
Anindira menatap ke arah jendela mobil disertai air mata yang lolos begitu saja, sesekali ia menyerka air matanya itu sambil memegang tabung susu formula yang sedang di minum Afifa saat ini. Ia tak berani menatap Dimas yang sekarang sedang fokus menyetir bahkan bungkam seribu bahasa sejak keluar dari Kafe tadi.
Kejadian di Kafe tadi membuat ia merasakan sesak di dada karena Gilang yang ia anggap seperti kakak sendiri bahkan sudah ia percaya malah membuat fitnah yang hampir membuat Dimas menjadi salah paham. Anin tak mengerti mengapa semua orang begitu jahat padanya Dimas tak mencintainya, Gilang ingin menghancurkan rumah tangganya dan orangtuanya yang mengabaikannya.
Entah apa dosa Anin di masalalu hingga hidupnya tak kunjung bahagia. Hingga ia tersadar saat Dimas memikirkan mobilnya di depan rumah Ibu dan ia turun dari mobil.
"Ayo turun!" ucap Dimas membuka pintu mobil.
"Kenapa ketempat Ibu?" tanya Anin.
Dimas tak menjawabnya ia membuka pintu belakang mobil mengambil tas jinjing kemudian mengambil Afifa dari gendongan Anin dan berjalan kearah rumah. Anin tak tahu apa yang direncakan suaminya itu yang ia lihat kini Dimas menjadi dingin rawut wajahnya menahan amarah dan Anin takut.
"Assalamualaikum Bu." ucap Dimas tergesa-gesa.
"Waalaikumsalam, lho kalian ke sini gak bilang-bilang dulu?" tanya Ibu.
"Bu, Dimas mau nitip Afifa dulu tolong jaga dia." ucap Dimas memberikan Afifa.
"Lho ada apa?" tanya Ibu penasaran.
"Ada yang harus kami selesaikan, nanti Dimas jemput lagi Afifa, ini baju dan popoknya sama susunya ada di sini," ucap Dimas memberikan jinjingan tasnya.
Ibu menerima jinjingan tas Dimas dan menatap ke arah Anin yang menunduk, ia melihat mata Anin seperti habis menangis dan ia mengerti Dimas dan Anin sedang ada masalah.
"Kamu gak usah khawatir, biar Afifa Ibu jaga kamu selesaikan dulu masalah sama Anin ini waktunya kalian untuk ngabisin waktu berdua, ingat jangan sampai nyakitin hati wanita Dimas!" ucap Ibu berbisik pada Dimas.
"Iya bu, Dimas juga gak mau buat dia menangis, terima kasih bu maaf merepotkan lagi, Dimas pergi dulu." ucap Dimas menyalami Ibu.
"Ibu gak masalah kamu mau titipin Afifa, sudah hati-hati jaga Anin." ucap Ibu.
Anin yang masih menunduk tersadar saat Dimas mengajaknya pergi, ia pun langsung menyalami Ibu yang tersenyum padanya.
"Lho Dimas kemana?" tanya Bapak yang baru datang.
"Mereka ada masalah, sudah waktunya Dimas membuka hati dan jujur sama Anin," ucap Ibu.
"Anak itu terlalu kanak-kanakan, Bapak kira ia akan lebih dewasa setelah punya anak," ucap Bapak duduk di kursi.
"Dimas masih trauma mungkin Pak."
Bapak mengangguk dan mengambil Afifa untuk di gendong. Ibu dan Bapak memilih diam dan tidak terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya karena bagaimanapun mereka sudah dewasa namun jika mereka membutuhkan bantuan seperti sekarang menitip Afifa Ibu dan Bapak tidak keberatan.
*-*-*-*-*
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, Dimas tetap diam tak berkata apapun pada Anin begitu juga sebaliknya mereka saling terdiam. Namun Anin tersadar sejenak motornya masih tertinggal di depan Kafe.
"Mas, motor tadi masih di Kafe," ucap Anin.
"Sudah saya suruh orang untuk mengambilnya, sementara di titipkan ke kantor dulu!" ucap Dimas.
