Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 19


Seorang pria sedang mengaduk kopinya sambil bersiul hingga terdengar di ruangan Dapur. Tak lupa ia juga membuatkan teh hangat untuk istri cantiknya yang masih berdiam diri kamar karena harus mengurus anaknya yang masih rewel setelah bangun tidur.


"Anin." teriak Dimas dari bawah.


"Iya Mas?" tanyanya sambil menggendong Afifa dengan gendongan.


"Turun kita sarapan dulu," perintah Dimas.


Anin yang menggelung rambutnya langsung turun ke bawah bersama Afifa yang baru saja terdiam setelah diberi sebotol tabung susu formula. 


Anin hanya menggunakan daster dan tanpa bedak tapi terlihat tetap cantik bagi Dimas yang mulai merasakan jatuh hati pada Anin sejak beberapa hari ini.


"Mau selai apa?" tanya Dimas mengambil roti.


"Selai kacang aja." ucap Anin yang langsung duduk di kursi.


"Nih kamu makan dulu, biar Afifa saya gendong," ucap Dimas.


"Dia lagi anteng, nanti kalau Mas ambil takut rewel lagi," ucap Anin sambil memasukan roti selai itu kemulutnya.


"Saya Ayahnya ingin gendong dia," protes Dimas.


"Saya Ibunya saya harus jaga dia," ucap Anin tak mau kalah.


"Anin, saya hanya libur sehari setiap minggu saya ingin menghabiskan waktu dengan Afifa." ucapnya.


Anin nampak berpikir sejenak sambil terus mengunyah roti isi selai itu, ia menatap dapurnya yang sudah berantakan karena ulah Dimas tentunya yang membongkar semua isi di dapur hanya untuk mencari selai dan membuat kopi. 


Ia juga nampak tak tega karena Dimas hanya punya waktu satu hari dalam seminggu untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya karena ia bos yang sangat disiplin dalam bekerja tak mau membuang waktu percuma bahkan untuk keluarganya saja tidak. 


"Ya sudah ini Afifa sama Ayah ya," ucap Anin memberikan Afifa serta gendongannya.


Dimas mencoba menggendong Afifa dengan gendongan itu, namun baru saja Afifa masuk ke dalam gendongan ia sudah menangis berteriak dan mengarahkan tangannya pada Anin. Tampak anak Dimas tidak mengenali siapa Ayahnya, Anin yang merasa kasihan pada Dimas memberikan botol susu pada Dimas dan menyuruh Dimas membawa Afifa keluar,dan benar saja suara tangis Afifa sedikit meredup dan nampaknya ia sudah tenang berada di gendongan Ayahnya. 


Anin menatap sekeliling dapurnya yang sudah berantakan dan kotor,  entah apa yang Dimas lakukan sejak pagi mengapa semua peralatan dapurnya berserakan, Anin menghebuskan nafasnya dan meregangkan otot-ototnya sejenak sebelum ia harus tempur memasak dan membersihkan rumahnya.


*-*-*-*-*


Hari ini mereka tidak memiliki jadwal apapun, Dimas juga biasanya selalu memilih beristirahat dirumah sambil bermain bersama Afifa sedangkan Anin? Jangan ditanya dia lebih memilih mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah menjadi hobby nya. Bahkan kini rumah mereka selalu terlihat kinclong tanpa debu karena Anin benar-benar sangat rajin dan rapih dalam hal mengerjakan sesuatu.  It's Amazing!!


"Nin kita jalan-jalan ajak Afifa." ucap Dimas.


"Kemana? Udah siang gini panas kasihan Afifa,"


"Kita keliling komplek aja, dia kan pake dorongan bayi." ajak Dimas.


"Mm boleh, Anin ganti baju dulu kalau gitu sambil siapin susunya." ucap Anin langsung pergi ke kamar.


Beberapa menit kemudian Anin sudah berganti pakaian, ia memilih memakai celana Jeans dengan rambut di kucir kuda dan baju kaos putih lengan pendek, ia memilih memakai sapatu kets warna hitam terlihat seperti anak ABG, mereka siap pergi keliling kompleks.


*-*-*-*-*


Angin berbisik dengan sendirinya menembus sisi kulit setiap orang yang menabraknya, ditambah matahari yang berjulang tinggi pun tampak lebih indah dengan cahaya yang menembus kulit manusia yang berlalu-lalang.


Sepasang suami-istri tampak menikmati jalan santainya dengan dorongan bayi yang mereka bawa tampak terlihat seperti keluarga bahagia, suami yang tampan dan gaga , istri yang cantik natural dan anak yang lucu menggemaskan begitulah gambaran keluarga kecil Dimas di mata orang-orang.


"Kita berhenti di sana ya," ajak Dimas.


