
Anin dan Dimas sedang berjalan menyusuri jalan di Keraton mereka berjalan beriringan sambil melihat sekeliling mereka, Anin terlihat begitu semangat apalagi melihat badut berkarakter, Anin meminta Dimas memotretnya bersama Pokemon, Dimas pun terpaksa memotret Anin yang terlihat seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.
Setelah lelah menyusuri Keraton, mereka memilih naik becak ke Malioboro dan mencari makan untuk menganjal perut mereka karena hari sudah mulai petang, Anin memilih membeli sate padang dan Dimaspun mengikutinya.
Baru saja beberapa suapan yang mereka makan tiba-tiba ponsel Dimas berdering.
"*Hallo Bu?"
"Dimas, Afifa badannya panas sekarang Ibu sama Bapak mau bawa ke rumah sakit,"
"Astagfirullah, oke besok Dimas pulang, tolong jagain Afifa ya Bu*," ucap Dimas khawatir.
"*Iya sekarang dia lagi diperiksa"
"Iya Bu, tolong kabarin lagi kalau ada apa-apa*." ucap Dimas kemudian mematikan ponselnya.
Anin melihat Dimas yang tampak khawatir setelah mendapat telepon dari ibu dan menjadi binggung.
"Ada apa Mas?"
"Afifa masuk rumah sakit, kata Ibu badannya panas,"
"Ya Allah, ya udah kita pulang sekarang aja," ucap Anin khawatir.
"Gimana? Saya kan gak bawa mobil, tiket juga gak bisa di pesen sekarang langsung pergi," ucap Dimas.
"Bisa mas, sekarang kita pesen dulu aja semoga masih ada, nanti Anin cek dulu kita kemas barang dulu,"
"Habisin dulu makanannya mubazir." ucap Dimas.
Anin menganggukan kepalanya dan menghabiskan makanan yang ia pesan sambil mengecek ponselnya untuk memesan tiket kereta.
Berutungnya tiket yang mereka pesan masih ada, Anin dan Dimas juga sudah mengemas semua pakaiannya, Dimas masih sibuk menghubungi Dina menanyakan kondisi Afifa, sedangkan Anin masih dengan cemas takut terjadi sesuatu pada Afifa karena sudah tiga hari ia tinggal.
*-*-*-*-*
Dimas dan Anin tiba di Bandung pagi hari, mereka langsung menuju rumah sakit dengan membawa koper, mereka belum sempat pulang karena khawatir dengan Afifa, di sana hanya ada Ibu dan Mamah juga Dina yang menunggu.
"Bu, gimana kondisi Afifa?" tanya Dimas.
"Masih belum tahu Dim, tapi kata dokter kemungkinan gejala Demam Berdarah,"
"Anin, mamah mau bicara sama kamu," ucap Mamah menarik tangan Anin.
Sedangkan Dimas tak menghiraukan Anin yang pergi bersama mertuanya itu, ia hanya memilih menunggu diluar agar bisa melihat Afifa.
"Kamu tuh gak becus jadi orangtua, masa anak kamu ditinggal dan kalian malah liburan ke Jogja?" ucap Mamah kesal.
"Maaf mah, Anin juga gak tahu kalau bakal ke Jogja kemarin Bude Mas Dimas yang kasih kita tiket," ucap Anin.
"Terus kamu setuju? Kamu gak mikirin Afifa, kenapa kamu tinggalin dia, dimana tanggung jawab kamu sebagai Ibunya Anin?"
"Mah, Anin bener-bener gak tahu Afifa sakit,"
"Anin, kamu menikah dengan Dimas itu karena turun ranjang, kamu juga sudah di titipkan anaknya oleh Kirana, tapi kenapa kamu malah bersenang-senang sama Dimas dan ninggalin Afifa sampai akhirnya sekarang dia sakit, Ibu macam apa kamu?"
"Mah, Anin sayang sama Afifa, Anin mau jaga Afifa, Anin tahu salah karena ninggalin Afifa ke Jogja."
"Bagus kalau kamu sadar kesalahan kamu, kamu harus inget posisi kamu sekarang, jangan pentingin diri kamu sendiri karena kamu nikah sama Dimas demi Afifa jadi kamu harus bertanggung jawab dengan Afifa, kalau ada apa-apa sama Afifa, Mamah gak akan maafin kamu!"
