Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 12


Pagi ini tidak ada percakapan apapun di meja makan selain sendok yang mengisi suara dengan garpu yang ikut menyaut.


Dimas dan Anindira menikmati sarapan mereka masing-masing tanpa membuka suara, sejak pernikahan mereka kemarin mereka tidak banyak berbicara selain bertanya tentang Afifa atau mereka yang hendak tidur.


Dimas sedang bersantai di taman belakang rumahnya sambil mengesap rokok, tak ada kegiatan yang ia kerjakan hari ini karena ia mengambil cuti selama tiga hari setelah pernikahannya, sedangkan Anindira ia sibuk menemani Afifa bermain, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa ada rasa peduli satu sama lain.


"Mas, boleh titip Afifa sebentar? Anin mau cuci baju sama celananya Afifa dulu mumpung panas cuacanya," ucap Anin menghampiri Dimas di taman belakang.


"Oh ya sudah sini Afifa," ucapnya mengambil Afifa.


"Eh rokoknya matiin dulu, terus Mas bawa Afifa ke dalam aja masih ada asap rokok gak baik buat Afifa," ucap Anindira.


"Oke kita ke dalam yuk sama Ayah," ucap Dimas mengajak Afifa.


Anindira hanya menggeleng kepala dengan Dimas karena sudah memiliki anak tetapi ia masih saja merokok, padahal Afifa masih kecil dan tidak boleh menghirup asap rokok, meskipun Dimas mengesap rokok di luar rumah seperti di taman belakang namun tetap saja asap rokoknya menempel pada tubuh Dimas dan terhirup Afifa.


Anin ingin menyuruh Dimas untuk berganti pakain dan mencuci mukanya,hanya saja ia tidak berani karena takut Dimas tersinggung dan marah.


Anin memilih untuk mencuci pakaian Afifa yang menumpuk, ia memilih mencuci dengan tangan agar lebih bersih meskipun ada mesin cuci namun Anin lebih memilih mencuci manual karena pakaian bayi harus lebih bersih.


Setelah selesai mencuci Anindira menghampiri Afifa dan Dimas yang berada di ruang televisi sedang bermain, tampaknya Dimas mengantuk sedangkan Afifa sudah rewel menangis.


"Mas, biar sama Anin aja Afifanya Mas kalau ngantuk tidur dulu aja," ucap Anin sambil menggendong Afifa.


"Saya ke kamar dulu, nanti udah dzuhur bangunkan ya," pinta Dimas yang di angguki Anin.


*-*-*-*


Perjalan hidup Anindira memang tak seindah yang ia bayangkan sebelumnya, semua terjadi begitu cepat tanpa ia sadari dan ia minta.


baru saja ia lulus wisuda kini ia sudah menikah dan dituntut menjadi seorang Ibu padahal tak pernah terpikirkan olehnya mengurus anak tanpa pengalaman apapun bahkan merawat anak sang kakak yang sudah tiada yang membawanya menjadi sosok pengganti.


Afifa mungkin memang kurang beruntung, Tuhan menakdirkan dirinya lahir tanpa sosok Ibu kandung disisinya, beruntung semua orang menyayanginya dan memberikan kebahagiaan bagi semua orang termasuk Anindira yang menyaksikan sendiri tumbuh kembangnya Afifa yang begitu pesat.


Dulu saat Kirana hamil ia begitu senang karena tak lama lagi ia akan menjadi seorang Aunty yang memiliki keponakan yang lucu, tapi Tuhan berkehendak lain Anindira ditakdirkan menjadi Aunty sekaligus Ibu pengganti untuk Afifa keponakannya. ia juga menikah dengan kakak iparnya yang kini sudah resmi menjadi suaminya, Anindira mengesampingkan egonya hanya demi keluarganya ia mengorbankan semuanya termasuk cita-cita dan masa mudanya.


"Assalammualaikum." ucap Ibu membuka pintu.


"Waalaikumsalam," jawab Anin sambil menyalami Ibu.