Anin mengangguk kemudian beralih pandangannya keluar kaca mobil, ia tak tahu Dimas membawanya kemana karena jalan yang mereka lewati sekarang bukan arah rumah mereka.
"Kita sudah sampai," ucap Dimas.
"Ini bukannya?" ucap Anin terkejut.
"Iya, ayo turun!" ucap Dimas.
Dengan perasaan binggung Anin turun dari mobil dan mengikuti Dimas yang berjalan membeli bunga dan air. Anin binggung mengapa Dimas tiba-tiba mengajaknya ke makam Alm kakaknya itu, Anin sudah lama tidak ke tempat ini dan ini kali kedua setelah menikah Dimas mengajaknya.
"Mas, Anin gak pakai kerudung," ucap Anin.
"Kta hanya singgah sebentar," jawab Dimas.
Dimas membayar bunga dan air yang ia beli kemudian berjalan di ikuti Anin dari belakang. Dimas memimpin doa setelah membaca surat yasin bersama Anin, tiba-tiba Anin kembali menangis teringat kenangannya bersama Kirana dulu. Namun ia tak tahu mengapa ada perasaan iri juga Dimas mengajaknya ke tempat ini untuk mengunjungi makam Kirana, apakah Dimas merindukannya juga? Dimas jelas-jelas masih mencintai Kirana namun entah mengapa hati Anin terasa perih.
"Kirana, aku pikir aku bisa menjaga Anin dengan baik hampir saja orang lain ingin merebutnya," ucap Dimas menatap tanah yang sudah ia sirami itu.
"Kirana aku sudah berjanji akan menjaga Anin dan membahagiakannya tapi akulah yang buat dia menangis, Kirana maafkan aku sudah mengecewakan," ucap Dimas kembali.
Anin yang sudah berdiri menatap punggung Dimas yang masih duduk, ini kali pertama Anin melihat Dimas berbicara di makam Kirana, Anin hanya terdiam menunggu Dimas selesai.
"Kirana kamu benar, aku pengecut tapi aku takut kehilangan dia," ucap Dimas kembali.
"Mas." panggil Anin lembut.
"Kirana terimakasih sudah mau mendengarkan, aku berjanji akan menjaga dia," ucap Dimas kemudian berdiri menggengam tangan Anin.
"Kirana kita pulang dulu, semoga kamu tenang di surga." ucap Dimas.
Anin menghapus air matanya yang sejak tadi terus membasahi pipinya, ia mencoba menahannya sejak tadi namun melihat Dimas yang berbicara di pusara kakaknya membuat ia kembali menangis, Anin tahu Dimas begitu menyayangi kakaknya itu.
Hari sudah semakin sore, Dimas masih mengendarai mobilnya tanpa percakapan diantara mereka berdua, keduanya sama-sama terdiam hanya lagu dari Westlife " when a woman loves a man" yang mengalun merdu di telinga mereka. Anin tersenyum kecil di dalam hati lagu ini tepat seperti dirinya sekali mengapa Dimas memutar lagu dari boyband favoritnya saat keadaan mereka sedang kacau.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras, Dimas memakirkan mobilnya bersama mobil yang terpakir dipinggir jalan, mengapa Dimas tak melanjutkan perjalanan mereka padahal Anin ingin sekali cepat pulang dan beristirahat.
"Kamu lapar?" tanya Dimas.
"Lumayan laper, kenapa gak langsung pulang aja Mas?" tanya Anin.
"Nih ada roti sama snack juga air kamu makan dulu, ada brownis amanda juga." ucap Dimas.
"Mas beli dimana?"
"Tadi saya beli sebelum jemput kamu, kamu makan dulu biar Maagnya gak kambuh sambil nunggu hujan reda," ucap Dimas.
"Mas juga makan, ini brownis favorit Mas kan?" ucap Anin
"Lebih enak buatan kamu." ucap Dimas sambil memasukan potongan brownis ke mulutnya.