"Mah, kenapa sih ucapan Mamah selalu kayak gitu, Anin juga berusaha buat jadi Ibu untuk Afifa, kenapa Mamah selalu tekan Anin?"
"Karena kamu itu belum dewasa dan selalu bertindak semau kamu, dan kamu selalu keras kepala kalau Mamah kasih tahu, beda dengan Kirana yang selalu menurut kata Mamah dan Papah gak pernah membatah!"
Anin enggan menjawab ucapan Mamahnya, ia memilih diam dan menahan amarahnya ia paling tidak suka jika Ibu kandungnya itu mulai membandingkan dirinya dengan alm kakaknya Kirana.
Ia memang sadar Kirana memang tidak pernah melawan orangtuanya, sedangkan Anin hanya karena ia tidak mengikuti keinginan orangtuanya untuk mengambil kuliah kedokteran dan mengambil kuliah di Bandung kedua orangtuanya menjadi marah dan berubah padanya, Anin juga tidak tahu mengapa sampai saat ini pun mereka tetap bersikap sama padanya.
Mamah memilih pergi meninggalkan Anin yang sudah menumpahkan air matanya, rasa sakit hati dengan ucapan Mamahnya dan rasa bersalah karena meninggalkan Afifa di Bandung dan pergi bersama Dimas berlibur.
Dimas masih terdiam menatap anaknya yang tertidur diruangan rumah sakit, ia merasa menyesal karena sudah meninggalkan Afifa sendirian dan memilih pergi ke Jogja bersama Anin, padahal Afifa baru lima bulan dan butuh kedua orang tuanya, Dimas merutuki dirinya ia menikah dengan Anindira untuk menjaga anaknya dan menjadi Ibu untuk anaknya tapi sekarang mereka bedua lalai menjaga anaknya setelah menikah.
"Gimana kondisi Afifa?" tanya Anin pada Ibu.
"Masih dalam pemeriksaan Dokter," ucap Ibu
"Coba kalau Anindira bisa menjaga Afifa dengan baik pasti gak bakal sakit Afifa kayak sekarang!" ucap Mamah.
"Afifa inshaallah pasti sembuh," ucap Ibu.
Dimas hanya menatap Anin sekilas dan kembali menunduk, ia tahu Anin sepertinya baru saja di marahi Mamahnya karena matanya sudah memerah habis menangis, namun ia tak peduli yang terpenting adalah kondisi anaknya yang masih di periksa Dokter.
"Bagaimana kondisi Afifa dok?" tanya Ibu saat dokter keluar dari ruangan.
"Alhamdulillah panasnya sedikit menurun, dia hanya dehidrasi mungkin karena cuaca juga ditambah batuk dan pilek mungkin untuk 2 hari ke depan Afifa harus dirawat dulu." ucap Dokter bernama Susi.
"Jadi Afifa bukan demam berdarah Dok?" tanya Dimas.
"Tidak, tadinya memang seperti gejala Deman berdarah karena panasnya sangat tinggi, tapi tidak dia hanya dehidrasi, kalian sudah bisa melihat dia tapi bergantian dan jangan lupa jaga kebersihan juga takutnya nanti Afifa terinfeksi,"
"Ya sudah kalau gitu Dimas sama Anin dulu aja kalian lihat dulu," ucap Ibu.
"Dimas sama Mamah aja, biar Anin tunggu di luar!" ucap Mamah langsung masuk keruangan.
Anin memundurkan langkah saat Mamahnya memilih masuk keruangan bersama Dimas, Anin hanya menunduk menahan tangisnya yang hampir tumpah, Mamahnya begitu marah padanya dan ia tidak bisa melihat Afifa semuanya adalah kesalahannya yang malah menyetujui pergi ke Jogja.
"Anin, kamu lebih baik kamu istirahat dulu ya, kamu kelihatannya capek banget," ucap Ibu mengelus punggung Anin.
Bukannya Ibu tak tahu menahu tentang permasalahan keluarga Anindira, Ibu sudah tahu bahwa hubungan Anindira dengan orangtuanya memang dingin, bahkan tak segan Mamahnya Anin sering berkata ketus pada Anin bahkan di depan orang-orang, begitu juga dengan Papah Anin yang bersikap sangat acuh padanya.