Anin berjalan sambil mendorong dorongan Afifa, Afifa sudah terlelap di dalamnya sejak tadi mungkin karena sudah lelah di ajak berjalan-jalan.


Dimas mencari minuman untuk mereka berdua, Anin memilih duduk di kursi yang ada di sana sambil menunggu Dimas, ia mengambil botol susu Afifa dan menutupnya, Anin menatap sekeliling orang-orang berlalu-lalang di hadapannya banyak yang menatap nya sambil tersenyum dan ada pula yang bersiul menggodanya sambil berjalan. 


Anin sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini memang banyak pasang mata kaum Adam yang selalu menoleh kearahnya dan melempar senyum atau menggodanya.


Hanya saja hari ini Anin sudah membawa seorang Anak tepat di hadapannya tapi mengapa banyak orang yang masih saja berani menggodanya.


agi istirahat teh?" tanya seorang pria yang tiba-tiba duduk di pinggirnya.


"Lagi nunggu orang," ucap Anin tampa menatap pria tersebut.


"Sama saya juga lagi nunggu orang,  saya temanin yang teh," ucapnya kembali.


Anin tak menjawabnya, ia sebenarnya merasa risih dengan lelaki yang tiba-tiba duduk di sebelahnya dan mengajaknya berbincang, bukan Anin sombong atau terlihat tidak sopan namun ia hanya takut menjadi kesalahpahaman terutama jika Dimas melihatnya. 


"Teh mau minum?" tanyanya kembali memberikan sebotol minuman Rasa Jambu merah.


"Nggak makasih." jawab Anin kali ini menatap lelaki tersebut.


"Anaknya baru satu?" tanya setelah meneguk minumannya.


"Iya." jawaban singkat Anin.


"Teteh tinggal di daerah sini?"


"Iya." jawab Anin kembali berusaha bersikap ramah.


"Kok saya belum pernah lihat teteh ya? Teteh baru pindah pasti ya?" ucapnya kembali.


"Memang kenapa kalau belum lihat?" tanya Dimas yang kemudian muncul dihadapan mereka.


"Mas." ucap Anin terkejut.


Kali ini wajah Dimas lebih dingin bahkan menatap lelaki itu dengan tatapan dingin dan tajam, Anin sampai merinding sendiri melihat sorot mata Dimas yang tajam.


"Maaf a, suami saya cemburuan," ucap Anin tak enak langsung menarik tangan Dimas duduk di sebelahnya.


"Oh iya teh santai aja, kalau gitu saya pergi dulu," ucap lelaki itu pergi.


Dimas masih menatap pungung lelaki itu, Dimas merasa risih jika ada lelaki yang tiba-tiba mengakrabkan diri dengan istrinya itu bukannya apa-apa kadang mereka tidak sadar Anin sudah punya anakpun mereka masih nekat mendekati istrinya itu dan membuat dirinya geram sendiri. 


"Mas mana minumannya?" tanya Anin.


"Nih." ucapnya dengan wajah dinginnya.


"Jangan marah , dia cuman numpang duduk tadi sambil nunggu temennya," jelas Anin.


"Alasan!" ucap Dimas kemudian membuka tutup botol minuman dan meneguknya.


Anin hanya tersenyum ke arah Dimas sambil memerhatikan Dimas yang sedang minum, Dimas tampak risih dilihati Anin begitu intens ia merasa gugup sendiri, ia pun memilih berdiri dan mengajak Anin untuk pulang karena hari sudah makin siang. 


Sudah hampir sampai rumah, Dimas dan Anin di hampiri wanita yang sedang mengandeng tangan anak perempuannya yang berkisar berumur 5 tahunan.


"Selamat pagi menjelang siang Pak Dimas, Bu Anin." ucap Wanita itu.


"Teh Friska ya?" tebak Anin.


"Iya saya Friska, maaf belum sempat berkenalan waktu itu," ucap Friska ramah memberikan tangannya.


"Ah iya gapapa teh, ini siapa?" tanya Anin menatap anak kecil itu.


"Anak saya, Ayo Leona kenalan sama tante sama Om." ucap Friska pada anaknya.


Leona langsung bersalaman dengan Friska dan Dimas, Dimas masih tampak acuh bahkan tak memperhatikan Friska namun ia sempat tersenyum kecil pada Leona,  Dimas memilih menatap Afifa yang masih tertidur di dorongan bayi. 


"Eh teh mampir dulu rumah kita di depan," ajak Anin.


"Gapapa teh gak ada salahnya silahturahmi," ucap Anin tersenyum sambil menatap ke arah Dimas yang malah menatap tajam ke arah Anin.


Friska nampak berpikir sejenak, ia menatap ke arah Dimas yang nampaknya tak setuju dengan tawaran Anin untuk mampir, ia tahu Dimas masih membencinya apalagi sekarang ia membawa anaknya, tapi ia juga ingat ada yang ingin ia sampaikan pada Dimas.