Anin hanya tersenyum kecil sambil menunduk, pujian Dimas tidak membuatnya bahagia seperti sebelum-sebelumnya karena Dimas tak pernah memiliki rasa untuk Anin dan Anin sadar.
"Nin." ucap Dimas menarik tangan Anin.
Dengan cepat Anin melepaskan tangannya dari genggaman Dimas, sungguh Anin tak mau lagi jika Dimas hanya mempermainkan perasaanya.
"Saya minta maaf atas ucapan tadi pagi saya gak bermaksud," ucap Dimas.
"Gapapa Mas, Anin ngerti," ucapnya tersenyum.
"Enggak Nin, kamu gak ngerti apa-apa termasuk saya," ucap Dimas.
Anin menatap wajah Dimas yang kini menatapnya dengan serius, wajah Dimas memang sangat tampan dengan mata sipit dan hidung mancungnya dan Anin sudah jatuh cinta dengannya tapi ia merasa tak pantas karena Dimas hanya mencintai Kirana sampai saat ini. Anin menundukkan wajahnya tak berani ia menatap wajah Dimas lama-lama .
Dimas menarik dagu Anin agar menatapnya, Dimas melihat mata Anin yang sudah memerah dan berkaca-kaca sepertinya menahan tangis. Dengan cepat Dimas meraih bibir tipis Anin dan menciumnya dengan lembut, Anin yang terkejut mencoba melepaskan ciuman Dimas namun Dimas menahannya ia tak mau melepaskannya dan mencoba memperdalam ciumannya agar Anin mau membuka mulutnya dan membalas ciumannya. Dengan berat Dimas melepaskan ciumannya karena Anin tak kunjung membalasnya.
"Mas maaf Anin gak maksud," ucap Anin tak enak.
"Kita bukannya mau jemput Afifa?" tanya Anin.
"Kamu tidur aja, nanti kalau sudah sampai saya bangunkan," ucap Dimas.
Anin lagi-lagi mengangguk, ia tak tahu kemana Dimas akan membawanya namun ia juga merasa lelah dan mengantuk baru beberapa menit Anin sudah memejamkan matanya.
*-*-*-*-*
Hari sudah pagi, Anin terbangun dari tidurnya dan menatap sekeliling ruangan yang nampak asing baginya. Ia mengingat kejadian kemarin dan mengapa ia sampai di tempat ini? Bukannya ia tidur di mobil semalam? Apa Dimas membawanya ke sini? Ia melihat ke sebelah kasurnya namun tidak ada Dimas, kemana dia?
Anin bangun dari kasurnya dan berjalan ke arah jendela yang masih ditutup gorden itu, Anin membukanya dengan perlahan terlihat pantai yang masih tampak sepi. Dimana ini? Anin binggung dimanakah dia berada apa ini mimpi? Anin mencubit tangannya terasa sakit berarti bukan mimpi.
"Sudah bangun? Ini sarapannya," ucap Dimas datang.
"Mas kita dimana?" tanya Anin.
"Di Jogja, kamu habisin dulu sarapannya udah itu mandi,"
"Jogja? Mas kok bisa?" tanya Anin terkejut.
"Bisa, Mas yang bawa kamu ke sini, habisin dulu sarapannya biar kita main di pantai." ucap Dimas.
Anin yang masih binggung dengan keberadaanya yang tiba-tiba sampai di Jogja memilih duduk sambil menikmati sarapannya ditambah Dimas yang sibuk memegang gadgetnya sambil menikmati kopi susunya.
"Mas jawab Anin dulu kenapa kita bisa di sini?" tanya Anin kembali.
"Mas kan udah bilang tadi," ucap Dimas acuh.
"Tapi kita gak bawa baju Mas,"
"Kata siapa? Semuanya sudah tersedia di sini" ucap Dimas menunjuk koper hitam di sebelahnya.
"Tapi gimana Afifa, Mas udah janji kan mau bawa Afifa," ucap Anin.
"Afifa sementara waktu biar sama Ibu, sekarang waktunya kita memperbaiki hubungan."
