Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 23


Pagi ini lebih indah dari biasanya,  Anin bangun lebih awal bersama Afifa yang sekarang makin aktif dalam tumbuh kembangnya, Afifa sudah pandai mengoceh-ngoceh meskipun terbata-bata membuat Anin makin gemas melihatnya mata sipit yang diturunkan sang Ayahnya membuatnya tampak mirip sepintas dengan Dimas versi wanita, di tambah pipi tembem yang menjadi incaran untuk dicium. 


"Mas bangun," ucap Anin menggoyangkan lengan Dimas.


"Hmmm." Dimas masih tetap menutup matanya.


"Mas, bangun udah shubuh kita shalat dulu," ucap Anin dengan lembut.


"Sebentar lagi," ucapnya dengan mata tertutup.


"Sayang ayo bangun." ucap Anin menggodanya.


Dengan sekejap Dimas langsung duduk dan membuka matanya menatap Anin.


"Coba ulang yang tadi," pinta Dimas.


"Apa?"


"Tadi panggil apa tadi" ucap Dimas mendekatkan telinganya


"Udah ah ayo keburu siang," ucap Anin menarik tangan Dimas.


Dimas masih saja duduk dan mengerucutkan bibirnya, tampak seperti anak kecilnya yang sedang merajuk, Anin yang melihat Dimas bertingkat seperti itu hanya menahan tawanya karena tak seperti biasanya Dimas merengek manja seperti ini. 


"Ayo sayang." ucap Anin akhirnya.


"Iya sayang." jawab Dimas yang kemudian mengecup bibir Anin sekilas sebelum pergi mengambil wudhu.


Anin yang mendapat kecupan singkat Dimas hanya tersenyum kecil dan memegang bibirnya. sambil menunggu Dimas selesai ia merapihkan tempat tidurnya dan ranjang Afifa, karena Afifa sudah di bawa Ibu Dimas saat bangun. 


Setelah selesai mengambil wudhu mereka melaksanakan shalat shubuh berjamaah, sebenarnya Anin menyuruh Dimas shalat di Mesjid hanya saja Dimas memilih untuk shalat bersama Anin karena mereka jarang shalat bersama. 


*-*-*-*-*


Setelah shalat Dimas dan Anin pergi ke bawah menemui Afifa yang sedang sarapan bubur bersama Nenek dan Kakeknya, mereka sedang asyik bermain bersama cucunya yang menggemaskan itu. 


Sedangkan Anin memilih memasak sarapan untuk mereka, ia memilih memasak Nasi goreng di bantu Dina yang meracik bahan-bahan, Dina nampak sedang bahagia bahkan sejak dari tadi ia begitu riang membuat Anin tersenyum dengan kelakuan Adik iparnya itu.


"Lagi bahagia gitu bagi-bagi dong," goda Anin.


"Ini aku bagiin senyum buat tetehku yang cantik," ucapnya sambil memeluk Anin.


"Lagi Falling in Love ya?" tanya Anin yang kemudian mulutnya di tutup Dina.


"Sutt teh jangan gede-gede ngomongnya ntar kedengeran Ibu sama Bapak." ucapnya sambil melirik orangtuanya.


"Oke-oke, kasih tahu teteh atuh," pinta Anin.


"Mm enggak ahh, pokoknya Dina lagi seneng banget," ucapnya sambil mengiris bawang daun.


"Yowes, nanti tak tanya sama Masmu," ucap Anin.


"Itsstt teteh jangan nanti Mas Dimas bakalan kepo jangan pokoknya ya please," ucap Dina memohon.


"Hmm okelah teteh gak nanya-nanya lagi." ucap Anin kemudian mengisyratakan mengunci mulutnya.


Dina mengangguk sambil senyum-senyum tidak jelas dan tak lupa ia bersenandung ria membuat Anin tersenyum dengan tingkah Dina, ia berharap Adik Iparnya itu selalu mendapat kebahagiaan.


Acara sarapan di mulai, mereka menikmati sarapan yang dibuat Anin dan Dina, dan tak lupa Dina masih saja mengoceh sambil tersenyum tidak jelas membuat semua orang menatap heran pada Dina yang sejak bangun bertingkah aneh.


