Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 54


"Ji, malam ini ibu menginap di rumah mu ya?" tanya Sofia, saat ini mobil mereka sudah mulai memasuki jalan raya. Sofia memangku Zayn dan Jihan duduk disebelahnya di kursi belakang, sedangkan Asih duduk didepan disebelah Amir.


"Iya Bu, terima kasih ya Bu, Ibu selalu bantu Jihan," jawab Jihan tak enak hati, semenjak kehamilannya mulai membesar, Sofia sering sekali menginap di rumahnya, membantu mengurus rumah juga mengurus Zayn.


Bahkan sekarang saat sudah ada Asih, Sofia masih saja tidak berubah. Tetap peduli pada sang menantu.


"Ibu sebenarnya malah pingin kamu dan Arick kembali lagi ke rumah, tapi sepertinya Arick tidak akan setuju." Sofia mulai sendu, dibelainya lembut punggung Zayn yang sedang terlelap. Jujur saja, ia sering merasa kesepian saat berada di rumah. Apalagi kini Mardi masih aktif bekerja, perusahaan Mardi memang tidaklah terlalu besar, namun karena sudah berdiri puluhan tahun, jasanya dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar.


Mardi menjalankan perusahan konstruksi.


Jihan terdiam, bingung ingin menjawab apa.


"Ibu juga sebenarnya ingin Arick meneruskan usaha papa mu, tapi dia malah ingin membuka usaha sendiri," jelas Sofia, ia menoleh menatap Jihan.


"Apa kamu bisa membujuk Arick untuk meneruskan usaha papa Ji?"


Jihan menelan salivanya dengan susah payah, rasanya tidak mungkin ia bisa membujuk suaminya itu. Usaha yang dijalani Arick kini adalah impiannya selama ini, rasanya tidak mungkin Arick akan melepasnya begitu saja.


"Tidak bisa ya?" tebak Sofia dan Jihan masih saja terdiam.


"Maaf Bu." Akhirnya Jihan buka suara, dan Maaf adalah kata yang pertama kali ia ucapkan.


"Iya, ibu paham posisi kamu," jawab Sofia mencoba kembali tersenyum.


Arick memang keras kepala, kalau bukan keinginannya sendiri rasanya sangat sulit untuk memintanya mengurus perusahaan sang papa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV JIHAN


Sampai di rumah, aku langsung memompa ASI ku yang mulai terasa penuh, setelah selesai aku memberikannya pada Asih untuk disimpan di dalam lemari pendingin. Kini Zayn sedang tidur bersama Ibu di kamar tamu.


Selesai membersihkan diri aku melaksanakan shalat zuhur. Kegelisahan hatiku langsung menghilang ketika aku menyelesaikan sujud terakhirku.


Cukup lama aku berzikir, entah berapa kali tasbih ini berputar mengelilingi jemariku.


Tok tok tok


"Alhamdulilah," ucapku mengakhiri ibadah siang ini. Aku beranjak berdiri, masih menggunakan mukenah, aku membuka pintu kamar. Takutnya itu ibu Sofia, rasanya tidak sopan jika aku menyautinya.


Ku buka pintu itu, ternyata mbak Puji, membawa nampan berisi penuh makanan. Sepiring nasi dengan lauk pauk, semangkuk irisan buah dan segelas air putih.


"Mbak belum makan," ucap mbak Puji dan aku tersenyum.


"Iya Mbak, saya lupa," jawabku kikuk.


Ku buka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan mbak Puji masuk. Aku melepas mukenah dan mbak Puji meletakkan nampan itu diatas nakas.


"Barusan mas Arick nelpon, ponsel mbak Ji katanya tidak aktif. Kata mas Arick mbak harus temenin Mbak Ji makan dan memastikan makanan ini habis."


Tanganku berhenti melipat mukenah ketika mendengar ucapan mbak Puji itu, buru-buru aku menggapai ponselku di atas meja rias.


Dan benar saja, ponselku tak bisa menyala, pasti dayanua habis karena semalam pun aku lupa untuk mencharger.


Ku letakkan mukenah yang setengah terlipat itu diatas kursi meja rias. Dengan tidak sabaran aku mulai mengisi daya ponsel.


"Makan dulu Mbak, nanti selesai makan ponselnya bisa hidup," jelas mbak Puji dan lagi-lagi menghentikan aktifitasku.