"Maksudnya?" tanya Anin binggung.
"Sudahlah kamu mandi dulu, ambil baju di koper, kita ke pantai sudah mandi,"
Anin berjalan ke arah koper yang dimaksud Dimas, ia membukanya dan melihat koper yang rapih dengan pakaian mereka berdua ia tak tahu kapan Dimas mempersiapkannya dan tak tahu juga mengapa Dimas mengajaknya ke pantai Parangtritis.
*-*-*-*-*
Selesai mandi Dimas menyuruh Anin untuk tidak mengikat rambutnya dan membiarkannya terurai ia bilang kalau Anin mengikat rambutnya akan banyak mata memandang leher putih Anin dan membuat orang-orang akan terpesona dengannya.
Mereka berjalan ke tepi pantai dan duduk di pasir, Dimas menyiapkan kameranya memotret pantai tersebut.
"Di sana tempat pertama saya lihat kamu dan teman-teman kampus kamu lagi istirahat," ucap Dimas menunjuk tempat.
"Dan di pinggir sini kamu berdiri menghadap pantai bersama teman-teman kamu tertawa bebas,"
"Dan kamera ini, kamera yang pertama kali saya gunakan untuk memotret wanita dan tepatnya di sini dan orang pertama kali yang di potret kamera ini adalah kamu!" ucap Dimas menatap Anin.
Anin menatap Dimas yang seperti sedang mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang Anin sendiri tak ingat karena ia memang sering ke pantai ini saat kuliah dulu.
"Dua tahun yang lalu, saya berlibur bersama Gilang dan Rendra di sini. Saya awalnya nolak karena saya gak butuh liburan tapi ada satu hal yang saya syukuri saat mereka mengajak saya adalah bisa melihat kamu dan saya sudah jatuh hati saat pertama kali lihat kamu," ucap Dimas
"Dua tahun lalu? Mas pernah ke sini dan bertemu Anin?" tanya Anin tak percaya.
"Sebelum perjodohan sama Kirana, saya sudah lebih dulu bertemu kamu dan mengagumi kamu, tapi saya gak berani buat berkenalan apalagi saya lihat di tempat sini seorang laki-laki menghampiri kamu dan kalian tampak akrab," ucap Dimas.
Anin mencoba mengingat kejadian 2 tahun lalu saat ia berada di pantai ini, dan ia teringat saat itu ada tugas kampus dan mereka berlibur di kampus ini dan ia teringat lelaki yang dimaksud Dimas saat itu adalah Candra teman kampusnya yang juga dekat dengannya
"Oh Anin inget cowok yang waktu itu namanya Candra, Anin udah lama juga gak ketemu dan kontekan lagi sama dia," ucap Anin.
"Ya syukur kalau kamu gak berhubungan lagi sama dia!" ucap Dimas.
"Apa Mas?"
"Enggak maksudnya kenapa kalian gak kontekan lagi?" tanya Dimas.
"Masih kok di Facebook dia sering kirim messenger." ucap Anin.
"Kamu sering kontekan sama cowok?" tanya Dimas
"Ya kadang-kadang cuman temen deket aja sih," ucap Anin cuek.
Dimas menatap kesal ke arah Anin yang dengan santai mengakui masih sering kontekan dengan teman laki-lakinya di facebook yang benar saja? Dimas harus mengecek ponsel Anin mulai hari ini.
"Waktu itu Gilang juga lihat kamu di sini, dia tahu saya pertama kali suka sama kamu," ucap Dimas.
"Jadi a'Gilang juga udah tahu Anin sebelum Mas sama teh Kirana nikah?" tanya Anin.
"Waktu itu saya coba buat lupain kamu, lagi pula kita gak saling kenal dan beberapa bulan setelah itu saya di jodohkan sama Kirana dan kamu tahu waktu pertama kali lihat Kirana saya malah ingat wajah kamu meskipun wajah kalian gak terlalu mirip tapi mata kalian sama," ucap Dimas.
"Dan Mas pertama kali ketemu teh Kirana langsung jatuh cinta juga?" tanya Anin.
