
Karina dan Johan duduk di sofa panjang bersisia n. Sedang Ivan duduk si sofa tunggal di hadapan keduanya terhalang meja. Keduanya menundukkan kepala tak berani menatap wajah Ivan yang menatap mereka penuh intimidasi.
Berkali-kali Ivan menghela nafas panjang setelah menatap keduanya. Dia belum bicara apapun sejak kembali dari ruang tindakan di kamar periksa Dokter Mira.
Ivan marah sangat marah terutama pada adiknya. Sebelumnya dia sudah meminta adiknya untuk jujur pada suaminya tentang penyakitnya.
"Karin!" Panggil Ivan yang membuat keduanya menatp Ivan bersamaan.
"I-iya kak." Jawab Karina gugup merasa bersalah sambil meremas kedua tangannya. Karena Johan merasa tak tega pada istrinya diraihnya jemari tangan istrinya tersebut dan meremasnya seolah memberi kekuatan.
"Bukan salah istriku. Aku. Salahkan aku atas semua yang terjadi. Istriku tidak bersalah." Johan mengucap lantang menatap kakak iparnya. Ivan dan Karina sontak menatap ke arah Johan merasa terkejut.
"Kau memang yang salah, kalian berdua salah. Sama-sama salah. Kau anggap apa aku ini? Lalu papa juga? Dan keluarga yang lain? Kalian pikir hiduphanya berdua saja tanpa pendnapat orang lain!" Seru Ivan marah kehilangan kontrol. Membuat keduanya kembali menunduk ketakutan tak berani menjawab lantang seperti tadi karena memang merasa bersalah.
Bahkan jari telunjuk Ivan ikut-ikutan menuding-nuding di depan Johan yang kembali menciut nyalinya.
"Maafkan aku kak. Maafkan kami." Ucap Karina lirih masih sambil menundukkan kepalanya semakin dalam.
"Tidak. Aku. Akulah y ang seharusnya minta maaf. Sebagai seorang pria dan sebagi seorang kepala keluarga akulah yang bertanggung jawab." Sela Johan memotong.
"Ya. Memang kau lah yang salah. Kau sebagai laki-laki memang kurang tegas. Pantas saja papa memberikanmu hukuman dengan memisahkanmu dengan istrimu beberapa waktu lalu. Bersyukurlh karena istrimu hamil sehingga papa menghentikan hukuman kalian kalau tildak, entah sampai kapan papa akan menghukum kalian." Seru Ivan dengan nafas terengah-engah karena dia sambil berteriak hingga lupa tidak mengambil nafas karena saking emosinya.
Tok tok tok
"Masuk!" Titah Ivan mendengar pintu diketuk.
Asisten Ivan masuk menghampiri tempat duduk Ivan dan membisikkan sesuatu yang tidak didengar keduanya yang benar-benar merasa bersalah dan mencerna semua ucapan Ivan.
"Tunggu disini! Jangan kemanapun!" Titah Ivan berdiri dari duduknya pergi keluar dari ruangannya dulu.
.
.
?Mas." Lirih Karina menatap wajah suaminya.
"Maaf. Maafkan aku. Aku telah gagal menjadi seorang suami dan seorang laki-laki." Lirih Johan menundukkan kepalanya semakin dalam.
"Semuanya tidak benar mas. Mas suami yang sempurna untukku. Suami yang baik untukku." Ucap Karina sambil menggelengkan kepalanya menyangkal tuduhan suaminya pada dirinya sendiri.
" Kakakmu benar, aku bukan lelaki yang baik untukmu. Maaf." Karina menggelengkan kepalanya memegang tangkupan kedua tangan suaminya padanya.
"Kita sudah berjanji dalam ucapan ijab qobulmu dulu mas. Aku dan kamu akan saling menerima apappun kelebihan dan kekurangan kamu." Ucap Karina.
"Terima kasih sayang. Terima kasih. Aku semakin mencintaimu."
Cklek
Pintu ruang kerja Ivan dulu dibuka, muncul dokter Nathan atau papa Karina diikuti Ivan melangkah i belakang papanya.
Pelukan itu sontak dilerai oleh Johan. Keduanya sama-sama menatap kedatangan dua orang yang mempunyai wajah hampir sama hanya beda usia saja.
Tanpa bicara apapun keduanya duduk di sofa dengan dokter Nathan duduk di sofa tunggal yang diduduki Ivan tadi dan Ivan duduk di sofa yang masih tersisa.
Dokter Nathan belum bicara apapun masih menatap keduanya bergantian.
"Pa..."
Belum selesai Karina bicara, dokter Nathan mengangkat sebelah tangannya melarang Karina untuk bicara meminta semuanya untuk diam.
Ivan meletakkan berkas dimeja depan Johan tepat di depan Johan duduk. Johan masih belum paham apa makudnya dan kemudian menatap dokter Nathan dan Ivan bergantian seolah bertanya apa maksudnya dengan berkas ber map warna merah itu. Tatapan Johan berhenti tepat pada dokter Nathan yang ditebaknya sebagai orang yang paling mengerti dan yang memutuskan segalanya.
"Bacalah!" Titah dokter Nathan menatap Johan lekat. Johan pun mengangguk setelah sedikit berfikir. Dia pun meraih map tersebut dan mulai membacanya runut dri atas.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca nama istrinya ada di daftar nama paling atas.
'Bukankah ini rekam medis kesehatan?'
'Apa ini tentang penyakit istriku?'
Batin Johan melirik istrinya dan kemudian menatap ayah mertuanya dan bergantian dengan kakak iparnya. Karina terlihat cemas melihat raut wajah suaminya yang pucat pias. Namun Karina tetap diam menunggu.
Johan pun melanjutkan apa yang dibacanya dan melihat detailnya penjelasan yang ada di dalam berkas tersebut yang tidak hanya satu lembar saja bahkan berlembar-lembar. Dan Johan tentu saja tidak keberatan membacanya dari awal hingga akhir karena itu semua taentang istrinya.
Setekah cukup lama membaca dan memahami dari semua berkas-berkas rekam medis tersenut hingga mungkin tidak lebih dari setengah jam membuat Johan tiba-tiba terisak setelah selesai membacanya dan memahami semuanya. Dia sungguh sangat menyesal dan merasa bersalah.
Dia sungguh sangat gagal menjadi seorang suami juga seorang laki-laki. Dan hampir saja dia gagal menjadi seorang ayah dengan begitu tega akan membunuh calon anaknya yang sedang tumbuh di rahim istrinya.
Dokter Nathan dan Ivan pun akhirnya menghembuskan nafas lega setelah melihat reaksi rasa bersalah Johan. Karina yang belum mengerti dan memang tak mengerti arti berkas yang dibaca suaminya karena dia memang bukanlah seorang dokter saat dia membaca berkas tersebut dan terdapat kalimat-kalimat medis yang tentu saja tak Karina mengerti.
"Maaf sayang. Maafkan aku. Aku tak tahu bagaimana penderitaanmu dulu. Terlalu besar penderitaanmu dulu. Maaf. Maafkan aku yang tidak ada disisimu saat kau brjuang sendirian pada penyakitmu. Maaf. Maafkan aku." Ucap Johan penuh dengan penyesalan, dengan air mata dan isakan tangis yang terus saja mengalir tiada henti.
"Semua sudah berlalu mas." Akhirnya Karina sedikit mengerti meski tidak sepenuhnya , berkas rekam medis itu tentang penyakitnya dulu saat dia hampir saja meregang nyawa dan suaminya memang tak ada di sisinya. Karina pun menepuk-nepuk punggung suaminya memberinya penghiburan.
.
.