Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 61


Hari ini Arick dan Jodi akan pergi ke Bandung, Jodi menitipkan mobilnya di rumah Arick dan mereka menggunakan mobil Arick untuk pergi ke Bandung.


"Ayah berangkat dulu ya sayang." Arick menciumi pipi Zayn, yang dicium menolak merasa geli.


"Hem, gaya ya, nggak mau cium. Cium ibu sajalah," ucap Arick, ia mendekati Jihan dan mencium pucuk kepala sang istri.


"Aku pergi dulu ya?"


"Iya Mas, udah sana, tuh Jodi udah nungguin." Jelas Jihan, ia lelu mendorong tubuh sang suami agar segera masuk ke dalam mobil.


"Ji, kami pergi dulu ya?" pamit Jodi dan Jihan mengangguk.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Jihan melambai, hingga lambat laun mobil sang suami tak nampak lagi.


Allohumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa waatwi ‘annaa bu’dahu. Allohumma antashookhibu fiissafari walkholiifatu fiil ahli.


Ya Allah, mudahkanlah kami berpergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam berpergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


3 Jam perjalanan akhirnya Arick dan Jodi sampai didaerah Villa Jaya. Sejenak mereka tertegun, melihat betapa strategisnya tempat Villa Villa ini dibangun.


Total keseluruhan Villa Jaya disini ada 30 unit, dengan 1 Villa terbesar yang rencananya akan dibangun Cafe rooftop diatap Villa itu.


"Bagaimana Rick?" tanya Jodi, ketika keduanya memperhatikan atap Villa itu dari bawah tempat mereka berdiri.


"Sempurna," jawab Arick dengan bangganya.



Ia merasa awal kesuksesannya dan Jodi mulai terbuka.


Keduanya memutuskan untuk masuk, Arick dan Jodi langsung disambut oleh manajer Villa itu, Rosaline.


Rosa menjelaskan semua rancangan Cafe rooftop yang menjadi keinginan tuannya Jaya, kemudian dicocokkan dengan konsep milik Jodi dan Arick.


Hingga jam 4 sore pertemuan itu akhirnya selesai juga.


Rosa menarwarkan pada keduanya untuk menginap di Villa ini, namun Arick dan Jodi menolaknya dengan sopan.


Dan disinilah kini Arick dan Jodi berada, di dalam mobil dalam perjalanan pulang.


"Bulan ini biar aku sendiri yang kulu kilir Jakarta Bandung. Bulan depan kamu, dan bulan depannya lagi aku. Jadi saat Jihan akan melahirkan kamu bisa stay di Jakarta." Jelas Jodi, kini gantian ia yang membawa mobil untuk pulang.


"Bagus juga, lagipula walaupun aku di Bandung dan Jihan sudah kontraksi, aku akan langsung bergegas pulang," jawab Arick dan Jodi hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini Jihan sangat bahagia, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu tiba-tiba ibu Nami, mas Faruq, mbak Aluna dan Rizky datang ke rumah.


Bahkan ibu pun berkata jika malam ini mereka semua akan menginap di rumah ini.


"Aku kangen banget Bu," ucap Jihan sambil memeluk tubuh sang ibu, pelukan yang sangat erat.


Faruq dan Aluna yang menyaksikan itupun tersenyum, sedikit haru. Biasanya Jihan memang selalu pulang tiap 2 minggu sekali, namun semenjak hamil ia tidak pernah pulang-pulang lagi.


"Arick kemana Ji? jam segini kok belum di rumah?" tanya Faruq, kini mereka semua duduk di ruang tengah. Menyaksikan Rizky yang sedang asik bermain dengan Zayn.


"Hari ini mas Arick ke Bandung Mas, mungkin sebentar lagi sampai di rumah," jawab Jihan apa adanya.


"Bagaimana sih Arick ini, katanya keluar dari hotel biar bisa punya banyak waktu bersama keluarga, tapi nyatanya sampai malam begini masih sibuk dengan pekerjaan."


"Mas Faruq, jangan bicara seperti itu. Jihan dan Arick lebih tahu bagaimana keluarga mereka. Kenapa Mas malah menghakimi salah satunya," jelas Aluna, ia tidak ingin ucapan suaminya itu melewati batas.


Apalagi kini Jihan sedang hamil besar.


Faruq terdiam, inilah salah satu alasan kenapa Nami jarang sekali mengunjungi Jihan. Faruq tidak pernah membiarkan ibunya itu bepergian sendiri, namun jika ia ikut, Faruq pasti mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar oleh sang adik.