Dimas menggeleng kemudian menatap ke arah pantai yang udara terasa sejuk. Dimas memejamkan matanya dan membuang nafasnya.
"Waktu itu saya gak tahu kenapa Bapak jodohin saya sama Kirana, bahkan saya belum mencintai dia sampai saat nikah pun, Kirana orang baik dia juga sabar menghadapi saya," ucap Dimas.
"Teh Kirana memang baik makanya Tuhan ngambil dia lebih cepat." ucap Anin menatap awan.
"Waktu di pernikahan, saya baru ketemu lagi sama kamu dan takdir berkata lain ternyata orang yang saya kagumi menjadi adik ipar kamu tahu saat itu perasaan saya bertambah kacau mengapa Tuhan mempermainkan hati saya,"
"Sampai akhirnya saya mencoba untuk menerima takdir, saya mencoba mencintai Kirana tapi satu sisi saya juga merasa bersalah sama dia karena jujur saya selalu teringat dengan kamu saat bersamanya, Kirana akhirnya tahu kalau saya suka dengan kamu waktu dia lihat laptop saya ada foto kamu waktu di pantai ini," ucap Dimas.
"Kata Mas teh Kirana jatuh dari kamar mandi itu setelah lihat foto Anin kan?" ucap Anin.
"Sebelum itu Kirana melihatnya dan dia belum bilang ke saya dia cari tahu sendiri dia lihat tanggal foto itu dan waktu pengambilan terus dia akhirnya tanya ke saya, dia bilang seharusnya saya tidak menerima perjodohan ini dan harusnya saya menikah dengan kamu bukan dengan dia, Kirana juga cerita tentang mantan pacarnya yang sudah meninggal dia juga bilang seharusnya dia menikah dengan lelaki itu bukan saya di situ saya merasa bersalah." ucap Dimas kemudian beralih menatap Anin.
"Anin pernikahan saya dengan Kirana tidak sebahagia sekarang, kami sama-sama mencintai orang lain dalam diam, sebelum Kirana jatuh dia jujur sama saya tentang perasaanya dan dari situ saya juga terluka saat itu saya sudah belajar mencintainya, sampai akhirnya di rumah sakit terakhir kali dia meminta kita menikah jujur saya kecewa dengan dia perasaan saya seperti di hancurkan kedua kalinya," ucap Dimas.
"Mas " ucap Anin menggenggam tangan Dimas
"Maafkan saya Anin, seharusnya saya jujur dari awal kalau saya mencintai kamu, bahkan sejak kamu menerima lamaran saya saya bahagia, saya minta maaf jika selama ini sikap saya dingin dan bukan maksud saya menikahi kamu untuk menjadi pengasuh Afifa. Jujur Anin saya sangat mencintai kamu." ucap Dimas dengan mata memerah.
Anin menangis mendengar penuturan Dimas,benarkah selama ini Dimas mencintainya? Dan selama ini cinta Anin tidak bertepuk sebelah tangan?.
"Tapi saya bersyukur pernah bertemu Kirana meskipun saya belum bisa menjadi suami yang benar. Sekarang saya jujur mencintai kamu Anin mungkin ini cara Tuhan mempertemukan kita lewat Kirana dan Afifa saya tahu dia bukan anak kamu tapi saya bersyukur karena kamu bisa mencintai Afifa seperti anak kamu sendiri saya bahagia Anin bersamamu." ucap Dimas.
"Mas, Anin juga bahagia bisa bersama Mas Dimas, sebelumnya Anin belum pernah merasakan jatuh cinta dan Mas orang pertama yang Anin cintai,"
Dimas memeluk Anin dengan erat dan di balas Anin dengan air mata bahagia, Anin menangis di bahu Dimas ia bahagia dengan kejujuran Dimas, ia tak pernah tahu jika Dimas sudah mencintainya sejak lama namun Anin sangat bersyukur sekarang ia tahu bahwa selama ini Dimas benar-benar mencintainya dan menutupi perasaannya.