*-*-*-*


Selesai makan Anin lebih dulu naik keatas setelah memandikan Afifa ia menitipkan Afifa pada Ibu karena ia ingin mandi, sedangkan Dimas sedang bersantai dengan Bapak membaca koran sambil berdiskusi ringan. 


Mereka semua sudah mengetahui tentang keputusan Dimas menjual sahamnya dan semuanya juga menerima dan mendukung keputusan yang Dimas ambil.


Anin bersyukur menjadi keluarga di keluarga Dimas karena semua orang sangat mendukung satu sama lain dan menguatkan, berbeda dengan keluarganya yang memprioritaskan pekerjaan dan materi, tidak ada uang tidak hidup begitulah mungkin prinsip orangtua Anin. 


Anin baru saja membuka baju di kamar mandi tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan membuatnya terkejut karena Anin hanya menggunakan bra, ia mengambil kembali bajunya dan menutup dadanya.


"Mas Dimas!" ucap Anin terkejut.


"Sorry, saya pikir gak ada orang," ucap Dimas sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Anin mau mandi " ucap Anin sambil menutupi dadanya.


"Saya juga mau mandi!" ucap Dimas yang masih berdiri di pintu kamar mandi.


"Oh ya udah tunggu Anin dulu, Anin mandinya sebentar kok," ucapnya dengan wajah memerah.


"Tapi ini udah siang, saya kan harus ke kantor dulu nyelesain perpindahan saham." ucap Dimas kemudian menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.


Anin menatap horor pintu kamar mandi yang sudah di kunci Dimas, perasaannya tak enak.


"Ya udah Mas duluan aja yang mandi,  tapi tunggu Anin pake baju dulu," ucap Anin yang masih menutupi dadanya dengan baju yang baru ia buka.


"Kenapa gak mandi bareng aja?" tanya Dimas dengan senyum jahil.


"HAH?" tanya Anin terkejut.


Dimas yang sudah berpikiran kotor pun langsung berjalan mendekati Anin, Anin yang merasa takut langsung memundurkan badannya dan menabrak tembok, Dimas langsung mendekatkan badannya pada Anin yang menunduk malu. 


"Saya sebelumnya belum pernah mandi bersama," ucap Dimas menatap Anin yang masih menunduk.


"Maksudnya?" tanya Anin.


"Saya belum pernah mandi bareng sama istri, kebetulan kamu ada di sini kenapa tidak? ucap Dimas.


"Mas tapi Anin belum siap." ucap Anin masih menunduk.


"Cuma mandi aja kok, Mas janji gak akan ngapa-ngapain," ucap Dimas menarik dagu Anin.


Anin sontak menatap Dimas dan tatapan mereka bertemu, Dimas yang sudah dikabut gairah langsung ******* bibir Anin dengan cepat, Anin yang ikut terhanyut ciuman Dimas membuka mulutnya dan membalas ciuman Dimas yang awalnya sangat lembut berubah menjadi panas.


Tangan Dimas juga tak mau kalah meraba tubuh Anin yang hanya menggunakan bra, Anin yang sudah terhanyut akan ciuman Dimas melepaskan tangannya dan menjatuhkan baju yang menutupi dadanya.


Dimas melepaskan ciumannya dan mencium leher Anin dengan lembut membuat tanda di leher putih Anin,  Anin yang baru pertama kali melakukan hal ini hanya pasrah karena Dimas melakukannya dengan lembut.


"Anin saya sudah lama puasa apa boleh sekarang kita melakukannya" tanya Dimas dengan wajah memelas menahan gairah yang memuncak.


Anin yang mengigit bibir bawahnya menatap mata sayu Dimas yang memohon, tanpa berpikir panjang Anin menganggukan kepalanya dan dengan cepat Dimas membuka bajunya dan celananya hanya tinggal dalaman yang masih ia gunakan.


Anin yang melihat Dimas yang hampir telanjang membuatnya panas dingin terlebih kini sesuatu yang menonjol dibalik celana dalam Dimas membuatnya makin tak karuan apakah sekarang waktunya ia menyerahkan dirinya pada Dimas?


Dimas kemudian membuka celana yang di gunakan Anin dan celana dalamnya, Anin yang merasa malu menundukan wajahnya dan menghentikan aksi Dimas yang mulai mengisap payudaranya.


