
Hump
Johan berlari ke toilet dapur saat merasa perutnya diaduk-aduk. Mual itu datang lagi dan sontak semua makanan yang masuk kembali dikeluarkan oleh Johan.
Huek... huek...
"Mas." Pekik Karina mengikuti langkah suaminya dengan perlahan. Cerita tentang kondisi tubuh suaminya benar-benar dialaminya seperti apa yang dikatakan dokter tadi.
Huek... huek...
Johan lagi-lagi memuntahkan isi perutnya yang dikiranya sudah baik-baik saja karena makan disamping istrinya karena mual ngidamnya mulai mereda dan dia tadi sungguh sangat menikmati makanan yang baru bisa dimakan beberapa hari terakhir ini. Namun kali ini Johan benar-benar tersiksa.
"Mas, baik-baik saja? Mas tidak apa? Ku panggil dokter lagi ya?" Tanya Karina lembut panik dan cemas. Meski dalam keadaan panik dan cemas, nada suaranya masih terdengar lemah lembut membuat Johan sedikit baik dan segera menarik pergelangan tangan istrinya yang hendak pergi untuk memanggil dokter.
"Tidak sayang. Huek... Aku akan berbaring... huek... saja." Nafas Johan terengah-engah karena mual dan muntahnya. Dan benar-benar merasa tersiksa tapi juga menikmati. Dia rela yang merasakan sakit karena hormon kehamilan istrinya dari pada harus melihat istrinya yang mengalaminya. Tapi keraguan yang terpaut di wajah istrinya membuat Johan kembali berpikir keras.
Istrinya tadi melamun dengan wajah yang terlihat frustasi dan putus asa. Bibir Johan sungguh sangat gatal ingin bertanya apa yang sedang dipikirkan istrinya. Dia berniat mendesak apa yang dipikirkannya setelah makan. Namun bukannya selesai makannya tapi dia harus kembali mual dan muntah.
Yang katanya adalah kehamilan simpatik karena istrinya yang hamil. Johan senang-senang saja jika kenyataan tentang kehamilan istrinya itu benar. Dia juga sudah tidak sabar untuk memiliki anak dari wanita yang dicintainya yaitu istrinya sendiri.
Tapi wajah murung serta ragu yang ditampilkan istrinya membuat Johan ikut frustasi penasaran apa yang ada di benak istrinya. Dan saat memikirkan hal itu perutnya kembali bergejolak dan mual muntah lagi.
"Aku bantu mas." Pinta Karina yang tak dijawab oleh Johan yang tubuhnya kini benar-benar lemas dan badannya terasa meriang.
"Akan kubuatkan bubur tawar saja ya mas?" Tawar Karina setelah membantu suaminya berbaring di ranjang dengan menata bantal guling yang dibutuhkan suaminya. Johan pun mencekal pergelangan tangan istrinya supaya tinggal.
"Nggah sayang. Kumohon tetaplah tinggal! Maukah kau berbaring di sini menemaniku tidur. Mungkin mualku akan mereda karena menghirup aroma tubuhmu yang kurindikan." Pinta Johan memelas, dia sungguh sangat merindukan istri tercintanya itu.
Karina berbaring di ranjang di sisi suaminya yang sudah terlihat lemas. Biasanya seorang wanita yang didekap istrinya hingga kepala sang istri akan terbenam di dadanya. Namun sekarang sebaliknya, Johan yang mendekap erat dada istrinya yang membuat Johan nyaman, apalagi kedua dada istrinya benar-benar hangat memiliki aroma yang menenangkannya.
.
.
"Mas, sudah pulang?" Tanya istri Ryan yang melihat suaminya muncul dan tersenyum sejuta watt nya menghampiri istrinya langsung mendekap erat tubuhmya.
"Aku merindukanmu sayang." Guman Ryan di ceruk leher istrinya dan mengecupi perlahan membuat istri Ryan tanpa sadar mendesah, Ryan pun terpancing dan segera melepaskan tautan bibirnya.
"Papa." Sontak dekapan keduanya terlepas.
"Hai, boy!" Sapa Ryan melihat putra pertamanya yang baru mulai memasuki sekolah taman kanak-kanak.
"Papa, aku merindukanmu." Seru putra Ryan dan mendekap erat tubuh Ryan karena sudah hampir seminggu ini mereka tidak pernah bertemu.
"Maafkan papa sayang, sekarang papa pulang. Hmm?" Seru Johan tertawa bersama putranya juga.
"Horee..." Seru putra Ryan bergerak senang dengan masih berada di gendongan papanya.
.
.