Kirana juga sudah menceritakan tentang Anin dan Ibu memakluminya karena bagaimanapun Anindira tidak bersalah memilih keinginannya sendiri, itulah mengapa Ibu menyayangi Anindira sekarang.
"Dimas, kenapa kamu setuju pergi ke Jogja dan ninggalin Afifa?" tanya Mamah.
"Tadinya Dimas tolak tapi gak enak sama Bude udah kasih tiket, kalau bawa Afifa juga bahaya dia masih kecil,"
"Pasti ini kemauan Anin, kamu jangan turutin keinginan dia, dia belum dewasa kalian menikah untuk menjaga Afifa jadi lebih baik kalian fokus merawat dan membesarkan Afifa,"
Dimas hanya mengangguk kemudian mengelus kepala Afifa yang sudah terlelap, Dimas memilih berjalan keluar untuk membeli minum dan beristirahat. Ia mencari keberadaan Anin yang tidak ada di luar, Ibu bilang ia sedang pergi ke toilet, Dimas pun akhirnya memilih mencari makan untuk menganjal perutnya.
"Kamu dari mana?" tanya Dimas.
"Habis dari toilet" ucap Anin tanpa menatap Dimas.
"Sudah makan?"
"Belum laper, Gimana Afifa?"
"Dia masih tidur, kamu mau lihat dia ke dalam aja," ucap Dimas.
"Sda mamah sama Ibu ya? Anin tunggu di sini aja," ucapnya langsung duduk.
Dimas hanya diam, ia tahu Anin merasa bersalah dengan sakit yang dialami Afifa, namun Dimas juga enggan bertanya dan menenangkannya karena Dimaspun merasa bersalah, ia pergi meninggalkan Afifa.
"Maafin Anin Mas, harusnya kita batalin aja pergi ke Jogja, gara-gara liburan Afifa sakit," ucap Anin.
"Ini juga salah saya, harusnya saya gak biarin Afifa di tinggal di Bandung," ucap Dimas.
Anin hanya menunduk terdiam, tangannya meremas celana, Anin memejamkan matanya merasakan sakit dihatinya, ia tidak bisa bertanggung jawab menjaga Afifa sampai ia sakit dan dirawat dirumah sakit, Anin mencoba menahan tangisnya di hadapan Dimas, ia tak mau terlihat begitu lemah karena memang semua adalah kesalahannya.
*-*-*-*-*
Anin dan Dimas memilih pulang ke rumah untuk mandi menyegarkan badan mereka, Anin memang tak punya pilihan menolak untuk pulang karena keberadaannya di rumah sakitpun di kucilkan Mamah kandungnya yang selalu menyalahkan Anin, Anin lebih baik mengikuti kata Dimas ia tak mau terjadi kesalahan lagi apalagi Afifa yang menjadi korbannya.
"Ksmu istirahat di sini saja, biar saya yang tungguin Afifa," ucap Dimas.
"Anin belum lihat Afifa, lagian kasihan Ibu sama Mamah mereka belum istirahat," ucap Anin
Akhirnya mereka pergi ke rumah sakit berdua, Anindira sudah membawa beberapa pakaian Afifa dan dirinya, ia juga membawa susu Formula untuk Afifa dan beberapa mainan Afifa.
Selama di rumah sakit Anindira selalu siap siaga menjaga Afifa bahkan ia hanya tidur beberapa jam karena Afifa yang rewel, sedangkan Mamah ia sudah pulang sejak Dimas datang karena harus kembali bekerja dan Ibu juga sudah kembali ke rumah untuk beristirahat, Dimas bergantian menjaga dengan Anin hanya Afifa lebih bisa diam dengan Anin.
*-*-*-*-*
Sudah tiga hari setelah Afifa dirawat, akhirnya ia bisa pulang ke rumah karena kondisinya yang sudah membaik, bahkan Afifa juga sudah mulai aktif kembali dan mulai bermain dengan Anin dan Dimas.
Dimas memutuskan untuk kembali bekerja karena sudah hampir seminggu libur bekerja, Anindira menyetujuinya karena Afifa juga sudah mulai membaik.
