkannya, jangan sampai dia sakit lagi. Aku tak tega melihatnya kesakitan saat kemo." Ucap Ivan lirih.


"Kau benar, seandainya kanker serviks tak menyerangnya juga saat itu. Mungkin dia sudah sembuh dari penyakit kistanya." Jawab dokter Nathan berdiri dari tempat duduknya berlalu pergi meninggalkan kamar putrinya.


.


.


TBC