"Mas apa gak salah kita melakukannya di sini?" tanya Anin.


"Tidak apa-apa Anin, saya sudah tak tahan,"


Anin yang terkejut dengan milik Dimas yang sekarang sudah berdiri tegak memicingkan matanya. Baru pertama kali ia melihat milik lelaki secara langsung,  jujur saja Anin pernah melihatnya saat teman satu kamarnya menonton film blue namun hanya sekali saja Anin menontonnya dan ia juga tak pernah membayangkan dan melihat secara langsung, milik Dimas yang lumayan besar membuat Anin makin panas dingin.


Dimas menarik tangan Anin untuk memainkan miliknya yang sudah tegang dan basah, Anin menggeleng ragu namun Dimas memintanya melakukan dengan ragu Anin memegangnya dan mengelusnya dan membuat Dimas merancau tak jelas dengan tangan masih bermain dipayudara Anin.


"Anin, Afifa nangis." Ibu berteriak tiba-tiba.


Dimas dan Anin yang terkejut dengan teriakan Ibu langsung menghentikan aksi mereka dan saling menatap.


"Kenapa waktunya gak tepat padahal tinggal sedikit lagi," ucap Dimas pada Anin dengan wajah kecewa.


Anin yang melihat Dimas begitu kecewa merasa tidak enak juga karena ia pun merasakan hal yang sama, sama-sama menginginkan tapi bagaimanapun mereka memiliki anak dan sudah pasti salah karena melakukannya di pagi hari.


"Iya Bu bentar lagi selesai mandi," ucap Anin dari kamar mandi.


Dimas menjauhkan badannya dari Anin dan menghidupan keran air, Anin yang merasa tak enak juga karena belum menuntuskan permainan merekapun merasa kasihan.


"Mas mandi duluan aja nanti Anin mandi udah Mas," ucapnya sambil memakai kimono handuk yang ia bawa.


"Ya sudah." ucapnya dengan lemah.


"Nanti kita lanjutinnya ya Mas waktunya gak tepat," ucap Anin.


"Beneran? Nanti malam?" tanya Dimas.


"Iya kalau waktunya pas, kan kita punya anak," ucap Anin.


"Gak mau tahu kamu harus bertanggung jawab karena udah buat dia berdiri!" ucapnya menunjuk miliknya yang masih tegang.


"Siapa yang ngegoda siapa yang tanggung jawab" ucap Anin yang kemudian mencium pipi Dimas dan berjalan keluar.


Dimas yang mendapat ciuman dipipinya pun kembali tersenyum,  meskipun tetap kecewa karena belum mencapai puncaknya, sepertinya kali ini Dimas harus main sendiri karena ia sudah tidak bisa menahannya sejak tadi.


*-*-*-*-*


Anin keluar dari kamar mandi setelah mencuci mukanya sekilas, ia langsung menghampiri Afifa yang menangis bersama Ibu, Ibu yang melihat Anin baru selesai mandi menatapnya lekat.


Kimono handuk yang hanya sebatas atas lutut sedikit membuat terlihat kaki jenjangnya yang mulus Ibu memuji Anin yang benar-benar cantik dan putih itu, ia menatap leher jenjang Anin dan melihat tanda kemerahan dileher tersebut membuat Ibu heran karena tadi pagi saat membuat sarapan tidak ada tanda merah, sepertinya Ibu mengerti apa yang baru saja terjadi.


"Sini Bu biar Anin gendong," pinta Anin.


"Kamu belum mandi?" tanya Ibu.


"Be.. Belum Bu, tadi Mas Dimas mau mandi duluan soalnya mau ke kantor" ucapnya sedikit gugup.


Tak lama Dimas keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan membuat Ibu makin penasaran sepertinya Ibu masuk diwaktu yang salah.


"Pantesan dipanggil tadi lama ternyata.." goda Ibu.


"Hah apa Bu?"  ucap Anin terkejut malu.


"Kayaknya Afifa cemburu makanya nangis dari tadi, Dimas gak sabaran ya Nin?" Goda Ibu kembali.


"Hah gimana Bu?" ucap Anin.


"Sudahlah Ibu tahu apa yang kalian lakuin di kamar mandi, lain waktu Ibu bakal kasih waktu buat kalian," ucap Ibu kemudian menunjuk leher Anin dan berjalan keluar.