"Maaf kan Mas ya Ji," ucap Faruq setelah cukup lama terdiam.


Jihan mengulas senyumnya, kemudian mengangguk kecil sebagai jawaban.


Dan benar saja, tak berselang lama akhirnya Arick sampai juga di rumah.


Sedikit terkejut, ketika melihat dirumah sudah banyak saudara. Arick duduk berjongkok dan mencium punggung tangan Nami. Meminta maaf jika akhir-akhir Jarang membawa Jihan pulang.


"Tidak apa-apa Nak, meskipun kamu dan Jihan jarang pulang, tapi kamu sering sekali menelpon ibu. Seperti itu saja, Ibu sudah sangat senang," jawab Nami.


"Sebaiknya kamu mandi dulu, nanti keburu semakin malam," timpal Nami lagi sambil menepuk pelan bahu sang menantu.


Arick mengangguk kecil, kemudian bangkit. Jihan pun mengikuti langkah suaminya untuk masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Jihan membantu Arick untuk melepaskan dasi. Namun gerakannya terhenti ketika Arick menarik tengkuknya dan membenamkan sebuah ciuman di bibir.


"Kamu kangen banget sama Ibu Nami ya?" tanya Arick sambil menghapus jejak-jejak ciumannya.


Jihan mengangguk kecil, kemudian melanjutkan melepas dasi sang sumi.


"Maafkan aku ya, sudah lama aku tidak membawamu pulang."


Jihan tersenyum dan menarik dasi itu agar terlepas sempurna.


"Kenapa harus minta maaf, Mas tidak salah sedikitpun. Sebaiknya sekarang Mas mandi. Aku akan minta mbak Puji untuk menyiapkan makan malam."


"Jangan!" saut Arick cepat.


"Aku tadi sudah makan malam bersama Jodi. Sebaiknya sayang kembali menemani ibu. Kalau nanti malam sayang mau tidur bersama ibu, aku juga tidak apa-apa?"


"Benar?" tanya Jihan memastikan.


"Iya," jawab Arick, namun kepalanya menggeleng yang berarti Tidak.


Jihan terkekeh, kemudian memukul pelan dada sang suami.


"Sana mandi."


Arick mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasa, Jihan menyiapkan baju ganti lalu pergi ke luar.


Jihan kembali menemui keluarganya di ruang tengah. Kembali bercengkrama membicarakan banyak hal. Jihan bercerita jika bayi kembarnya kini berjenis kelamin perempuan. Dengan wajah berbinar ia juga menceritakan jika sang ayah sudah menyiapkan nama untuk kedua anaknya, Anja dan Jani.


Melihat kebahagiaan yang terpancar diwajah Jihan membuat semua orang pun ikut berbahagia.


Faruq dan Aluna juga rencananya akan menemani Nami untuk Umroh bulan depan, Nami merasa jika menunggu haji untuk ke tanah suci akan terlalu lama, takut takut umurnya tak sampai lagi.


Beberapa tahun lalu, Nami sudah mendaftar Haji, namun hingga kini waktu tunggunya masih 15 tahun lagi.


Karena itulah, ia memutuskan untuk Umroh saja dulu.


Saat ini Nami juga ingin sekali mendoakan kelahiran kedua cucu kembarnya, ingin berdoa untuk keselamatan Jihan dan kedua anaknya.


Mendengar itu Jihan merasa haru, benar-benar berterima kasih atas semua doa yang telah ibunya berikan.


Selesai mandi, Arick juga ikut bergabung duduk di ruang tengah. Meski badanya terasa lelah, namun tak sedikitpun ia perlihatkan.


Saat ini semua orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing, menyisahkan Arick dan Faruq di ruang tengah itu.


"Jadi sekarang kamu mengembangkan usahamu sampai ke Bandung?" tanya Faruq, tatapannya masih setia melihat ke arah televisi.


"Iya Mas."


"Semoga semua usahamu lancar ya Rick, Maafkan saya juga kalau selama ini saya selalu banyak menuntut padamu," jelas Faruq dengan suara pelan tak seperti biasanya yang selalu bersuara tinggi.


Arick terdiam, malah merasa tak enak hati ketika kakak iparnya meminta maaf.


"Saya sekarang sadar, bahwa hanya kamulah yang bisa membahagiakan Jihan."