"Udah jangan kelamaan mikirnya, hayu teh kasihan Leona kepanasan juga." ajak Anin menarik tangan Leona agar ikut dengannya.


Friska akhirnya setuju dengan ajakan Anin yang berjalan di depannya bersama Leona sedangkan ia berjalan sejajar dengan Dimas yang mendorong dorongan bayinya, Dimas menatap sinis ke arah Friska dan Friska sadar dengan tatapan sinis Dimas yang tak suka padanya, benar Friska memang tidak bisa dimaafkan.


 


*-*-*-*-*


Rumah bercat dominan coklat itu terlihat sangat menarik dan lebih menonjol diantara rumah-rumah lain di sekelilingnya, di tambah kolam ikan di luar rumah dengan air yang mengalir langsung membuat suasananya bertambah sejuk. 


Friska tiba-tiba teringat dengan desain rumah ini yang mirip dengan yang ia impikan sejak lama hanya saja pemilihan warna dan kolam ikan di luar rumah saja yang tidak ia tulis di dalam impiannya. 


Langkah Friska bertambah kendur saat ia menginjakkan kaki di depan pintu rumah, semuanya nampak seperti yang ia impikan dulu yang pernah ia katakan pada Dimas dan ia angan-angankan, Dimas sekarang membuatnya menjadi nyata namun pemiliknya yang berbeda kini ratu dan Rajanya adalah Dimas dan Anindira wanita cantik yang kini bersanding dengan Dimas, Friska bahagia melihat Dimas sudah bahagia.


"Leona duduk di sana ya," ucap Anindira.


"Makasih Tante." jawab Leona tersenyum.


"Anin ke dalam dulu ya mau tidurin Afifa dulu," ucap Anin mengambil Afifa.


"Kalau gitu saya ke dalam juga." ucap Dimas yang merasa tak enak berada bersama Friska dan Leona.


Friska mengangguk ramah kemudian duduk bersama Leona yang kini sedang bermain game di Gadget Friska, Friska melihat sekeliling ruangan ada beberapa Foto yang dipajang di dinding, ada dua foto pernikahan berukuran 10R yang berbeda, yang pertama Dimas bersama Kirana dan yang satunya Dimas bersama Anindira. 


Friska sudah tahu tentang Dimas yang turun ranjang karena sebelum ia ke Bandung ia mendapat informasi dari Grup SMA nya. 


"Teh di minum dulu, Leona ayo di minum," tawar Anin memberikan dua gelas minum.


"Makasih Anin maaf jadi merepotkan." ucap Friska tak enak.


"Enggak teh, ayo minum dulu."


Friska meneguk minuman yang disuguhkan Anin, sedangkan Leona tetap fokus pada Gadgetnya.


"Di sini tinggal sama siapa aja Teh?" tanya Anin.


"Saya tinggal sama Ibu saya kalau kerja Leona sama Ibu di titipin soalnya dia juga udah sekolah." ucap Friska.


"Oh gitu, Leona mau makan apa?" tanya Anin langsung beralih pada Leona.


"Gak mau apa-apa tante," ucapnya menggeleng.


"Nin, terimakasih ya kamu sudah mau menyambut saya dengan ramah." ucap Friska.


"Lho jangan sungkan teh, lagian Anin seneng kalau punya banyak teman," ucap Anin ramah.


"Kamu memang ramah ya, saya harap hubungan kamu sama Dimas selalu harmonis jangan seperti saya yang harus berakhir dengan perceraian." ucap Friska.


Anin sebenarnya ingin menanyakan suaminya Friska sejak tadi namun ia takut menyinggung perasaan Friska terlebih karena mereka baru bertemu sekali dua kali dan baru kali ini ia berbincang.


"Inshaallah teh semoga langgeng," ucap Anin tersenyum.


"Saya bercerai karena Suami saya selingkuh, sebenarnya itu juga salah saya mungkin karma dari Dimas dulu karena saya dulu meninggalkan Dimas lalu menikah dengan pria lain dan ternyata baru beberapa tahu kami menikah ada wanita simpanan lain di hatinya." ucap Friska pilu.


"Sebernanya di dunia ini itu gak ada namanya karma, Allah lah yang berkuasa membalas semua perbuatan kita baik di dunia dan di akhirat, mungkin teh Friska sama suaminya belum berjodoh aja," ucap Anin tersenyum.


"Iya mungkin belum berjodoh." jawab Friska mengangguk.


Dimas mendengar percakapan diantara mereka berdua, ia sedang berada di ruang tv yang dekat dengan ruang tamu, ia memang enggan bertemu dengan Friska rasanya ia sudah benar-benar membenci wanita itu mungkin semuanya terjadi karena ia terlalu cinta sebelumnya. 