Ibu dan Dina datang ke rumah Anin dengan tiba-tiba, Anin pun merasa binggung karena Dimas tidak memberitahu kedatangan mereka berdua ke rumah yang masih berantakan dengan mainan yang berserakan di ruang tv, Anin masih menggendong Afifa yang baru saja terlelap setelah ia beri susu formula.


"Dimas kemana?" tanya Ibu.


"Mas Dimas lagi tidur Bu,"


"Wah pasti kecapean karena tadi malam ya," goda Ibu yang berhasil membuat rona merah di wajah Anin.


"Kecapean gantiin popok Afifa sih iya." ucap Anin dalam hati.


"Dina gak kuliah?" tanya Anin mengalihkan pembicaraan.


"Enggak teh Dina baru selesai Uas jadi libur," ucapnya tersenyum pada Anin.


"Og gitu, eh Bu Anin Izin ke belakang dulu ya panggilin Mas Dimas sambil tidurin Afifa," ucapnya sambil masuk ke kamar.


Anin masih merasa canggung dengan Ibu mertuanya itu meskipun Ibu selalu ramah dan bersikap baik padanya terlebih sekarang ia sudah resmi menjadi menantunya ia hanya takut Ibu mertua akan membandingkan ia dengan Kirana dulu karena Mamah kandungnya selalu membandingkan mereka.


"Mas, Bangun ada Ibu sama Dina di depan,"


"Ibu ngapain ke sini?" tanya Dimas mengusap matanya


"Gak tahu Mas, kayaknya mau ngomong sama Mas," ucap Anin sedikirlt pelan sambil menaruh Afifa.


Tanpa kembali bertanya Dimas berlalu pergi meninggalkan Anin yang baru saja menidurkan Afifa, Anin memilih membuat minuman untuk Ibu dan Dina.


"Ada apa Bu?" tanya Dimas yang masih mengantuk.


"Lho kamu nih kok layo bener seh," tanya Ibu.


"Dimas masih ngantuk,"


"Habis tempur semalaman ya pasti capek," goda Ibu.


"Ibu, gak sopan ada Dina," jawab Dimas.


"Dina tutup telinga," ucap Ibu yang langsung spontan Dina memilih pergi ke taman belakang.


"Tuh Adekmu udah pergi," ucap Ibu.


"Ada apa ibu ke sini?" tanya Dimas.


"Ibu mau datang aja lihat cucu sama mantu Ibu," ucapnya.


"Anin belum istirahat bu dari kemaren, belum lagi malam bergadang karena Afifa rewel, Dimas juga masih ngantuk bu masih capek karena acara kemarin," terang Dimas.


"Nah makanya Ibu ke sini mau bawa Afifa biar kalian punya waktu dulu berdua, lagian kamu sih Dim udah Ibu suruh jangan bawa Afifa kemaren malah kamu bawa jadi kalian malah kecapekan kan," ucap Ibu.


"Bu, Afifa kan anak Dimas lagipula Dimas nikah sama Anin untuk merawat Afifa,"


Baru saja Ibu hendak berbicara, Anin sudah datang membawa nampan berisi minum dan kue dan juga Dina yang ikut datang menghampiri.


"Eh teteh kapan-kapan ke rumah ya," ucap Dina yang tampak riang.


"Inshaallah ya," ucap Anin tersenyum.


"Ada apa sih kalian berdua kayaknya seneng gitu," tanya Ibu.


"Itu teh Anin bilang dia suka bikin Maket waktu kuliah ngambil jurusan arsitektur juga Adek mau nyoba bikin maket sama teh Anin," ucap Dina semangat.


"Kamu masih suka bikin maket Nin?"


"Iya bu kalau ada pesanan aja,"


"Oh iya Bu di minum dulu," sambung Anin.


"Nin, Ibu mau bawa Afifa buat nginep di rumah," ucap Ibu.


Anin terdiam sejenak menatap Ibu kemudian menatap Dimas yang menatap acuh ke arah lain yang membuat Anin malah binggung sendiri pasalnya jika Afifa menginap ia akan lebih canggung berduaan dengan Dimas.


