Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 5


Pagi itu Johan memutuskan untuk pergi keluar sebentar menemui sahabatnya, sekaligus mantan rekan sesama dokter yaitu Ryan. Sebenarnya tak apa jika dia berkunjung ke mansion mendiang ibunya. Ah ya, sampai acara kirim doa mendiang ibuku, Johan tinggal di sana dengan istrinya. Dan semalam acara tujuh hari mendiang ibunya berjalan lancar tanpa suatu halangan apapun.


Johan sudah membuat janji dengan sahabatnya itu akan bertemu di cafe dekat rumah sakit tempat Ryan bekerja. Selain karena Ryan tak bisa mengunjungi langsung mansion mendiang ibu Johan yang sekarang tentu saja menjadi milik Johan sepenuhnya. Dan tentu hutang-hutang mendiang ibunya sudah dilunasinya dengan menjual seluruh asetnya demi mempertahankan mansion kenangan milik mendiang orang tuanya.


Tentu saja semua itu juga dengan persetujuan Karina, istrinya. Bagaimana pun juga rumahnya dibeli saat dia sudah beristri Karina. Karina pun mengikuti apa yang dikatakan suaminya tanpa banyak protes. Dan untuk keluarga Mulia yang sekarang ternyata adalah keluarga kandung istrinya yang sudah lama mencarinya. Johan sudah tahu semuanya. Itu artinya sahabatnya itu adalah adik tiri beda ibu dengan istrinya.


Ternyata dunia sungguh kecil. Dari berbagai banyak manusia di bumi ini. Ryan sahabatnya ternyata masih saudara tiri istrinya yang sudah sejak kecil dibesarkan di panti asuhan. Dia sungguh bersyukur ternyata mereka bukan orang lain bagi Johan. Rumah sakit tempatnya pernah bekerja dulu sebelum memegang jabatan CEO di perusahaan mendiang kakaknya adalah milik ayah kandung istrinya, dokter Jonathan. Dan dia juga pernah bekerja disana.


Tujuan dia bertemu Ryan ada hubungannya juga dengan Johan yang memutuskan untuk mengabdi menjadi dokter lagi. Bukan keahliannya duduk-duduk di belakang meja mengurus berkas-berkas perusahaan yang membuatnya pusing tujuh keliling. Namun Johan harus menggantikan posisi istrinya sebagai pewaris perusahaan peninggalan mendiang kakaknya.


"Kau sungguh tak mau ikut denganku?" Tawar Johan sekali lagi pada istrinya pagi itu saat berpamitan.


"Aku mau bantu bibi beres-beres rumah mas, sisa acara semalam." Jawab Karina tersenyum lembut.


"Huff... padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan sekalian." Keluh Johan terdengar tak bersemangat.


"Kita bisa pergi lain kali mas, kasihan bibi." Hibur Karina merasa bersalah namun asisten rumah tangga hanya dua orang yang ada, biasanya empat orang, dua diantaranya sudah cuti beberapa hari yang lalu.


"Biarkan mereka yang melakukannya. Mereka dibayar untuk itu." Ucap Johan setengah memaksa.


"Mas bisa pergi sendiri, bukannya tidak sampai siang juga. Aku akan menunggu mas di rumah sambil memasak makan siang untuk mas." Jawab Karina masih berusaha menolak dengan halus.


"Benarkah?" Karina menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Baiklah. Hati-hati di rumah. Tunggu aku!" Jawab Johan akhirnya sambil mengecup kening istrinya lembut.


"Mas juga hati-hati." Johan mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya.


.


.


Johan tersenyum bahagia mengingat istrinya berada di rumah saat ini. Sudah lama mereka berpisah dan dia tak mau dipisahkan lagi dengan istrinya. Setelah bertemu dengan Ryan dan membahas suatu hal tentang pekerjaan. Johan memutuskan singgah di toko kue dekat rumah sakit untuk oleh-oleh istrinya.


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, dia masih mengantre pesanan kuenya dibungkus. Setelah itu dia akan segera pulang. Sebenarnya sejak tadi dia ingin segera pulang saja. Entah karena apa, dia sudah merindukan istrinya itu. Namun dadanya kembali merasa sesak entah karena apa seolah sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan sayangnya firasat nya tak pernah meleset.


Johan mencoba menghibur hatinya kalau yang dirasakannya tidak benar terjadi. Istrinya sedang menunggunya di rumah. Dia ingin menyampaikan hasil dari berbincang dengan Ryan tadi. Kalau dia sudah bisa bekerja kembali di rumah sakit tempatnya bekerja dulu karena Ryan sudah membicarakan hal itu dengan direktur utama rumah sakit yang tak lain adalah dokter Jonathan, ayah kandung Karina istrinya.


"Tuan Johan." Panggil penjual kue di tempat Johan mengantre.


"Ya." Jawab Johan beranjak dari duduknya menghampiri meja kasir sekaligus membayar pesanannya.


"Terima kasih sudah berkunjung tuan, sampai berkunjung kembali." Sapa ramah penjual kue yang hanya disenyumi tipis oleh Johan dan segera meninggalkan tempat itu untuk pulang ke rumah. Dia sudah tidak sabar dan sangat merindukannya.


.


.


Johan memarkirkan mobilnya di garasi mansion dan melangkah masuk ke dalam. Tak lupa kue yang dibelinya tadi ditenteng dengan senyuman tak pernah pudar dari bibirnya. Tak sabar melihat senyuman bahagia istrinya saat menerima kue kesukaannya. Johan masuk dan tanpa sengaja bersamaan dengan bibi asisten rumah tangga yang berwajah panik dan cemas membuat Johan ikut panik dan cemas juga.


"Syukurlah tuan Johan sudah pulang?" Ucap bibi terlihat lega sambil mengelus dadanya.


"Ada apa bi?" Tanya Johan menatap bibi intens.


"Non Karin tuan. Non Karin." Panik bibi gugup.


"Ada apa dengan istriku." Seru Johan menyelonong masuk ke dalam mencari sosok keberadaan istrinya. Dia semakin panik saja mendengar ucapan asisten rumah tangganya yang terdengar ambigu dan mencemaskan.


"Non Karina pesan tuan, kalau dia pulang ke mansion papanya." Jawab bibi membuat Johan terdiam.


"Apa dia sedang berkunjung kesana?" Tanya Johan masih belum paham kenapa sang asisten rumah tangga itu panik. Bukannya berkunjung ke tempat orang tuanya itu wajar. Kenapa dia tidak pamit tadi? Batin Johan mengambil ponselnya di kantong kemejanya mencari pesan yang mungkin dari istrinya yang sedang pamit.


Ah benar, istrinya mengirim pesan pukul sembilan pagi tadi. Dan sekarang sudah dua jam lebih. Batin Johan menatap jam tangan bermerk nya.


"Ya gak papa kalau dia berkunjung bi." Jawab Johan akhirnya sambil menuju dapur untuk meletakkan kuenya di kulkas. Dia juga sedikit kecewa dengan istrinya, kenapa dia pergi sendiri. Seharusnya dia mengajaknya kan untuk bertemu dengan keluarga barunya.


"Tapi tuan...." Bibi tidak meneruskan ucapannya karena Johan memilih masuk ke dalam kamarnya mengistirahatkan tubuhnya meski sebenarnya dia lapar sambil menunggu istrinya pulang.


.


.