Dimas mengesap rokok elektriknya, ia malas memikirkan apapun,  perusahaannya saja masih banyak masalah apalagi sekarang Friska yang hadir tiba-tiba di kehidupannya. Ia hanya mendengar percakapan Anin yang bijak, ia beruntung Anin bersikap baik dan ramah pada mantannya itu.


Baru saja Dimas hendak merebahkan badannya di sofa Anin sudah datang menghampirinya dengan senyum lebar, Dimas hanya mengangkat sebelah alisnya dan masih dengan wajah dinginnya.



"Mas, teh Friska sama Leona mau pulang," ucap Anin.


"Oh ya sudah."


"Mas anterin mereka, kasihan kan kalau jalan lumayan jauh," ucap Anin.


"Nganterin? Males ah lagian kamu yang ngajak ke sini kenapa saya yang anterin," ucap Dimas malas.


"Mas kan silahturahmi, lagian kan Mas juga kenal sama Friska kasihan masa dia jalan sama anaknya," ucap Anin.


"Anin saya gak mau, biarin dia jalan sendiri!" ucap Dimas.


"Gini deh kalau Mas mau nganterin teh Friska nanti Anin bakal turutin semua keinginan Mas gimana?" tawar Anin.


Dimas tampak berpikir sejenak,  sepertinya tawaran Anin menarik juga karena ia bilang akan menuruti semua keinginannya. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiran Dimas.


"Oke saya setuju, kamu sudah janji kan akan menuruti semua keinginan saya kan?" tanya Dimas.


"Iya Mas. Ya udah sana anterin dulu mereka," ucap Anin menarik tangan Dimas.


Anin tidak tahu apa yang sudah Dimas rencanakan sebenarnya,  karena Anin terlalu sibuk memikirkan Friska dan anaknya yang akan ia antar, dalam hati Dimas ia bersorak ria karena ia sudah memiliki rencana bersama Anin.


"Ayo Mas kenapa malah masih diem sih." ucap Anin


"Cium dulu." ucap Dimas manja.


Anin terkejut dengan jawaban Dimas, mereka saja belum pernah berciuman sekarang Dimas malah meminta cium.


"Mas," ucap Anin.


"Katanya mau nurutin semua keinginan saya," ucap Dimas.


"Tapi." ucap Anin tampak ragu.


"Kenapa? Gak mau ya udah gak jadi antar Friska," ucapnya.


"Ehh iya iya." ucap Anin dengan ragu dan berjalan ke arah Dimas.


Anin langsung mencium pipi Dimas sekilas dan langsung menundukan wajahnya malu karena sudah memerah, Anin memilih pergi namun Dimas menahan tangannya dan langsung mendorong dan menghimpitnya ke dinding Anin yang terkejut langsung menatap Dimas, Dimas menarik dagu Anin dan mendekatkan wajahnya pada Anin.


Anin yang merasa gugup karena tingkah Dimas pun menutup matanya dan tiba-tiba bibirnya terasa kenyal dan Anin membelalakkan matanya Dimas menempelkan bibirnya di bibir tipis Anin untul pertama kalinya, Anin mengedip-ngedipkan matanya tak percaya bahkan kini Dimas memperdalam ciumannya, Dimas memeluk punggung Anin dan menariknya agar lebih dekat sedangkan Anin yang masih terkejut terbawa suasana ia menutup matanya dan menikmati ciuman lembut Dimas.


Dimas langsung melepas ciumannya dan tersenyum ke arah Anin yang langsung memerah karena malu,  Dimas gemas dengan Anin karena masih saja malu dengannya, Dimas mengusap rambut Anin dan langsung mencium keningnya agar Anin tidak canggung karena adegan yang baru saja terjadi.


"Ya sudah Mas mau nganter dulu Friska sama anaknya, inget ya perjanjian kita tadi baru pemanasan," ucapnya langsung mencubit pipi Anin dan pergi.


Anin yang mendengar perkataan Dimas makin terkejut, apa maksudnya baru pemanasan? 


Tiba-tiba pikiran kotor memenuhi otak pintar Anin apa yang akan Dimas inginkan darinya? Apa ia sengaja akan mengerjainya, Anin memegang bibirnya yang basah karena permainan singkat Dimas, ini pertama kalinya ia berciuman dan pertama kalinya ia berciuman dengan Dimas, dan mereka berdua sama-sama menikmatinya, apakah Anin sudah mulai membuka hati untuk Dimas? Apakah ia sudah bisa menerima Dimas? Anin tersenyum sendiri namun ia juga malu jika nanti melihat Dimas.


Tiba-tiba suara Afifa menangis terdengar ke bawah, Anin yang langsung tersadar berlarian naik tangga untuk menenangkan anak kesayangannya tanpa pedulikan lagi apa yang akan Dimas minta nanti.