"Kenapa Bu? Anin gapapa kok jaga Afifa," ucap Anin menolak halus.


"Kasihan kamu kan baru nikah pasti capek juga kan jadi biar sementara waktu Ibu jagain Afifa dulu,"


"Gimana Mas Dimas?" tanya Anin.


Dimas binggung menjawab pertanyaan Anin, iapun merasa canggung jika hanya berduaan dengan Anindira jika Afifa dibawa oleh Ibunya, namun karena Anin memberi jawaban pada Dimas apapun jawab Dimas, Ibu pasti akan tetap membawa Afifa.


"Dimas pasti setuju, kalian gapapa habisin waktu dulu aja berdua, nanti minggu depan Ibu bawa Afifa pulang,"


"Minggu depan?" tanya Anin terkejut.


"Iya kan Mas Dimas sama Anin mau ke Jogja buat liburan," ucap Dina.


"Liburan apa?" tanya Dimas yang juga terkejut.


"Bude kamu tuh kasih tiket kereta ke Jogja, jadi sayangkan kalau hangus Bude katanya kangen sama Anin juga, jadi kalian siap-siap sekarang besok sore kalian berangkat," jelas Ibu.


"Besok sore? Bu kok gak kasih tahu Dimas dulu kan Dimas harus kerja lusa,"


"Gak ada kerja-kerja kamu tuh baru aja nikah udah kerja lagi, lagian kamu tuh bosnya jadi bisa libur kapan aja."


Anin binggung menjawab apa karena Ibu mertuanya sedikit keras dan tidak menerima penolakan, Anin hanya menatap Dimas yang tampaknya tidak setuju dengan Ibunya. ia tahu Dimas menikah dengannya karena permintaan Kirana jadi bagaimana mungkin ia akan setuju pergi belibur berdua dengan dirinya.


"Dimas banyak kerjaan di kantor Bu,"


"Ibu sudah minta Hendra mengurusnya, sudah kamu turutin aja kata Ibu atau mau Bapak yang ngomong sama kamu," ancam Ibunya.


"Oke-oke gimana Ibu aja," ucap Dimas yang tampaknya tak suka dengan perbincangan ini dan langsung pergi ke kamarnya.


*-*-*-*-*


Apa yang tidak diharapkan terjadi juga, Dimas dan Anindira pergi ke Jogja sore ini dengan kereta, mereka hanya membawa satu koper karena rencananya mereka hanya pergi tiga hari.


Di dalam kereta mereka tak banyak berbincang, Dimas memilih tidur sedangkan Anindira sibuk membuka ponselnya mendengarkan lagu Westlife favoritnya sambil membaca cerita di wattpadnya, mereka duduk saling berhadapan tanpa bertatap muka.


Kali ini Anin tak sengaja menatap Dimas yang berwajah dingin itu, Dimas yang memiliki karisma dan berwajah cuek namun memang mempesona, Anindira tidak pernah menyangka ia akan dijodohkan oleh Tuhan dengan cara seperti ini bersama Dimas yang notabennya kakak Iparnya.


Hidung mancung Dimas begitu terlihat matanya sedikit sipit mengikuti mata sang Bapak entah apa Dimas keturunan China atau menang ada darah china karena jika dilihat-lihat ia seperti keturunan Tionghoa.




Dimas Adiputra


Anin tersadar kembali ia baru saja memuji suaminya itu, selama ini ia tak pernah bisa menatap lekat wajah suaminya karena mereka hanya menatap sekilas, tanpa sadar Anin mengukir senyum diwajahnya saat menatap Dimas. Apa ia terpesona dengan Dimas? Anindira memilih memejamkan matanya karena sudah lelah.




Anindira Maheswari


Mereka sudah sampai di Jogja, Hasan menjemput mereka di Stasiun dengan mobil, Hasan dengan ceria dan semangat menyambut mereka. Selain ia rindu dengan Anindira ia juga memesan beberapa oleh-oleh pada mereka karena saat di Bandung tak sempat membelinya.