Anin yang bingung pun memegang lehernya dan berjalan ke cermin, ia terkejut saat melihat kissmark yang banyak di leher mulusnya, ia pun langsung menepuk tangan Dimas karena sudah membuat banyak tanda kemerahan itu di lehernya dan ketahuan oleh Ibu.


"Mas ih kenapa banyak gini, Ibu juga lihat tadi Anin jadi malu," ucap Anin sambil menggendong Afifa.


"Udah gapapa itu baru pemanasan kok, lagian Ibu tahu juga gapapa kan pernah muda," ucap Dimas tersenyum tanpa dosa.


Anin hanya menghembuskan nafasnya kesal Dimas membuatnya malu karena Ibu namun satu sisi ia merasa senang karena Dimas akhirnya mau menerima dirinya dan menginginkannya meskipun mereka belum melakukan sampai tuntas.


Dimas selesai memakai pakaiannya,  ia menatap pada Anin yang sibuk mengajak Afifa mengobrol beruntung Afifa berhenti menangis setelah di gendong Anin, ia menatap leher Anin yang sudah banyak Kissmark yang ia buat, ia juga merasa kasihan karena Anin pasti akan malu keluar kamar apalagi setelah Ibu mengetahui apa yang mereka lakukan tadi. 


"Sini Afifa biar Mas gendong, kamu langsung mandi." ucap Dimas.


"Tapi Anin malu Mas gak bisa hilang kan ini?"


"Sdah gapapa, kamu gerain aja rambutnya lagian Ibu sama Bapak pulang sekarang jadi aman," ucap Dimas menggendong Afifa.


"Iya tetep aja malu Mas apalagi Ibu tahu." ucap Anin kemudian berjalan kekamar mandi.


Dimas hanya tersenyum melihat Anin yang menunduk lesu karena Kissmark yang ia buat, namun ia merasa bahagia karena Anin mau menerimanya. Meskipun permainan mereka belum tuntas karena Ibu yang tiba-tiba datang namun Dimas benar-benar senang.


Anin sudah selesai mandi ia juga sudah menggunakan bajunya di kamar mandi karena takut Dimas kembali melakukannya, ia melihat Dimas yang sedang menidurkan Afifa di ranjangnya. 


"dah tidur?" tanya Anin.


"Iya, Afifa pinter banget tahu aja orang tuanya lagi bikin adek jadi gangguin." ucap Dimas.


"Mas ihh," ucap Anin melotot.


"Oke ampun, ya udah kamu dandan dulu, Mas lansung berangkat ya udah mau siang," ucap Dimas.


"Mas pulang malam?" tanya Anin sambil menyisir rambutnya.


"Kenapa? Gak tahan ya?" goda Dimas.


"Ih enggak, cuman tanya aja." ucap Anin.


"Enggak nanti siang juga langsung pulang cuman penyerahan aja," ucap Dimas.


"Oh gitu, yaudah semoga sukses." ucap Anin.


"Makasih ya udah mau support Mas." ucap Dimas.


"Sama-sama Mas pokoknya terus semangat," ucap Anin tersenyum.


"Makasih juga baru tadi, Mas baru pertama kali ngelakuin di kamar mandi walaupun belum sampai masuk," ucap Dimas.


"Mas vulgar banget." ucap Anin.


"Jujur waktu sama alm kakak kamu saya belum pernah melakukannya dikamar mandi karena Kirana selalu nolak," ucap Dimas.


"Ya udah sana berangkat nanti kesiangan," ucap Anin.


"Iya sayang, ya udah Mas berangkat jangan lupa janjinya nanti malam." ucap Dimas mencium kening Anin.


"Sdah sana Mas." ucap Anin kemudian menyalimi Dimas.


"Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam." ucap Anin tersenyum.


Anin kembali tersenyum dengan apa yang terjadi tadi namun ia juga merasa malu dengan apa yang ia lakukan tadi bersama Dimas bahkan ia juga sudah melihat Dimas bertelanjang didepan matanya sendiri, tak mau berpikiran kotor Anin menutupi wajahnya karena malu sungguh Anin menikmati permainan yang Dimas buat tadi.