Benar juga.


Akhirnya aku menuruti saran mbak Puji, menghabiskan makan siangku dan setelah itu baru memeriksa ponsel.


"Mbak Puji sudah makan?" tanyaku karena mbak Puji benar-benar menunggui aku makan disini.


"Sudah Mbak, ini lo sudah hampir jam 2," jawabnya, aku tahu pasti setelah ini mbak Puji akan memgomel.


"Memangnya mbak Jihan, makan saja bisa sampe lupa."


Nah kan bener, mbak Puji pasti ngomel.


"Bohong, untung mas Arick telepon terus ngingetin mbak Puji," jawabnya sambil membenahi duduknya di kursi nakas.


Mas Arick.


Ku sebut namanya dalam hati dan sekilas senyum dibibirku terukir. Aku tahu kini ia sedang marah, tapi meski begitu ia masih saja memperhatikan aku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV AUTHOR


"Jihan sudah pulang? Zayn sakit apa?" tanya Jodi, kini ia dan Arick sedang makan bakso di pinggir pasar itu. Beristirahat sejenak sebelum kembali berjibaku di pasar, karena daftar belanjaan mereka belum didapatkan semua.


"Sudah, Zayn radang tenggorokan. Anakku itu memang suka sekali makan kerupuk," jelas Arick, setelah itu ia memasukan sesuap bakso ke dalam mulutnya.


Mereka kembali makan dengan tenang, hingga 15 menit kemudian keduanya telah selesai makan.


Tanpa mengulur waktu, Arick dan Jodi memutuskan untuk kembali masuk ke dalam pasar, kini tujuan mereka adalah para penjual daging dan ikan laut.


Drt drt drt


Ponsel Arick disaku celana bergetar, dilihatnya ada 1 pesan masuk dari sang istri.


Istriku:


Aku mencintaimu Mas, Zayn baik-baik saja. Percayalah padaku dan semangatlah bekerja. Aku menunggu Mas pulang.


Arick tersenyum ketika selesai membaca pesan Jihan, langkahnya terhenti sejenak ingin membalas pesan itu.


"Rick jangan main ponsel, nanti jadi incaran pencopet," jelas Jodi, pasalnya kini mereka sudah ditengah-tengah pasar.


Jika di warung bakso tadi masih tidak rawan pencopet, lain halnya jika disini.


"Baiklah," jawab Arick, ia segera memasukkan ponselnya kembali ke saku celana dan kembali berjalan.


Belum sempat membalas pesan sang istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam setengah 5 sore akhirnya semua kebutuhan bahan Cafe sudah didapat, persediaan untuk 2 minggu ke depan. Arick sudah meminta 1 karyawannya untuk menjemput barang-barang belanjaan menggunakan mobil pick up. Arick dan Jodi sangat lelah, badan kotor dipenuhi keringat, belum lagi aroma pasar yang melekat di tubuh keduanya.


Mereka berdua memutuskan untuk pulang ke Cafe, memeriksa keadaan Cafe dan membereskan barang belanjaan.


Jam 9 malam, Arick baru bisa pulang. Sementara Jodi memutuskan untuk menginap di Cafe.


Semenjak Jihan hamil, Arick mulai membawa kunci cadangan rumahnya sendiri. Hingga ia bisa masuk kapan saja tanpa merepotkan sang istri.


Dilihatnya di ruang tengah, hanya ada Mardi yang sedang menonton televisi.


"Pa."


"Astagfirulahalazim, Arick! sudah pulang kamu?" Mardi terkejut, saking asiknya menonton berita ia tak sadar akan kedatangan sang anak.


"Iya Pa, yang lain kemana?" tanya Arick, ia menyempatkan duduk sebentar meski keinginan untuk menemui sang istri begitu bergejolak.


"Ibumu sudah tidur, dia tidur bersama Zayn di kamar tamu. Jihan belum lama ini masuk ke kamar. Mbak Puji sama Asih juga sudah tidur."


"Kok Papa belum tidur?"


"Tanggung, ini berita lagi seru-serunya, ya sudah sana masuk, tidak usah temani papa."


Arick tersenyum, sebelum sang ayah berubah pikiran ia buru-buru kabur. Menemui sang istri di kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like dan Komen jangan lupa 🌹