"Klian pasti capek ya, istirahat dulu gih," ucap Bude saat mereka baru sampai.


"Ndak Bude, Anin mau langsung mandi," ucap Anin.


"Yowes kamu tidur dulu aja Dimas, mata kamu kayaknya loyo,"


"Iyo Bude, Dimas pamit ke kamar yo," ucap Dimas yang memang lelah.


Anin sudah selesai mandi, ia melihat Bude yang tampaknya tidak ada di rumah dan sudah berangkat ke kedainya, Hasan pun sudah pamit ke kamar setelah mendapat oleh-oleh yang ia pesan.


Dimas masih terdiam di kamarnya, ia enggan keluar kamar karena Bude dan Pakdenya tidak berada di rumah, sedangkan Anindira ia memilih pergi ke kedai setelah melihat Dimas yang tadi masih terlelap, padahal Dimas sengaja tidur agar menghindari Anin dan Anin yang paham dengan situasipun memilih pergi agar tidak menganggu Dimas.


Di Kedai Bude dan Pakde begitu sibuk karena banyak pengunjung yang berdatangan, mereka rata-rata wisatawan mancanegara yang berlibur, wedang ronde khas Jogja yang menjadi andalan di kedai Bude karena rasanya yang begitu enak, rasanya juga tidak pernah berubah Bude sejak pertama kali beliau membuka usahanya dan membuat banyak pelangan setianya selalu datang.


"Lho Ada Anin, kemana aja udah lama gak lihat," tanya Pak Karim ketua RT.


"Sekarang udah di Bandung Pak," jawab Anin ramah.


"Wah, yo pantesan Bapak ndak pernah lihat kamu lagi, biasanya kamu selalu di sini temenin Bude sama Pakdemu," ucapnya sambil menikmati Wedang jahenya.


Anin hanya tersenyum pada Pak Karim yang memang selalu datang ke Kedai Bude karena sahabat lama dari Pakde, Anin memilih melayani pelanggan yang makin ramai meski hari sudah siang dan matahari sudah menjulang tinggi.


"Anin kamu duduk dulu, masa tamu Bude ikut bantuin sih ndak baik," cegah Bude


"Gapapa Bude, lagian bosen juga kan kalau diem,"


"Eh, enggak-enggak kamu duduk aja, Bude nyuruh kalian datang ke sini bukan buat bantuin Bude, udah kamu duduk sana sama pak Karim biar Bude yang terusin,"


Anin hanya menuruti perkataan Bude karena memang badannya juga sedah letih sejak tadi pagi, ia memilih duduk bersama Pak Karim yang masih bersantai sambil membaca koran berita terbaru.


"Pak Karim serius banget baca korannya,"


"Ini Nin berita terbaru tentang artis yang terjerat Narkoba, duh barang haram kok didekatin ya apa ndak tahu dosa,"


"Mereka biasanya depresi pak makanya mereka butuh obat penenang dengan dosis yang tinggi biasanya kayak gitu, kita juga gak tahu sih kehidupan artis itu kayak gimana." terang Anin


"Eh mumpung kamu lagi di Jogja, saya mau kenalin kamu sama keponakan saya," ucap pak Karim.


"Kenalin sama siapa Pak?" tanya Anin.


"Nanti malam dia datang ke sini, nanti saya kenalin yo," ucapnya lalu kembali membaca korannya.


Anindira hanya mengangguk, kemudian bermain game di ponselnya baru saja ia membuka aplikasi, Dimas meneleponnya.


"*Halo Mas?"


"Kamu dimana?"


"Di kedai Pakde, lagi rame di sini Mas kesini aja,"


"Ya sudah nanti saya ke sana*." ucapnya mematikan sambungan teleponnya.


Mood Anindira berubah, ia jadi tidak ingin bermain karena Dimas meneleponnya, ia memilih berkeliling dekat kompleks sambil mengambil beberapa potret selfienya.


