Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 109 Final Eps


20 tahun kemudian.


"Zayn, bawa baju hangat ini ya Nak, disana kan dingin," jelas Jihan pada sang anak yang kini sudah berusia 22 tahun. Zayn sedang menempuh pendidikan S1nya di Universitas Indonesia.


Hari ini, ia sedang bersiap untuk pergi ke Bogor, diajak salah satu Dosennya untuk mengikuti seminar.


"Iya Bu, sini," pinta Zayn seraya menerima uluran baju dari sang ibu. Baju rajut yang dibuat sendiri oleh tangan Jihan.


Melihat itu, Jihan tersenyum, selesai sudah janjinya pada Arend dulu kala.


"Aku tahu, baju ini buatan ibu kan? ayah yang memberi tahuku," ucap Zayn, ia langsung memakai baju itu, tidak memasukkannya ke dalam tas.


Senyum Jihan makin terkembang, dipeluknyalah tubuh sang anak yang kini sudah begitu besar.


"Ibu juga membuatkan baju yang sama untuk Anja dan Jani, jadi kamu jangan kepedean," jawab Jihan yang ingin meledek anak bujangnya ini.


"Aku tahu, ayah juga memberitahuku tentang itu," jawab Zayn dengan terkekeh, seolah mengalahkan ucapan sang ibu tadi.


Dan benar saja, mendengar itu, Jihan langsung murung seraya melerai pelukkannya.


"Kenapa Ayahmu itu selalu memberitahumu?" tanya Jihan dengan kesal.


Dan Zayn makin terkekeh keras.


"Pulang nanti langsung pulang ke rumah, jangan ke rumah mommy mu dulu. Kita akan berziarah ke makam Oma dan Opa," jelas Jihan dan Zayn mengangguk.


Mommy adalah Selena, sedangkan Oma dan Opa adalah Sofia dan Mardi yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu.


Zayn sering tinggal di rumah Selena, karena tempatnya lebih dekat dengan kampus tempatnya belajar.


Sementara Anja dan Jani yang sudah berusia 21 tahun memilih Universitas yang berbeda dengan sang kakak, agar lebih bebas, pikir keduanya kompak. Mereka kuliah di Universitas Gunadharma Jakarta.


Selena memiliki 3 anak, Kareena masih SMA, Yusuf masih SMP, dan terakhir Katrina kelas 6 SD.


Sementara Jasmin, hanya memiliki 1 anak, Shanum, yang usianya sama seperti Kareena.


Apa kabar Haris? ia akhirnya dijodohkan oleh kedua orang tuanya, ia menikahi Raya, wanita lemah lembut persis seperti Jihan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selepas kepergian Zayn, kini Jihan dan Arick masih berdiri di teras rumah. Memperhatikan mobil sang anak yang bergerak menjauh dan lama-lama menghilang.


"Aduh, kok tiba-tiba dicubit," keluh Arick dengan wajah memelas.


"Gara-gara Mas, kejutanku untuk Zayn, Anja dan Jani jadi hambar," keluh Jihan dengan wajah cemberut.


Mendengar itu, Arick langsung paham maksud sang istri. Lalu dikecupnya sekilas bibir yang sedang cemberut itu.


"Maaf ya, tapi hanya dengan membicarakanmu aku bisa dekat dengan anak-anak," jujur Arick.


Pasalnya, semakin anak-anaknya dewasa, makin membuat mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Jarang ada waktu untuk bersama.


Mendapati jawaban sang suami, Jihan jadi sendu. Jujur saja, ia pun merasakan hal yang sama. Kadang hanya dengan membicarakan Arick lah ia bisa lebih dekat dengan ketiga anaknya.


Perlahan, Jihan pun mengecup bibir sang suami sekilas. Lalu memeluk tubuh Arick dengan erat.


"Aku mencintaimu Mas," ucap Jihan di dalam pelukan itu.


Arick tersenyum, lalu membalas pelukan sang istri tak kalah erat.


"Aku lebih mencintaimu Ji," jawabnya lalu mengecup pucuk kepala Jihan.


Bersyukur, hingga kini keduanya masih saling melengkapi. Hingga kulit mereka keriput pun, cinta itu tidak pernah luntur.


...***TAMAT***...


Terima kasih, untuk semua reader yang mengikuti Turun Ranjang hingga tamat di BAB 109. Tidak ada exstra part ya, Jihan dan Arick sudah bahagia. Lain-lainnya yang masih menggantung silahkan diimajinasikan sendiri sesuai keinginan, hihi..


Satu yang ingin author ucapkan, Aku mencintai kalian semua 💚💚💚


Salam.


Turun Ranjang, 2021.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karya Baru:


Hati Yang Tidak Utuh 💔