Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 75


Drt drt drt


Ponsel Jihan bergetar di atas nakas, sang pemilik yang baru saja berbaring itu lalu dengan cepat menjangkau ponselnya, ia tahu itu pasti pesan dari suaminya, Arick.


Dan benar saja, kata-kata manis memenuhi 1 pesan yang dikirim oleh Arick.


Suamiku:


Selamat tidur sayang, sampai bertemu besok. Aku mencintaimu, sangat.


Lama Jihan memandangi ponselnya, bibirnya terus tersenyum tanpa henti. Jadi malu sendiri untuk membalas pesan itu.


Akhirnya Jihan hanya membaca, tanda centang biru sudah menyala, ia kembali meletakkan ponselnya diatas nakas.


Kembali tidur, matanya terpejam tapi bibirnya tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arick yang melihat pesannya hanya dibaca tanpa ada balasanpun melakukan hal yang sama, ia tersenyum merasa lucu, tahu jika istrinya sekarang sedang malu.


Dilihatnya jam yang tertera diatas layar ponsel, jam 10 malam kurang 15 menit. Ia lalu bangkit dari duduknya, berjalan mendekati jendela kaca dan memperhatikan Jani dari luar sana.


"Jani anak ayah, kita sebentar lagi pulang sayang." Desisnya pelan, nyaris tak bersuara.


"Kita akan bertemu ibu, bertemu mbak mu Anja dan Mas mu Zayn."


Arick tersenyum, Jani di dalam sana tertidur dengan pulas.


Melihat itu, Arick memutuskan untuk kembali ke hotel, mengistirahatkan tubuhnya yang seharian ini hanya duduk dan berdiri.


Dari rumah sakit itu, Arick berjalan menuju hotel. Mobilnya sudah lama sekali hanya terparkir di basement hotel, tidak pernah ia gunakan lagi.


Klik!


Bunyi pintu hotel terbuka setelah Arick menggesek acces card miliknya. Matanya membola, ketika pintu itu terbuka sempurna netranya menangkap sesuatu yang mengejutkan di ruang tamu.


3 pria dewasa yang sedang tertawa terbahak, dengan banyak cemilan di atas meja.


"Kalian?" tegur Arick sambil mengeryit bingung, dilihatnya Jodi, Haris dan Kris duduk dengan santainya disana. Seolah ini adalah kamar hotel mereka sendiri.


"Untuk apa kesini?" tanyanya lagi dengan nada tak suka, ikut duduk di salah satu sofa.


"Sudah lama kita tidak berkumpul, jadi aku ajak mereka kesini," jawab Haris, Haris memang tahu password kamar ini. Dan Arick hanya ber-Oh ria.


"Bagaimana Jani? apa besok dia sudah boleh pulang?" tanya Jodi.


Mendengar pertanyaan itu, kebahagiaan kembali mendatangi Arick, ia langsung tersenyum lebar. Melihat senyum itu, ketiga sahabatnya sudah tahu apa jawaban yang akan diberikan oleh Arick.


"Alhamdulilah," ucap mereka semua kompak.


"Jadi besok Jani sudah boleh pulang?" Kris memastikan dan Arick mengangguk.


"Baguslah, kalau Jani sudah pulang berarti aku dan Selena akan mulai menentukan tanggal pernikahan." Lanjut Kris dengan malu-malu.


Jodi dan Haris terkekeh, merasa lucu.


"Kalian akan menggelar pernikahan dimana? aku di rumah Jasmin. Orang tuanya tidak mau menyewa gedung atau ballroom hotel," ucap Jodi setelah selesai tertawa, ia dan Jasmin juga akan segera menggelar pernikahan. Sesuai kesepakatan, pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah pernikahan Selena dan Kris.


"Kenapa jadi membahas pernikahan sih, memangnya tidak ada bahasan lain?" Haris buka suara, pria yang masih belum ada kepastian ini langsung jadi bulan-bulanan.


"Memangnya Dira belum mau menikah?" tanya Arick serius.


"Mana mau dia menikah dekat-dekat ini, mungkin setelah dia selesai kuliah. Sekitar 2 tahun lagi." Jawab Haris lesu, bukan simpati, semua orang malah kembali menertawai.


"Aku dan Selena sepakat menggelar pernikahan di Ballrom hotel. Hotel tempat kita bekerja, kalau karyawan kan ada potongan biaya sewa." jujur Kris dan memang begitu adanya.