Tak terasa waktu sudah sore, Anindira menunggu Dimas di Kedai sejak siang namun Dimas tak kunjung datang sepertinya ia masih berada di rumah, Anin memilih untuk pulang ke rumah namun Pak Karim tiba-tiba saja datang dan menghampiri Anindira bersama seorang lelaki yang tampaknya tak asing bagi Anin yang berjalan jauh dan membelakangi mereka karena sedang menelepon dengan seseorang.


"Nin, duduk sebentar," ucap Pak Karim.


"Ada apa Pak?"


"Ini yang mau saya kenalin sama kamu, ehh kesini Van," teriak pak Karim memanggil lelaki berjaket kulit yang membelakangi mereka.


"Pak Evan?" ucap Anindira membelalakan matanya.


"Anindira?" ucap Evan tak percaya.


"Lho kalian sudah saling kenal toh? Lah ngapain Pakle kenalin sih Evan," ucap pak Karim.


Evan yang melihat Anindira langsung mendekatinya dan menyalaminya, dengan edikit terkejut Anin menyambut salamnya, mengapa disaat seperti ini dia bertemu kembali dengan mantan bossnya yang pernah dekat dengannya.


"Dulu dia karyawan Evan, kita deket," ucapnya menatap Anindira dengan senyum.


"Benar begitu nin?" tanya Pak Karim.


Anindira hanya mengangguk sambil menunduk, ia ingin segera pergi dari hadapan Evan saat ini juga, Evan menatap dirinya seperti ingin menelanjanginya.


"Gimana kabarmu Nin?" tanya Eva yang terus mengembangkan senyumnya.


"Baik." jawab singkat Anin.


"Sekarang kamu balik lagi ke Jogja? Maaf ya soal waktu itu saya turut berduka cita," ucapnya


"Iya gapapa Pak, saya cuman liburan di sini," ucapnya tanpa menatap Evan.


"Berapa hari? Biar saya temanin jalan-jalan," ucap Evan.


"Ndak usah, saya cuman mau bantuin Bude aja," jawabnya.


"Bentar kalian saling kenal kok saya gak tahu, kalau begitu saya gak usah repot-repot lagi," ujar pak Karim.


"Ada apa pak?" tanya Anin binggung.


"Saya mau menjodohkan kalian berdua," ucapnya


"APA?" tanya Anin terkejut dan menatap Evan yang malah tersenyum senang dengan tuturan pak Karim.


"Iya lagi pula kamu tahu kan Evan sudah mapam, umurnya juga tidak jauh beda dengan kamu, dan juga kalian sudah saling kenal,".


"?aaf saya gak bisa," ucap Anin hendak berdiri.


"Anin kita bisa bicarakan ini dulu," cegah Evan yang langsung mengenggam tangan Anin.


"Saya tidak bisa menikah dengan Pak Evan, maaf pak tolong lepasin tangan saya,"


"Kita bisa bicarakan dulu kan Anin,"


"Bicara apalagi? Anin sudah menikah," ucap Dimas yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Nikah? Maksudnya apa?" tanya Evan terkejut.


"Kita sudah menikah." ucap Dimas menatap Evan yang sudah berdiri terkejut.


"Kalian nikah? Loe kan iparan sama Anin," tanyanya binggung.


"Kita sudah nikah beberapa hari yang lalu dan lihat cincin dijari Anindira apakah kurang bukti," ucap Dimas langsung mengangkat jari Anin.


"Anin kamu sudah menikah?" tanya pak Karim terkejut.


"Iya saya sudah menikah, dan kami sedang liburan di sini," jawab Anin tegas.


"Kalau begitu saya minta maaf Anin, saya tidak tahu, dan Dimas saya tidak tahu kalau kalian menikah," ucap Pak Karim tak enak.


"Tidak apa-apa Pak, saya juga baru menikah dengan Anin maaf tidak memberi undangan," ucap Dimas.


Pak Karim yang tidak enak kemudian pergi, sedangkan Evan malah menetap tak percaya dengan Dimas dan Anin yang sudah menikah.


"Jadi kamu pulang ke Bandung karena nikah sama Dimas?" tanya Evan yang nampak tak percaya.


