
Sampai di kamar, Jihan langsung buru-buru memompa Asi. Padahal persediaan di lemari pendingin masih banyak, namun Asinya tetap saja melimpah ruah.
Jihan sangat mensyukuri akan hal itu.
"Benar tidak ingin ku bantu sayang?" tawar Arick, ia melepas baju dan celana bergatian, menggantinya dengan handuk yang dililit rapi.
Jihan hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban, diliriknya sang suami yang sedang berjalan menghampiri.
"Kenapa malah kesini? sana mandi," ucap Jihan sekaligus memerintah, meski bukan pertama kali, tapi rasanya ia masih malu melihat tubuh polos sang suami.
Apalagi jika tidak sedang memadu kasih seperti ini, rasanya ada desiran aneh yang menggelitik di hati.
Berbisik, ingin memeluk.
"Tunggu kamu selesai, nanti kita mandi bersama." Ajak Arick, ia ikut duduk memperhatikan.
"Lalu kenapa bajunya sudah dicopot?" tanya Jihan gugup.
"Gerah," jawab Arick singkat, dilihatnya wajah sang istri yang mendadak merona, bahkan Jihan berulang kali menggigit bibir bawahnya.
Arick tahu jika sang istri sedang gugup, pelan, ia terkekeh.
10 kemudian, Jihan selesai memompa Asi.
Dan benar saja, Arick langsung mengajaknya untuk mandi bersama. Bukan apa-apa, Arick hanya ingin membantu sang istri untuk membersihkan seluruh anggota tubuh.
Dengan air hangat, Arick perlahan menggosok punggung sang istri. Tak bisa berendam di bathup, mereka beridiri di pancuran air.
"Jadi, selama aku pergi siapa yang menggosok punggung mu?" tanya Arick, ia terus menggosok dengan perlahan.
"Mbak Puji Mas, awalnya aku tidak mau, tapi mbak Puji memaksa. Katanya memang susah kalau mandi sendiri pasca operasi. Karena itulah dia membantuku."
Tak langsung menanggapai, Arick berpikir sejenak.
"Hem, mbak Puji harus dapat hadiah bagus nih, karena dia sudah merawat istriku dengan baik," jawab Arick dan Jihan mengangguk menyetujui.
"Jangan uang tapi Mas, kalau uang nanti mbak Puji tidak enak hati dengan yang lain," jelas Jihan dan kini giliran Arick yang mengangguk, setuju.
"Angkat tanganmu."
Jihan menurut, meski sangat malu, namun ia mencoba untuk biasa saja. Jika ia malu-malu malah akan membuat suaminya ini berpikir yang macam-macam.
Dengan cepat, Jihan mengangkat tangan kanan, merubah posisinya dari memunggungi, kini jadi menyamping.
Terus, Arick membersihkan badan sang istri dan benar--benar hanya membersihkan. Bahkan saat selesai, Arick langsung meminta Jihan untuk keluar lebih dulu, barulah setelah itu ia bergegas mandi.
Mendapati sikap itu, Jihan sangat tersentuh.
Tiap hari, cintanya makin bersemi untuk sang suami.
Entah kenapa, kini malah ia yang ingin menyenangkan Arick. Seperti balas budi.
Dengan senyum mengembang, Jihan membuka lemari pakaiannya. Memilah dan memilih beberapa baju yang disukai oleh suaminya itu.
Senyumnya makin mengembang, takala melihat gaun tidur pendek masih terbungkus plastik bening disana. Tanda jika baju ini masih baru dan belum sempat ia pakai.
Tanpa ragu, Jihan langsung mengenakan baju itu. Baju dengan tali pengait kecil, pundaknya terbuka dan panjang gaun itu diatas lutut, warna merah maroon yang makin membuat kulit putihnya nampak terang.
Buru-buru, ia mengeringkan rambutnya sendiri. Ingin mengikatnya tinggi-tinggi saat sang suami selesai mandi.
"Ji," panggil Arick, mendengar namanya dipanggil, Jihan langsung terkisap.
Kenapa cepat sekali, batinnya.
Akhirnya rambut itu tergera belum sempat terikat, sedangkan kini Arick sudah memandanginya dengan lekat.
"Sayang, kamu menyiksaku." rengak Arick, ia mendekat dan mendekap sang istri.
"Kalau begini, aku bisa mandi lagi." keluhnya, meski begitu ia langsung saja menyesap bibir ranum sang istri. Mengangkatnya pelan dan mendudukkannya di atas meja rias.
Beberapa riasan Jihan jatuh berantakan ke lantai, tapi sang pemilik tak peduli. Ia malah menggantungkan kedua tangannya dileher Arick.