"Boleh aku meminta 1 permintaan pada kalian?" tanya Arick dengan wajah serius, membicarakan pernikahan teman-temannya membuat ia cemas sendiri.


"Permintaan apa?" tanya Jodi penasaran.


"Kenapa?" potong Kris cepat, ia sudah menabung sedari awal bekerja untuk menyenangkan wanita pujaannya, mempersembahkan pernikahan mewah, karena ini untuk sekali seumur hidup mereka.


"Aku tidak enak dengan Jihan." desis Arick.


Hahahaha, semua orang tertawa keras, menggema memenuhi seisi kamar hotel ini. Ya, pernikahan Arick san jihan dulu memang jauuuh dari kata mewah, bahkan lebih rendah dari kata sederhana.


Hanya ijab kabul di ruang tamu milik Mardi.


Bahkan teman-temannya tidak tahu saat ia menikah.


"Iti salah mu sendiri." Jodi.


"Itu deritamu." Kris


"Itu masalahmu." Haris.


Ketiga orang ini terus tertawa hingga terpingkal-pingkal, Arick hanya bisa berdecih tak suka.


"Setelah kita semua menikah, apa kita kita akan tetap bersahabat seperti ini?" tanya Kris yang mulai melow.


Setelah puas tertawa, keheningan menyelimuti ruangan ini.


"Entahlah, aku sedang berusaha mencari sahabat baru, tapi belum ketemu," ledek Haris yang tak ingin ada melow-melowan.


Jodi terkekeh, ia sudah menganggap Arick, Kris dan Haris adalah saudara-saudaranya. Hingga apapun yang terjadi nanti, jalinan persaudaraan tidak akan terputus.


"Tentu saja kita akan tetap seperti ini, malah semakin seru karena kita akan menjadi seorang ayah dan memiliki anak-anak. Bahkan anak-anak kita nanti juga akan menjadi sahabat." jelas Arick sambil menerawang masa depan versinya sendiri.


"Bukan sahabat, saudara," jodi menimpali dan semua orang tersenyum.


"Jangan saudara, nanti kalau anakku menyukai anakmu bagaimana? sesama saudara tidak boleh menikah." ledek Kris, Arick dan Haris langsung terbahak. Sementara Jodi melengos kesal.


"Kalau begitu aku akan mempercepat tanggal pernikahan ku dengan Selena, agar bisa segera memiliki anak." Bangga Kris dan diangguki oleh Jodi.


Sementara Haris pura-pura tidak dengar.


"Dulu bukannya kamu pernah beli suplemen penambah stamina? apa merk nya?" tanya Kris pada Arick, mengingat masa lalu, dulu sepertinya Arick pernah membangga-banggakan obat itu.


Arick menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jangankan ingat merk, dilihat pun tidak olehnya. Karena setetespun Arick tidak pernah meminum obat itu.


Tapi entah kenapa, rasanya ia malu jika mengatakan tidak minum suplemen itu. Seolah mengatakan jika tanpa obat itu ia tetaplah pria yang tangguh.


"Aku lupa, dulu yang beli obat itu ibu," jawab Arick jujur, mengambil cemilan diatas meja mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Memangnya kalau minum suplemen seperti itu apa yang berubah?" tanya Jodi penasaran, mereka bertiga memang tidak pernah berhubungan dengan benda-benda seperti itu, sedikit penasaran. Untunglah ada Arick yang sudah berpengalaman.


"Ah! sudahlah! kenapa jadi membahas itu, nanti kalian akan tahu sendiri jika sudah saatnya." jelas Arick yang mulai merasa kesal.


Diam-diam, Haris memperhatikan mimik wajah Arick. Matanya menyipit, mencurigai.


"Jangan-jangam kamu tidak pernah minum suplemen itu ya Rick?" tanya Haris menggoda, lengkap dengan seringainya.


"Wah wah wah, Arick memang pria yang tangguh." ledeknya lagi lalu tertawa terbahak.


Tawa itu langsung disusul oleh tawa Jodi dan Kris.


"Tanpa obat saja, bisa jadi langsung 2, hebat-hebat. Bagaimana tehniknya?" ledek Kris tak mau kalah.


Dan tawa itu kembali pecah.


.


.


☘☘☘☘


Jangan lupa Vote ya 😁 komennya juga 🙈