"Semenjak kakak saya meninggal saya berjanji untuk menikah dengan Mas Dimas dan menjaga anaknya," terang Anindira.


"Tapi kenapa kamu gak bilang dari awal Anin? Saya sudah menunggu kamu bahkan saya menunggu kamu pulang," ucap Evan kecewa.


"Saya rasa hubungan kita hanya sebatas rekan kerja pak, saya harap bapak tahu." ucapnya.


"Kamu tahu kan saya suka dengan kamu sejak lama, kenapa kamu pilih Dimas?" tanya Evan.


Bude yang melihat keributan pun langsung datang menghampiri mereka, Bude bukannya tak mendengar keributan mereka dan apa yang mereka biacarakan namun karena banyak pelanggan ia memilih melayani pelanggan namun karena siatuasinya makin panas ia memilih datang menghampiri.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Bude.


"Bude kenapa gak bilang kalau Anin sudah menikah?" tanya Evan.


"Lah memangnya kamu ndak tahu?"


"Saya selalu ke sini tanya kedatangan Anin tapi Bude gak pernah kasih tahu kabar dia dan sekarang dia sudah menikah?" ucap Evan.


"Undangan pernikahan kita memang terbatas, kita cuman undangan keluarga dan saudara aja," jelas Dimas.


"Gue gak nyangka loe bisa nikah sama Anin padahal dia adik ipar loe," ucapnya tersenyum mengejek.


"Gue nikah dengan siapapun gak ada urusannya sama loe!" jelas Dimas yang langsung membawa Anin pergi.


Evan sukses dibuat skakmat oleh Dimas dengan jawabannya, tapi tetap saja ia tidak terima Anindira yang ia suka sejak pertama kali ia rekut menjadi karyawannya menikah dengan Dimas, padahal Evan sudah mendekati Anin sejak kuliah dan menawarkan Anin menjadi karyawan tetap agar bisa lebih dekat dengan Anindira.


Tapi tiba-tiba saja di hari itu Anindira memutuskan untuk kembali ke Bandung dan mengundurkan diri tanpa sempat mengatakan selamat tinggal pada Evan dan kini ia bertemu lagi dengan Anin yang sudah resmi menjadi seorang istri. Dunia memang kejam.


"Ternyata pengorbanan gue selama ini sia-sia kita lihat aja nanti apa yang bakal gue lakuin buat kalian!" ucap Evan dalam hati.


Sedangkan Dimas yang masing mengandeng Aninpun terus berjalan ke rumah, tak peduli Anin kesakitan atau tidak dengan cengkramannya yang pasti ia ingin Anin menjauh dari Evan.


"Kamu memang ada hubungan apa sama Evan?"


"Gak ada apa-apa, kita sebatas rekan kerja," jawab Anin.


"Terus kenapa dia bisa kayak gitu?"


"Evan itu suka sama Anin dari dulu cuman Anin memang gak suka sama dia apalagi dia terlalu protektif," ucap Anin.


"Mana ponsel kamu?" tanya Dimas


"Buat apa?"


"Mana sini?"


"Ini." ucapnya memberikan ponselnya


"Nih nomornya udah saya blokir dan kamu jangan berhubungan lagi sama dia!" ucap Dimas memberikan ponsel Anin.


Anin hanya mengangguk dan kemudian menatap Dimas binggung mengapa bersikap demikian, bahkan ia memblokir nomor Evan, apakah ia sedang cemburu? Anin tak berani bertanya dan tak mau menerka-nerka ia hanya merasa sikap Dimas hanya ingin melindungi dirinya karena ia sekarang sudah menikah.


Dilain sisi Dimas yang baru saja sadar sudah mengomel dan memblokir nomor Evan di ponsel Anin pun menjadi binggung mengapa ia bersikap demikian,apakah ia cemburu? Padahal ia tak memiliki rasa apapun pada Anin? Ia memilih pergi ke kamar dan meninggalkan Anin yang masih terdiam sambil menatap ponselnya.