Membalas tak kalah dalam ciuman itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai sarapan, Mardi langsung mengajak Arick beserta Sofia, Jihan dan Zayn+Asih untuk mendatangi perusahaan miliknya.
Hari ini, secara resmi ia akan menyerahkan posisi Direktur Utama pada sang Anak. Dengan saham kepemilikan sebanyak 70 %.
Selesai berpamitan pada Anja dan Jani, keluarga ini langsung bergegas pergi.
25 menit perjalanan, akhirnya iringan 2 mobil ini terparkir sempurna di basement kantor, PT. Dua Putra.
Saat turun, Arick mengambil Zayn digendongan Asih dan digendongnya sendiri, naik ke lantai 10. Sementara tangan yang lainnya menggenggam erat tangan sang istr.
Para karyawan yang melihat iring-iringan penguasa itu mulai berbisik-bisik, berdecak kagum. Mulai dari ketampanan Arick, kecantikan sang istri sampai semenggemaskannya Zayn.
Kemarin, Mardi sudah membuat pengumuman, jika hari ini akan mengenalkan sang pewaris.
Kabar itu disambut antusias, meski sedikit was-was. Karena desas desus mengatakan jika Arick adalah seseorang yang berhati dingin, tegas dan sangat menakutkan.
Namun kini simpang siur itu tiba-tiba menghilang begitu saja, dapat dilihat oleh semua orang bahwa Arick adalah sosok yang hangat.
Terlihat saat ia begitu mengagungkan sang istri.
"Alhamdulilah, Bos baru sepertinya tidak galak, seperti gosip gosip selama ini."
"Benar, ya ampun! beliau tampan sekali."
"Jangan lupakan, istrinya juga sangat cantik dan anggun."
"Benar." saut mereka semua kompak.
Para karyawan ini terus memperhatikan kepergian keluarga Direktur Utama.
Tak sampai 10 menit, kini mereka semua sudah sampai di ruangan Mardi.
Denni, yang merupakan asisten pribadi Mardi mulai masui memperkenalkan diri. Kini ia berbakti pada tuan mudanya, Arick.
"Mohon bantuannya Pak Denni." ucap Arick sedikit sungkan, pasalnya Denni berusia lebih tua daripada dirinya, 40 tahun.
"Baik Tuan," jawab Denni patuh, bahkan ia sedikit mengangguk sebagai jawaban.
Setelah itu, Denni juga mengatakan jika semua anggota Direksi sudah menunggu di ruang rapat utama. Beberapa karyawan dijenjang manajer pun ikut berkumpul sebagai perwakilan.
Akhirnya, tanpa mengulur waktu, Mardi langsung mengajak semua keluarganya ke ruang rapat itu.
Disana, mereka semua disambut dengan sopan. Setelah pertemuan itu dibuka, Mardi lalu mengenalkan Arick dengan bangga.
Tak hanya Arick, Mardi juga mengenalkan Jihan sebagai menantu kesayangannya, beserta sang cucu Zayn, sekaligus Anja dan Jani yang sedang berada di rumah.
Sofia tak dikenalkan, karena semua karyawan beserta Direksi sudah tahu. Sofia yang dikenal galak itu.
30 menit kemudian, pertemuan itu usai. Mardi berserta keluarga kembali lagi ke ruang kerja.
Disana, Mardi kembali menasehati sang anak, tentang menjadi seorang pemimpin.
"Ditanganmu ada nasib para karyawan, para pekerja di lapangan dan juga para pelanggan. Jadi terimalah tanggung jawab itu dengan sungguh-sungguh, sepenuh hatimu." ucap Mardi.
Arick mengangguk, seraya mengucapkan, "Insya Allah." sebagai jawabannya.
Puas berbincang, akhirnya Mardi dan Sofia hendak pulang lebih dulu. Karena Arick ingin mengajak sang isrri beserta anaknya untuk makan siang di cafetaria di bawah.
Di cafe itu, para pelanggan mengambil sendiri menu yang akan mereka pilih. para pelayan hanya tinggal menuang menu yang habis di deretan menu.
Jihan sangat bahagia, antusias saat mulai mengantri.
"Ji, senyummu jangan lebar-lebar." Bisik Arick, sialnya Asih masih mendengar.
Asih ikut berbaris disamping Jihan, sementara dibelakang Arick menggendong Zayn.
"Kenapa?" tanya Jihan heran, bahkan senyumnya langsung surut saat itu juga.
"Kamu jadi semakin cantik, aku tak suka banyak orang yang melihat kecantikanmu." Bisiknya lagi posesif.
Mendengar itu, Jihan tersenyum malu. Lain halnya dengan Asih yang berulang kali mengelus dada.
Sabar Sih, sabar. Batinnya menenangkan. Poor Asih.