Mamah dan papah Anindira tiba-tiba datang kebrumah saat Dimas bekerja, mereka belum ada janji dengan Anindira untuk datang, Bukan Anindira tak senang jika orangtuanya datang berkunjung, hanya saja ia takut orangtuanya datang hanya untuk memarahi dan menekannya kembali.
"Dimas sudah bekerja lagi?" tanya Papah yang sudah duduk di ruang tamu.
"Iya Pah, tadi baru masuk masih banyak kerjaan yang numpuk," ucap Anin sambil mengendong Afifa.
"Iyalah gimana gak numpuk, kamu ngajak Dimas pergi ke Jogja makanya kerjaannya jadi banyak," ucap Mamah.
"Mau jelasin ke Mamah beberapa kali juga Mamah gak akan mau denger," ucap Anin kesal.
"Kamu tuh ya, Anin dengerin kata Mamah kamu sekarang udah jadi istri Dimas harusnya kamu paham pekerjaan Dimas, Mamah peringatin sama kamu kalau kamu pergi dan ninggalin Afifa mamah gak akan tinggal diam, Mamah bakal ambil Afifa," ancam Mamah.
"Sebenarnya Mamah sama Papah ada apa ke sini?" tanya Anin kesal.
"Kita cuman mau nengok Afifa," ucap Papah.
Anin pun menurunkan Afifa dan memberikannya pada Papah untuk di gendong, memang kedua orangtuanya sangat menyayangi Afifa karena cucu pertama mereka, dan Afifa juga sebagai obat kerinduan mereka pada Kirana, meskipun kedua orangtuanya tidak terlalu baik pada Anin dan acuh namun pada Afifa mereka sangat memanjakannya dan selalu merawatnya dengan baik.
"Sebenarnya ada yang mau Papah sama Mamah bilang sama kamu," ucap Papahm
"Ada apa?"
"Papah mau jual rumah kita , rencananya kita bakal pindah rumah ke Bogor," ucap PapahM
"ke Bogor? Kenapa?"
"Papah kamu dapat kerjaan di sana, di sana juga lebih besar gajihnya lagipula kamu kan sudah menikah dan punya rumah jadi buat apa rumah kita kalau gak ada yang tempatin." ucap Mamah.
"Mah, tapi kan itu rumah kita satu-satunya kalau di jual kan sayang, siapa tahu nanti bisa buat Afifa kalau sudah besar,"
"SUami kamu itu bukan orang biasa, dia bisa beli rumah buat Afifa, lagipula rumah kita juga sudah banyak yang harus di renovasi jadi lebih baik papah jual saja dan kita berencana menetap di Bogor,"
"ppah yakin di Bogor bakal lebih baik? Papah udah lama kan kerja di sini," ucap Anin.
"Sudahlah kamu tahu apa nin, papah kamu itu memang sudah lama ingin di Bogor tapi karena kamu belum menikah jadi kita belum pindah dan sekarang karena kamu sudah menikah jadi buat apa kita di sini, lagi pula Bogor itu tempat kelahiran Mamah," ucap Mamah.
"Ya sudah kalau gitu, lagian pendapat Anin juga gak kalian butuhkan kan? Anin dukung aja keputusan Papah sama Mamah semoga bisa jaga diri," ucap Anin.
"Barang-barang kamu bisa kamu ambil besok, lusa Papah langsung berangkat dan yang beli rumah kita juga bakal tempatin secepatnya," ucap Papah.
"Iya pah, besok Anin ke sana sama Mas Dimas." ucap Anin.
Anin pun hanya bisa menghela nafas, tak ada yang bisa ia lakukan jika orangtuanya membuat keputusan, hanya saja ia kecewa karena rumah mereka yang sudah di bangun sejak lama terpaksa di jual kedua orang tuanya tanpa meminta pendapat Anindira, padahal banyak sekali memori Anindira dengan sang kakak di sana, ia juga tak menyangka orang tuanya akan pergi ke kota lain meninggalkan dia di Bandung bersama suaminya, Anin memang sudah biasa jauh dengan orangtuanya namun ia tak pernah tau orang tuanya malah memutuskan pergi meninggalkan dirinya dan menjual rumah yang mereka miliki, Anin hanya bersabar dan menerima keputusan orang tuanya.